Azizah, Istri Rasa Simpanan

Azizah, Istri Rasa Simpanan
Cintaku Sudah Mati



Biar yang pada emosi agak seger.. Kenalin babang brewok kesayangan Aku hahaha, Badan boleh bertato tapi hatinya lembut seperti Winnie the Pooh, Awokawokawok....


"Saya mendengar semuanya, hingga Saya hampir tidak mempercayainya. Bahwa Suami yang Saya anggap seperti malaikat, bahkan tidak memiliki sedikit nurani hingga tega melenyapkan darah dagingnya sendiri"


Axel dibuat bungkam. Hatinya berdenyut nyeri mendengar ucapan Azizah dan mengetahui kenyataan bahwa Azizah sudah tahu tentang hal itu. meskipun Ia tak terlibat secara langsung, tapi Ia ikut andil dengan menyetujui rencana Alexa dan ibunya saat itu.


"Apa perlu Saya mengulangi kata-kata Anda? bahkan saya masih safal setiap kata yang Anda ucapkan Tuan"


"No way! Ngga akan pernah. Gue ngga sudi punya keturunan dari wanita rendahan seperti Dia. Kalau Dia sampai hamil nanti, Gue sendiri yang akan nyingkirin bayi sialan itu dengan tangan gue sendiri. Lagipula perempuan itu pernah hamil dengan cara licik! Untungnya nyokap gue dan Alexa berhasil bikin Wanita sialan itu keguguran!"


Setitik air mata lolos dari mata indah itu, bibirnya bergetar mengingat semua ucapan Axel yang serupa mantra kematian untuk Azizah.


"Apa sekarang Tuan sudah ingat?"


"Aku sungguh-sungguh minta maaf Zizah, Aku..."


"Tidak. tidak ada yang perlu dimaafkan karena sekarang kita hanya orang asing Tuan. Selama 4 tahun Anda memperlakukan Saya seperti orang asing. Jadi, tetaplah seperti itu. Karena apapun yang Anda lakukan semua tak lagi sama. s


Seperti angin yang tidak akan kembali ke tempat yang sama, begitu juga dengan Saya. Jadi, Saya mohon, pergilah. Anggap saja Kita tidak pernah saling mengenal"


"Please Zizah, Aku sangat menyesalinya. Tolong beri Aku kesempatan... Aku sudah berubah!"


Ucap Axel hampir berlutut, tapi seketika terhenti saat melihat Azizah menggeleng kuat.


"Secepat itu? selama 4 tahun Aku bahkan tidak bisa mencairkan hati Anda walau hanya untuk mengetes setitik embun. Bagaimana bisa Anda berubah hanya dalam hitungan hari?"


"Aku bersumpah Zizah, Aku bukan lagi Axel yang dulu. Percayalah. Beri Aku kesempatan... demi... bayi Kita"


"Bayi Kita? Ini anak Saya. Hanya anak Saya"


"Azizah..."


"Saya mohon pergilah Tuan. Lupakan semuanya dan jalani hidup Kita masing-masing"


"Nggak Azizah, Apa Kamu sudah tidak mencintaiku lagi? tolong beri Aku kesempatan..."


"Cintaku Sudah mati Tuan, Anda sendiri yang membunuhnya. Sekarang Saya mohon pergilah..."


"Nggak.. please Aku mohon.... Azizah..."


Azizah tak lagi mendengarkan Axel, Ia segera masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu dengan keras.


Wanuta itu menumpahkan air matanya. Sementara Axel masih memanggil namanya di luar sana.


Brak brak brak...


"Azizah Aku mohon! maafkan Aku Zizah... Please. Aku janji akan berubah! Zizah!!!"


Bi Ani yang sedari tadi ikut sedih melihat Azizah kemudian memapah wanita yang kini tampak lemas itu menuju ke kamarnya. Tak lama setelahnya, Bi Ani keluar dari kamar Azizah setelah memastikan keponakannya itu sudah lebih tenang, Kemudian kembali menemui Axel yang masih meraung di luar rumah.


Ceklek..


"Zizah..."


Axel seketika kecewa saat melihat bukan Azizah yang membukakan pintu.


"Nak Axel, Sebaiknya Nak Axel pulang, Biarkan Azizah tenang dulu. Ingat, Azizah sedang hamil, sangat tidak baik untuk kesehatan ibu dan bayinya jika Dia tertekan, jadi... sebaiknya Kamu pulang dulu. nanti coba Bibi bicara baik-baik dengan Azizah"


Axel yang masih terisak pun terpaksa mengangguk. Pria yang kini terlihat kacau itu dengan lantai gontai meninggalkan rumah Bibi Ani.


Penolakan Azizah benar-benar membuatnya terpuruk. Ia tahu kesalahannya terlalu besar, tapi tidak bisakah Ia di beri kesempatan walaupun hanya sekali?


Axel kembali menengok ke arah rumah yang kini sudah terutup pintunya. Seolah hatinya masih berharap Azizah berubah pikiran dan bersedia memaafkan dirinya.


***


"Axel ke rumah Bu Ani??"


Darren sangat terkejut mendengar informasi dari Bi Ani yang kini tengah menelponnya.


"...."


"Oke Bi, Bagaimana keadaan Azizah sekarang? apa Dia baik-baik saja?"


