Azizah, Istri Rasa Simpanan

Azizah, Istri Rasa Simpanan
AZIZAH HILANG (PART 2)


"Gue sebenernya nggak tahu terlalu detail, Gue rasa bokap sama Nyokap Loe juga nggak tahu persis, karena setelah kejadian penculikan itu lho kayak trauma berat gitu, terakhir kali Loe... Terjatuh dari balkon kamar loe. Dugaan bokap sama Nyokap loe waktu itu mungkin karena merasa bersalah jadi Loe mencoba bunuh diri, waktu dulu sih Gue percaya-percaya aja, ya Gue juga kan masih bocah, mana ngarti kasus begituan..."


Darren dan Abimana hanya mengangguk seraya berfikir setelah mendengar cerita Darren.


"Tapi kalau Gue dimintain pendapat tentang kejadian itu di umur Gue yang sekarang, kayaknya untuk anak usia 9 tahun punya pemikiran bunuh diri terlalu ajaib ya, ya emang nggak menutup kemungkinan, tapi Gue rasa terlalu dini kalau untuk umur segitu udah kepikiran bunuh diri"


"Jadi, maksud Loe"


"Ya berarti ada yang 'melakukan sesuatu' sampai Loe bisa jatoh"


Pungkas Vano sungguh-sungguh. Darrenpun mengernyit bingung. Aaarrrghhh sialan! Otaknya sama sekali tidak mengingat apapun!!


"Udah Ren, untuk saat ini Loe nggak usah terlalu berusaha buat mengingat semuanya. Yang penting sekarang loe tahu kalau Saudara kembar Mommy Loe itu jahat. Loe harus hati-hati. Terutama nih, lor harus sebisa mungkin jauhin dia dari Adek Loe. Gue malah curiga, jangan-jangan Dia udah tahu masalah identitas Azizah. Nggak mungkin dong Bram nggak ngasih tahu Dia?"


Ucap Vano panjang lebar.


"Atau.. malah bisa jadi yang menolong Alexa dan berhasil lolos dari kejaran orang-orang Kamu ya perempuan ini Ren"


Sambung Abimana kemudian.


Darren menghela nafas berat. Ternyata fakta yang ia dapat sungguh mengejutkan. Saat ini Ia dilanda kebingungan, sekarang apa yang harus dia lakukan? Apa dia harus jujur bahwa selama ini ia Aktif berhubungan dengan tantenya itu??


Suasana mendadak sepi, Darren, Abimana dan Vano sibuk dengan pikiran masing-masing.


Ditengah keheningan diantara ketiga pria itu, tiba-tiba gawai Darren berdering nyaring.


"Daddy?"


Darren segera menjawab panggilan dari ayahnya itu.


"....."


"Lagi sama Vano and Abimana Dad, kenapa?"


"...."


"Hah? Makan siang sama Azizah?"


"...."


"Whattt??? Ada Nayla juga?? Oke Oke, Darren sama dua kunyuk ini nyusul sekarang"


"Kamu ini yang kunyuk"


Desis Abimana sewot, enak aja, ganteng-ganteng begini dikatain kunyuk.


"Iya nih dasar kobokan warteg kalo ngomong nggak pernah disaring"


Sambung Vano yang juga ikut sebal.


"Elaaah... Becanda doang. Serius amat loe pada"


"Nggak lucu bego!"


Sahut Vano ketus.


"Ya udah, ikut nggak, terutama Loe bang brewok, nggak mau ketemu adek Gue?"


"Ck... Sial banget Saya naksir perempuan yang kakaknya kayak setan"


Sungut Abimana. Darrenpun melotot dibuatnya.


"Wahhh sialan. Nggak Gue restuin baru rasa Loe!"


"Sorry, Saya nggak butuh restu Anda, nggak penting! Bye!"


Ucap Abimana seraya beranjak hendak meninggalkan dua pria yang menurutnya sama-sama tidak waras itu.


"Serius Loe, emang Loe tahu Azizah lagi dimana sama Nyokap-Bokap Gue"


Seru Darren dengan wajah menyebalkannya.


Abimanapun otomatis menghentikan langkahnya, Iya juga.


"Enggak sih"


"Heeyyy... Dasar!"


Darrenpun mengambil alih, memimpin jalan diantara mereka bertiga, menuju tempat Orang tua dan adiknya kini berada.




"Xel, Loe kalo kaya gini terus yang ada bini Loe malah tambah jauh, Loe usaha lebih keras lagi dong, tunjukin ke Om Rheimon sama Tante Karina kalo Loe tuh beneran udah berubah dan menyesali semuanya"



Ucap Radit pada sahabatnya yang masih setia menjadi penguntit.


