
...Happy Reading...
Arfan…
Fan…
Arfan terbangun dari tidurnya, seseorang telah memanggil-manggil namanya dan telah mengganggu tidurnya. Arfan melihat kesudut kamarnya dan melihat seseorang telah berdiri disana. Arfan berusaha memfokuskan matanya, wajah orang tersebut terlihat blur dimata Arfan. Setelah beberapa kali mengusapkan matanya, akhirnya dia dapat melihat jelas orang itu dan ternyata itu adalah Arum.
Arum berdiri diam, terlihat raut wajahnya seperti sedang sedih, dia seperti menyimpan banyak sekali kesedihan didalam hidupnya. Arfan langsung beranjak dari tempat tidurnya dan menghampiri Arum, namun Arum langsung berjalan seperti hendak menunjukkan sesuatu kepada Arfan. Karena Arfan penasaran, Arfan pun mengikuti langkah Arum. Sesampainya diluar kamarnya, Arfan terkejut karena melihat banyaknya setan yang berkeliaran di rumahnya, mereka memandang Arfan dengan tatapan penuh dengan kebencian.
Pembunuh, itulah yang dikatakan oleh setan-setan itu, Arfan merasa bingung dengan perkataan mereka semua.
“Pembunuh? Siapa yang pembunuh? Lah… salah gua sama mereka itu apa? Emang gua yang bunuh mereka?” batin Arfan yang masih merasa bingung dengan perkataan mereka.
Beberapa bentuk dari mereka sangat mengerikan, rasanya Arfan ingin sekali kembali ke kamarnya. Arfan sudah tidak kuat, dia pun berhenti di belakang pintu masuk rumahnya.
“Rum, lo mau bawa gua kemana sih? Gua mau ke kamar aja ah,” kata Arfan namun Arum tidak menjawab pertanyaannya.
Saat Arfan membalikkan tubuhnya, tiba-tiba tubuhnya memutar kembali kearah semula, arah dimana dia berada di belakang Arum. Arum keluar dari rumah Arfan dan secara otomatis Arfan pun mengikuti Arum. Setan di luar rumah ternyata lebih mengerikan daripada di dalam rumahnya, pasalnya, kebanyakan dari mereka merupakan korban kecelakaan. Banyak sekali darah yang menghiasi tubuh mereka, ada juga anak bayi yang samanya dipenuhi dengan darah, bayi tersebut berada di selokan salah satu rumah tetangganya.
Tak hanya itu, disana juga terdapat beberapa kuntilanak, pocong, gunderuwo. Dada Arfan terasa sesak karena dia merasa tidak kuat melihat semua keadaan yang telah dia lihat.
“Woy Arum, gua mau lo bawa gua pulang lagi! Lo mau bawa gua kemana sih!” kata Arfan sambil mengatur napasnya namun Arum masih tetap diam dan terus berjalan.
Setelah beberapa lama Arum membawa Arfan pergi, Arum tiba-tiba menghilang begitu saja.
“Rum! Lo dimana?” teriak Arfan sambil mengedarkan pandangannya kesetiap sisi.
Pandangan Arfan terhenti ketika melihat sebuah rumah yang sangat sederhana. Rumah tersebut lebih kecil daripada rumah Arfan bahkan bisa dibilang itu adalah rumah yang sangat kecil.
“Rumah siapa ini?” batin Arfan sambil mengerutkan keningnya.
Seseorang pria paruh baya keluar dari rumahnya, dia sepertinya sedang mencari anaknya. Dia terus memanggil nama anaknya sambil tersenyum senang.
“Arum, kamu dimana? Papa bawa hadiah untuk kamu nih,” Arfan baru sadar bahwa itu adalah papa Arum, Arfan sebenarnya baru tahu keberadaan rumah Arum dan juga orang tua Arum. pasalnya saat kematian Arum, Arfan sama sekali tidak datang kesana karena dia sama sekali tidak memperdulikan itu.
Kasihan, itulah kesan pertama kali saat melihat kondisi rumah Arum, kondisi rumah Arum sangat sederhana, Arfan tidak bisa membayangkan jika posisi tempat tinggal dia sama seperti Arum. Arfan melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah Arum, dia melihat bahwa keluarga kecil itu kini berada di dalam 1 ruangan yaitu ruang keluarga.
Arum terlihat sangat manis walaupun bentuk fisik dia masih sama seperti saat dia SMA, terlihat kebahagiaan dari wajah Arum, Arfan sendiri baru kali ini melihat kebahagiaan di wajah Arum.
Arfan melangkahkan kakinya kembali mengelilingi rumah Arum hingga dia sampai di sebuah kamar. Arfan mendengar sebuah tangisan dan secara perlahan Arfan membuka pintu kamar itu. Arfan melihat Arum sedang duduk di atas kasurnya sambil menangis, dia seperti orang yang sangat depresi.
“pasti itu Arum pas udah SMA,” batin Arfan.
“kenapa mereka semua bully aku? Apa masalahnya mereka sama aku? Arfan punya masalah apa sama aku hingga dia terus-terusan mengusik semua orang untuk membullyku?” kata Arum sambil menangis. Dia terus memeluk gulingnya, dia menangis tiada henti, terlihat wajah bersalah Arfan kepada Arum.
“Maafin gua Rum, gua sepertinya memang sudah sangat keterlaluan sama lo,” batin Arfan dan kemudian dia keluar dari kamar Arum.
