
...Happy Reading...
Anastasya pulang terlambat karena dia harus mengerjakan tugas tambahan terlebih dahulu yang diberikan oleh bu Ayunda. Anastasya berjalan dengan tergesa-gesa sambil melihat kearah jam tangannya yang kini sudah menunjukkan pukul 17:55. Langkah Anastasya terhenti ketika dia mendengarkan suara tangisan dari belakang gedung sekolah, namun dia tetap berusaha untuk tidak menggubrisnya walaupun suara tangisan itu semakin kencang.
Semakin lama suara tangisan itu membuatnya semakin penasaran, akhirnya dia pun memutuskan untuk mencari sumber suara itu dengan langkah perlahan. Saat dia sudah menemukan titik tempat suara tangisan itu, dia sama sekali tidak melihat siapapun. Karena dia merasa ada yang ganjal dengan tempat itu, dia pun mulai berusaha menerawang tempat itu.
Anastasya mulai memejamkan matanya, dia mulai melihat kejadian yang sangat menyedihkan yaitu saat Arum duduk bersandar menulis puisi hingga Arum menggantung dirinya, semua kejadian itu terlihat sangat jelas walaupun durasinya sangat cepat.
Anastasya mulai membuka matanya dengan perlahan, dia tersentak hebat karena dia melihat Arum saat ini sedang berdiri di hadapannya. Wajahnya sangat pucat, terlihat kesedihan dari rawut wajahnya, dan tidak ada warna hitam di bola matanya.
Bantu aku Sya.. bantu aku..
Anastasya mulai ketakutan, napasnya mulai sesak, kepalanya pusing, spontan dia langsung berlari dengan cepat walaupun berkali-kali dia harus terjatuh. Arum terus mengejarnya dan mengatakan perkataan yang sama. Anastasya sudah mulai dekat dengan gerbang sekolah, namun dia kembali terjatuh dan dia berusaha untuk bangkit dan kembali berlari mendekati gerbang supaya dia bisa pergi dari sana.
Anastasya berhasil keluar, namun saat dia sudah berada di luar gerbang sekolah, dia melihat Arum sedang berdiri di dekat pos satpam. Arum hanya tersenyum, namun Anastasya tidak membalas senyumannya dan memilih untuk kembali berlari menjauhi tempat itu.
Posisinya saat ini sudah cukup jauh dari sekolah, dia mulai mengatur napasnya dan dia baru sadar kalau motornya masih berada di sekolah. Anastasya sudah tidak mau kembali ke sekolah apalagi hanya untuk mengambil motornya yang masih tertinggal di sekolah, dia takut nanti akan bertemu dengan Arum lagi. Dia kembali menyesal karena telah diberikan kelebihan seperti ini yaitu sebagai anak indigo. Dia ingin sekali terbebas dari kelebihan yang sangat membebani dirinya walaupun dia tahu bahwa semua itu hanyalah mimpi.
Anastasya terjatuh lalu dia menunduk, kemudian air matanya menetes membasahi pipinya dan dia berkata "Arum.." suara lirih disertai isak tangis karena dia kembali mengingat kejadian yang telah dialami oleh Arum.
Tiba-tiba saja seseorang berdiri di hadapannya, dia memberikan selembar sapu tangan berwarna biru kepada Anastasya. Anastasya langsung mengangkat kepalanya dan langsung melihat kearah orang yang ada di hadapannya, dan betapa terkejutnya dia karena ternyata orang yang ada di hadapannya saat ini adalah Fadhil.
"Kamu-"
"Ambil dulu nih sapu tangan dan hapus air mata lo, perempuan seperti lo tuh nggak pantas nangis disini," kata Fadhil memotong perkataan Anastasya dengan nada dingin.
Anastasya langsung mengambil sapu tangan dari tangan Fadhil dan dia langsung menghapus air matanya. Fadhil hanya diam menunduk menatap Anastasya dengan tatapan dinginnya, dia langsung memberikan tangannya untuk membantu Anastasya berdiri.
Fadhil sama sekali tidak melihat Anastasya membawa motornya, Fadhil berpikir bahwa Anastasya menangis pasti karena dia baru saja kena begal dan dia menangis karena bingung harus mengatakan apa ke orang tuanya. Fadhil langsung menawarkan dirinya untuk mengantarkan Anastasya pulang, dia diam sejenak dan kemudian mengangguk memberikan arti bahwa dia mau diantar oleh Fadhil.
Keheningan, itulah yang terjadi diantara mereka saat ini. Fadhil merasa sedikit canggung karena sudah cukup lama dia naik motor namun belum pernah memboncengi perempuan kecuali mantannya itu pun satu setengah tahun yang lalu. Fadhil memutuskan untuk berhenti di sebuah tempat makan, dia tidak ingin mengantarkan Anastasya dalam keadaan seperti ini. Saat Fadhil memparkirkan motornya, Anastasya merasa bingung namun dia terus saja diam dan bersikap biasa saja.
