Azizah, Istri Rasa Simpanan

Azizah, Istri Rasa Simpanan
Anggap Saja Kita Tidak Pernah Bertemu Tuan


Axel memandangi Azizah yang masih mematung seperti mayat hidup.


Atensi Pria itu tercuri saat matanya tak sengaja menangkap pemandangan dari paperbag yang jatuh barusan, sepasang sepatu kecil yang lucu teronggok disana. Mengulas senyum haru dari bibirnya.


Azizah sendiri berusaha menormalkan detak jantungnya yang menggila. Bukan karena terpesona atau apapun sejenis itu. Melainkan karena perasaan takut dan cemas.


'Apa Axel datang kesini untuk membunuhnya dan bayinya?' batin Azizah bertanya-tanya.


"Azizah...."


Bibi Ani yang melihat Azizah pucat pasi merasa khawatir. Ia menghampiri keponakannya itu.


"Kamu... baik-baik saja Nduk?


"I-Iya bi, nggak apa-apa" Bisik Azizy pelan.


Setelah melihat Bibi Ani, Azizah sedikit lebih tenang, Ia kemudian menatap Axel. Namun bukan dengan tatapan yang lembut dan penuh cinta seperti sebelumnya.


Melainkan tatapan kosong dan dingin, dan tentu saja Axel merasakannya.


"Tu..." Azizah menghentikan ucapannya, Ia menghela nafas pelan kemudian melanjutkan,


"Tuan, ada perlu apa datang kesini?"


Tanya Azizah datar. Namun matanya jelas menyiratkan ketakutan yang dalam.


'Tuan?' Batin Axel sedih.


Axel melangkah perlahan mendekati Azizah, namun seolah ada rasa trauma jika di dekati mantan suaminya itu Azizah reflek mundur dan menjauh. Membuat Axel merasakan semain sesak.


Azizah melirik Bi Ani, Kemudian kembali menatap Axel dengan ekspresi dinginnya.


"Sebaiknya kita bicara di luar Tuan, tidak enak sama tetangga, tengah malam seperti ini menerima tamu laki-laki, Saya mohon untuk menunggu di depan rumah"


Tanpa mau mendengar respon dari mantan suaminya itu, Azizah segera memungut Paperbag dan beberapa barang yang melompat keluar dari Paperbag itu, kemudian dengan cepat masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan Axel yang masih menatap sendu ke arah wanita itu.


'Azizah benar-benar membenciku sekarang' Batinnya bermonolog pedih.


Sementara di kamar....


Azizah terduduk di ranjang kecil kamarnya dengan tubuh gemetar. Keringat dingin membasahi pelipisnya.


Bibi Ani yang memang mengikuti langkah keponakannya itu segera menghampiri.


"Nduk... tenang...."


"Bi... Bii... Kenapa Dia kesini ya Bi? Apa Dia mau bunuh Aku sama anakku Bi?"


Azizah menggenggam erat jemari Bi Ani. Bi Ani menatapnya dengan tatapan sedih. Sepertinya begitu dalam sakit yang dialami Azizah sampai Dia setakut ini pada mantan suaminya.


"Apa Kamu masih punya tanggung jawab yang belum terselesaikan sama mantan suamimu?"


Tanya Bi Ani yang seketika terlihat berfikir.


"Astaghfirullah, Iya Bi... Zizah inget, dua bulan ini Aku belum nyicil hutang Aku sama Dia Bi... Ya Allah Bi... Aku lupa Bi..."


"Hutang?"


"Iya Bi, sebelum Ibu meninggal, Ibu sakit jantung, dan biaya pengobatannya di tanggung sama keluarga Djaja, banyak lagi Bu sampai 50 jutaan, tapi sebelum meninggal, Ibu udah bayar separuh dari tabungannya selama ini"


"Ya Allah... Jadi, maksud Kamu nak Axel kesini mau nagih hutang itu, begitu?


"Iya Bi, mau apa lagi memangnya?"


Bi Ani terdiam. Ia tak ingin terlalu ikut campur masalah pribadi keponakannya itu. Namun sebenarnya dalam hati Ia tak terfikir bahwa Axel jauh-jauh ke sini hanya untuk menagih hutang. Tapi biarlah, biar Azizah menghadapi mantan suaminya itu, agar masalah cepat selesai dan Azizah bisa memulai hidup yang benar-benar baru. Meraih masa depan yang lebih cerah.


"Kalau gitu, pake tabungan Zizah yang buat lahiran aja ya Bi, biar Dia nggak marah"


"Ya sudah, terserah kamu saja nduk"


Ucap Bi Ani lembut, seraya menghapus keringat dingin dari pelipis Azizah.


"Ya udah Bi, Aku ke depan dulu ya, Kalau ada apa-apa nanti Aku teriak"


Azizah mengangguk, Wanita itu kemudian membuka lemari pakaiannya, meraih sebuah kotak karakter Spongebob.


"Kamu nggak nabung di bank nduk?"


