
Serpihan Memori
"Sial...."
Vano kembali mengumpat saat bayangan terakhir Bram menghilang. Mereka kehilangan jejak.
"Bro, ini bukannya udah tengah malem yah? Gue rasa satu-satunya tempat didalam mall yang masih buka jam-jam ngepet begini cuma club malam bukan sih?"
"Ahaa... Yups. Loe bener banget bro"
Riak wajah Vano yang tadinya kusut tiba-tiba bersinar kembali.
"Jadi mendingan sekarang kita cari club itu sekarang"
"Gue tahu tempatnya, Gass cabut!"
"Waw! Okay!"
Radit berdecak kagum mengetahui betapa sahabatnya sangat hatam jika menyangkut tempat favorit para bujangan gabut itu.
Mereka pun segera menuju club malam yang juga pernah dikunjungi Vano beberapa waktu lalu. Tepat di lantai 4 pusat perbelanjaan ini. Jangan tanya bagaimana bisa? Club malam bagi Vano adalah kebutuhan hidup, seperti makan nasi, jadi jangan heran jika singgah ke suatu daerah, tempat pertama yang dicarinya adalah Club malam.
Dan benar saja, sebuah Club malam eksklusif yang cukup tertutup sudah didepan mata kedua pemuda tampan itu.
"Jadi kita masuk aja nih?" Tanya Radit antusias.
"Sayangnya kali ini kita harus rela jadi satpam"
Jawab Vano mantap, mata elangnya tetap fokus mengawasi tepat ke arah pintu masuk club itu.
"Hah? Maksudnya?"
"Haiiihhh.. kalau kita masuk kemungkinan kita buat nemuin Tua Bangka penuh dosa itu sangat kecil. Kita juga nggak tahu didalam sana dia nongkrong di sebelah mana. Kalau kita tunggu disini, udah bisa Gue pastiin kita bakalan liat dia. Karena pintu keluarnya cuma satu. Nggak mungkin kan dia keluar lewat Atep?"
Radit berfikir sejenak, menimbang-nimbang ucapan Sahabatnya itu. Benar juga, batinnya.
"Oke Gue paham. Duh sayang banget padahal pasti banyak squishy empuk di dalem"
"Sabar. Kita bisa cari Squishy jumbo setelah misi ini selesai"
"Hmm, Aseli Darren kudu bayar mahal nih buat ketulusan dan ketabahan Kita ini"
"Hahahaha, gampang! Tinggal kita bikin kuitansinya"
Selepas melontarkan paragraf unfaedah itu, kedua pemuda itu kembali fokus memperhatikan setiap gerakan yang muncul dari arah Club itu...
Hingga akhirnya, setelah kaki kedua pemuda itu setidaknya sudah mengalami kesemutan sebanyak 33 kali. Orang yang mereka incar muncul juga ke permukaan...
"Van... Van!!! Beneran itu si Bram?!"
"Yups... Eh eh Dia sama siapa tuh???"
Vano dan Radit melihat penampakan Bram tidak sendiri, ia bersama dengan seseorang...
"What the hell???"
Ucap kedua pemuda itu bersamaan.
"Tan... Tante Karina???"
Vano dan Radit saling berpandangan.
"No way!!! Itu kembarannya Tante Karina..."
Jantung Vano seolah melorot kebawah.
"Waduh... Gawat bro"
"Foto foto foto!!!"
Sergah Vano mendadak.
Bak kerbau di cucuk hidungnya, Radit sesegera mungkin mengeluarkan ponselnya, menyalakan kamera dan
Cekrek, cekrek, cekrek
Pemuda itu berhasil mengabadikan gambar-gambar yang untungnya sangat jelas dengan kamera Apple croack kebanggannya..
"Bagus. Kirim ke WhatsApp Gue"
"Siap. Mereka pergi Bro, Nggak kita kejar?"
Tanya Radit kemudian.
"Enggak Dit, Loe liat dong preman di belakang mereka. Badannya Segede gapura provinsi, sekali kena pukul auto wassalam kita berdua"
Ucap Vano seraya bergidik ngeri.
"Iya juga yak"
Radit ikut merinding pula membayangkannya.
"Gini aja deh, besok Gue bakal nemuin Darren dan ngasih tahu tentang hal ini. Nah Lo... Kasih tahu Axel. Gue rasa Axel sedikit banyak tahu tentang masa lalu Darren walaupun nggak sedetail kita, siapa tahu Axel bisa bantu, bagaimanapun Bram itu bapaknya si Alexa, bisa jadi mereka masih ngincer Azizah"
"Oke bro, oke!"
"Ya udah, Kita cabut sekarang"
"Ayok"
Setelah kondisi aman, kedua pemuda itupun meninggalkan tempat itu.
"Kamu ini dari mana Son?"
Ucap Karina sebal, melihat putranya yang baru saja tiba di rumah.
