
...Happy Reading...
Hari ini sekolah diliburkan karena sekolah sedang dalam tahapan penyelidikan polisi. Anastasya menghabiskan waktunya hanya untuk menonton drama korea, namun dia harus berhenti menonton drama korea malam ini karena dia akan berkomunikasi dengan mereka korban pembunuhan di sekolah. Anastasya harus melakukan astral projection supaya bisa pergi melalui alam gaib. Dia tidak mungkin pergi ke sekolah secara langsung karena itu bisa menimbulkan rasa curiga orang-orang sekitar sekolah.
Anastasya memejamkan matanya dan mulai tidur, tak lama kemudian arwah Anastasya keluar dari dalam tubuhnya. Dia langsung melangkahkan kakinya membuka pintu kamarnya dan dia langsung tiba di dalam sekolah. Dia mulai berjalan dengan perlahan sambil melihat di sekelilingnya. Banyak sekali arwah-arwah penasaran yang terjebak disana, mereka menyadari bahwa Anastasya masih hidup.
Anastasya langsung bertemu dengan arwah yang dulu matinya di gantung di tiang bendera, dia seperti membutuhkan bantuan Anastasya supaya dia bisa pergi dengan tenang. Anastasya berusaha untuk berkomunikasi dengan arwah tersebut namun dia langsung menghilang begitu saja.
Saat dia membalikkan tubuhnya, dia tersentak hebat karena gedung yang dia kunjungi adalah sekolahnya kini berubah menjadi sebuah ruangan tersembunyi yang ada di sekolahnya, Anastasya juga baru tahu kalau di sekolahnya ternyata ada ruangan yang tersembunyi dan terdapat satu mayat yang dikenali oleh Anastasya, orang yang sudah tewas itu bernama Gabriela Selia dan dia telah dibunuh secara mengerikan. Tubuhnya terdapat banyak sekali lelehan timah, kulitnya mengelupas sehingga menampilkan daging merah yang dipenuhi oleh darah.
"Bagaimana hasil karya gue? Bukankah sangat indah?" tanya seseorang yang berada di belakangnya, dia langsung menoleh ke belakangnya.
Wanita yang memiliki tubuh ideal, rambutnya di ikat, kulitnya putih, namun tetap saja wajahnya samar. Orang itu sepertinya sudah tahu apa tujuan Anastasya melakukan Astral projection.
"Lemah banget sih lo! Kesini aja harus lakuin astral projection!" kata orang tersebut meremehkan Anastasya
"Kamu ini siapa sih? Kenapa kamu jahat sama mereka semua?" tanya Anastasya kesal.
"Gue? Mereka yang jahat! Mereka udah buat Arum bunuh diri! Mereka pantas mati!" bentak orang tersebut.
"Tapi nggak gini juga caranya!" balas bentak Anastasya.
"Nggak usah banyak omong, gue sekarang mau mengajak lo kerjasama," kata orang tersebut, "gua mau lo bantu gue, kita bunuh mereka semua, kita harus membalaskan dendam Arum," sambungnya sambil memegang sebuah pisau yang sudah dilumuri darah.
"Arum nggak pernah punya rasa dendam dengan siapapun!" kata Anastasya dengan nada tinggi.
"Sok tahu," jawab orang tersebut dengan sinis, Anastasya berusaha mendekati orang itu supaya dia bisa lebih jelas lagi namun orang itu langsung mengangkat pisaunya hingga jaraknya dengan pisau itu sangat dekat.
"Jangan pernah mendekat!" kata orang tersebut yang sepertinya mulai marah, Anastasya hanya tertawa karena jika orang itu menusuknya juga sangat percuma karena saat ini Anastasya dalam berbentuk Arwah.
Dia menurunkan pisaunya dan kemudian berkata "Oh ya, bagaimana hubungan lo sama Fadhil? Kayaknya lo berdua saling suka ya?" tanya orang tersebut namun entah kenapa firasat Anastasya berubah menjadi tidak baik.
"Ka-kamu mau apa?" tanya Anastasya takut.
"Bunuh! Gue mau bunuh dia! Dia kan juga pantas mati karena nggak dukung gue buat lakuin tugas mulia ini," Anastasya mulai merinding, dia langsung berlari keluar dari ruangan itu dan kembali ke kamarnya.
Anastasya membuka matanya, dia langsung menangis karena dia takut ada hal buruk yang akan terjadi pada Fadhil. Dia sangat ketakutan, dia tidak ingin melihat Fadhil meninggal dengan cara yang mengerikan.
*****
Drrt.. drrt.. drrt..
