
Seorang wanita terbaring lemah dilantai, wajahnya kuyu Namun tidak ada luka sedikitpun.
"Jadi, Kamu tidak mau membantuku lagi... Kakak tercintaku??"
Suara berat nan menyebalkan seorang Pria membuat Wanita yang tengah terbaring lemah itu ingin muntah, Ia tersenyum sinis seraya menantang tatapan mata Pria itu.
"Zoya... Zoya... Penghianat!!! Kamu mau menghianatiku demi musuh keluarga Kita?"
"Mereka bukan musuhku, Kau yang musuhku, bajingan!! " Cuihhh... Zoya meludahi wajah Pria yang tak lain adalah adik sepupunya, Bram.
...****************...
"Kau lupa apa yang telah Keluarga Atmaja lakukan pada keluarga besar Johnson? Mereka membuat keluarga Johnson Bangkrut dan mengirim Ayahku ke penjara"
"Itu karena Ayahmu bersalah, Ia telah melakukan kejahatan pada keluarga Atmaja"
"Omong Kosong!!!! Kau... Kau berani-beraninya menyalahkan Ayahku, Zoya!!!"
"Tidak usah berpura-pura, Bramantyo! Kau dan Ayahmu sama-sama licik. Selama ini Aku terlalu bodoh menurutimu karena paksaan Ayahku, sekarang beliau sudah tidak ada, jadi Aku tidak ada lagi kewajiban untuk membantu kejahatanmu, dasar iblis!!"
"Hahahaha, yah baiklah kalau itu maumu, tidak apa-apa. Kau pasti sudah tahu resikonya kan?"
"Aku tidak peduli" Ucap Zoya dengan sinis. Sementara Bram tidak bisa lagi menahan amarahnya.
"Son, bagaimana sudah dapat petunjuk?"
Ucap Rheimon seraya mengiringi langkah outranya menuju ruang kerjanya.
"Belum Dad, tapi Aku sudah menggeledah kamar Bibi Zoya, Dan Aku menemukan ini"
Ucap Darren seraya menyodorkan sebuah amplop berwarna putih. Isinya cukup tebal, sehingga membuat dua orang itu menjadi penasaran.
"Aku sengaja tidak membukanya, karena ingin Daddy mengetahuinya lebih dulu"
"Hmn, Daddy mengerti Son"
Beberapa saat kemudian...
"Ahhh... Sialan!!! Kita harus menemukan Zoya, Darren. Bagaimana bisa Kita kecolongan seperti ini??? Ya Tuhan Zoya... Aku bahkan mempercayainya lebih dari keluarga. Ternyata Ia Bekerja sama dengan keluarga Johnson. Si Bram sialan itu"
Rheimon menjambak rambutnya dengan frustasi. Ia telah memasukkan musuh dalam selimut secara suka rela. Menjadi mata-mata dari musuh besar keluarganya.
"Jangan-jangan dulu... Dia yang..."
"Ya Dad, Bibi Zoya yang mendorongku dari balkon"
"What??? Kenapa Kamu tidak menceritakannya Son!!"
"Aku baru mengingatnya saat menyelamatkan Azizah dari Tante Karissa Dad, tapi Aku tidak tega mengatakannya karena Mommy sangat dekat dan menyayangi Bibi Zoya. Aku berusaha mencari tahu tapi tidak menemukan penyebab dan alasan kenapa Dia melakukan itu padaku. Jadi, Kufikir mungkin Aku telah salah faham, dan Dia tidak bermaksud mencelakaiku"
"Ya Tuhan... Apa yang sebenarnya terjadi"
Rheimon mengerang putus asa. Ia menyamarkan kepalanya yang terasa berat pada sandaran kursinya.
"Dad, apa sebaiknya kita meminta bantuan Tuan Adhitama, bukankah dulu beliau memiliki hubungan yang dekan dengan Bram dan Alexa?"
"Yah, Kamu benar Sob, hubungi Axel dan minta tolong untuk mencari tahu appaun itu seluk beluk keluarga Bram pada Tun Adhitama. Jangan sampai kita kecolongan untuk kedua kalinya Son"
"Oke Dad"
Darren dengan segera menghubungi Axel.
...----------------...
"Darren..."
Axel mengernyit saat melihat nama Darren terpampang di layar handphonenya.
