Azizah, Istri Rasa Simpanan

Azizah, Istri Rasa Simpanan
Hari Sial


"Sepertinya wanita itu banyak yang mengawasi, Nona"


Ucap seorang pria dari dalam mobil. Pria dengan penampilan bak begal Karawang itu memperhatikan rumah Bibi Ani yang ternyata di jaga diam-diam oleh beberapa laki-laki berbaju serba hitam dengan tampang seram.


"Brengsek! Ini pasti orang-orang Atmaja, atau bisa juga Dharmawangsa. Sial!"


Wanita berkacamata hitam yang tak lain adalah Alexa benar-benar gondok dibuatnya. Rencananya seolah menjadi lebih sulit dari dugaannya selama ini. Apa ini karena Maya? batinnya bertanya.


"Tapi Kita tidak boleh menyerah. pasti akan ada kesempatan bukan? jadi, tetap awasi Dia. Begitu orang-orang itu lengah, kita langsung bertindak"


"Siap Nona, Kalau boleh tahu apa rencana Nona sebenarnya?"


"Hehe, lihat saja nanti. Yang jelas ini akan menjadi hal yang akan membuat wanita itu hancur! semua kegagalanku selama ini berawal dari kehadirannya di keluarga Djaja"


"Hmn, Saya mengerti. Jadi, Kita tetap disini?"


"Tidak, untuk saat ini Kita pergi dari sini karena mereka bisa curiga. Tapi, suruh seseorang untuk mengawasi tempat ini dan laporkan semuanya padaku"


"Baik, Nona"


Mobil sedan Corolla hitam yang ditumpangi Alexa pun melaju pergi meninggalkan kediaman Bi Ani.


Tanpa merek tahu bahwa kegiatan mereka telah di laporkan oleh bodyguard Abimana dan juga... Darren.


Flashback on!


"Itu perempuan kenapa deh nggak ada kapoknya? Lagian Azizah nggak ada masalah apapun sama Dia ngapa malah Dia yang nyari masalah sama Zizah sih, heran Gue"


Darren kembali mengoceh setelah emosinya meledak-ledak di telepon saat Abimana memberitahu informasi dari Maya tentang Alexa yang berencana mencelakai Azizah.


"Itu sebabnya Aku memintamu datang, Aku juga membutuhkan bantuanmu"


Abimana menatap lurus ke arah Darren. Kali ini Ia tak ingin kalah bertarung, apalagi ini menyangkut keselamatan Azizah.


Itu sebabnya, Abimana merasa harus meminta bantuan pada Darren, karena pria itu pasti lebih mengenal Alexa daripada dirinya yang bahkan baru pertama kali bertemu saat di rumah sakit beberapa waktu lalu.


Jadi, Ia tak mau bertindak ceroboh dengan melawan kelicikan Alexa sendirian. Jadilah Ia meminta Darren datang ke kantornya hari ini setelah mendapatkan info dari adiknya, Maya.


"Tenang aja brewok, selagi Gue mampu pasti Gue bantu. Jadi, apa rencana Loe?"


Abimana menyeringai mendengar pertanyaan Darren. Ia kemudian berdiri dan melangkahkan kakinya menuju Pria di hadapannya itu.


"Aku tidak mengenal betul wanita itu. Tapi, Aku mengenal jelas perusahaan Ayahnya. Jadi, bagaimana kalau kita menyelam sambil minum air? Aku meminta bantuanmu untuk menyerang Alexa, dan Aku menghancurkan perusahaan Ayahnya. Akunyakin setelah mereka tidak punya kekuasaan apapun maka tidak ada yang bisa Mereka lakukan..."


"Brilian... Kebetulan banget Gue udah punya rencana buat siluman ular itu....,"


"Really? could you tell me, please?"


"Sure.... Kata Bokap Gue, kalau mau ngancurin orang, tidak boleh tanggung-tanggung, hehe"


Kedua Pria itu saling melemparkan senyum, seolah mengerti apa yang ada di pikiran masing-masing. Alexa mungkin akan benar-benar habis jika tetap nekad menyakiti Azizah, Karena ada dua jenderal yang menjadi tamengnya.


*


*


Tok tok....


Suara ketukan pintu mengalihkan atensi Azizah dan Bibi Ani yang tengah sibuk menata kue-kue pesanan Nayla di ruang tengah. Yah, jangan panggil Azizah namanya jika Dia tidak serajin itu mencari uang meski baru pulih dari sakit.


"Siapa ya?"


Gumam Azizah, yang hanya di sambut gelengan kepala oleh Bibi Ani.


"Biar Bibi yang buka...."


Ceklek....


"Maaf, Nyonya... Siapa ya?"


Tanya Bi Ani pada sosok perempuan dengan penampilan berkelas di hadapannya. Penampilannya mirip dengan Ibunda Darren, batin Bi Ani.


"Ha-halo, Saya Tamara Adhitama. Apa betul Azizah tinggal disini?"


Bi Ani tersenyum canggung sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia bingung harus menjawab apa.


"Siapa Bi Ani?"