Anastasya calling..
Fadhil baru saja selesai melaksanakan sholat tahajud, dia langsung mengambil telponnya dan langsung mengangkatnya. Fadhil merasa sepertinya ada hal yang penting karena jika tidak penting, Anastasya tidak mungkin akan menelpon di tengah malam seperti ini.
"Hallo Ca?" ujar Fadhil lembut.
"Dhil, aku takut!" kata Anastasya sambil menangis.
"Kenapa? Tentang Arum? Gua udah nggak mau ikutan lagi," kata Fadhil sambil melipat sajadah miliknya.
"Si pelaku itu mau bunuh kamu Dhil! Aku takut!" Fadhil langsung membeku karena pada saat itu juga dia melihat seseorang wanita sedang berdiri di depan jendelanya kamarnya, dia memakai baju putih panjang, kulitnya coklat tua namun sangat pucat, badannya gendut, dan dia memegang sebuah pisau. Fadhil gemetar ketakutan, jantungnya berdetak dengan sangat cepat, dan keringat dingin membasahi tubuhnya.
"Ca-Ca, Arum datang Ca!" kata Fadhil ketakutan dan pada saat itu telpon mereka terputus, Arfan langsung mundur beberapa langkah namun sosok wanita itu semakin lama semakin mendekatinya.
"Fadhil, kamu mendapatkan salam dari Daniel yang sedang berada di neraka, kata dia.." wanita itu langsung hilang dari hadapan Fadhil namun sekarang dia berdiri di belakang Fadhil dan berbisik kepadanya "kata Daniel kapan kamu akan menyusul dia? Dia sangat kesepian," dia langsung terbang sambil tertawa dengan suara yang sangat lenting.
Fadhil langsung menutup telinganya dan membaca ayat kursi dan juga beberapa surat Al-Qur'an, namun setan itu kembali berbisik kepadanya dan mengatakan "coba saja, nggak mempan," setan itu kembali tertawa dan membuat Fadhil semakin merinding.
"Sebenarnya kamu mau apa Rum! Aku itu sama sekali nggak ada masalah sama kamu karena aku juga nggak pernah bully kamu!" kata Fadhil sedikit kesal.
"Tapi kamu ikut campur! Jangan pernah ikut campur! Jangan pernah menjadi sok pahlawan karena tetap saja kamu itu seorang pengecut!" dia kembali tertawa dan melayang di atas Fadhil, Fadhil berusaha mengabaikan setan itu dengan cara membaca surat Yasiin.
"Kamu sayang Anastasya kan? Kalau begitu gimana aku bunuh dia dulu? Karena dia itu udah mulai ikut campur," kata setan itu yang sedang duduk di sebelah Fadhil.
Fadhil langsung membuka matanya dan kemudian dia berkata "jangan pernah sentuh Anastasya sedikit pun!" kata Fadhil dengan nada tinggi.
"Waw! Kisah cinta yang sangat mengharukan," kata setan tersebut "namun penuh dengan drama!" katanya dengan sinis.
Setan itu langsung terbang tinggi dan dia berkata "kalau begitu aku akan membunuhmu!" dia tertawa semakin kencang, semua barang-barang di kamar Fadhil di hancurkan, Fadhil terus berdzikir dan membaca ayat kursi sambil memejamkan matanya.
Setan itu langsung menatap Fadhil dan sepertinya dia sangat marah, dia langsung mengangkat Fadhil mencekiknya dengan sangat kencang.
"Kalian semua pantas untuk mati! Terutama kamu Fadhil! Orang yang paling sok suci! Sok taat agama! Padahal hati kamu busuk!" kata setan tersebut tatapannya semakin penuh amarah dan dia mencekik semakin kencang hingga Fadhil benar-benar kesulitan bernapas namun dia masih terus berdzikir tanpa henti.
Setan itu melempar Fadhil ke segala arah dan kemudian dia membuat Fadhil melayang kembali dan membantingnya dengan sangat kencang. Fadhil mulai mengalami pendarahan di bagian kepalanya, dan setan itu mulai menghilang. Pandangannya mulai gelap, dan dia tergeletak di lantai dalam posisi tengkurap di dalam kamarnya.
*****
Malam ini Arfan nonton pertandingan bola di ruang tamu, dia sengaja mematikan lampunya dan mulai fokus menonton bola. Saat salah satu pemain persija sedang menendang bola menuju gawang, tiba-tiba saja layar TV-nya mati. Tak lama kemudian sebuah tulisan muncul dari TV-nya.
