Azizah, Istri Rasa Simpanan

Azizah, Istri Rasa Simpanan
SAKIT TAPI TAK BERDARAH


Axel menunggu dengan cemas didalam ruangannya, Linda masih belum memberikan kabar.


Ia meminta bantuan sepupunya itu untuk menyelidiki tentang keluarga Rheimon saat ini. Linda memiliki cukup banyak teman dan kenalan profesional yang bisa mendapatkan informasi tentang seseorang dalam waktu cepat dan hasil yang akurat.


Asal berani membayar dengan harga yang bisa dikatakan sangat tinggi, tapi hasilnya tidak akan mengecewakan.


Untungnya Rheimon masih berada di Indonesia, mungkin akan lain cerita jika Rheimon sudah kembali ke luar negeri. Sudah pasti Axel tidak akan bisa mengakses informasi apapun itu.


Tok tok


Axel segera bangkit begitu mendengar suara ketukan pintu.


Itu pasti Linda, batinnya.


"Xel..."


"Akhirnya Loe dateng juga Lin, Gue hampir aja nyamperin ke meja Loe"


Cecar Axel tanpa menunggu Linda menyelesaikan perkataannya.


"Sabar Xel, Loe minta Gue nyari tahu informasinya Om Rheimon lho, Loe pikir gampang? Temen Gue hampir nyerah tahu, untungnya akhirnya berhasil Dia dapetin informasi lengkapnya"


"Serius Loe? Temen Loe nggak salah orang dong?"


"Enggak tenang aja, Gue yang jamin"


"Okay, kalau gitu kasih ke Gue datanya sekarang"


"Nih..."


Linda menyodorkan beberapa lembar kertas yang masih terasa hangat karena baru saja keluar dari mesin printer.


"Shine Angelo Dharmawangsa, Shiena Angela Dharmawangsa, Dua-duanya berumur 7 tahun bulan depan"


Ucap Linda yang sempat membaca informasi yang rekannya kirimkan.


"Ternyata selama ini mereka tinggal di Czech Republic. Om Rheimon membuka cabang baru perusahaannya disana tepat setahun sebelum bertemu dengan Azizah"


Lanjut Linda yang kemudian duduk di kursi tamu di hadapan Axel.


"Asli Gue kaget banget waktu tahu ternyata Azizah adiknya Darren. Pantesan sekarang Kalian udah nggak temenan lagi kaya dulu ya Xel"


Cerocos Linda, Axel hanya diam seraya menghela nafas berat. Pandangannya berkabut, hatinya sangat sakit apalagi saat melihat foto Shine dan Shiena.


"Gue yakin banget kalau mereka itu anak-anak Gue Lin. Om Rheimon tega banget bohongin Gue kayak gini. Sekarang... Sekarang Gue ini siapanya mereka? Gue yakin Mereka nggak tahu apapun tentang Gue!


 Mereka bahkan memakai nama belakang keluarga Dharmawangsa, bukan nama belakang Gue??? Kenapa Lin??? Sejahat apapun Gue, Gue tetap Ayah kandung Mereka, kenapa Om Rheimon tega ngelakuin ini ke Gue???"


Axel berbicara pelan namun suaranya sangat dalam tangannya terkepal erat, rasa marah dan kecewa mulai naik memenuhi dadanya.


"Xel..."


"Gue harus ke tempat Om Rheimon. Gue harus minta penjelasan tentang ini. Mereka anak-anak Gue, Mereka berhak tahu bahwa Gue adalah Ayah kandung Mereka"


"Tapi Xel, Gue yakin Om Rheimon punya alasan dibalik ini. Sebaiknya kalau Loe emang mau penjelasan dari Mereka, Loe tetep harus ngomong baik-baik deh, jangan sampai malah Mereka tambah jauhin Loe sama anak-anak Loe"


Ucap Linda mencoba menengahi agar Axel tidak termakan emosi semata dan bisa berfikir jernih.


"6 tahun Lin, 6 tahun Gue tersiksa karena rasa bersalah, Gue pikir anak-anak Gue udah nggak ada. Gue pikir Gue udah kehilangan Mereka DNA Tuhan hukum Gue karena dosa Gue di masa lalu. Setiap ingat Mereka Gue selalu ngarasa pengen mati. Loe bayangin 6 tahun Loe hidup tapi berasa mati. Gue bahkan nggak bisa tidur nyenyak selama 6 tahun tanpa obat tidur karena selalu kebayang kejadian itu. Kejadian dimana Mereka bilang Anak-anak Gue ga bisa diselamatkan. Loe bayangin Lin!!"


"Axel..."


Linda tidak mampu menjawab, Ia paham betul maksud sepupunya itu. Ia adalah saksi hidup bagaimana Axel menjalani hidupnya selama ini. Seperti manusia yang kehilangan jiwanya. Bahkan tampilan Axel yang sekarang sangat jauh dari Axel yang dulu. Axel sangat kurus karena jarang makan .Meski tidak kehilangan kharisma dan ketampanannya tapi jelas Pria itu tampak memprihatinkan.


Jika dulu tubuhnya tegap sempurna dengan susunan otot yang atletis, maka Axel yang sekarang terlihat seperti kurang gizi. Kurus dan pucat.


