Azizah, Istri Rasa Simpanan

Azizah, Istri Rasa Simpanan
HANYA KAU YANG AKAN BERAKHIR


Suara Pekikan Azizah membuat Axel, Darren dan juga Radit menoleh bersamaan.


"Abimana?" Darren menatap Radit dengan raut khawatir.


"Waduh jangan-jangan....!" Sahut Radit tak kalah tegang.


Sementara Axel tanpa banyak bicara segera berlari dan berguling cepat menuju tempat Abimana dan Azizah yang tak terlalu jauh dari jangkauannya.


"Abi...."


Axel meraih tubuh Abimana, darah segar mengalir deras dari dada kiri Pria itu.


"Mmmh... Tinggalkan Aku... Tolong bawa Azizah pergi dari sini"


"Mas... Kamu ini bicara apa?"


"Enggak akan ada yang ditinggalin, Kita akan sama-sama di sini sampai bantuan datang"


"Tapi..." Abimana ingin membantah seraya menatap ke arah Azizah


"Ssst, nggak ada kata tapi...."


Potong Axel cepat, meski pemandangan di depannya membuat hatinya nyeri tapi untuk saat ini Ia harus mengesampingkan perasaannya untuk keselamatan semua orang disini.


Baru beberapa detik lalu Axel mencoba meyakinkan Abimana dan Azizah bahwa bantuan akan segera datang, ternyata harapannya benar-benar terkabul.


"Axel...!!"


Vano dan Rheimon datang tepat pada waktunya, sungguh. Yang lebih melegakan, Di belakang mereka terlihat anak buah Darren dan Radit...


"Syukurlah..."


"Darren sama Radit mana??"


"Diujung sana... Sekarang mending kita bagi tugas, suruh beberapa orang buat bawa keluar Azizah sama Abimana keluar dari sini"


"Oh ****!!! Dia ketembak???"


Vano terkejut melihat Abimana yang sudah terkapar bersimbah darah.


"Oh My... Abimana??" Rheimon yang baru saja menyusul Vano juga terkejut melihat keadaan Pria itu.


"Gini aja deh Om, Om sama Axel dan beberapa orang Kita keluar sekarang buat nyelamatin Azizah dan Abimana, Biar saya sama Darren dan Radit yang ngurus kekacauan disini"


"Kamu yakin nak?"


"Tenang aja Om, Semua pasti baik-baik aja"


Ucap Vano yakin. Rheimon dan Axel mengangguk kemudian Axel dengan sigap menaikkan Abimana kepunggungnya, Pria itu menggendong Rival abadinya itu.


Sementara Rheimon merengkuh Putrinya. Mereka bergegas meninggalkan tempat itu, Sementara Vano memberi kode kepada anak buahnya yang berjumlah kurang lebih 25 orang untuk menyelesaikan pertarungannya...


"Alhamdulillah Ya Allah... Nggak jadi mati Kita! Vano!"



Radit bahagia bukan main saat melihat Vano dan orang-orangnya mulai datang menyerang anak buah Karissa.



"Nih ambil"



Vano melempar senjata kepada Radit dan juga Darren. Bahagia dan sekaligus sangat bernafsu, Ekspresi yang tergambar jelas dari pemuda-pemuda itu.



"Habis kalian, bedebah!!!!"



Kedua kelompok itu saling menyerang, Meletupkan peluru ke arah masing-masing lawan. Tapi dari sekilas pandang saja sudah dipastikan Kelompok Darren lebih unggul.



Karissa merasa kesal sekaligus panik karena keadaannya menjadi terjepit. Wanita itu kemudian mencoba melarikan diri.



Ditengah pertarungan yang mulai mereda, Darren melihat gerakan Karissa dari jauh. Ia kemudian berlari mengejar Wanita ular itu.



Kali ini, Dia bersumpah akan mengakhiri kejahatan wanita itu dengan TANGANNYA SENDIRI!



"Ren, Mau kemana Loe"


Seru Vano saat melihat sahabatnya itu ngibrit begitu saja. Vano mencekal tangan Darren. Radit mengekor di belakangnya kemudian.



"Menuntaskan dendam!"



