Azizah, Istri Rasa Simpanan

Azizah, Istri Rasa Simpanan
Sakitnya Masih Terasa


Axel sama sekali tidak gentar. Ia semakin mendekati Bram Sadewo dengan santai. Sementara Bram sendiri malah gemetar namun berusaha keras untuk tidak menyembunyikannya.


Kini ujung pistol itu sudah berada tepat di dada Axel.


Axel tersenyum sinis dan berkata,


"Tembaklah, dan Anda tidak akan pernah mengetahui dimana putri anda yang ****** itu berada"


"Kurang ajar. Berani-beraninya Kau memperlakukan Alexa seperti ini. Dia sudah berkorban banyak untukmu brengsek!"


"Hahaha berkorban katamu?? Ayolah jangan melawak disaat seperti ini. Anda fikir Saya tidak tahu apa yang kalian berdua rencanakan??"


Mata Pria tampan itu menghunus tajam ke arah Bram Seketika pria berusia 50 an itu meneguk ludahnya dengan kasar.


"Ap-apa maksudmu?"


"Jangan berpura-pura, karena itu sama sekali tidak berguna. Anda dan Alexa adalah penjahat yang menjijikan. Anda fikir saya tidak tahu bahwa Anda lah yang membunuh Daddy-ku. Marcell Bramantyo?"


"Tidak mungkin..." Gumam Bram tidak percaya jika Axel mengetahui masa lalu itu. Padahal Ia sudah menutup sangat rapi campur tangannya dalam peristiwa itu.


"Mungkin. Anda belum mengenal Saya dengan baik Tuan Sadewo"


Ceklek... Bram dengan tangan bergetar mulai menarik pelatuk pistolnya.


Krieet...


1


2


3


Cetak!!! Pistol itu kini berbalik arah dengan cepat menghadap ke wajah Bram. Axel memegang kendali.


"Ck ck ck. Payah sekali!" Ejek Axel seraya mendekatkan ujung senjata api itu tepat di kemungy Bram.


Kemudian dengan angkuh mengejek.


"Jangan bermain pistol jika tanganmu saja masih gemetaran. Lebih baik Anda bermain pistol air dengan cucu Anda di Waterboom. Akan lebih menyenangkan. Percayalah"


Bram kehabisan kata-kata. Benar kata Alexa, putrinya. Axel bukan orang yang mudah di gertak ataupun diancam. Pria itu sangat pintar memutar balikkan keadaan.


"Lihat saja Axel, Aku akan membuat perhitungan denganmu jika terjadi sesuatu pada putriku!! Ingat itu!!!"


Sengit Bram dengan wajah merah padam, antara kesal dan malu.


"Well, Saya akan menunggunya dengan sabar"


Bram dengan langkah lebar meninggalkan ruangan Axel sampai lupa dengan pistolnya itu.


Prak...


Axel melempar pistol itu ke sembarang arah. Ia kemudian menuju ke jendela kantornya yang terbuka lebar, membiarkan wajahnya di terpa angin yang menyejukkan.


'Azizah... Dimana Kamu sekarang?'


Pria itu memejamkan matanya. Sebulir bening mengalir ke wajahnya yang angkuh. Kejadian barusan sama sekali tidak diingatnya, seolah tidak terjadi apa-apa.


***


"Oh jadi...mantan suaminya mba Zizah itu sahabatan sama direktur ganjen?"


Azizah tersenyum setiap mendengar sebutan Nayla untuk Darren.


"Iyaa, kira-kira begitu"


"Mmmm... Mba Zizah, kalo Nayla mau nanya sesuatu boleh nggak? Tapi agak pribadi gitu"


"Boleh... Tentang apa Nay?"


"Eee sebenarnya ini agak pribadi sih, bukannya Nayla nguping mba, tapi dari pembicaraan mba Zizah sama pak Dirut itu kayaknya mba takut banget sama mantan suaminya, emangnya mantan suami mba jahat ya mba?"


Tanya Nayla, sebenarnya Ia tak enak hati menanyakan hal pribadi seperti ini, tapi Dia benar-benar penasaran. Apalagi sepertinya selama mengenal Azizah hampir 3 bulan ini, wanita berhijab itu tidak pernah sekalipun menyinggung soal mantan suaminya.