"Ya Ren... Bicaralah" Ucap Axel setelah menggeser icon hijau untuk mengangkat telepon.
"Gue mau minta tolong Xel, darurat"
Suara Darren terdengar panik dari seberang telepon.
"Okay, ngomong aja, Kalau bisa Gue pasti bantu"
"Gue mau minta tolong sama Kakek Los, kira-kira beliau bisa nggak nyari tahu tentang keluarga Bram"
"Bram? Bokapnya Alexa? Kenapa emang?"
"Gini, Bibi Zoya yang lagi Gue cari ninggalin surat. Intinya Dia itu selama ini kerjasama sama Bram dan Bokapnya yang ada di penjara buat mata-matain keluarga Gue"
"What? Jadi Mereka beneran keluarga penjahat?"
"Makanya, Sampe sekarang Gue belum berhasil nemuin Bibi Zoya. Jadi bisa aja keluarga Atmaja udah dalam bahaya sekarang. Kalau Gue bisa dapat informasi tentang keluarganya. Minimal kita bisa waspada dan siap kapanpun kalau ada penyerangan. Loe tahu seberapa liciknya si Bram itu"
"Oke Oke, Gue paham. Gue telepon Kakek Gue sekarang"
"Oke Thanks. Gue tunggu kabarnya Xel. Gue sama Bokap Gue juga tetep usaha buat gali informasi. Cuma saat ini fokus kami masih untuk menemukan Zoya secepatnya"
"Okay. Gue ngerti"
"Hmn, Bye!"
Tut. Telepon pun terputus. Axel beranjak dari sofa tempatnya tidur semalam. Di bawah tempatnya tidur ada Vano yang tergeletak di karpet bulu dengan lelapnya. Sementara Abimana sudah jelas tidur di kamar bersama.... Ah sudahlah. Axel masih saja merasa cemburu setiap mengingat mereka berdua mungkin sedang berpelukan. Bermesraan. Argh! Sial! Batinnya.
Axel kemudian menghubungi Kakeknya. Ia melongok jam raksasa yang menempel di dinding ruang tamu itu. Waktu menunjukkan pukul 8 pagi.
"Kakek pasti sudah bangun" Gumamnya.
Tut... Tut....
Tak lama kemudian Axel sudah terdengar berbincang di telepon. Ia sengaja berbicara di dekat jendela supaya tidak menimbulkan kebisingan karena Ia harus berbicara cukup keras saat mengobrol dengan kakeknya.
"Huuft... Semoga Kakek bisa menemukan informasi tentang Bram dan keluarganya. Semoga saja"
Ucap Axel setelah selesai berbicara dengan Adhitama Djaja, Kakeknya.
"Shi- Shine"
Axel mendadak salah tingkah. Shine tidak berbicara apapun tapi tatapannya sangat mengintimidasi.
"Aku bisa membantu"
"Apa? Membantu?"
"Aku bisa membantu mencari data orang itu"
Ucap Shine masih dengan tatapan yang sama dan wajahnya yang dingin seperti salju.
"Tidak Nak, ini bukan masalah yang bisa diatasi oleh anak-anak"
Ucap Axel berusaha selembut mungkin.
"Jangan meremehkanku Uncle. Jangan lihat tubuhku yang kecil. Kalau hanya sekedar mencari informasi. Aku bisa jamin Aku lebih ahli 1000 kali lipat dari pada Uncle"
Ucap Shine serius. nada bicaranya benar-benar seperti orang yang telah tersinggung.
Axel mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia tak menyangka jika Putranya yang terlihat imut bisa berbicara se frontal itu pada orang yang lebih tua. Ia... Kaget bukan kepalang.
"Dengar Shine... Aku tidak bermaksud meremehkanku tapi ini memang masalah orang dewasa, Kamu belum mengerti"
"Sudah Aku bilang Uncle, jangan meremehkanku apa Aku harus menunjukkan kemampuanku dulu baru Uncle akan percaya?"
Shine terlihat menantang, dan benar saja Axel merasa tertantang. Dalam hatinya terselip rasa bangga melihat putranya terlihat sangat cerdas dan berani tapi Ia juga merasakan bahwa sifat Shine itu akan menyulitkannya. Menyulitkannya untuk memberinya maaf dan mengakuinya sebagai Ayah kandung.