Axel menjadi gila kerja. Berangkat pagi-pagi buta dan pulang dini hari. Hampir tidak pernah makan siang ataupun makan malam. Hanya sekali menyantap sarapan saja, itupun karena ada Tamara dan kakeknya di rumah.


Pria itu tampak lebih baik semenjak keadaan Perusahaan kembali normal. Meski tidak drastis hanya mulai memperbaiki pola makannya saja.


"Gue harus ke tempat Om Rheimon Lin, Gue harus minta penjelasan tentang ini, Gue yakin banget kalau Shine dan Shiena itu adalah anak kandung Gue, Gue yakin banget. Bahkan wajah mereka semua mirip sama Gue Lin!"


"Iya Oke, Gue temenin ya"


Tawar Linda yang segera di angguki oleh Axel.


Mereka pun pergi ke Perusahaan Darren. Meski tidak yakin, tapi Axel harap Rheimon ada di sana. Kalaupun tidak, maka Axel akan meminta penjelasan dari Darren.



"Axel?"



Darren dan Rheimon saling memandang, begitu mendengar ucapan sekretaris Darren bahwa Axel datang untuk menemui Rheimon.



"Baik, Suruh dia menunggu di ruangan Saya, Saya akan kesana"



Ucap Rheimon yang saat ini berada di ruangan Darren.




Tanya Darren penasaran. Rheimon hanya tersenyum tipis kemudian berkata.



"Mungkin ingin menanyakan tentang Keponakanmu"



Rheimon berucap dengan santai seraya melenggang keluar ruangan Darren.



"What? Bagaimana bisa? Apa Daddy...."



Rheimon mengangguk. Kemudian berhenti melangkah. Ia menghadap ke arah Putranya yang terlihat shock.



"Dad sengaja melakukannya, menunjukkan Shine dan Shiena saat Daddy melihat Axel di Mall itu. Percayalah Son, Daddy selalu merasa bersalah pada anak itu karena berbohong tentang Sarah dagingnya. Bagaimanapun Axel adalah Ayahnya, dan Daddy tahu betul rasanya kehilangan anak. Apalagi saat itu Axel sudah menyesali perbuatannya, tapi Kamu tahu bahwa Daddy tidak punya pilihan lain. Daddy dan Mommy tidak bisa mempercayai siapapun saat itu, nyawa Adikmu dan cucu-cucu Daddy masih terancam"



Darren mengangguk paham,



"Kalau begitu Darren temani Daddy untuk bertemu Axel"



"Okay Son"



"Dad... Apa.... Azizah tahu tentang ini?"



"Tentu saja belum, Adikmu terlalu penakut. Kalaupun Daddy meminta izin bisa dipastikan Azizah tidak akan menyetujuinya. Dia terlalu takut bahwa Axel dan keluarganya akan merebut Shine dan Shiena darinya"



"Yah, Darren tahu itu Dad karena kemarin Darren pun mencoba membujuk Azizah supaya memberitahu Axel tentang anak-anaknya, dan jawabannya persis seperti yang Daddy katakan"



"Jadi, keputusan Daddy benar kan?"



"Hmn, tapi tetap saja Dad, Axel tidak bisa memaksa jika Dia ingin mengambil hak asuh Shine dan Shiena, Darren nggak akan biarin itu terjadi"



"Kalau soal itu, Daddy pun berfikir sama Son, jangan khawatir"



Setelah perbincangan itu, Rheimon dan Darren pun keluar bersama untuk menemui Axel yang sudah menunggu di ruang kerja Rheimon.



"Kenapa Om???"


Pertanyaan yang sedari tadi bergejolak di benak Axel terlontar juga di hadapan mantan mertuanya. Axel tidak bisa menutupi rasa kecewa sekaligus marah dari dalam dirinya.


"Saya tahu Om, Saya sudah melakukan kesalahan dan dosa besar sama Azizah. Tapi apa saya tidak berhak mengetahui tentang mereka? Sampai Om tega membohongi Saya seperti ini? Sekarang Saya ini siapanya mereka Om? Saya yakin, Mereka bahkan nggak tahu sama sekali tentang Saya!!"


Ucap Axel dengan penuh emosi. Ia sungguh tidak bisa lagi menahan gejolak amarah di dadanya. Ia berdosa, Ia tahu itu. Tapi Ia juga tidak bisa menerima kenyataan bahwa Ia telah di bohongi selama bertahun-tahun. Mengira darah dagingnya sudah tiada, ternyata...


"Saya tahu Kamu marah, Saya mengerti Axel. Tapi kalau Kamu berada di posisi Saya maka Saya yakin Kamu mungkin akan melakukan hal yang sama"


Rheimon menjawab dengan tenang. Karena Ia yakin bahwa apa yang Ia lakukan selama ini sudah menjadi keputusan yang benar.


"Oh ya? Kenapa Saya akan melakukan hal seperti itu?


"Saya rasa Kamu belum lupa tentang Alexa dan Bram yang menghilang setelah kejadian itu..."


Rheimon menatap dalam ke arah mata Axel. Wajahnya menyiratkan kekhawatiran yang kuat...


Bersambung...


Maaf kemarin tidak updated, ternyata Aku salah setting tanggal terbit, harusnya tanggal 15 malah jadi tanggal 16 hehehe...


Maafkan yaa πŸ’œπŸ’œπŸ’œ