"Enggak Bi, soale ATM Bank ini jauh, mau ganti akun bank belum ada waktu jadi Aku simpen di celengan begini"


"Ya sudah nggak apa-apa. Cepetan keluar, Udah hampir jam 11 nduk"


"Njih Bi..."


Setelah memasukkan uang ke dalam sebuah kresek hitam yang ada di laci meja riasnya, Azizah mengambil langkah untuk menemui Axel yang kini tengah menunggunya dengan gelisah di depan rumah Bi Ani.


"Azizah?"


Panggil Axel begitu melihat Azizah muncul dari dalam rumah. Sementara wanita itu tidak merespon, Azizah hanya terdiam, tapi bahasa tubuhnya terlihat sangat tidak nyaman dengan keberadaan Axel disana.


"Maaf Tuan menunggu lama, Ini.... Saya baru bisa mencicil 5 juta karena Saya tidak ada uang lagi, tapi... Saya janji akan mencicil tiap bulan tanpa lupa"


Ucap Azizah seraya menyodorkan plastik hitam berisi uang itu, membuat Axel seketika mengernyit bingung.


"Uang? untuk apa?"


"Bayar hutang Ibu, bukankah Tuan datang untuk menagih?" Tanya Azizah dengan wajah polosnya. Wanita itu tidak punya pemikiran lain selain Axel datang jauh-jauh kesini karena Dia masih punya hutang dan lupa mencicil sejak 2 bulan yang lalu.


"What?? No, Sayang... Aku kesini bukan buat ini.."


"Lalu? apa selain hutang piutang kita masih ada urusan lain Tuan? Saya... Saya bersumpah Tuan, Saya pergi tidak membawa apapun sungguh, hanya baju dan uang saya sendiri, benar-benar uang saya sendiri"


Azizah menjelaskan dengan tergagap. Ia sungguh takut tiba-tiba dihajar oleh Axel seperti biasanya. Tapi Ia merasa sudah berkata jujur, Ia tak membawa apapun selain pakaian dan uang hasil jualannya sendiri.


Axel kehabisan kata-kata, Ia menatap wanita dengan perut buncit di hadapannya dengan tatapan iba, Sebegitu besar trauma Azizah sampai tak bisa menerka sama sekali tujuannya kesini.


'Yang benar saja, Aku datang untuk menagih hutang?' tanyanya dalam hati.


"Aku kesini bukan untuk ini Zizah, Aku ingin minta maaf, Aku ingin memohon ampunan kamu atas apa yang sudah Aku lakukan selama ini... I'm so sorry... Aku benar-benar minta maaf"


Ucap Axel dengan mata memerah, Namun justru membuat Azizah bertambah ngeri.


"Tidak Tuan, Saya sudah memaafkan Anda, ini semua salah Saya. Kita lupakan saja. Anggap saja Kita tidak pernah bertemu Tuan. Jadi, Anda bisa memulai kehidupan baru yang lebih baik bersama Nona Alexa sebagaimana seharusnya, Saya sudah berjanji untuk tidak akan mengganggu kehidupan Anda lagi, Saya pasti akan menepatinya. Jangan khawatir"


"Azizah...."


Axel terperangah kemudian tatapan sendunya beralih ke arah perut Azizah, Apa Azizah lupa kalau sedang mengandung anaknya?


Azizah mengikuti arah pandang Axel, kemudian secara impulsif menutupi perutnya dengan tangannya.


"Anda jangan pikirkan ini Tuan, Anak saya tidak akan berpengaruh apapun terhadap Anda. Kalau perlu Saya akan membawa sejauh mungkin agar Anda percaya Tuan. Jadi bisakah Anda melupakan semuanya? Anggap saja Saya tidak pernah ada di kehidupan Anda Tuan... Saya mohon..."


Azizah mulai terisak. Ia teringat bagaimana sakitnya kehilangan bayinya dulu.


"Itu Anakku, bagaimana bisa Aku menganggapnya tidak ada??"


Axel berucap dengan suara rendah. Pria itu mengusap kasar bulir bening yang hendak menetes dari matanya.


"Tuan akan menikah dengan Nona Alexa, kalian pasti bisa punya banyak anak..."


"Bisakah Kamu berhenti memanggil saya Tuan?Dan jangan sebut nama wanita itu lagi."


Axel mengambil nafas sejenak kemudian melanjutkan.


"Bagaimanapun, Bayi itu adalah Anakku, anak Kita. Kenapa Aku bisa menganggapnya tidak ada...Itu tidak mungkin Zizah"


Ucapan Axel membuat Azizah sedikit emosi. Dengan suara bergetar Dia menjawab.


"Kenapa tidak mungkin Tuan? Jika dulu saja, Anda bisa bersekongkol untuk membunuh janin yang bahkan belum genap 4 bulan di kandungan Saya, kenapa sekarang Anda bersikap seolah Anda sangat menyayangi Anak Saya?"


Deg!!!


Axel terkejut. Azizah tahu tentang hal itu???


Bersambung....