
Dari kemarin santai terus babnya, sekarang mari kita bertegang-tegang ria...
*****
Keesokan harinya....
"Sayang, bukankah nanti malam Kamu dan Abi akan menghadiri perjamuan bisnis?"
"Iya Mom, tapi sebenarnya Zizah nggak terlalu tertarik Mom... bawaannya males aja..."
"Hehehehe, Mommy ngerti sayang, Kamu lagi hamil muda jadi wajar kalau malas kemana-mana. Mmm... Mommy punya ide, bagaimana kalau kita jalan-jalan ke Mall, sekalian cari makanan yang enak terus hunting baju buat Kamu dan Abimana nanti malam"
Ajak Karina bersemangat. Sementara Azizah yang memang sedang tidak ingin melakukan apapun nampak berfikir keras.
"Ayolah nak, ajak anak-anak juga, nanti Mommy dan Daddy yang temenin anak-anak main, Kamu sama Abi bisa healing berdua"
"Mommy..."
"Ayolah...."
Bujuk Karina dengan wajah memohon.
"Bagaimana dengan Kakak dan Nayla?"
"Mereka punya acara sendiri, jadi Kita tidak boleh mengganggu acara pengantin baru, Okay?"
"Hehe, Okay Mom, kalau gitu Zizah siap-siap dulu"
"Okay, Mommy akan telepon Daddy supaya bisa pulang sekarang bersama Suamimu"
"Hmm, baiklah Mom"
Azizah pun masuk ke dalam kamarnya untuk bersiap, sementara Karina menyusul cucu-cucunya yang tengah bermain di taman belakang villa ini bersama para susternya.
"Papa... Kita ngapain kesini? Ini bukannya rumah sakit jiwa?"
Dania bertanya dengan raut kebingungan, sedikit ngeri juga saat melihat beberapa pasien RSJ ini menatap ke arahnya dengan berbagai ekspresi, ada yang tersenyum, ada pula yang memelototinya.
"Papa mau menjenguk sepupu Kamu"
"Oh.... Sepupu yang mana Pa?"
"Nanti Kamu juga tahu sayang, Papanya kasihan sama Dia. Ayahnya yang biadap itu malah memasukkannya ke rumah sakit jiwa sementara Dia sendiri kabur ke luar negeri"
"Jahat banget... Tapi kok Aku baru tahu Papa punya saudara selain Tante Miranda"
"Sebenarnya Kami saudara jauh, Satu nenek. Orang tua Kami, Kakak-beradik, jadi wajar saja kalau Kita tidak begitu akrab"
"Terus Kenapa Papa mau nolongin Anaknya yang dirawat ini?"
Tanya Dania penasaran, Ia masih menatap ke sekeliling dengan waspada.
Gadis ini di besarkan dengan penuh kasih sayang dan materi yang sangat tercukupi. Ayahnya, Bayu Aji Daneswara selalu menuruti semua keinginan putrinya itu, apalagi Dania adalah Putri semata wayangnya. Jadi wajar jika Bayu sangat memanjakannya.
"Sebenarnya Papa tidak sengaja, Waktu itu si Pria tidak tahu diri itu meminta bantuan Papa, Dia datang bersama putrinya ini, tapi setelah Papa memberi bantuan padanya, Ia malah kabur dengan membawakan uang Papa, lebih jahatnya lagi, Putrinya Ia masukkan ke rumah sakit jiwa ini. Ckck sangat tidak manusiawi"
"Papa jangan deket-deket deh sama orang jahat kaya Dia. Terus kenapa Papa ajak Dania deh, Dania kan mau ke rumah Axel"
"Biar Kamu tahu kalau Kamu punya saudara, Lagian Kamu ini lho perempuan, kok yo ngebet banget sama lelaki, Axel juga kayaknya nggak tertarik sayang sama Kamu..."
"Papaa!!!"
Seperti biasa Dania mengeluarkan jurus suara petir menyambar andalannya. Membuat Bayu seketika menutup telinganya rapat-rapat.
"Iya iya, maaf Sayang, Papa dukung kok.. Asal Dania bahagia. Sekarang yang tenang ya, Kita bentar lagi sampai ke ruangannya"
"Mmm... Awas aja kalau Papa ngomong lagi Axel nggak tertarik sama Aku, Aku mau mogok makan seminggu"
"Jangan dong, nanti Kamu kena busung lapar gimana?"
"Paaapaaaa!!!"
