
Memaafkan Bukan Berarti Kembali
"Rheimon... Jadi Kamu... Berbohong?"
Karina menatap Suaminya tak percaya, Ia hampir saja mencekik Pria yang berstatus Suaminya itu setelah mendengar kejujurannya.
"Aku sengaja, Aku ingin putri Kita bisa benar-benar lepas dari masa lalunya bersama Cucu Adhitama Djaja itu"
"Ku kira Kamu sudah memaafkannya setelah Ia ikut membantu menyelamatkan Rheina dan Darren"
"Aku memaafkannya, Aku juga tidak lupa bahwa Kita memiliki hutang budi pada Ayahnya karena telah berjasa menyelamatkan Rheina dulu. Tapi..."
"Tapi apa?"
"Memaafkan bukan berarti harus kembali bukan? Apa yang Dia lakukan pada Putri Kita selama menjadi istrinya juga bukan hal yang lumrah untuk dimaklumi. Aku juga yakin, Rheina juga mengalami trauma yang berat. Axel tidak hanya mengucilkannya, tapi juga melakukan kekerasan padanya"
Karina menunduk, Rheimon benar, Sebagai seorang Ibu, Ia juga masih sakit hati jika mengingat kembali cerita Darren tentang perlakuan Axel kepada Putrinya dulu.
Berselingkuh dengan anak Bram secara terang-terangan, Mengasingkan putrinya di rumah kontrakan yang jauh dari kota, melakukan kekerasan, menafkahi dengan tidak layak...
"Arrrgh, Aku juga tiba-tiba merasa marah jika mengingat perlakuannya, apalagi Rheina, Dia pasti trauma sekali"
Ucap Karina seraya menghembuskan nafas berat.
"Maka dari itu, Kita harus membawa Rheina dan cucu-cucu Kita sejauh mungkin dari sini. Lagipula kondisi cucu kita belum bisa dikatakan baik, mereka harus mendapatkan perawatan dengan fasilitas yang lebih canggih, dan di rumah sakit ini fasilitas itu belum tersedia. Lagipula, Bram dan putrinya itu juga tiba-tiba hilang"
Jelas Rheimon panjang lebar.
"Yah, Kamu benar Sayang, mereka menghilang padahal mereka bekerja sama dengan Karissa"
"Jadi, Kamu sudah mengerti alasanku?"
"Tentu, Sayang. Uuuh Suamiku yang ganteng ini ternyata sangat cerdas"
"Aaaiih kemana saja Kamu ini, Aku cerdas sejak masih dalam bentuk embrio"
"Hahahaha dasar gila"
"Tapi Kamu tergila-gila pada pria gila ini kan? Hahahha"
Karina kembali tertawa, kemudian kedua insan itu saling berpelukan.
"Mari Kita mulai hidup yang baru, di tempat baru yang jauh dari tempat penuh kesedihan ini"
"Hmmm... Tentu, Kapan Kita akan pergi?"
"Secepatnya, Aku sudah mengatur semuanya"
Ucap Rheimon mantap. Karina mengangguk setuju.
Axel pergi meninggalkan Rumah Sakit setelah Karina dengan berapi-api mengusirnya. Axel mengerti. Tidak ada seorang Ibupun di dunia ini akan memaafkan orang yang telah banyak menyakiti anaknya, apalagi setelah kabar buruk yang mereka terima. Ia pantas di benci. Sangat pantas.
Pria yang terkenal dengan ketampanan dan kesuksesannya itu kini benar-benar terlihat menyedihkan. Wajahnya lusuh, sinar keangkuhan dan kecerdasan yang biasa terpancar kini telah redup. Berganti dengan raut wajah yang muram serta putus asa.
"Xel..."
Radit masih setia mendampingi Axel yang benar-benar seperti orang linglung. Tidak bersuara tidak menanggapi apapun yang Ia katakan. Pria itu seperti punya dunianya sendiri, saat ini.
"Gue tahu, Loe sekarang lagi terpukul banget karena kehilangan Anak-anak Loe Xel, tapi itu semua kecelakaan, bukan kesalahan Low, inget Bro, Kita udah sama-sama berjuang buat menyelamatkan Azizah dari Karissa"
Ucap Radit berusaha menghibur.