"Ren..."



"Percaya sama Gue, Gue bakalan balik, Sekarang Kalian selesaikan ini, Terus langsung susul Bokap Gue sama Axel. Pastikan Mereka keluar dengan selamat!"



"Gue temenin Loe, jangan sendirian goblok!!"



"Udah pergi sana, Gue bisa atasin ini!"



Darren berlalu begitu saja meninggalkan Vano dan Radit yang belum selesai berbicara.



"Ya udah bro, nurut aja apa kata Darren, sekarang kita susul Om Rheimon sama Axel. Siapa tahu anak buah si Terang ada yang ngejar mereka"



"Hmn..."


Radit menarik lengan Vano yang masih terus menengok ke arah Darren pergi. Sungguh, kali ini batinnya benar-benar berdoa untuk pertama kalinya, agar Tuhan atau alam semesta ini melindungi sahabatnya itu. Darren harus kembali dengan selamat meski hatinya kini merasakan ketakutan yang dejavu.



Disisi Lain...



"Axel, Kamu masih kuat?"



Tanya Rheimon di tengah-tengah pelarian mereka.



"Tenang Om, Masih kok"



"Gimana sama kamu ,Sayang?



"Aku.. Baik-baik aja, Dad..."



Ucap Azizah, wajah lelahnya menatap Rheimon dengan haru, begitu juga dengan Pria berusia 55 tahun itu. Rheimon melayangkan kecupan yang dalam di kening putri kesayangannya itu.



"Tenang saja, sebentar lagi Kita sampai. Mommy sudah menghubungi pihak kepolisian, Mereka mungkin akan sampai beberapa saat lagi"



Azizah dan Axel mengangguk. Hingga saat lengah tiba-tiba terdengar suara tembakan dari belakang.




"Kurang ajar!! Kita dikejar"



"Iya Om..."



"Ayo percepat jalannya, Kalian jangan sampai lengah!!"



Ucap Rheimon kepada anak buahnya yang tersisa.



Tanpa diduga penyerangan itu semakin intens. Beberapa bodyguard yang tersisa akhirnya tumbang juga,



Syuuung Dorrr...



Suara tembakan hampir saja mengenai salah seorang dari mereka, Karena panik Axel segera melompat, begitu juga dengan Rheimon yang langsung menarik Azizah berlindung di belakang sebuah meja besi.



Namun naasnya, Azizah malah tergelincir dan jatuh tersungkur.



"Akkkhhhhh, Dad!"



"Azizah!!!"



Rheimon dan Axel berseru secara bersamaan. Rheimon panik, Pria itu segera meraih tubuh putrinya yang meringkuk ke dalam pelukannya.


Keadaan menjadi sedikit sulit.



"Ya Tuhan... Azizah...."



Rheimon panik, saat melihat darah mengalir dari sela-sela kaki putrinya.



Sementara Axel, dengan panik merebahkan tubuh Abimana yang semakin melemah. Sambil melihat kearah mantan istrinya yang tengah mengerang kesakitan. Hilang sudah kesabarannya.



Ia meraih revolver miliknya dan menembakkannya tanpa ragu-ragu, Rheimon pun melakukan hal yang sama dengan Azizah yang masih ia peluk erat.



Hingga akhirnya Radit dan Vano pun datang membantu mereka



"Berhentilah Tante, mau lari kemana? Ini sudah jalan buntu....". Ucap Darren dengan santai. Ia hanya perlu berlari kecil untuk mengejar rubah betina yang licik itu.


Karissa mengedarkan pandangannya ke segala arah. Dan benar saja jalannya sudah buntu.


"Hahahahahaha...." Bukannya takut, jelmaan kuntilanak itu justru tertawa terbahak-bahak. Benar-benar sinting.


"Yah, Kalau begitu, baguslah... Kita bisa mengakhirinya sekarang?"


Ucap Karissa dengan senyuman liciknya....


"Kita? Hanya Kau yang akan berakhir Tante, Aku masih akan melanjutkan hidup dengan bahagia bersama keluargaku"


Sahut Darren mantap.


"Benarkah? Jangan terlalu yakin keponakanku yang manis..."


