Azizah, Istri Rasa Simpanan

Azizah, Istri Rasa Simpanan
PERJAMUAN BISNIS


Saya tahu Kamu marah, Saya mengerti Axel. Tapi kalau Kamu berada di posisi Saya maka Saya yakin Kamu mungkin akan melakukan hal yang sama"


Rheimon menjawab dengan tenang. Karena Ia yakin bahwa apa yang Ia lakukan selama ini sudah menjadi keputusan yang benar.


"Oh ya? Kenapa Saya akan melakukan hal seperti itu?


"Saya rasa Kamu belum lupa tentang Alexa dan Bram yang menghilang setelah kejadian itu..."


Rheimon menatap dalam ke arah mata Axel. Wajahnya menyiratkan kekhawatiran yang kuat...


Axel terdiam , mencoba mencerna ucapan mantan mertuanya itu.


"Saat itu keadaannya sangat membingungkan, Azizah dan bayinya kritis, Sementara Saya belum sepenuhnya mempercayai Kamu yang mengatakan bahwa Kamu sudah berubah, selain itu Saya mendapatkan kabar dari Vano bahwa Alexa dan Bram berhasil lolos dan melarikan diri dari tempat persembunyian Karissa"


Rheimon menjeda kalimatnya, agar Axel bisa mencerna penjelasannya.


"Menurutmu apa yang akan seorang Ayah lakukan jika melihat bahaya yang masih mengintai Putrinya?


Aku baru saja menemukan putriku yang telah hilang selama 18 tahun dalam situasi yang tidak mendukung. Cucuku Kritis, dan butuh penanganan cepat, sedangkan saat melihatmu Aku mengingat bahwa Kamu dulu pernah membiarkan Alexa dan ibumu mencelakai Azizah dan anak kalian yang bahkan belum lahir kedunia ini, lalu bagaimana Aku akan mempercayaimu? Tidak, maksudku, Aku bahkan tidak bisa mempercayai satu orangpun saat itu"


Axel menunduk. Matanya terasa panas setiap.kali ada orang yang mengingatkan betapa jahatnya Ia dulu terhadap mantan istrinya dan juga... calon bayinya.


"Kamu marah, Aku bisa mengerti karena Aku sendiri juga pernah merasakan kehilangan seorang anak. Tapi, Jika Kamu adalah Aku, bahkan Aku berani mengatakan bahwa, mungkin Kamu tidak akan memaafkan laki-laki yang telah menyakiti anaknya.


Apa yang Kamu lakukan terhadap putriku sangat sulit Aku lupakan Axel, bukan hanya sebulan atau dua bulan, Kamu menyakitinya selama bertahun-tahun. Bukankah jika saat ini Aku mengizinkan Kamu untuk bertemu anak-anakmu, berarti Aku sudah sangat bijaksana? Pikirkanlah"


Axel masih terdiam, Ia tidak tahu harus berkata apa, karena semua alasan Rheimon terlalu masuk akal untuk dibantah.


Linda yang duduk di samping Axel pun ikut mengangguk. Ia belum lama mengetahui bahwa Azizah ternyata adalah adik Darren, itu juga semenjak Axel kembali ke kantor setelah selesai menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit karena depresi pasca percobaan nujuh dirinya.


Linda tidak menyangka ternyata masalah sepupunya itu lebih kompleks, tepatnya, lebih memprihatinkan. Axel tidak tahu bahwa dia memiliki anak, Dan bisa dipastikan Anaknya pun tidak mengetahui tentang Ayah kandungnya ini.


"Besok datanglah ke rumah, Aku akan mengenalkanmu pada Shine dan Shiena, Tapi.. Aku mohon jangan mengatakan siapa Kamu sebenarnya, pelan-pelan saja, Kami akan mengatakan yang sebenarnya saat waktunya sudah tepat"


"Bagaimana dengan Azizah? Apa... Dia tidak keberatan?"


Tiba-tiba pertanyaan itu muncul dari bibir Axel. Axel bisa merasakan bahwa selama ini Azizah juga tidak ingin mengatakan keberadaan anak-anak mereka padanya.