"Radit bener Xel, Gue ngerti perasaan Loe, tapi masalah hidup dan matinya Seseorang itu udah diluar kuasa Kita, itu udah ketentuan Tuhan. Mungkin memang anak-anak Loe belum ditakdirkan untuk... Melihat dunia Xel"
Cano menimpali dengan suara yang makin lirih, Ia tidak tahu mengapa perasaannya ikut sakit saat mengatakan kata-kata itu. Bagaimanapun mereka sudah seperti keluarga, sebelum hubungan Axel dan Darren merenggang. Jadi jika salah seorang dari mereka sedang terluka, maka yang lainnya akajln ikut merasa sakit.
"Gue beneran udah nggak pengen hidup lagi, Gue tadinya berfikir, kalaupun Azizah benar-benar menolak buat balik lagi sama Gue, Gue akan terima asal Dia tetap izinin Gue buat ketemu sama anak-anak Gue. Dan Gue yakin Zizah nggak sejahat itu buat misahin Gue sama anak-anak walaupun Gue pernah melakukan kesalahan besar sama... Anak Gue sebelumnya... Tapi sekarang... Loe berdua liat... Alam semesta ini bahkan nggak maafin Gue. Anak-anak Gue.... Mereka udah nggak ada... Hiks"
Axel menelungkupkan wajahnya diantara kedua sikunya. Pria itu menangis pilu. Kehilangan anak yang belum lahir ke dunia ini ternyata sesakit ini..
Penyesalannya bertambah dalam saat mengingat Ia sebenarnya telah kehilangan dua kali.
Jika Ia saja sesakit ini, bagaimana dengan Azizah yang telah mengandung mereka?
Sungguh Axel tidak bisa membayangkan penderitaan seperti apa yang akan dirasakan mantan istrinya itu...
Vano dan Radit saling berpandangan, keduanya menepuk pundak sahabatnya itu dengan lembut, mencoba memberi kekuatan meskipun sepertinya tidak berguna.
"Xel, Gue tahu perasaan Loe sekarang lagi nggak karuan, tapi inget Xel ada Azizah yang pasti butuh support saat Dia siuman nanti. Loe nggak pengen ada disana saat itu?"
Ucap Radit yang kemudian disetujui oleh Vano.
"Gue setuju sama Radit Xel, mending kita balik ke Rumah Sakit"
"Gue udah diusir sama Tante Karina, Gue juga nggak yakin Azizah bakal nerima keberadaan Gue"
"Masalah Tante Karina, Gue yakin beliau cuma lagi emosi Xel..."
"Iya Xel, Tante Karina pasti terpukul banget, baru aja ngasih tahu Azizah kalau beliau adalah ibu kandungnya, sekarang malah harus kehilangan cucunya... Gue yakin sekarang Tante Karina sekarang udah lebih tenang Xel, jadi beliau nggak akan ngusir Loe lagi... Percaya deh sama Gue"
Axel hanya terdiam. Ia sedang memikirkan perkataan kedua sahabatnya itu.
"Besok pagi aja gimana? Biarin Gue nyiapin mental dulu buat ngadepin Azizah dan keluarganya lagi"
Ucap Axel.
"Okay, Kita bakal temenan Lie disini ya nggak Dit"
Sahut Vano yang kemudian diangguki dengan senang hati oleh Radit.
Mereka sedang berada di warung kopi pinggir jalan, bukan bar atau club malam seperti yang biasa mereka singgahi.
Bersama-sama merenungi malam yang terasa lebih lama dan panjang dari biasanya. Terasa lebih sunyi dan sendu. Berbagai pikiran dan rasa berkecamuk di dalam masing-masing kalbu. Malam yang akan menjadi ketenangan terakhir sebelum kejutan besar menyambut Axel di saat fajar menyingsing.
"Tenang Xel, ini nggak akan seburuk yang Lo bayangin kok, buruan turun. Siapa tahu Azizah udah siuman"
Axel menarik nafas dalam-dalam,mencoba menyingkirkan rasa takut sekaligus nerveus yang melandanya.
Setelah lama mengumpulkan energinya dan keberaniannya kembali, Axel di temani Radit dan Darren turun dari Mobil yang sudah bertengger di parkiran Rumah Sakit ini sejak 1 jam yang lalu.
