
Alexa melangkah kesal menuju kamarnya, bagaimana bisa Ayahnya salah memberi informasi. Nyatanya, Maya menolak bekerjasama dengannya.
Apa sebenarnya yang sedang terjadi.
'Apa yang terlihat kadang tidak seperti realitanya?'
Kata-kata Maya kembali terngiang di telinga Alexa.
"Jadi, apa yang Aku lihat itu salah? Saat wanita simpanan itu memaki anaknya sendiri?"
Gumam Alexa dengan wajah kesal.
Tiba-tiba sang Ayah meneleponnya.
Meski Alexa tengah kesal. Tapi, bagaimanapun Alexa bisa menjalankan rencananya selama ini berkat bantuan dari Ayahnya. kalau bukan karena Ayahnya yang mencari informasi tentang keberadaan Axel dan Azizah, Ia mungkin tak ada di Surabaya sekarang.
"Ya, Papa"
"...."
"Aaah, tidak-tidak, Aku sudah tidak ingin menjalankan rencana halus seperti itu Pa, Aku punya rencana sendiri"
"...."
"Nggak Pa, Alexa punya rencana yang Alexa yakin akan menghancurkan wanita itu seluruhnya. Bahkan orang-orang yang ada di sekitarnya nggak akan bisa berbuat apa-apa"
"...."
"Papa lihat saja nanti, bukan Alexa Sadewo namanya jika tidak menyingkirkan pesaing dengan mudah"
Ucap Alexa diiringi seringai liciknya. Wanita itu kemudian memutuskan panggilannya sepihak.
Tak berapa lama, jemari lentiknya mengetikkan nomer seseorang. Seseorang yang akan memberikannya sesuatu untuk melancarkan rencananya.
"Halo Sayang, Aku butuh bantuanmu"
"Kamu tahu apapun akan Aku lakukan untukmu"
Sahut sang lawan bicara dengan terkekeh di seberang telepon.
"Aku tahu itu. Aku... Butuh air api 🔥"
"Air api? Maksudmu air keras?"
Tanya orang itu yang tak lain adalah seorang Pria.
"Yep..."
"Untuk apa?"
"Untuk menghancurkan wajah seseorang"
Lagi-lagi Alexa menyeringai lebar. Membayangkan apa yang akan terjadi pada orang yang Ia anggap musuhnya nanti, yaitu Azizah.
*
*
Setelah mendapatkan perawatan intensif selama 3 hari akhirnya Azizah diizinkan untuk pulang. Tentu dengan berbagai nasihat dan wejangan dari dokter Daisy. Dokter spesialis kandungan yang menanganinya.
"Alhamdulillah akhirnya kita bisa pulang dek"
Ucap Azizah dengan wajah cerah seraya mengusap lembut perutnya.
"Cieee yang udah boleh makan seblak"
Abimana muncul tiba-tiba dari arah pintu, tak sendirian, melainkan bersama seorang gadis cilik kesayangannya yang segera berlari memeluk Azizah.
"Tanteeee"
Seru bocah cantik itu dengan riang.
"Haloo sayang...."
Azizah mencoba membungkuk, namun perutnya yang buncit membuatnya kesulitan.Hingga Abimana dengan sigap menggendong Tasya agar Azizah lebih leluasa untuk menyalurkan rasa kangennya.
"Emmmuach" Azizah mendaratkan kecupan bertubi-tubi ke pipi gembul Tasya, membuat gadis kecil itu terkikik geli.
"Maaf ya Tante, Tasya baru bisa jenguk Tante, soalnya Tasya ulangan, Jadi Om ganteng sama embak suruh Tasya belajar terus"
Adu Tasya dengan pengucapan khas anak-anak seusianya.
"Nggak apa-apa sayang, Tante ngertiii kok"
Balas Azizah yang kembali mencium pipi gadis cantik itu.
"Heumm, Tasya terus yang dicium, Om ganteng enggak dapet jatah nih"
"Bukan muhrim Om"
Potong Tasya cepat membuat Abimana mengerucut sebal.
"Rasain. Anak kecil aja tahu, ya Tasya sayang?"
"Iya Tante, Om ganteng emang nggak sepinter Tasya"
"Hahaha"
Azizah kembali tertawa, betapa senangnya Ia bisa mengenal Tasya. Anak itu seperti moodbooster yang ampuh untuknya.
"Ya udah Tante, Ayo Kita pulang"
Ucap Tasya seraya menggoyang-goyangkan lengan baju Azizah.
"Siap grak!! Kebetulan Tante udah beres-beres"
Sahut Azizah tak kalah bersemangat.
"Emm... Zizah... Ada... Yang mau Aku omongin sama Kamu"
Azizah menatap lekat manik cokelat Abimana yang terlihat gelisah.
"Ada apa mas?"
"Ada sesuatu yang harus Aku akui sama Kamu"
Abimana memperhatikan perubahan ekspresi wajah Azizah, Ia kemudian tersenyum, seolah mengerti apa yang tengah dipikirkan oleh wanita yang kini sangat di cintanya itu.
"Tenang saja, bukan hal yang terlalu buruk sebenarnya, paling kamu hanya akan ngambek padaku"
"Apa sih mas... Jangan bikin Aku tambah takut"
"Hehe, makanya Ayo kita keluar dulu, Kita bicara sambil makan siang"
"Baiklah, janji nggak ngomong sesuatu yang bakalan bikin Aku kena serangan jantung mendadak"
"Hahaha, enggak, janji"
Ucap Abimana seraya tertawa, padahal jantungnya sudah jedag-jedug tidak karuan.
