Azizah, Istri Rasa Simpanan

Azizah, Istri Rasa Simpanan
EMPAT MATA


Azizah mencoba tersenyum melihat mantan suaminya itu. Lain halnya Axel yang menatap Azizah yang tengah menggandeng lengan Abimana dengan tatapan terluka.


Lebih sakit lagi melihat binar bahagia yang tersirat di wajah Azizah, yang tak pernah Ia lihat saat wanita itu menjadi istrinya dulu.



"Selamat datang Tuan muda Djaja"



Philips mengulang kata sambutannya karena tidak mendapatkan respon dari Axel yang terus terdiam.



"Axel.."



Dania berbisik seraya mencubit Pelang lengan Pria yang asa disampingnya kini.



"Oh, Ya... Terima kasih Mr. Philips"



Ucap Axel pada akhirnya setelah berhasil mendapatkan kembali kesadarannya.



Axel melangkah masuk dengan canggung, Sementara Dania yang berada disampingnya terus tersenyum sumringah. Bahkan tidak sungkan menyapa rombongan Darren.



"Hai... Salam kenal, Kamu Darren Hayes Atmaja bukan? Aku sering melihatmu di pertemuan bersama Papaku"



Ucap Dania mengawali pembicaraan, sementara kening Darren sedikit berkerut, mencoba mengingat perempuan kini bergelayut manjadi samping Axel itu.



"Oh, Ya .. Gue Inget. Loe anaknya Om Bayu Daneswara bukan?"



"Yups, betul sekali"



Sahut Dania dengan bangga. Darren dan yang lainnya tersenyum melihat tingkah lucu Dania.



"Loe.. Sama Axel..."



"Oh, Kami berdua akan bertunangan sebentar lagi"



"Oh ya?" Darren dan Abimana terkejut mendengarnya, begitu juga dengan Azizah dan Nayla. Namun sejurus kemudian wajah mereka kembali normal, bahkan tersenyum lebar.



"Selamat ya..." Ucap Azizah seraya tersenyum ramah. Dania dengan cepat mengulurkan tangannya.



"Terimakasih" Katanya, Azizah pun terkekeh kemudian membalas uluran tangan itu.



'*What the hell*' Umpat Axel dalam hati. Meskipun ia tahu bahwa ucapan Dania tidak mungkin membuat Azizah sakit hati ataupun sedih karena bisa Ia lihat sendiri bahwa Azizah sudah sangat bahagia dengan Abimana, tapi, Ia tetap merasa tak enak saat Dania dengan semangat '45 mengatakan bahwa mereka akan segera bertunangan.



Ditengah suasana yang menurut Axel sangat canggung itu, Tiba-tiba terdengar suara MC yang mulai membuka acara pesta itu dengan sambutan yang meriah. Semua hadirin yang ada di sana pun mulai berkumpul pada satu titik, diruang utama yang membentuk lingkaran dengan meja yang berbaris rapi disana.



Satu persatu para tamu mulai menempati tempat duduknya masing-masing tak terkecuali Darren, Axel dan Abimana bersama pasangan mereka.



Axel memilih tempat duduk yang cukup jauh dari rombongan Abimana, meski sudah saling memaafkan tapi hubungan mereka masih terasa sangat canggung. Axel juga masih merasa malu jika ingin 'sok akrab' dengan Mereka.



Di tengah meriahnya acara, Philips yang merupakan main event acara tersebut kemudian naik keatas panggung. Ia mulai memperkenalkan dan menjelaskan secara rinci parfum keluaran terbaru yang baru resmi di pasarkan Minggu depan kepada para tamu undangan yang hadir, tidak hanya itu, Philips juga membagikan sample produk itu secara gratis lengkap dengan kemasan boxnya yang sangat cantik kepada seluruh tamu undangan.


"Wanginya enak ya mba.. Kayak ada wangi buahnya gitu" Ucap Nayla sesaat setelah menyemprotkan parfum ke pergelangan tangannya.


"Iya, tapi mba...Huachi!!" Azizah terbersin cukup keras sehingga membuat tamu yang lainnya menoleh termasuk juga Philips. Ia merasa panik sekaligus khawatir jika wangi parfumnya tidak sesuai ekspektasinya.


"Maaf, Istri Saya sedang hamil muda, jadi tidak bisa mencium aroma yang kuat.. Maaf"


Abimana berdiri, kemudian mengucapkan permintaan maaf kepada seluruh tamu dan Philips yang berada diatas panggung pesta. Kemudian Pria itu merangkul istrinya yang tengah menunduk malu.


Philips tersenyum, Ternyata...


"Wah, Ternyata istri dari Tuan Dharmawangsa sedang mengandung, Saya ucapkan selamat ya Tua, Untuk Nyonya Dharmawangsa, Saya minta maaf, tapi Anda tidak harus mencium bau parfumnya, atau Anda butuh masker?"


Tawar Philips dengan ramah.


Jujur, Azizah sangat malu, tapi kenyataannya memang Ia tak bisa mencium aroma yang kuat atau wewangian apapun itu semenjak hamil. Bahkan Abimana tidak lagi menyemprot parfum jika sedang berada bersamanya.


Tadinya Azizah berfikir acaranya hanya pengenalan parfum secara umum, Ia tidak menyangka jika tamu yang hadir akan diberikan Sample gratis dan harus mencobanya juga.


"Tidak perlu Tuan, Terima kasih, Saya baik-baik saja"


"Benarkah? Tidak perlu sungkan Nyonya, Kami akan memberikan masker jika Nyonya membutuhkannya"


"Tidak... Tidak perlu Tuan, terima kasih. Saya sungguh tidak apa-apa"


"Baiklah kalau begitu, Saya lanjutkan pengenalan parfum ini"


Azizah mengangguk, Para tamu undangan yang lain pun kembali fokus pada presentasi Philips.


