
Azizah tengah menunggu Suaminya yang sedang menunggu suaminya yang tengah menerima telepon.
Sebenarnya Ia ingin mengatakan pada Abimana dan Anak-anaknya saat makan malam nanti, tapi ternyata Azizah lebih tidak siap dengan reaksi anak-anaknya. Kenapa?
Azizah sangat mengenal anak-anaknya, Mereka adalah bocah-bocah yang aktive dan super kepo, jadi Ia hanya takut jika mereka berdua akan menanyakan hal-hal diluar prediksi kepadanya sementara Ia dan suaminya mungkin tidak akan bisa menjawabnya.
Grepp!
"Ya Allah mas, ngagetin aja sih Kamu"
Azizah tersentak kaget saat tiba-tiba Abimana memeluknya erat dari belakang. Sebenarnya hal itu sudah biasa, entah karena kecanduan atau bagaimana, Azizah sendiri tidak mengerti, tapi Suaminya selalu melakukan hal itu padanya.
Abimana tidak merespon, Ia terlalu sibuk menciumi harum surai panjang sang Istri yang menjadi candu baginya. Wanginya lembut seperti bunga mekar di sore hari.
"Mas..."
Azizah mencebik sebal.
"Hmmm... Biar seperti ini, Mas lelah, cuma begini aja bikin capek Mas ilang"
"Gombal..."
"Hehe... Mas Kangen banget..."
"Kita ketemu tiap hari Mas...Masa kangen terus"
Ucap Azizah pura-pura jutek, padahal wajahnya sudah memerah, Suaminya memang sangat manis, pandai merayu dan membuatnya tersipu.
Abimana dengan lembut membalikkan tubuh Azizah yang menurutnya sangat imut. Pria itu menatap dalam wajah istrinya,
"Bahkan walaupun cuma sedetik Mas nggak ketemu Kamu, rasanya kayak seabad Honey, seriusan!"
"Idih apa sih... Alay Kamu nggak berubah ya..."
"Tapi Aku serius lho, Aku kangen... Pengen makan Kamu..."
Tanpa menunggu respon istrinya, Abimana menyerbu bibir istrinya dengan agresif. lengan kokohnya dengan sigap menggendong tubuh kecil itu hingga menimbulkan pekikan tertahan dari si empunya.
Pelan dan lembut, Abimana meletakkan tubuh Azizah diatas ranjang empuk milik mereka berdua,
"I love You..." Ucapnya dengan suara berat. Abimana masih bisa menahan h*sratnya yang sudah membumbung tinggi. Ia tak ingin keinginannya bercinta akan menyakiti istrinya.
"Mas...."
Azizah masih terpejam. Menikmati setiap sentuhan yang diberikan Suaminya dengan lembut dan penuh perasaan.
"Hmn..."
Sahut Abimana di tengah fokusnya mengagumi kecantikan lekuk Istrinya nan elok.
"Hati-hati..."
Ucap Azizah pelan.
??? Abimana sedikit bingung... Hati-hati?
Azizah membuka matanya, Menatap mata cokelat terang milik suaminya, Ia tersenyum kemudian dengan lembut berkata,
"Ada babynya disini"
Azizah mengarahkan jemari Suaminya menyentuh permukaan perutnya yang rata.
Abimana menganga, Tak lama kemudian senyum yang indah merekah di bibirnya, matanya berkaca-kaca.
"Honey... Kamu..."
Abimana nyaris berteriak namun hanya suara bergetar yang keluar dari dirinya. Rasa haru, bahagia dan sekaligus tidak percaya memenuhi hatinya.
Azizah mengangguk dengan antusias, Ia lega melihat rona bahagia di wajah Suaminya.
"Aku hamil... Aku telat 5 Minggu"
Abimana menutup wajahnya, Tak lama kemudian Ia segera memeluk tubuh Istrinya dengan haru. Pria itu menangis. Kebahagiaan dan rasa Syukur dihatinya tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Rasanya terlalu indah untuk di ungkapkan.
"Terima kasih, Honey... Ini adalah kado terindah dalam hidup mas setelah memilikimu dan anak-anak "
"Mas..."
Azizah ikut meneteskan airmata, Abimana tidak tahu betapa Ia juga bersyukur mendapatkan suami sebaik pria ini.
"Mas janji, Akan selalu menjaga Kamu dan anak-anak Kita, Kalian adalah harta Mas yang sangat berharga, Terima kasih... Terima kasih sudah hadir dalam hidup Mas, Honey
"Mas.... I love You"
"Hmmm... I love You, more, more and more Honey..."
Abimana memeluk erat istrinya seraya melayangkan kecupan bertubi di wajah istrinya itu.
"Besok kita Kasih tahu anak-anak?"
Tanya Azizah setelah melerai pelukan Mereka.
"Iya dong.. Mereka pasti senang kalau tahu bakal dapat Adik baru"
Ucap Abimana dan diangguki oleh istrinya...
"Honey... Yang tadi... Bisa dilanjutin nggak?"