"...."


"Syukurlah. Kalau begitu tolong temani Zizah bi, Kalau ada apa-apa jangan sungkan menghubungi Saya"


"...."


"Oke, Terimakasih, Assalamualaikum"


Klik. Darren mengakhiri panggilan teleponnya. Tak lama kemudian Ia mendesah pelan.


"Emang Brengsek si Axel. Ngapain lagi sih Dia, Udah terlambat baru deh taubat!"


Darren kemudian menghubungi si brewok yang sebenarnya tidak begitu Ia sukai. Tapi daripada Axel, tentu Darren lebih berpihak pada Abimana.


"Halo Brewok. Bisa ketemu sekarang?"


"Ya udah kalo Loe nggak mau tahu info ya g bakalan Gue sampein. Clue nya tentang Azizah yang baru aja di apelin mantan suaminya"


"Apa???"


Seru Abimana dengan keras yang sontak membuat Darren menjauhkan teleponnya.


"Busett... pecah nih gendang telinga Gue!"


"Te-terus gimana?"


"Ya nggak ada terusnya, kalo Loe nggak mau ketemu Gue ya udah nggak akan Gue kasih tahu"


"Oke. Oke. Dimana?"


"Di Cafe XXX"


"Emang masih buka jam segini?"


"Buka 24 jam Dia kayak Pom bensin"


"Oke, Aku kesana sekarang"


"Oke. Gue tunggu"


Abimana segera mengganti pakaian, kemudian bergegas menuju ke tempat dimana Darren mengajaknya bertemu.


Tak sampai 30 menit, Abimana sudah sampai di Cafe XXX yang ternyata adalah... Angkringan.


Darren yang sudah sampai 10 menit lebih awal sudah bertengger diatas kap mobilnya dengan senyuman lebar ala Joker.


"Thanks udah mau dateng. Ternyata love beneran serius sama Azizah ya"


"Ck, memangnya selama ini Aku terlihat main-main?"


Tanya Abimana dengan raut sebal.


"Iye.. iyeee percaya. Ya udah Ayo kita bicarakan masalah bedebah itu sambil ngopi. Karena Aku yakin saat mendengar ceritaku Kau akan dehidrasi akibat menahan emosi"


Mendengar ucapan Darren, Abimana hanya mengernyit bingung. Namun tak ingin banyak bertanya, Ia hanya mengekori langkah Darren duduk di sebuah bangku kecil yang terletak tidak jauh dari Cafe Angkringan itu.


Setelah memesan beberapa menu, Darren pun mulai menceritakan bagaimana awalnya Axel bisa tahu keberadaan Azizah.


"Jadi gini...."


Darren mulai menceritakan runtutan kejadian antara dirinya dan Radit secara mendetail, Abimana mendengarkan dengan seksama seraya menganggukkan kepalanya tanda paham.


"Begitu rupanya... Tapi, Kenapa malah Kakek Axel sendiri yang tidak mendukung cucunya untuk kembali dengan Azizah? bukankah Kamu bilang Dia sangat menyayangi Azizah"


"Ya harusnya sih gitu, emang Loe rela Azizah balik lagi ke Axel?"


" Ya enggak lah! Aku kan cuma nanya!"


"Ya nggak usah sewot juga dong, Nihh Gue ceritain juga. Tapi janji, Loe jangan ngasih tahu Azizah, pura-pura aja Low nggak tahu apa-apa. Oke? jangan bikin Azizah nggak nyaman dan mungkin... malu?"


"Oke, Aku janji"


Darren pun menceritakan apa yang telah di perbuat oleh Axel sesuai dengan pengetahuannya selama ini, tidak secara mendetail karena Ia memang tak pernah mencampuri urusan pribadi mantan sahabatnya itu.


Darren mengetahui semua itu pun karena Axel sendiri yang bercerita padanya dan juga kedua sahabatnya yang lain, Vano dan Raditya..


"Astaghfirullah... Gila... Axel ternyata sekejam itu??"


"Iya, makanya Azizah pergi kan, bagus deh. berarti Dia masih waras untuk nggak berjuang buat bajingan macam Axel"


"Hmn... Gue ngerti sekarang"


"Jadi, Gue ceritain ini semua ke Loe karena Gue percaya bahwa Loe beneran sayang dan peduli sama Azizah. Jadi Gue butuh bantuan Loe buat ngelakuin sesuatu"


"Tentu saja. Aku bersedia melakukan apapun asal bisa melindungi Azizah, Tuan Atmaja"


"Panggil Darren aja, dibilangin Atmaja itu Bapak Gue"


"Oke Sorry, Jadi apa yang harus Aku lakukan?"


Darren pun membisikkan sesuatu kepada Abimana. sejurus kemudian kedua itu saling melemparkan senyum misterius.


Bersambung...


Waduh... Kira-kira apa ya rencananya??


Aku sendiri tidak bisa menerka lho 🤣🤣🤣


Terima kasih atas kunjungannya teman-teman, semoga terhibur dan cerita gaje ini dapat dipahami ya ☺️❤️❤️


Luvv banyak-banyak ❤️🌹🌹🌹


Jangan lupa like ya buat yang suka ceritanya biar Aku semangat up-nya hehehehe ❤️❤️