"Hahahaha, ssst udah diem, Kamu ini berisik banget Nia"
Bayu menjawil pipi Dania dengan gemas kemudian kembali menggandeng tangan putrinya menuju ke sebuah ruang perawatan ODGJ yang terletak di ruang paling ujung rumah sakit jiwa yang cukup bonafit itu.
"Kita udah sampai, tadi Papa udah bilang sama perawatnya, Kita aman buat jenguk dia asal di balik pintu ini"
Ucap Bayu seraya menunjuk ke arah seorang wanita yang tengah berjongkok di pojokan, rambutnya panjang namun berantakan, membuat tampilannya semakin mengerikan...
"Dih serem Pa... Siapa namanya Pa?"
"Bentar ya.... Papa panggil dulu"
Ucap Bayu setengah berbisik, Daniapun mengangguk, sungguh suasana ruangan ini yang sunyi dengan nuansa serba putih membuat bulu kuduknya berdiri tegak, setegak tekad para pemuda Indonesia.
"Alexa... Ini Om Bayu... Alexaa"
Alexa yang dipanggil itu pun pelan-pelan menoleh. Dan saat Alexa menoleh sempurna, Dania malah...
"Ha.... Hantu!!!!! Papa ada hantu!!!!"
Dania histeris membuat Alexa yang ada didalam ruangan itu juga ikut histeris, sementara Bayu kebingungan sendiri untuk menenangkan keadaan. Ia menyesal karena lupa memberitahu putrinya yang kemayu itu kalau wajah Alexa rusak separuh akibat air keras. Jadilah ruangan sunyi itu kini ramai karena jeritan Dania dan Alexa yang saling bersahut-sahutan.
"Moma, Popa.... Shiena mau Ice cream gelato"
Rengek Shiena begitu melihat gerai es krim gelato yang terpampang nyata di depan matanya.
"Shine juga Moma"
Sahut Shine yang juga ikut tergoda dengan warna dan wangi yang menguar dari dalam gerai es krim itu.
"Okay Bos kecil. Ayo Kita beli es krimnya"
Ucap Rheimon menanggapi permintaan cucu-cucunya dengan semangat. Mereka hanya berempat, sementara Azizah dan Abimana tengah berkeliling ke lain arah untuk mencari baji yang cocok untuk dipakai di malam perjamuan bisnis nanti.
Sementara disisi lain,
"Terima kasih Pak Axel, Saya sangat kagum dengan presentasi Anda, benar-benar terperinci dan menarik. Saya setuju untuk bekerja sama dengan Perusahaan Anda, silahkan kirimkan Draft kontraknya kepada Sekretaris saya"
"Oh My God, Terima kasih banyak Pak atas kepercayaan Anda, Saya jamin kerjasama ini akan sangat menguntungkan perusahaan Kita"
"Baik, baik... Saya percaya dengan kemampuan Pak Axel, Kalau begitu Saya permisi dulu"
"Bapak tidak makan siang bersama Kami?"
Tawar Axel pada mitra baru perusahaannya itu, kebetulan mereka melakukan pertemuan bisnis di sebuah restauran.
"Sayang sekali, Saya harus segera kembali ke Kantor, lain kali saja mari Kita atur untuk makan bersama, Pak Axel?"
"Oh baiklah Pak, tidak apa, Saya mengerti. Sekali lagi terimakasih"
"Sama-sama. Saya juga berterima kasih atas penawaran kerjasama dari Pak Axel, Saya permisi,
Selamat siang".
Orang itu pun berlalu meninggalkan Axel dan Asistennya,Linda, yang kini berbinar-binar karena berhasil mendapatkan kerjasama dengan salah satu pengusaha terbaik di kota ini.
"Selamat Pak"
"Selamat juga buat Loe Lin, Makasih ya udah tetap setia di Perusahaan Gue walaupun sempat bangkrut"
"Sama-sama Xel, berarti Gue bisa dong naik gaji gkgkgkgk"
Ucap Linda dengan nada bercanda.
"Beres!!!"
"Ya udah ayok pesen makan Xel, laper nih Gue"
"Okay, Loe mau makan apa?"
"Apa aja Gue mah yang penting halal"
Jawab Linda asal yang dibalas dengan kekehan Axel. Sepupunya ini tetap sama, tidak berubah sama sekali dan Axel suka itu..Linda tidak baperan dan tidak caper seperti perempuan-perempuan asing yang sebelumnya menjadi asistennya. Mungkin karena mereka masih saudara, jadi Linda menganggap Axel lebih seperti keluarga daripada hal lainnya.