Azizah menatap Nayla, mungkin tidak ada salahnya berbagi pengalaman. Siapa tahu akan ada pelajaran yang baik untuk diambil, apalagi Nayla belum menikah. Mungkin saja dengan pengalaman yang akan Azizah alami bisa menjadi ilmu untuk Nayla agar berfikir matang-matang sebelum memutuskan untuk menikah.


Jadi, Azizah tidak berniat mengumbar aibnya hanya sedikit menceritakan pengalamannya.


"Sebenarnya..."


Azizah mulai menceritakan awal mula pernikahannya sampai pada suatu kejadian yang membuatnya trauma sampai sekarang...


Flashback On


"Alhamdulillah, lumayan juga pesenannya, mudah-mudahan lancar terus Ya Allah, biar bisa nabung yang banyak hehehe"


Ucap Azizah di sela-sela kesibukannya menuliskan pesanan kue dan rice box dari tetangga dan beberapa kelompok arisan.


Brak brak brak


Wanita itu sedikit terkejut mendengar pintu rumahnya di gedor seseorang. Azizah seketika melihat jam di dinding.


"Jam 11 malam, siapa ya?"


Gumam Azizah. Sejujurnya Ia sedikit takut. Namun perlahan Ia mendekati pintu. Dan mengintip dari balik tirai.


Brakkk brak brak!!


"Azizaah!"


Suara teriakan dari orang yang paling di tunggunya selama ini, Suaminya.


"Mas Axel??"


Azizah dengan cepat membukakan pintu.


"Dari mana aja sih! Lama banget!"


"Maaf mas, tadi Aku..."


"Aaah udah. Berisik. Siapin air hangat. Gue mau mandi"


Azizah bisa menebak, Axel pasti sedang mabuk.


Lalu kenapa Ia datang ke rumahnya? Kan berbahaya menyetir dalam keadaan mabuk? Batin Azizah.


Meski apapun yang telah Axel lakukan padanya wanita itu tetap mengkhawatirkan laki-laki yang berstatus sebagai suaminya itu.


Belum lah selesai Azizah menyiapkan Air, tiba-tiba Axel muncul di belakangnya.


"Astaghfirullah!" Seru Azizah seraya berjengkit kaget.


"Kenapa?" Tanya Axel dingin


"Eng... Enggak mas cuma kaget"


Ucap Azizah seraya menunduk. Percayalah, menatap mata Axel adalah kelemahannya. Ia tak pernah berani menantang tatapan suaminya itu.


"Heh, Loe sengaja pake baju kaya gini biar Gue tergoda?"


Axel memandangi Azizah yang kini mengenakan piyama berbahan satin tanpa lengan yang hanya sepanjang lutut.


"Enggak mas.. sungguh, Aku memang tiap hari pake piyama ini, karena adem"


Jawab Azizah jujur. Ia sungguh tak berniat seperti itu, apalagi Azizah sama sekali tidak tahu jika Axel akan datang.


"Oh ya? Berapa banyak?"


"Berapa banyak? Piyamanya? Ada 3 mas"


Jawab Azizah sekenanya, meski bingung dengan pertanyaan Axel.


"Berapa banyak laki-laki yang udah tidur sama Loe?"


Azizah menatap nanar pria di hadapannya itu, meskipun bukan pertama kali Axel menghinanya tapi tetap saja ucapan laki-laki itu barusan bagai belati yang menusuk hatinya.


"Mas..."


"Nggak usah sok polos didepan Gue. Loe cuma pelacur murahan yang bermimpi jadi Cinderella. Sini biar Gue tunjukin derajat Loe!"


Secara tiba-tiba menarik rambut Azizah dengan kasar dan membantingnya di atas kasur.


"Loe pengen banget Gue sentuh kan? Gue kasih!!"


Hardik pria itu dengan kejam.


"Enggak mas, maaf, Aku minta maaf hiks hiks"


Ucap Azizah yang mulai terisak jantungnya berdetak tidak karuan karena ketakutan.


Axel terlihat sangat marah entah kenapa. Padahal seingat Azizah, Ia tidak pernah melakukan kesalahan. Selain... Menerima perjodohan mereka.


Plakk!!!


Tangan kekar pria itu melayangkan tamparan keras di wajah tirus Azizah hingga wanita itu memekin kesakitan.