"Hahahaha, bisa dong.. Ayook..."
"Waaaw... Oke let's go!!! Sayang, Daddy mau jenguk Kamu Okay?
Cup. Pria itu mengecup sekilas perut Azizah membuat istrinya itu terkikik geli
"Mas Akan hati-hati, Honey .."
Azizah tersenyum kemudian mengangguk pelan.
"Yeaay... Shine akan punya adik baru yeaayy"
Bocah laki-laki itu berseru riang seraya berlari memutari meja makan begitu tahu bahwa Ia akan memiliki adik baru.
Sementara kembarannya, Shiena malah terlihat cemberut.
Gadis kecil itu malah memeluk erat Daddy-nya. Menyembunyikan wajah kecilnya diantara lengannya.
"Kalau ada Adik baru apa Daddy sama Mommy tetap sayang sama Shiena?"
Ucap Shiena dengan mata polosnya yang kini berkaca-kaca.
Abimana tersenyum, Kemudian meraih wajah putri sambungnya itu dengan gemas.
"Tentu saja, Daddy dan Mommy akan selalu sayanb Kamu dan juga Kakakmu, Shine. Kalian kan anak-anak Mommy dan Daddy?"
"Betulkah?"
Tanya Shiena lagi.
"Iya betul. Mommy dan Daddy janji"
Sambung Azizah kemudian. Wjah gadis itupun berubah menjadi ceria kembali. Lantas Ia berkata dengan lucu.
"Okay deh, Kalau gitu Shiena juga senang akan dapat Adik baru... Yeayy"
Azizah dan Abimana saling menatap dan menggelengkan kepalanya bersamaan. Ada-ada saja anak-anak ini.
"Ya udah, Ayok Kita berangkat, Mulai hari ini Daddy yang akan antar kalian ke sekolah, Mommy biar dirumah istirahat demi Adik bayi, Okay Guys?"
"Okayyy Daddy!!!"
Jawab kedua anak kembar itu kompak. Abimana kemudian menggandeng anak-anak menuju ke mobilnya.
"Hati-hati Mas"
"Kamu juga Honey, Muuach.. Jangan lupa makan, Siang nanti Mas pulang, Kita ke dokter kandungan, Okay?"
"Okay... Bye..."
Azizah melambaikan tangannya, disambut hal yang sama oleh suaminya, hingga mobilpun berlalu, Wanita itu kembali masuk kedalam rumahnya.
"Jadi, Loe nggak tahu Darren mau married?"
Vano bertanya karena penasaran. Ia dan Radit kini tengah berkunjung ke Kantor sahabatnya itu.
Begitulah keadaannya, jika ingin bertemu maka Mereka akan menemui Axel di kantornya, atau di rumahnya. Hanya dua tempat itu.
Sejak sadar dari komanya, 6 tahun lalu, Pria ini benar-benar berubah. Gila kerja dan sangat serius. Lebih mengerikan dari Axel yang dulu jika mengenai pekerjaan.
Jadi, Vano dan Radit sudah tidak berharap lagi bisa nongkrong dengan pria itu di club malam atau Bar seperti dahulu kala.
"Enggak"
Jawab Axel singkat. Pria itu masih sibuk membolak-balik dokumen yang seperti biasa, menumpuk tanpa batas. Sejujurnya Ia lelah, tapi perusahannya tidak akan kembali seperti sekarang jika tanpa kerja keras.
"Tapi, Darren ngasih undangan ini ke Loe"
Vano menyerahkan selembar kertas berwarna merah hati bertuliskan tinta emas yang cantik, Tidak lupa hiasa pita diujung amplop yang menambah estetika undangan itu.
"Gue nggak dateng kayaknya"
"Xel... Bukannya, kemungkinan Azizah juga pasti ada disana? Ini pernikahan Kakaknya dengan sahabatnya, Nayla kan teman baik Azizah, ya kali Dia nggak datang"
Sambung Radit yang kemudian diangguki oleh Vano.
Axel terdiam.Hatinya tergiur ingin datang.Tapi.. Mengingat pertemuan terakhir mereka yang menyedihkan, Anak-anak mereka yang tidak bisa diselamatkan akibat kejadian penculikan itu, Axel sedikit mengurungkan niatnya.
"Gue... Nggak siap ketemu Dia"
Pria itu menghela nafas berat. Menghempaskan dokumen yang ada di tangannya ke atas meja.
Ia rindu, tapi juga malu...
Jadi, bagaimana? Begitulah kegalauan yang berkecamuk dalam hatinya...
Bersambung
Maaf ya setiap hari Sabtu Minggu Aku super sibuk, jadi kemungkinan tidak update yah, karena bos semua di rumah, jadi nggak bisa revisi dan edit2 bab...
Selesai kerja biasanya aku langsung tidur karena kalo malam Sabtu dan Minggu Aku tidur jam 1 malam... Hehe harap maklum yaaa
Insya Allah kalau weekday aku rutin update... Thanks for your attention para pembacaku yang baik hati ❤️❤️❤️💜🫂