"Aku tidak pernah seyakin ini dalam hidupku"


"Oh, Really? Termasuk saat Kau melihat ini?"


Karissa yang mengenakan jaket Kulit itu membukanya dengan perlahan, sampai menampakkan pemandangan yang tidak pernah dibayangkan oleh siapapun termasuk Darren.



Sebuah Bom waktu yang telah diaktifkan oleh Tante kandung Darren dan Azizah itu.


Melihat Expressi Darren yang tegang. Karissa semakin merasa puas.


"Sudah Tante bilang, Kita akan mengakhirinya, Bagaimana? terkejut dengan hadiah ini?"


"Kau benar-benar sudah tidak waras Karissa"


Ucap Darren dengan suara bergetar karena marah.


"Mmmm.. Mau bagaimana lagi, Awalnya ini hanya sebuah keisengan, Karena Aku sangat yakin Aku bisa lakukan hal yang sama seperti 18 tahun lalu, tapi ternyata zaman memang terus berkembang, Orang tuamu tidak sebodoh dulu"


Darren melangkahkan kakinya, Hasrat membunuhnya benar-benar sudah tak terbendung, Ia ingin sekali mencekik wanita keji ini.


"Kemarilah Kau sudah sangat tidak sabar untuk mati bersama Tante tercintamu ini?"


Ejek Karissa. Darren seketika berhenti melangkah.


"Aku tidak akan mati bersamamu."


Ucap Darren dengan mata membara.


~~~`


"Cepat bawa Putri saya ke rumah sakit, Pria ini juga terluka parah, Kita harus segera menyelamatkan mereka". Ucap Rheimon pada pihak kepolisian yang ternyata sudah datang. Untunglah mereka berhasil mengalahkan orang-orang Karissa berkat bantuan Vano dan Radit yang datang tepat waktu.


"Ibu!!!" Azizah Mengerang keras. Wanita itu hampir kehilangan kesadaran, nyeri hebat yang melandanya sungguh menyiksa.


"Zizah...." Axel menggenggam jemari yang kini berkeringat dingin itu.


"Rheina!!!"


Karina mencuri atensi Rheimon dan yang lainnya. Tanpa memedulikan yang lainnya, Wanita itu segera menghambur ke arah putrinya yang tengah dinaikkan ke atas mobil polisi. Nayla juga terlihat berlari di belakang Karina. Gadis itu hanya membisu melihat keadaan Azizah dan Abimana juga terbaring disana.


"Sweetie..."


"Apa yang terjadi, Kenapa Rheina dan Abimana sampai terluka seperti ini?


"Tenang Sweetie, Kita akan membawanya ke rumah sakit segera"


"Cepat! Ayo cepat! Jangan sampai terjadi apa-apa pada mereka Sayang..."


Rheimon mengangguk cepat. Di tengah keributan itu, dan juga kegiatan para polisi yang hendak melakukan penyisiran gedung tua dibelakang mereka, tiba-tiba suara ledakan yang amat keras memekakkan telinga dan mengejutkan mereka semua orang disana. Hingga membuat mereka menutup telinganya rapat-rapat.



Semua saling berpandangan, Sampai Rheimon menyadari sesuatu...


"Mana Darren???"


Rheimon menatap Vano dan juga Radit yang terlihat sangat syok. Seingatnya, Putranya terakhir kali bersama dengan kedua sahabatnya itu.


Ia baru menyadari bahwa Vano dan Radit sedari tadi hanya berdua saja, Ia terlalu panik melihat Azizah yang kesakitan dan keadaan Abimana yang sudah semakin memburuk.


"Darren... Darren ngejar Tante Karissa Om"


Ucap Vano secara otomatis, Pikirannya seketika menjadi kosong.


"Hahhhhh??????!!!!" Karina menjerit histeris seraya membekap mulutnya dengan kedua tangannya.


"Tidak Mungkin" Rheimon seketika menjadi lemas. Kakinya seolah berubah menjadi agar-agar...


Darren.... Darren....???


Bersambung....


Kata Kunci hari ini : JANGAN SUUZON SAMA AKU YA 🤣🤣