Hingga sepanjang perjalanan menuju ke sebuah restauran untuk makan siang, Abimana tak bersuara sama sekali. Sementara Azizah tengah asyik bercanda dengan Tasya. Namun, bukan berarti Azizah tidak memperhatikan raut gelisah di wajah Abimana, tentu saja Ia tahu bahwa Pria itu mungkin sedang tidak baik-baik saja.
'Sebenarnya apa yang ingin mas Abi katakan?' Batin Azizah bertanya-tanya. Rasa penasaran membubung tinggi di pikirannya.
Disaat bersamaan, bunyi dering telepon membuyarkan lamunan Azizah. Ia segera meraih gawainya yang ada di dalam tas kecil bermotif bunga disampingnya.
"Tante Karina?"
Gumam Azizah seraya tersenyum.
"Halo Tante..."
"Halo, Sayang. Kamu sudah pulang ternyata? Baru aja Tante sama Darren nyampe di rumah sakit. Kenapa nggak ngasih kabar ke Tante?"
Karina mengajukan pertanyaan bertubi-tubi dari seberang, namun justru membuat Azizah terkekeh. Hatinya menghangat atas perhatian Karina padanya.
"Maaf Tante, Azizah lupa. Bibiku aja lupa Aku kasih tahu kalau hari ini Aku boleh pulang. Soalnya dokter Daisy baru ngasih izinnya tadi pagi"
"Hmm, Ya sudah kalau begitu Tante ke rumah Bibi Kamu aja ya..."
"Tante nggak sibuk?"
"Enggak tenang aja, Ada supir pribadi yang siap antar Tante kapanpun dan kemanapun, Darren"
Ucap Karina terbahak-bahak. Azizah bisa mendengar suara Darren yang menggerutu di sana. Iapun ikut tertawa.
"Oke Tante, tapi Azizah sekarang mau makan siang dulu sama mas Abi"
"Baiklah, Nanti kasih kabar kalau Kamu sudah sampai rumah. Tante akan langsung kesana"
"Oke Tante, Bye"
"Bye Sayang"
Tut. Panggilan berakhir. Tiba-tiba Azizah jadi memikirkan sesuatu.
"Mas Abi... Kenapa Mama nya mas Darren baik banget ya sama Aku? padahal baru kenal kemarin?"
"Hehe, karena kamu baik. jadi selalu dipertemukan dengan orang-orang baik"
"Ck... nggak gitu maksud Aku mas... Aku cuma merasa aneh aja. Tapi, lebih aneh lagi karena Aku senang Mama nya mas Darren sebaik itu sama Aku"
"Senang?"
"Iya, Aku jadi inget ibu soalnya. Seolah-olah Aku punya Ibu baru"
"Hehehe, ya bagus dong, mungkin Tante Karina di kirim Allah SWT buat gantiin peran Ibu Kamu Zizah"
"Gitu ya?"
"Iya...."
Ucap Abimana seraya tersenyum.
Tak lama Kemudian, Abimana memarkirkan mobilnya di depan sebuah restauran yang cukup ramai di tengah kota tak jauh dari daerah tempat tinggal Azizah.
Abimana pun dengan sigap turun dari mobil dan membukakan pintu untuk dua wanita kesayangannya itu, Azizah dan Tasya.
"Silahkan turun, Dua ratuku"
Ucap Abimana seraya mempersilahkan Azizah dan Tasya turun dengan style ala-ala pangeran kerajaan.
"Terima kasih, Tuan..."
Azizah membalas dengan gaya yang sama membuat ketiganya sontak tertawa.
Mereka bertiga pun masuk kedalam restauran itu di iringi celotehan Tasya yang mengurutkan daftar makanan yang ingin dimakannya.
*
*
"Jadi... Apa yang mau mas Abi katakan?"
Ucap Azizah di sela-sela kegiatan.akan siang Mereka. Membuat Abimana yang hendak menyendok makanan ke dalam mulutnya seketika mematung.
Azizah sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya. Apalagi melihat Abimana ya g sungguh terlihat gelisah.
"Mas?"
"Aku... Aku ingin mengatakan tentang identitasku yang sebenarnya padamu,Zizah"
"Identitas??"
Azizah mengernyit tidak mengerti. Identitas apa?? Apa jangan-jangan Abimana seorang.... *******??? atau seorang gembong mafia?
Wajah wanita itu seketika menegang. Kemudian berbagai pikiran buruk hinggap di kepalanya seperti serangan lebah. Abimana pun ikut tegang dibuatnya...
Bersambung....
Maaaaf banget baru bisa update. Beberapa hari terakhir entah apa yang terjadi sama hape Aku. Ada tidak beberapa aplikasi yang nggak bisa di buka, TikTok, messenger, facebook, termasuk Noveltoon ini.
Jadi, setiap buka apl ini cuma muncul layar putih. Alhamdulillah Aku dibantu temenku mereset hape dan akhirnya bisa kembali lagi.
Mudah-mudahan lancar terus yaa biar bisa up tiap hari min. 1 episode perhari biar cepat kelar. karena masih banyak judul yang harus aku garap... doakan ya para pembaca ku yang baik hati dan berbudi luhur ❤️❤️❤️❤️❤️🤩🤩🤩🤩🤩
Luvv banyak-banyak ❤️