"Axel..."
Ditengah kesibukan Axel yang tengah membolak-balik buku menu, Linda tiba-tiba menepuk-nepuk tangan Axel dengan cepat. Membuat Axel menoleh ke arah sepupunya itu.
"Itu... Bukannya bokapnya Darren yah?"
Ucap Linda seraya menunjuk ke arah Rheimon yang tak jauh dari tempatnya berada, tepat di depan restoran yang mereka duduki saat ini, Rheimon tengah menggendong anak laki-laki kecil sementara disampingnya ada Karina yang juga menggendong perempuan yang tengah menunjuk-nunjuk es krim yang ada di depannya.
"Oh, Om Rheimon sama Tante Karina udah punya cucu? udah gede aja ya..."
Ucap Linda seraya terkekeh, Linda dan Axel terus memperhatikan Rheimon dan Karina serta kedua bocah lucu yang ada dalam gendongan mereka.
"Ngomong-ngomong... Itu bocah kok mirip Elu Xel, terutama yang cewek noh, asli mirip Loe banget waktu masih ingusan Xel"
Cerocos Linda dengan santai, Ia tak menyadari Expresi Axel yang berubah pucat.
'Cucu Kita tidak bisa di selamatkan...'
Ucapan Rheimon terakhir saat terakhir kalinya Ia bertemu dengan mantan mertuanya itu di rumah sakit sebelum Rheimon membawa Azizah pergi entah kemana selama bertahun-tahun.
"Anak-anakku... Bukankah mereka kembar?"
Ucap Axel pelan hampir tidak terdengar.
"Loe ngomong apaan Xel?"
Linda bertanya, Ia bingung melihat sepupunya bicara sendiri seperti orang linglung.
"Lin, menurut Loe, anak-anak itu umur berapa sekarang?"
Tanya Axel dengan tidak sabar. Linda sedikit terkejut hingga matanya berkedip cepat menatap Axel.
"Jawab Lin!"
Sergah Axel dengan cepat
"Mmmm... Bentar... Kayaknya kalo Gue liat sih sekitar 6 atau 7 Tahuan Xel, diliat dari posturnya ya, Emang kenapa Xel"
"Damn it!!!"
Axel mengumpat. Matanya memerah.
'Apa selama ini Om Rheimon membohongiku? Anak-anakku sebenarnya masih hidup?? 6 tahun, Jika di hitung ulang ke belakang, maka usia anak-anak itu seharusnya sama dengan usia anak-anakku bukan?'
Berbagai pertanyaan dalam hatinya terus bermunculan. Ingatannya kemudian kembali saat acara pernikahan Darren.
Shiena.
Gadis kecil bernama Shiena yang memberinya permen.
"Ya Tuhan... Apa Dia... Adalah Anakku?"
Axel baru mengerti, perasa hangat dan berbeda yang Ia rasakan saat melihat wajah dan juga mata gadis kecil itu... Yah, Warna mata Shiena, warna mata Shiena persis seperti warna matanya.
Axel hendak berdiri dan mengejar Rheimon, namun sayangnya, karena terlalu lama berfikir, Rheimon dan Karina sudah menghilang dari sana.
"Gue harus cari buktinya, Gue yakin banget, Gue yakin banget mereka itu anak-anak Gue!! Kenapa Om? Kenapa Om Rheimon tega ngelakuin ini?"
Axel mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-bukunya memutih. Air matanya lolos begitu saja.
Lukanya, kesedihannya dan perasaan hancur yang Ia rasakan selamat bertahun-tahun karena kehilangan anak yang bahkan belum sempat Ia lihat rupanya, ditambah Azizah yang juga menghilang tanpa jejak kini kembali menganga dan berdarah.
Axel tidak menyadari dibelakangnya ada Linda yang menatapnya dengan bingung.
"Xel, Loe.. Kenapa?"
Tanya Linda hati-hati.
Axel menoleh cepat. Kemudian meraih bahu sepupunya itu dan menggenggamnya erat hingga membuat Linda meringis.
"Lin, Gue butuh bantuan Loe.."
Axel menatap Linda penuh permohonan, matanya menyala dengan kilat amarah sekaligus kesedihan yang kentara. Linda mengangguk, meski belum tahu bantuan apa yang bisa ia berikan, tapi melihat wajah Axel Ia merasa sangat yakin jika sepupunya itu memang membutuhkan bantuannya.
Bersambung.....