Yups, saat ini mereka sedang berada tak jauh dari rumah Bi Ani, Axel memutuskan untuk kembali ke Surabaya setelah menyelesaikan pekerjaannya di Jakarta. Dan selebihnya Ia serahkan pada orang Asistennya.



"Udah capek Gue. Belum ngomong apa-apa aja Om Rheimon udah mau bunuh Gue"



"Huuuft... Susah emang, emang sih nggak ada orang tua yang bisa maafin laki-laki yang udah...."


Radit menghentikan kata-katanya saat merasa bulu kuduknya berdiri. Benar saja, Axel tengah menatapnya tajam sampai rasanya Itu akan menjadi hari terakhirnya hidup di dunia ini.



"Enggak, maksud Gue..."



"Diem udah. Sebelum Gue khilaf bunuh temen sendiri mending Loe diem dari sekarang"



"O... Oke..."



Radit pun memilih untuk diam, bagaimanapun nyawanya terlalu berharga jika harus di serahkan secara suka rela pada orang seperti Axel.



"Mmm, tapi Xel... Gue ngomong nih ye... Kayaknya rumahnya sepi deh, nggak ada orang..."



Axel yang sebenarnya masih kesal dengan ucapan Radit pun mau tidak mau ikut memperhatikan rumah Bibi Ani.



"Iya yah..."



"Jangan-jangan mereka emang nggak di rumah?"




"Ya mana Gue tau... Eh enggak enggak, Gue.. Gue nanya ke ibu-ibu itu deh ya... Sabar.. sabar anak ganteng nggak boleh marah..."



"Udah buruan!"



"Iye iye... Buset tambah galak aja Loe"



Radit pun segera tancap gas menuju ibu-ibu yang sedang membersihkan halaman rumah. Kediamannya hanya berjarak 3 bangunan dari rumah Bi Ani.



Tak sampai 5 menit, Radit sudah berjalan kembali menuju Mobil sahabatnya, Axel.



"Gimana?"



"Lagi pergi katanya, rame-rame"



"Rame-rame?"



"Iya, kata Ibu itu pergi sama Nayla sama 2 orang bule"



"Haaah, Om Rheimon nih pasti"


Ujar Axel semakin frustasi.



Sementara Radit diam-diam mengirimi pesan pada bestie-nya, Vano.



Radit memang sahabat yang baik dan setia, Ia paling tidak bisa melihat Axel putus asa seperti ini. Powernya sebagai CEO muda bertangan dingin seolah menguap. Axel yang saat ini hanya tersisa sifat tempramentalnya saja. Selebihnya 5L, lemah, letih, lesu, loyo dan Lopyu.



Cinta...



Makanya Radit semakin takut jatuh cinta pada betina, takut nanti jadi Pria yang menyedihkan seperti Axel.



Tak lama kemudian,


'Ting'



Radit tersenyum tipis membaca pesan yang baru saja Ia terima.



"Xel, ini kan udah siang, gimana kalo kita makan siang dulu, ke mall yang ada di daerah X Sono, ada restaurant baru katanya enak"



"Ogah, Gue mau disini aja. Nggak laper Gue"



Radit mencibir dalam hati, kalau tidak sayang nyawa, rasanya Ia ingin sekali menggetok kepala pria disampingnya ini.



"Azizah kan udah nggak kerja, tapi jam segini nggak ada dirumah, siapa tahu Dia juga ada di sana lagi hunting baju bayi sama Nayla nggak sih... Atau.."



Radit sengaja memancing reaksi Axel dengan menyebut nama Azizah. Namun belum sempat menyelesaikan provokasinya Axel segera menyahut



"Oke Kita cabut"



Tanpa banyak bicara, Axel langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.



'*Hahahaha emang nggak waras nih orang, giliran nyebut Azizah aja langsug gass*' Batin Radit tertawa puas.



Sementara Ditempat Azizah berada...



"Jadi mas Darren mau kesini Om?"



Tanya Azizah yang kemudian di angguki oleh Rheimon.



Sementara Karina yang tengah memilih menu, tiba-tiba berbinar saat melihat makanan favoritnya,



"Nak, Kamu suka maccaronu schotel kan?? waktu kecil kamu doyaan banget makan ini, hampir setiap hari!!"


Karina tidak menyadari ucapannya sama sekali, sementara Azizah langsung terdiam.



"Sejak kecil?" Bibir tipisnya secara naluriah mengeluarkan pertanyaan itu.



Rheimon menutup matanya karena tegang, sementara Karina menggigit bibirnya kuat-kuat karena menyesal telah kelepasan bicara, maksudnya, Mereka memang ingin mengatakan kenyataan bahwa mereka adalah orang tua kandung Azizah, tapi sebenarnya hati mereka masih dilema antara siap dan tidak siap... Tapi sekarang malah...



Bersambung