Azizah, Istri Rasa Simpanan

Azizah, Istri Rasa Simpanan
MENGULANG KEMBALI


"Tante... kita harus gimana?"


Ucap Nayla yang sudah mondar-mandir ribuan kali seraya berusaha menenangkan hatinya yang tengah dilanda ketakutan.


Menyadari tidak ada tanggapan Nayla lantas menoleh ke arah Karissa yang masih menangis. Keputus asaan terlihat jelas di wajah cantik Ibunda Darren dan Azizah yang saat ini nampak pucat.


"Tante..."


Nayla menghampiri Karina yang masih terduduk di sofa. Yah, beberapa saat lalu Rheimon menelpon dan meminta mereka berdua untuk menunggu dirumah dan tidak diizinkan pergi kemanapun.


Meski awalnya Karina menolak keras, tapi setelah menyadari kenyataan bahwa mereka hanyalah wanita, tidak ada yang bisa mereka lakukan saat ini untuk membantu menyelamatkan Azizah.


Pada akhirnya Karina setuju untuk menunggu di rumah meski dengan berat hati.


"Tante... Kita berdo'a saja dan harus yakin bahwa mba Azizah dan yang lainnya pasti kembali dengan selamat..."


Ucap Nayla seraya menggenggam kedua tangan Karina. Dingin. Tangan Karina dingin dan berkeringat. Nayla bisa merasakan ketakutan yang kini dirasakan oleh wanita itu.


"Kalau terjadi sesuatu pada anak-anakku lagi seperti dulu, Aku tidak tahu apakah Aku masih sanggup untuk tetap bertahan hidup Nak... Huhuhuhu"


"Tante, Tante nggak boleh bicara seperti itu, semuanya akan baik-baik saja Tante..."


Nayla memeluk tubuh Karina yang bergetar karena menangis pilu. Tanpa disadari Gadis itu juga ikut menangis... Meski berusaha menenangkan Karina, Nayla tidak bisa membohongi diri sendiri bahwa Ia juga saat ini tengah dibayang-bayangi ketakutan yang sama... Bagaimana kalau....


Sementara itu...


Mobil yang di Kendarai Karissa masuk ke sebuah kawasan pergudangan yang sepertinya sudah tidak beroperasi lagi, singkat kata sepi.


Meski merasakan keanehan, namun Axel yang hanya memikirkan keselamatan Azizah dan anak dalam kandungannya tidak memperdulikan itu dan terus mengikuti mobil itu masuk ke dalam kawasan.


"Xel, kayaknya Kita perlu bantuan orang-orang kita deh, Perasaan Gue udah nggak enak..."


"Hmn, hubungi mereka sekarang. Terus gimana Darren?"


"Mereka Di belakang, paling bentar lagi mereka nyusul kita kesini"


Ucap Radit yang kemudian diangguki oleh Axel.


Sesuai dugaan, Karissa berhenti tepat didepan sebuah bangunan yang sebenarnya masih sangat bagus, hanya saja mungkin karena lama tidak digunakan jadi penampakannya sedikit.. menyeramkan. Banyak rumput menjulang tinggi dan semak belukar tumbuh subur di sekitar bangunan.


Sesaat setelah Karissa turun dari Mobil, Seorang laki-laki bertubuh besar juga turun seraya menggendong Azizah yang masih pingsan.


"Zizah!!!"


Axel hendak turun menyusul, namun sesegera mungkin Radit mencekalnya.


"Sabar dulu Xel, Kita nggak tahu didepan sana ada apa, salah-salah nanti kita cuma nganter nyawa doang"


Ucap Radit mantap, apalagi melihat Karissa yang menyunggingkan senyuman kearah mereka, sudah dipastikan wanita siluman itu sudah mempersiapkan sesuatu.


Radit sungguh heran, Karissa adalah kembaran Karina, tapi kenapa sifat keduanya berbanding terbalik bak bumi dan langit??


"Arrrgh!!! Kalau terjadi sesuatu sama Azizah dan bayi Gue, Gue bersumpah nggak akan ada satupun dari mereka yang akan keluar dari tempat itu dalam keadaan hidup"


Axel memukul setir dengan kuat. Marah, takut, panik, merasa bersalah sekaligus sedih bercampur jadi satu. Ia mengakui semua ini bisa saja tidak terjadi jika Dia melindungi Azizah sebagai istrinya. Bukan malah menyia-nyiakannya hingga akhirnya Ia memilih pergi meninggalkannya dan pindah ke daerah ini sampai akhirnya di temukan oleh Karissa.


"Kita tunggu Darren sama Abimana, Gue yakin bentar lagi mereka sampai sini"


Axel mengangguk paham. Tak lama kemudian orang yang mereka bicarakan sampai juga.


Axel dan Radit segera keluar dari mobil mereka.


Tak lama kemudian Darren dan Abimana pun turun dari mobilnya.


Melihat nuansa permusuhan masih kental diantara ketiga pria itu, Radit menghela nafas kemudian mengingatkan,


"Bapak-bapak yang terhormat, untuk sementara lupakan masalah diantara kalian dulu. Pikirkan keselamatan Azizah dulu. Okey? Jadi kali ini kita harus kerjasama"


Axel, Abimana dan Darren masih terdiam, saling membuang wajah satu sama lain sampai akhirnya.