"Ampun mas... Aku minta maaf kalau Aku salah"


Axel menulikan telinganya. Pria itu kemudian merobek pakaian Azizah dengan kasar, hanya menyisakan pakaian dalamnya.


"Gue akui rasa Loe lumayan juga, daripada gue melacur di jalanan"


Lagi, Axel mengucapkan kalimat merendahkan itu dari bibirnya.


Pria itu menatap bengis Azizah, kebencian benar-benar tersorot nyata dari manik abu kehijauan miliknya.


"Loe ngancurin hidup Gue dengan pernikahan tolol ini. Sekarang rasakan sakitnya hati harus berpisah sama Alexa karena dihianati sama Loe brengsek!!"


Axel menarik kasar underwear ya g dikenakan Azizah. Wanita itu terus menangis dan memohon tapi Axel sama sekali tidak memperdulikannya.


"Ampun mas.. sakit!!"


Axel menggerakkan jarinya dengan sangat kasar membuat Azizah merasakan perih luar biasa di area intinya. Pria itu juga meremas kasar p*yud*r* istrinya itu.


Seperti tidak puas Axel membalikkan tubuh Azizah hingga tengkurap kemudian kembali menarik rambut istrinya dengan lebih keras.


Axel memasuki istrinya itu tanpa kelembutan sedikitpun sementara tangannya masih setia melayangkan tamparan dan pukulan di tubuh kecil istrinya.


Azizah terus menangis dan memohon ampunan agar Axel berhenti, namun pria itu tak sama sekali menggubrisnya, sampai Azizah kehilangan kesadaran dan bangun keesokan harinya tanpa Axel. Suaminya itu sudah pergi. Meninggalkannya begitu saja dalam keadaan yang mengenaskan.


Azizah menangis dalam. Rasa sakit dan nyeri masih juga di rasakannya. Wanita itu bangkit kemudian berjalan dengan tertatih. Ia melirik kasur dan melihat banyak bercak darah disana.


'Sebenci itu Kamu sama Aku mas' Batin Azizah pilu. Ia memandangi tubuh telanjangnya di cermin. Hampir seluruh tubuhnya lebam, bibir dan pipinya bahkan membiru. Tapi ada yang lebih sakit dari semua itu, yaitu hatinya.


Flashback off


"Bahkan sudah begitu Aku masih bertahan dan memaafkannya. Karena Aku tidak ingin mengecewakan seseorang, yaitu Kakek Adhitama. Beliau adalah kakek mantan suamiku. Tapi sangatlah baik padaku Nay"


"Ya Allah mba... Aku nggak nyangka. Kamu kuat banget mba sumpah... Kalo Aku mungkin udah lama kabur"


"Hehe, sekarang semua sudah berlalu. Aku sudah mengambil keputusan yang tepat kan? Jadi, sekarang tidak ada tempat lagi untuk kesedihan. Kedepannya hanya akan ada kebahagiaan, Insya Allah"


"Aamiin... Tapi, gimana sama pak Abimana mba? Aku punya firasat beliau benar-benar tulus sama mba Zizah"


Ucap Nayla. Azizah hanya menghela nafas pelan kemudian menjawab,


"Aku belum tahu Nay, luka masa laluku masih membekas, sakitnya masih terasa sampai sekarang, Aku belum memikirkan masalah pasangan"


"Aku ngerti mba... Tapi Aku cuma mau bilang, Kalau kita berjodoh dengan orang yang tepat dan mencintai kita, maka Kita akan di jadikan ratu, sebaliknya jika tidak tepat dan hanya kita yang mencintai, maka kita akan di jadikan babu. Kata Bu Siti begitu mba..."


"Hehehe, ada-ada saja, tapi benar juga sih... Kita lihat nanti Nay, Biar Allah yang menuntun jalan hidup Aku, Aku hanya menikmati apa yang sedang Aku jalani sekarang"


Mendengar jawaban Azizah, Nayla mengangguk setuju. Tapi dalam benaknya Ia tetap berharap dan mendoakan semoga Azizah mau membuka hatinya untuk Abimana. Karena Nayla yakin Abimana benar-benar tulus dan sangat mencintai Azizah.


Nayla bisa melihat dari sorot mata pria itu.


Bersambung


Terima kasih atas kunjungannya teman-teman semoga terhibur dan cerita gaje ini dapat dipahami ya ☺️❤️❤️


Luvv banyak-banyak ❤️🌹🌹