Hai.. (next slide)
Sudah lama ya kamu tidak mendapatkan surat dariku lagi.. (next slide)
Tapi bukan berarti kamu akan selamat.. (next slide)
Aku akan tetap membunuhmu! (next slide)
Layar TV berubah menjadi gambar dimana Arum sedang gantung diri, Arfan terus berusaha mematikan layar TV menggunakan remote namun layar tetap tidak mati. Arum turun dari tempatnya bergantung dan berjalan membuat dirinya menjadi lebih jelas dilihat oleh Arfan.
Akan ku balas apa yang sudah kamu perbuat kepadaku!
"Berisik! Ngapain ganggu orang lagi nonton bola hah!" bentak Arfan namun bentakannya itu justru membuat Arum menjadi tertawa keras.
"Bukan kah aku pernah mengatakan kepadamu untuk tetap hati-hati?" kata Arum menyeringai mengerikan.
Arfan langsung melempar asbak rokok dari keramik kearah TV, seketika Arum langsung menghilang dan TV Arfan menjadi rusak. Dia langsung menelpon Fadhil namun tidak diangkat olehnya, Arfan langsung berlari ke kamarnya dan dia memilih langsung tidur lantaran dia takut kalau Arum akan datang kembali dan mengganggunya.
*****
Tok.. tok.. tok..
Bunyi ketukan yang sumber suaranya dari meja di samping tempat tidur Anastasya terus berbunyi seperti ada yang mengetuknya dengan kuku, namun saat Anastasya terbangun suara ketukan itu hilang. Anastasya melihat sebuah amplop, dia langsung membuka amplop itu tanpa ada rasa takut sedikit pun. Di dalam amplop itu berisikan sebuah surat dan juga foto, isi suratnya adalah :
Selamat menikmati..
Saat Anastasya melihat foto itu ternyata adalah foto Fadhil yang sudah bersimbah darah. Anastasya langsung berteriak kemudian dia menangis, dia sangat khawatir dengan keadaan Fadhil. Anastasya berusaha menelpon Fadhil dan dia berharap bahwa Fadhil masih hidup dan merespon panggilannya, namun sudah satu jam Anastasya menelponnya tetap saja tidak ada respon darinya.
*****
Fadhil membuka matanya dan terkejut karena saat ini dia berada di sekolah, dia melihat banyak sekali arwah-arwah temannya yang sudah tiada hingga akhirnya dia menemukan Arwah Olivia yang sedang berjalan mendekatinya. Awalnya dia merasa takut, namun dia berusaha memberanikan diri supaya dia bisa bertanya dengan Olivia.
"Liv, kamu tahu siapa yang udah bunuh kamu?" tanya Fadhil dan Olivia pun mengangguk.
"Gua tahu siapa dia, lo harus waspada Dhil, sewaktu-waktu dia pasti bisa membunuh lo," kata Olivia memberikan peringatan kepada Fadhil "lo harus bangun, lo harus sadar, jangan pernah membiarkan Anastasya berjuang sendirian. Lo cinta Anastasya kan? Sekarang lo harus bisa bertahan hidup buat bantu Anastasya, dia orang yang baik Dhil dan sama sekali nggak ada niat jahat di dalam hatinya," sambungnya kembali.
"Tapi siapa pembunuhnya?" tanya Fadhil memaksa.
Olivia hanya diam dan kemudian menghilang begitu saja. Fadhil terus berteriak memanggil nama Olivia namun yang datang adalah Daniel. Mata Fadhil berkaca-kaca karena dia sangat merindukan sahabat yang sangat dia sayangi.
"Dhil, gua yakin lo pasti bisa, lo harus bisa menemukan si pelaku supaya kita bisa pergi dengan tenang, buktikan kalau kekuatan Tuhan lebih besar dari pada kekuatan ghaib. Lo harus bisa sadar, lo harus bertahan hidup, kita nggak mau lo bernasib sama seperti kita semua," kata Daniel sambil tersenyum dan dia langsung menghilang begitu saja.
Pandangan Fadhil menjadi buram, semuanya semakin lama semakin pudar termasuk sekolahnya. Semakin lama semakin menghilang dan Fadhil kembali ke dalam tubuhnya lagi walaupun dia masih tergeletak di dalam kamarnya dan tidak sadarkan diri.
..._________________________________________...
...PENASARAN SAMA PART SELANJUTNYA?...
...BACA TERUS " A B C D " ...
...DAN JANGAN LUPA VOTE DAN JUGA SHARE YA.....
...OH YA KALAU ADA YANG PERLU DIKOMEN,KOMEN AJA KARENA ITU SANGAT BERGUNA UNTUK SAYA...