Tidak ada satupun orang yang menyadari perubahan wajah Axel. Axel terus menyalahkan dirinya sendiri. Kenapa Ia tak kunjung bisa menerima kenyataan bahwa Azizah sudah menjadi milik Abimana, bahkan sekarang Mereka akan memiliki buah hati.


Melihat rona bahagia pasangan itu semakin membuatnya tersiksa. Axel ingin lepas dari perasaan ini, tapi jujur saja Ia tidak bisa. Ia masih sangat menginginkan Azizah.


Hanya kata itu yang terus muncul dalam benaknya. Axel tidak menyadari pula jika Dania sejak tadi juga memperhatikannya. Dania tidaklah bodoh, Ia sudah mengetahui tentang hubungan Axel dan Azizah.


Tamara suda memberitahukan tentang masa lalu antara Axel dan Azizah. Tamara juga sudah memberinya pesan supaya mengawasi Axel karena kemungkinan besar Azizah juga menghadiri perjamuan bisnis ini.


Dan benar saja, Ia melihatnya sendiri. Axel selalu mencuri pandang dan memperhatikan wanita cantik yang berhijab itu diam-diam.


Dania iri, Ia belum pernah melihat tatapan penuh rasa dan mendamba dari mata Axel. Dan kini Ia bisa melihatnya, namun sayangnya tatapan itu bukan untuknya, melainkan untuk perempuan lain.



Acara terus berlanjut dengan dansa ringan diiringi alunan musik yang lembut dan santai. Dentingan piano dan biola yang syahdu membuat pasangan yang berdansa semakin larut kedalam alunannya.



Azizah tengah berbincang mesra dengan suaminya seraya berdansa pelan. Sebenarnya Ia tidak bisa berdansa dan terlalu malu untuk berdansa, tapi Abimana terus membujuknya hingga mau tak mau Iapun menurutinya.



Di tengah kemesraannya, Matanya berserobok dengan tatapan Axel yang juga tengah memperhatikannya.



Namun, dengan cepat Axel membuang pandangannya. Pria itu kemudian terlihat keluar dari ruang pesta. Axel merasa bisa mati berdiri jika terus berada di ruangan yang sama dengan Azizah yang sangat mesra bersama Abimana.



"Axel..."



"Tolong, biarkan Aku sendiri"



Axel pergi secepat kilat meninggalkan Dania yang menatapnya terluka.



Tak lama kemudian Dania merasakan seseorang menepuk pundaknya.



"Hai..."



"K-kamu?"


Dania terkejut melihat Azizah mendatanginya, Wanita itu tersenyum ramah, membuat Dania otomatis ikut tersenyum.



"Boleh Aku bicara dengan mas Axel?"



"Ap-apa? Oh.. Ten-tentu boleh, kenapa tidak?"



Dania sedikit tergagap. Perasaannya sedikit tidak enak hati.



"Tenang saja, Aku hanya ingin meluruskan masalah Kami, sekarang Kami sudah mempunyai kehidupan masing-masing, Aku sudah bersuami, Jadi... jangan khawatir..."



"Ya... Tentu saja, Aku mengerti Kak Azizah?"



"Oh, Kamu tahu namaku?"



"Tentu saja, Tante Tamara yang memberitahuku..."



"Oh, begitu.. Baiklah.. Aku akan berbicara dengan mas Axel sebentar ya?"



Dania mengangguk, Azizah pun melangkah melewati Dania yang semakin tegang.



"Mas...."


Axel seketika menoleh mendengar suara seseorang yang sangat dirindukannya.


"Zizah?" Pria yang tengah duduk termangu itu seketika berdiri. Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang.


"Duduklah, Aku ingin bicara empat mata denganmu"


Ucap Azizah tenang, senyuman lembut tidak luntur dari bibirnya.


Axel mengangguk kemudian kembali duduk.


Azizah mengambil posisi duduk di samping Axel namun dengan jarak yang cukup jauh. Mereka bukan mahram lagi, jadi Azizah sengaja menjaga jarak.


"Apa kabar mas?"Tanya Azizah dengan tulus. Ia melihat perubahan drastis dari postur tubuh mantan suaminya itu. Axel jauh lebih kurus dari saat terakhir mereka bertemu.


Axel tersenyum pahit, Ia tidak tahu harus senang atau sedih mendengar pertanyaan Azizah itu.


"Yah, seperti yang Kamu lihat, Aku... Masih hidup, dengan menyedihkan"


"Mas..."


"Maaf.... Maaf atas semuanya, Maaf Aku belum sempat mengatakannya dengan sungguh-sungguh. Aku tidak tahu apa Aku masih layak untuk dimaafkan tapi Aku harap..."


"Aku sudah memaafkan Kamu mas, sungguh. Jauh sebelum Kamu meminta maaf. Aku sudah memaafkan Kamu. Aku sudah mengikhlaskan semua yang terjadi diantara Kita. Justru, Akulah yang saat ini harus meminta maaf... tentang... Tentang anak-anak Kita"


Azizah menunduk, Jemarinya memilin ujung baju yang Ia kenakan. Sementara Axel menatap mantan istrinya itu dengan wajah mendung.


Ia bersumpah, Ia telah menunggu saat-saat seperti ini bertahun-tahun lamanya, meski keadaannya sudah berbeda tapi, Axel siap mendengarkan apapun yang akan Azizah katakan padanya...


Bersambung