"Baiklah. Tunjukkan padaku, baru Aku akan percaya"
"Tentu saja. Berikan saja Aku identitasnya. Aku akan menemukan segala informasi tentangnya tanpa ada satupun yang tertinggal. Tapi Uncle harus berjanji untuk tidak mengatakannya pada Daddy dan Mommy ku"
"Kenapa?"
"Itu urusanku Uncle. Uncle tidak perlu tahu"
Ucap Shine dengan alis berkerut. Namun bukannya takut, Axel malah merasa lucu. Ini barulah Shine terlihat seperti anak-anak pada umumnya jika sedang marah atau ngambek.
"Baiklah. Ayo Kita mulai"
Axel berjalan mendahului , meninggalkan Shine yang mengekor di belakangnya. Pria itu kemudian mengeluarkan laptop dari tas kerja yang selalu Ia bawa kemanapun. Karena pekerjaannya memang selalu menumpuk. Jadi laptop menjadi hal yang wajib selalu Ia bawa.
Axel mulai menyalakan laptopnya dan membuka File yang menyimpan semua data client nya. Termasuk ada Bram didalamnya, karena dulu Perusahaan Djaja dan Perusahaan Bram menjalin hubungan kerjasama cukup lama.
Setelah berhasil menemukan data Bram, yang didalamnya hanya terdapat nama, alamat, nomor identitas serta informasi lain yang biasanya ada dalam biodata seseorang, Axel pun memutar laptopnya dan menunjukannya pada Shine.
"Orang ini, Dia yang sedang Aku cari informasinya, tentang silsilah keluarganya terutama. Jadi, bisakah Kamu benar-benar membantuku Shine Angelo Dharmawangsa?"
"Dengan senang hati" Jawab Shine dengan entengnya. Wajahnya menyiratkan kesombongan seolah apa yang dihadapannya hanya sebuah masalah kecil.
Axel tersenyum kecil. Namun senyumnya berubah menjadi ngang-ngong saat melihat betapa lihai dan lincahnya jemari Shine dalam memainkan keyboard. Wajahnya sangat serius dan dalam namun tidak terlihat panik sama sekali.
Karena penasaran, Axel pun bangkit dan kemudian berdiri tepat di belakang Shine untuk memperhatikan apa yang sedang dilakukan oleh bocah itu.
Axel semakin dibuat menganga, saat melihat putra kandungnya itu bisa dengan mudah membobol situs imigrasi bahkan situs resmi kependudukan milik pemerintah.
"What the hell is going on?" Gumamnya dengan mata melotot.
Yang benar saja, bocah berusia 7 tahun ini punya kemampuan hacker seperti ini? Terang saja Shine tidak mau Abimana dan Azizah mengetahuinya. Ini terlalu... Berbahaya untuk anak seusia Shine.
"Selesai!"
Shine menghentikan gerakan jemarinya kemudian menyimpan semua data yang berhasil ia peroleh dalam satu folder yang dinamakan "Kerja Keras dari si Jenius Shine"
Tawa Axel hampir meledak saat membaca nama folder itu.
"Ingat Uncle, ini adalah rahasia"
"Hmn, Aku mengerti"
"Baiklah, Karena Aku sudah membantumu maka Aku ingin sebuah imbalan"
"Imbalan? Apa itu?"
ucap Axel penasaran.
"Setelah semua ini selesai, Aku mohon jauhilah keluargaku"
"Sorry?"
"Pergilah Uncle, jauhilah keluargaku"
Ucap Shine dengan mata berkaca-kaca. Dan itu membuat Axel merasakan hatinya di sayat, perih. Putranya memintanya untuk menjauh? Meski ia tahu Shine belum bisa menerimanya tapi mendengar ucapan itu secara langsung ternyata sangat menyakitkan.
"Shine..."
"Aku hanya memiliki satu Ayah, dan itu adalah Daddy-ku. Abimana Aryasatya Dharmawangsa. Tidak ada yang lain dan tidak akan ada yang lainnya lagi"
Ucap Shine dengan tegas.
Axel memalingkan wajahnya. Ia benar-benar mendengar kalimat menyakitkan itu dari Shine. Hanya ada satu Ayah, dan itu bukan dirinya.
Bersambung....