"Mommy kayak nggak tahu aja, Darren kan udah biasa Mom pulang tengah malam. Kadang sampe pagi juga Mommy sama Daddy nggak pernah protes"
"Iya itu dulu waktu keadaan kita aman-aman saja. Kamu tahu kalau orang jahat bernama Alexa dan ayahnya itu masih berkeliaran, belum kita temui jejaknya. Kalau ada apa-apa bagaimana?"
"Iya, tapi yang namanya apes nggak akan permisi dulu kalo mau nyamperin orang Son!"
Karina bertambah sebal mendengar Darren yang terus membantahnya.
"Mommy-mu benar Son, jangan meremehkan. Kita tidak pernah tahu bahaya apa yang sedang mengincar kita. Jadi kalau bisa untuk sementara jangan bepergian sampai larut malam, apalagi sampai mabuk Son"
Kali ini Rheimon yang berbicara, Ia seratus persen mendukung ucapan istrinya.
"Iyaa Oke..."
Darren tidak bisa lagi membantah jika Daddy-nya sudah ikut speak-up.
" Ya sudah, mandi sana dan langsung istirahat"
"Hmm...."
Darrenpun menaiki tangga menuju ke kamarnya.
Sesampainya di kamar. Darren melepas seluruh pakaiannya dan menuju kamar mandi.
Perlahan air dingin yang mengucur dari shower membasahi tubuhku. Pikirannya yang tadinya runyam sedikit lebih segar.
Darren kembali mengingat pertemuannya dengan Karissa beberapa saat lalu..
Hati kecilnya merasakan sesuatu yang aneh. Sebenarnya perasaan asing ini sudah lama Ia rasakan. Sejak pertama kali Ia bertemu dengan wanita itu. Rasa... Takut???
Tapi kenapa??
Untungnya, meskipun Ia merasa hubungannya dengan tantenya itu sangat baik. Tapi Ia tak seterbuka itu pada Karissa. Ia bahkan sama sekali tak menceritakan tentang Azizah yang ternyata adalah adik kandungnya pada Karissa.
Ia merasa tak perlu menceritakannya...
"Tante.... Tante lepasin Rheina Tante..."
"Tenang aja Darrenku yang manis.... Rheina nggak akan Tante apa-apain kok"
"Tapi... Tapi kenapa Tante iket Rheina Tante huhuhu"
Darren menangis tersedu-sedu saat melihat adik kesayangannya di iikat dikursi dengan mulut terbekap. Sementara dirinya di dekap erat oleh Tantenya Karissa. Ia ingin menolong Rheina tapi dekapan Karissa terlalu kuat hingga tulang punggungnya terasa sakit.
"Tanteeee....huhuhu, Rheinaaa!!!
Darren berteriak histeris seraya menangis saat tiba-tiba laki-laki bertubuh besar di samping Rena melayangkan pukulannya ditubuh kecil adiknya. Darren ingin berlari tapi tubuhnya tak mampu melawan kekuatan tubuh Karissa.
"Tanteee jangan!!!??! Huh huh huh huh!!!"
Darren terbangun dengan tubuh bergetar dan keringat dingin membasahi tubuhnya.Wajahnya pucat pasi.
Mimpi apa barusan???
"Argh" Darren memegang kepalanya yang terasa sakit. Apa itu serpihan memori masa lalunya?
Tante Karissa? Rheina? Apa sebenarnya Tante Karissa tidak sebaik yang Ia kira?
Kali ini Ia semakin yakin, Ia harus menyelidiki tentang wanita itu, meskipun Ia adalah saudara kembar Ibunya, tapi bukan berarti Dia juga sebaik Mommy-nya bukan?
Darren meraih gawainya. Masih pukul 3 dini hari. Berarti Ia baru tertidur sekitar dua jam lalu. Tapi bisa dipastikan Ia tidak akan bisa menutup matanya kembali.
"Ting"
Satu pesan masuk mencuri atensinya. Vano?
"Ren, besok ketemu Gue. Penting
Singkat dan padat. Tapi jika Vano sudah dalam mode serius seperti itu, Darren yakin jika Vano pasti ingin membahas masalah yang serius.
"Ok"
Klik. Balasan terkirim.
Darren kemudian bangkit dan menuju balkon. Tak lupa ia meraih sebatang rokok yang selalu tersedia di meja kamarnya.
"Tante Karissa? Apa yang sebenarnya sudah Tante lakukan?"
Perasaan aneh yang selama ini Darren rasakan setiap bersama dengan Tantenya itu, saat ini, Darren bisa memastikan bahwa itu bukanlah hal yang baik.
'Pasti ada hal buruk yang pernah wanita itu lakukan' Batin Darren.
Sayang sekali, mimpi barusan terlalu ambigu untuk Ia tebak kebenarannya.
Bersambung...