"Putriku memiliki hati yang luas dan bijak. Ia akan mengizinkannya, tentu, asal Kamu tidak berniat melakukan hal yang buruk Axel, Aku masih memberimu kesempatan untuk Aku percayai"


Sahut Rheimon


Axel mendongak, kemudian dahinya berkerut ringan.


"Berniat buruk? Maksudnya?"


"Merebut hak asuh misalnya"


Sergah Darren tiba-tiba. Axel menghela nafas berat.


"Walaupun Gue pengen, tapi Gue nggak akan ngelakuin itu. Terserah Loe mau percaya atau nggak Ren, tapi Gue bersumpah Gue bukan Axel yang dulu"


"Okay, Gue pegang kata-kata Loe"


Tungkas Darren.


"Nama mereka..."


Axel ingin bertanya mengenai nama belakang anak-anaknya, kenapa tidak memakai nama keluarganya nya melainkan nama keluarga Abimana.


"Saat mereka mengenalmu dan sudah bisa menerima Kamu, Kamu bisa merundingkannya dengan Azizah tentang nama itu, Karena bukan Aku yang memberikan nama itu, Axel"


Axel mengangguk paham. Yah, semuanya harus perlahan, Ia tidak ingin membuat anak-anaknya takut padanya dan malah menjauh, Ia harus sabar sampai Shine dan Shiena bisa menerimanya dengan senang hati tanpa paksaan apapun.



"Maaf Nak, Daddy tidak menanyakannya dulu padamu, Daddy secara impulsif melakukannya saat melihat Axel di Mall yang sama saat itu"



Rheimon merengkuh bahu putrinya. Ia merasa sedikit bersalah karena melakukan tindakan itu tanpa berbicara terlebih dahulu dengan Azizah.



Namun diluar dugaannya, Azizah malah tersenyum dan memeluk erat Ayahnya itu.



"Terima kasih Dad, Kalau Daddy tidak melakukannya mungkin Zi juga tidak punya keberanian untuk mengatakan semuanya sama mas Axel. Lagipula sekarang Kami sudah memiliki kehidupan masing-masing. Jadi sebenarnya ketakutanku tidak ada gunanya, Dia berhak tahu bahwa anak-anaknya masih hidup. Anak-anakku juga berhak tahu tentang Ayah kandungnya. Zi juga tidak boleh egois kan Dad?"



"Mmmmm... Putriku ini memang bijaksana. Baiklah masalah ini selesai. Sekarang bersiaplah, bukankah malam ini Kamu dan Abi akan menghadiri perjamuan bisnis?"



"Iya, Dad..."



"Baiklah, Daddy tinggal... Selamat bersenang-senang, Sweetie. Ingat, jangan terlalu lama berdiri. Kamu sedang hamil muda Nak"



"Iyaa Dad, terima kasih selalu memperhatikan Zi"



"Sama-sama Sweetie..."



Rheimon kemudian keluar meninggalkan Azizah di kamarnya,



Tak lama kemudian Abimana muncul dari balik pintu setelah bertegur sapa ringan dengan mertuanya.



"Sayangku..."


Seperti biasa, sangat tidak afdol kalau Abimana tidak memeluk Istrinya dari belakang.



"Mas..."



Azizah membalik tubuhnya menghadap ke Suaminya, menatap mata Pria itu dengan penuh kasih.



"Hmn, Kenapa?"



Tanya Abimana dengan lembut.




Ucap Azizah hati-hati. Meskipun Ia tahu Abimana adalah Pria yang baik dan selalu berjiwa besar, tapi bagaimanapun Shine dan Shiena sudah menjadi bagian terpenting dalam hidup Abimana. Azizah tahu jika Suaminya itu sangat menyayangi anak-anaknya.



Abimana sedikit terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Istrinya, namun tentu saja keterkejutannya itu tidak bertahan lama. Pria berjenggot tebal itu dengan tenang menjawab.



"Sebenarnya kalau boleh jujur, Mas dari dulu ingin Kamu melakukan ini, bukan karena Mas tidak menyayangi mereka. Tapi, bagaimanapun mas merasa anak-anak berhak mengetahuinya. Mas sering merasa bersalah setiap kali melihat mata mereka, karena Kita merahasiakan sesuatu hal yang sangat besar dari mereka, yaitu tentang ayah kandung mereka. Jadi, Kamu melakukan ini sekarang, tentu saja mas sangat mendukung, Sayang..."