"Apa yang Radit sampaikan benar, kali ini kita harus bekerja sama"


Sahut Abimana, Meski Ia dan Axel adalah rival untuk mendapatkan Azizah, tapi Ia juga tidak boleh egois, Saat ini mereka membutuhkan bantuan karena tidak mungkin melawan Karissa yang entah menyiapkan berapa banyak pasukan, hanya berdua saja dengan Darren.


"Deal" Sahut Axel.


"OKE" Balas Darren kemudian.


"Jadi gimana rencana Kita selanjutnya?"


Radit mulai menanyakan cara bagaimana mereka akan masuk ke dalam.


"Tante Karissa itu licik, buktinya dia bisa berakting ciamik didepan Gue selama bertahun-tahun. Dan Gue ketipu! Sialan"


"Gue setuju. Jadi nggak mungkin kita kesana begitu aja"


Sahut Radit.


"Tapi masing-masing dari kita punya senjata kan?"


Axel menimpali.


"Tapi nggak cukup Xel, gimana kalo mereka ternyata nyiapin bom, senjata kita nggak akan berguna"


Darren memberi respon.


"Terus gimana?"


Tanya Abimana...


"Gini aja..."


Darren pada akhirnya mengatur strategi untuk mereka berempat, seraya menunggu bala bantuan dari orang-orangnya juga Daddy-nya serta Vano yang kini sedang menyusul bersama pihak kepolisian.


"Oke Deal! Gue sama Abimana duluan.Loe nyusul di belakang. Inget, setiap kalian liat kamera pengawas atau apapun yang mencurigakan, han-cur-kan"


Semuanya mengangguk paham. Lantas dengan cepat Darren dan Abimana melangkah memasuki bangunan itu, disusul dengan Axel dan Vano yang masuk melalui arah yang berlawanan. Mereka berpencar!


Sementara disisi lain...


"Mmmmmh...."


Sayup-sayup Azizah mulai membuka mata, kepalanya pening luar biasa.


Saat hendak bergerak Ia menyadari bahwa tangannya terikat, dan mulutnya tertutup lakban.


"Mmmmmm!!!!" terkejut, Azizah berusaha berteriak sekuat tenaga, namun suaranya jelas tertahan.


Tak lama kemudian, suara cekikikan seorang wanita mencuri atensinya.


'Tante Karina????' Azizah kaget bukan main. Tapi... Kenapa Karina melakukan ini padanya??"


"Haloo Rheina... Lama tidak bertemu, Masih ingat sama Tante??"


Karissa tersenyum manis, namun wajah iblis dibalik senyumnya jelas sangat berbeda dengan wajah Karina yang lembut dan teduh.


'Dia... Dia bukan Tante Karina!' Batin Azizah menyadarinya. Namun kenyataan itu justru membuatnya semakin ngeri. Siapa sebenarnya wanita ini? apa salahnya? Kenapa Wanita yang wajahnya persis seperti Karina melakukan ini padanya???


Berbagai pertanyaan muncul di benaknya, Sementara perlahan Karissa mendekati keponakannya itu dan berbisik...


"Kalau Kamu lupa, Biar Tante Ingatkan... Aku Karissa, Adik Mommy-mu yang dungu itu"


Azizah membola sempurna. Adik Tante Karina??


Apa jangan-jangan wanita ini yang menculiknya dulu? Seperti kata Tante Karina bahwa Ia hilang karena diculik???


"Kamu sudah ingat??? Bagus sayang... Mari kita Mengulang Kembali kisah 18 tahun lalu dengan versi yang di-sempurnakan... Hahahaha"


Azizah seketika bergidik ngeri mendengar tawa menakutkan Karissa. Ia bisa merasakan bahwa wanita itu benar-benar bukan orang baik.


'Ya Allah, tolonglah Hamba-Mu ini...'


Batin Azizah memanjatkan doa, air matanya mengalir membasahi wajahnya yang sebagian tertutup lakban.. Ia menjatuhkan pandangannya pada perutnya...


'Allah, kali ini Hamba mohon, selamatkan anak-anak hamba agar bisa melihat dunia.. Hamba mohon Ya Rabb....'


Azizah memejamkan matanya erat, sampai Ia menyadari sesuatu...


Ikatan tangannya longgar!!


Tiba-tiba Ia mendapatkan semangat entah dari mana untuk bisa lari dari tempat ini, sambil terus menggerakkan tangannya, Azizah akhirnya berhasil melepaskan ikatan tangannya itu. Namun dia tetap berpura-pura terikat agar Karissa tidak mencurigainya.


Azizah lalu diam-diam mengedarkan pandangannya, mencari celah untuk bisa....kabur!


Akankah keberuntungan kali ini berpihak pada Azizah and the geng? Dan apakah rencana Karissa pada akhirnya malah gagal dan mencelakai dirinya sendiri???


Coba tebak....


Bersambung....