Arfan langsung memutuskan untuk pergi dari rumah Arum. sesudahnya keluar dari rumah Arum, Arfan tiba-tiba saja sudah berada di gerbang depan sekolahnya, Arfan langsung masuk kedalam sekolahnya. Mata Arfan langsung tertuju pada sekelompok genk, Arfan tahu bahwa itu merupakan genk-genknya, disana juga terdapat Arfan yang masih Asyik mengobrol dengan teman-temannya. Obrolan mereka terhenti ketika melihat Arum yang baru saja datang dan hendak melewati genknya.
“Woi gendut! Kapan lo kurus?” ujar salah satu anak sambil tertawa.
“Hahaha… Udah gendut, hitam lagi!” ujar anak lainnya yang ikut tertawa.
“Eh! Jangan dekat-dekat dia! Nanti ketularan buluk!” ujar salah satu murid perempuan sambil menarik temannya untuk menghindar dari Arum.
“Eh! Liat deh! Orang kayak gitu tuh ya gak pantas untuk hidup!” ujar salah satu teman perempuan tersebut dengan nadanya yang sinis.
Tiba-tiba tanganku di tarik oleh salah satu murid laki-laki dan aku di dekatkan dengan tempat sampah. Dia menarik tanganku dengan gayanya yang merasa jijik.
Mereka terus saja mentertawakan Arum, namun Arum tetap saja diam sambil menahan air matanya yang hendak jatuh.
“ternyata gua keterlaluan ya, gara-gara gua, mereka jadi terus-terusan membully Arum, gua merasa bersalah banget sama dia.” batin Arfan dengan wajahnya yang merasa bersalah.
Arfan kembali berjalan hingga berada di belakang sekolah, dia tidak mengerti mengapa langkah kakinya memilih untuk berada di belakang sekolah.
Arfan melihat Arum sedang duduk bersandar di tembok belakang sekolah, dia terus menangis karena rasa sakitnya terhadap Vira begitu besar. Dia tidak menyangka kalau Vira akan berbuat seperti itu.
Ku ingin hidup bebas tanpa hinaan
Ku ingin bermain bersama mereka sepanjang waktuku
Apakah salahku? Mengapa kalian membenciku?
Apa salahku? Jangan ambil dia yang telah menjadi malaikatku
Kalian tersenyum dibalik kesedihanku
Aku melayang karena kalian
Biarkan aku melayang dan hidup bahagia
Aku ingin hidup bahagia
Mengapa kalian membenciku? Biarkanlah aku hidup bahagia
Aku hanya bisa melihat duka dari kejauhan
Aku dapat melihat mereka, namun mereka tidak akan bisa melihatku
Biarkan aku bahagia, maka aku tidak akan merusak kebahagiaan kalian
Arum menulis puisi di buku hariannya, dia merobek kertas yang baru dia tulis dan meletakkannya di saku bajunya. Dia mengepalkan tangannya sambil menangis, dia merasa sudah sangat lelah terus-terusan menjadi anak korban bullying.
“Kamu memang gak pantas untuk hidup, Rum. Kamu hidup hanya untuk di hina.” Batinnya sambil menangis.
Arum menghapus Air matanya dan langsung bangkit dari tempat duduknya. Dia mengambil tambang yang kebetulan berada di atas tempat mesin pompa air. Arum langsung memanjat pohon yang berada di belakang sekolah dan mengikatkan tali tersebut ke pohon. Dia turun kembali dari pohon dan mengambil bangku, dia berdiri diatas bangku dan memasukkan kepalanya kedalam tali yang telah dia bentukkan lingkaran, tali itu juga sudah menggantung di atas pohon tersebut. Arum meneteskan air matanya, dia sudah yakin dengan keputusannya untuk mengakhiri hidupnya.
“Selamat jalan dunia,” kata-kata terakhir Arum.
Kemudian Arum menendang bangku itu hingga jatuh, Arum pun menggantung mati disana. Arfan terkejut sekali saat melihat kejadian itu. Mata Arum telah terpejam, kepalanya menunduk, napasnya telah terhenti. Tiba-tiba Arum melirik kearah Arfan dengan tatapan yang sangat seram.
“Disinilah aku mati dan mengakhiri hidupku,” itulah yang dikatakan Arum kepada Arfan.
Arfan langsung terbangun dari tempat tidurnya, napasnya terasa sangat sesak, keringat dingin telah membasahi dirinya, dia beruntung karena semua itu hanyalah mimpi. Arfan melihat jamnya dan ternyata dia telah terbangun di pukul 05:00, Arfan langsung beranjak dari tempat tidurnya dan memutuskan untuk pergi ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya.
Entah kenapa Arfan masih kepikiran dengan mimpinya itu, semua terasa seperti nyata namun juga ghaib, dia merasa bahwa Arum telah memberitahukan sesuatu kepada Arfan, yaitu perbuatan Arfan dimasa lalu, Arfan yakin bahwa Arum memberiahukan kepadanya bahwa dia merupakan penyebab kematian Arum. Namun Arfan membuang jauh-jauh pikiran seperti itu dan menganggap bahwa semua itu hanyalah sebuah mimpi yang kebetulan saja.
..._________________________________________...
...PENASARAN SAMA PART SELANJUTNYA?...
...BACA TERUS " A B C D " ...
...DAN JANGAN LUPA VOTE DAN JUGA SHARE YA.....
...OH YA KALAU ADA YANG PERLU DIKOMEN,KOMEN AJA KARENA ITU SANGAT BERGUNA UNTUK SAYA...