Tiba-tiba Suara Azizah terdengar mendekat. Dan benar saja, Azizah muncul dari balik pintu penghubung antara ruang tamu dan ruang tengah.


"Azizah...."


Tamara memanggil nama mantan menantunya dengan suara bergetar. Azizah tentu saja terkejut atas kedatangan mantan mertuanya itu. Namun, tak seperti saat Axel yang datang untuk pertama kalinya waktu itu, kali ini Azizah lebih siap mental dan sama sekali tak merasakan apapun dihatinya. Entah itu rasa takut atau rasa cemas, hanya perasaan datar dan dingin, seperti melihat orang asing.


"Nyonya Adhitama....? Sedang apa Anda disini?"


Ucap Azizah datar. Ia melangkah mendekati Tamara yang masih menatap sendu mantan menantunya. Tamara sadar dengan sikap Azizah, dan Ia pantas mendapatkannya. Rasa bersalah sekaligus malu memenuhi sanubarinya, mengingat bagaimana Ia memperlakukan Azizah, wanita baik hati yang ternyata telah rela dan ikhlas memberikan satu ginjalnya untuk didonorkan padanya.


"Nak... Mommy... Mommy kesini ingin meminta maaf hiks hiks" Tamara tak sanggup berkata-kata, Air matanya telah lebih dulu mengalir deras. Namun Azizah justru menatapnya dengan rasa... muak. Kenapa orang-orang yang dulu paling menyakitinya berlomba-lomba minta maaf? kemarin Axel, sekarang ibunya? Ada apa dengan mereka semua? selama bertahun-tahun menjadi bagian dari keluarga mereka, bahkan Azizah tak ubahnya seperti sampah. Tah pernah dianggap ada, bahkan di singkirkan jauh-jauh.


Sekarang, saat Ia sendiri yang menyingkirkan diri, malah mereka yang jauh-jauh mengejarnya, untuk minta maaf? semudah itu mereka berubah?? Pasti ada sesuatu. Batin Azizah mengomel sendiri.


"Saya sudah memaafkan Nyonya dan juga Tuan muda, Jadi kalian bisa tenang sekarang dan... menjalani hidup yang baru tanpa.. mengingat Saya lagi"


Ucap Azizah mantap. Ia menatap manik Tamara dengan sungguh-sungguh. Ia benar-benar sudah ingin lepas dari orang-orang masa lalunya yang selalu mengingatnya akan rasa sakit hatinya..


"Apa maksud Kamu nak? Mommy mohon, ampun Mommy, ampuni Axel, beri Dia kesempatan nak, Axel sangat menyesal, Dia sangat menderita sekarang... Mommy mohon agar Kamu memiliki sedikit nurani untuk Axel..."


"Apa yang Nyonya katakan? Nurani? apa tidak salah Nyonya menanyakan tentang hati nurani pada Saya?"


Tamara menunduk, Sepertinya Ia salah berkata. Tapi Ia tak mau menyerah, Ia salah, tapi bukankah setiap manusia berhak memiliki kesempatan kedua? begitu pula dengan putranya, lagipula....


"Nak, tolong pikirkan lagi, bagaimanapun Kamu sedang mengandung anak Axel... Cucu keluarga Kami..."


Ucap Tamara dengan percaya diri. Membuat Azizah menganga tak percaya.


"Ini Anak Saya, bukan cucu Anda ataupun keluarga Anda. Anak ini adalah anak Saya. Jangan lupa Nyonya, cucu Anda sudah mati beberapa tahun yang lalu, Anda sendiri yang menyingkirkannya, tidakkah anda ingat?"


Pedih. pedih rasanya mengingat kembali kejahatan Tamara saat kejadian itu. Nurani? Haha yang benar saja. Bahkan binatang lebih punya nurani daripada Tamara dan Axel saat itu.


Tanpa diduga, Tamara tiba-tiba menjatuhkan tubuhnya, bersimpuh di hadapan Azizah. Membuat Azizah dan Bibi Ani sedikit melompat ke belakang.


"Mommy salah nak, Mommy sangat salah dan berdosa, itu sebabnya Mommy mencari Kaku, Mommy ingin memohon ampunan Kamu nak, Azizah... Ampuni semua kesalahan Mommy"


Tamara meraih tangan Azizah dan menciuminya berkali-kali, kemudian kembali memohon..


"Ampuni kami semua nak, Mommy... Mommy dan Axel bersalah padamu... maafkan Kami, Mommy mohon berilah Axel kesempatan Azizah, Dia sudah berubah, Dia sangat menyesali semuanya..."


Baru saja Azizah akan membuka mulutnya tiba-tiba terdengar suara menggelegar seorang wanita....


"Apa yang kamu lakukan Tamara Edelweis????"


Teriak wanita yang tak lain Karina. Karina di temani oleh Sheila melangkah cepat mendekati Azizah dan Tamara yang tengah bersimpuh disana...


Wajahnya penuh kemurkaan.


"Manusia arogan ini, berani-beraninya mengganggu putriku. Akan ku hajar Kau!!" Desis Karina dengan mata berapi-api.


Bersambung