"Mas...."



Azizah menatap Abimana dengan penuh haru. Ia kemudian memeluk suaminya itu seraya menangis. Entah bagaimana caranya Ia bersyukur tapi Azizah merasa sangat beruntung karena Allah SWT telah mengirimkan Pria berhati malaikat ini ke dalam hidupnya. Ia sungguh-sungguh bersyukur.



"Aku mencintaimu mas"



"Aku lebih mencintaimu Sayang..."



Setelah acara berpelukan yang cukup lama, Abimana akhirnya melerai pelukannya dan meraih wajah mungil istrinya dengan gemas.



"Baiklah.. Ayo sekarang kita bersiap, satu jam lagi kita harus pergi ke acara perjamuan"



"Siap Bos!!! Mmmm Nayla sama Kak Darren juga datang kan Mas?"



"Iyup. Hampir semua pebisnis di kota ini diundang, kemungkinan besar, Axel juga datang"



Ucap Abimana dengan bibir mengerucut.



"Kenapa kamu manyun gitu mas?"


Tanya Azizah heran.



"Kamu beneran udah move on dari Axel kan, Sayang?"


Tanya Abimana seraya menggoyangkan lengan istrinya, persis anak kecil yang sedang membujuk mama nya pergi ke Indomaret untuk membeli kinderjoy.



"Ya Allah mas... Kamu ini.. Liat nih, disini lho ada hasil karya ilmiah Kita, Kamu masih nanya Aku udah move on belum?"


Sungut Azizah seraya menunjuk ke arah perutnya.



"Hahahaha iya iya Sayang, maaf maaf... Mas cuma takut Kamu ninggalin mas.."



"Nggak akan Mas, Aku malah bersyukur banget punya suami sebaik dan se-unyu Abimana Aryasatya Dharmawangsa iniii"



Azizah mencubit pipi Abimana hingga membuat Pria itu bersemu merah karena malu.



"Udah, sekarang Kita siap-siap mas, nanti telat..."



"Okay madam! Kiss dulu dong?"



"Hiiishhh Kamu ini!"



"Selamat datang, selamat datang"


Sambut seorang Pria bule bertubuh tinggi tegap saat rombongan Abimana dan Darren datang.


"Silahkan Tuan muda Atmaja dan juga Tuan Dharmawangsa, nikmati pestanya"


"Thanks, Mr. Philips, Wah.. Pestanya sangat mewah dan elegan, luar biasa"


Puji Abimana yang diangguki oleh Azizah disampingnya.


Darren pun ikut berdecak kagum melihat dekorasi rauangan itu yang bernuansa serba emas.


"Sesuai dengan tema dari parfum terbaru yang akan akan segera di launching, Kami membuat pesta yang berkesinambungan dengan itu"


"Waw, Luar biasa Mr. Philips"


"Terima kasih, Silahkan masuk nikmai pestanya sampai acara inti nanti"


"Baik-baik...."


Sahut Abimana dan Darren secara bersamaan.


Dan baru beberapa langkah kaki mereka meninggalkan Philips, Pemilik pesta itu dengan lantang menyambut kedatangan tamu berikutnya yang adalah...


"Oh, Selamat Datang Tuan muda Djaja, selamat datang..."


Mendengar nama itu, Rombongan Darren secara otomatis menoleh ke arah sumber suara. Benar saja, Mereka melihat Axel yang datang, namun tidak sendirian, disampingnya berdiri seorang wanita cantik dan anggun, yang tak lain adalah Dania Daneswara.


Tak ayal, kedua kubu yang pernah saling mengenal dekat itupun saling berpandangan, begitu juga dengan Axel dan Azizah.


Azizah mencoba tersenyum melihat mantan suaminya itu. Lain halnya Axel yang menatap Azizah yang tengah menggandeng lengan Abimana dengan tatapan terluka.


Lebih sakit lagi melihat binar bahagia yang tersirat di wajah Azizah, yang tak pernah Ia lihat saat wanita itu menjadi istrinya dulu.


Bersambung.....