Pukul 08.00 WIB, suasana Rumah Sakit mulai ramai, banyak keluarga pasien yang berlalu-lalang untuk sekedar membeli kopi atau sarapan pagi. Banyak pedagang-pedagang asongan dan kaki lima yang membuka lapak tepat di depan pagar Rumah Sakit Swasta yang cukup besar ini.
Axel dan kedua sahabatnya itu berjalan menuju meja resepsionis,
Kemarin saat Axel diusir dari tempat ini oleh Karina, Azizah masih belum keluar dari ruang Operasi. Jadi, bisa saja saat ini mantan Istrinya itu telah dipindahkan ke ruang perawatan.
"Maaf sus, Pasien atas Nama Azizah Nur Aida dirawat di ruang apa ya?"
Tanya Axel dengan sopan kepada wanita berseragam putih di hadapannya.
"Azizah Nur Aida, Pak? Sebentar ya Saya cek dulu"
"Baik, Terima kasih"
Axel pun menunggu seraya mengatur pernafasannya, semakin merasa dekat dengan Azizah, batinnya semakin tidak karuan, tapi lebih dominan rasa takutnya. Hatinya berada diantara siap dan tidak siap untuk bertemu wanita yang kini sangat Ia rindukan itu.
"Maaf Pak..."
"Ya?"
"Tidak ada pasien yang bernama Azizah Nur Aida"
"Apa? Nggak mungkin sus, coba cek ulang. Kemarin istri... Maksud Saya, beliau mendapatkan tindakan operasi di sini"
Axel terkejut, begitu juga dengan Vano dan Radit yang berdiri tak jauh dari Axel.
"Sudah Saya cek Pak, tidak ada pasien yang bernama Azizah Nur Aida, rekam medisnya pun tidak ada Pak, mungkin Bapak salah mengenali Rumah Sakit tempat beliau dirawat?"
"Jangan bercanda Suster, Saya nggak pikun! Jelas-jelas kemarin Dia dirawat disini!!"
Ucap Axel setengah berteriak. Membuat perawat yang menjadi resepsionis itu berjengkit kaget.
"Xel, tenang Xel, jangan teriak-teriak bro, ini rumah sakit"
"Gimana Gue nggak teriak? Suster ini bilang Gue salah rumah sakit! Jelas-jelas kemarin Azizah di bawa kesini!"
Vano dan Radit juga ikut bingung, sampai akhirnya Vano menyadari sesuatu...
"Jangan-jangan... Om Rheimon dan..."
"No, Way!!!"
Axel segera berlari keluar dari gedung rumah sakit itu menuju mobilnya tanpa menunggu Radit dan Vano yang berada di belakangnya.
"Axel!!"
Kedua pemuda itu segera mengejar sahabatnya yang tengah kalut itu.
"Gue aja yang nyetir!"
Sentak Vano seraya menyingkirkan Axel dari pintu kemudi. Tanpa buang Waktu Axel langsung membuka pintu belakang mobil dan duduk dengan gelisah disana.
"Kita ke rumah Om Rheimon. Loe tahu kan dimana?"
"Tahu, tahu, tenang aja"
Ucap Vano kemudian dengan cepat menyalakan mesin mobil dan melajukan mobil itu secepat lomba Formula 1 setelah berada di jalan raya.
Sungguh tiba-tiba Axel memiliki firasat buruk, Rheimon dan Karina akan membawa Azizah pergi jauh. Pergi sejauh mungkin dari hidupnya.
Tidak, tidak bisa. Axel ternyata belum bisa menerima jika Azizah benar-benar meninggalkannya. Tidak, Dia tidak siap. Tidak sekarang...
'*Tuhan, tolong... Tolong beri Aku kesempatan. Sekali saja Tuhan*...'
Batin Pria itu berdoa, tangan dan kakinya gemetar karena takut. Takut kehilangan satu-satunya wanita yang Ia harapkan kembali menjadi pendamping hidupnya...
Bersambung...
Note:Yang kemarin udah suuzon sama Aku, minta maaf klean semuaa!!! 🌚🌚🌚🤣🤣🤣🤣🤣🤣