Fadhil memberikan kursi kepada Anastasya, kemudian dia duduk di depannya dan mulai memesan beberapa makanan dan minuman untuk mereka. Anastasya terus saja menatap Fadhil dengan tatapan bingung, Fadhil yang menyadari itu pun bertanya "kenapa lo lihatin gua terus? Apa ada yang aneh?" tentu saja pertanyaan Fadhil membuat Anastasya sedikit tersentak dan langsung mengalihkan pandangannya.
"Kenapa kamu ngajak aku kesini?" tanya Anastaya sambil menunduk.
"Kalau ngomong sama orang tuh tatap mukanya, jangan malah nunduk," Anastasya langsung menatap Fadhil kembali "Dengar gua baik-baik, gua nggak mau nganterin lo dalam keadaan lo yang kayak gini," kata Fadhil, terlihat sedikit keseriusan dari wajahnya.
Mereka kembali diam, Fadhil pun kembali membuka pembicaraan untuk menghentikan keheningan yang tidak jelas diantara mereka.
"Ngomong-ngomong.. lo kenapa tadi nangis? Motor lo kemana?" pertanyaan Fadhil secara bertubi-tubi.
"Motor aku ketinggalan di sekolah," jawab Anastasya kembali menunduk.
"Lah? Gua kira lo habis di begal, terus kenapa tadi lo nggak balik lagi ke sekolah? Kenapa harus nangis disana?" tanya Fadhil merasa heran dengan Anastasya.
Anastasya diam tidak menjawab pertanyaan Fadhil, dan keheningan pun terjadi kembali diantara mereka. Fadhil tidak ingin memulai pembicaraan diantara mereka lagi, dia merasa capek karena sejak tadi dia yang selalu memulai pembicaaran diantara mereka.
"Apa benar bahwa Arum meninggal dengan cara bunuh diri? Apa benar dia bunuh diri karena dia depresi dengan tindakan bully yang ada di se-"
"Bisa bahas yang lain nggak?" kata Fadhil memotong perkataan Anastasya, kali ini Anastasya yang memulai pembicaraan namun pertanyaan Anastasya membuat Fadhil sedikit terganggu, Fadhil tidak mau dilibatkan dalam permasalahan Arum karena dia takut akan kena imbasnya.
"Aku nggak akan berhenti mencari tahu tentang kematian Arum, aku hanya mau dia bahagia dan tenang di alam sana, aku yakin pasti ada hal yang mengganjal dari kematian Arum," kata Anastasya dengan tatapan serius.
Fadhil terdiam menatap Anastasya, dia merasa bingung dengan perkataan yang di lontarkan oleh Anastasya. Dia merasa bahwa ada sesuatu yang aneh dengan Anastasya karena dia terlalu ikut campur dalam permasalahan Arum. Sejak awal dia bertemu dengan Anastasya, dia sudah merasakan keanehan itu.
"Oh ya, lo kok tadi baru pulang sekolah sih? Ngapain?" tanya Fadhil mengganti topik pembicaraan.
"Ada urusan penting setelah itu bertemu dengan Arum," Fadhil langsung tersedak padahal dia sama sekali belum makan ataupun minum, dia tersedak disertai tubuhnya yang sedikit meloncat karena terkejut mendengar jawaban dari Anastasya saat dia mengatakan bahwa dia bertemu dengan Arum.
"Apa.. dia mau bunuh lo?" tanya Fadhil dengan nada pelan.
"Nggak! Arum itu baik! Kalian yang udah jahat sama Arum!" kata Anastasya dengan nada tinggi.
"Jangan marah-marah gitu, nggak enak di lihat sama orang lain," kata Fadhil dengan suara yang di kecilkan.
Anastasya langsung memperhatikan sekelilingnya, dia merasa malu karena dia telah berbicara dengan nada keras di tempat umum dan membuat banyak orang langsung melihat kearah mereka. Fadhil memajukan sedikit tubuhnya dan dia bertanya dengan nada yang sangat pelan "terus lo ngapain menemui Arum?" pertanyaan Fadhil membuat Anastasya merasa aneh dengan Fadhil. Pasalnya, saat Anastasya bertanya tentang Arum justru dia meminta untuk mengganti topik pembicaraan, tapi sekarang? Justru dia lah yang ingin membahas tentang Arum.
"Ayo kita pulang," jawab Anastasya menghindar dari pertanyaan Fadhil.
"Aku capek, aku mau pulang," kata Anastasya singkat.
Fadhil tidak ingin memaksa Anastasya lagi walaupun dia merasa sedikit kecewa karena Anastasya tidak mau menjawab pertanyaannya. Anastasya mengarahkan jalan menuju rumahnya hingga mereka benar-benar sudah sampai di sana. Anastasya mengucapkan terimakasih kepada Fadhil sambil tersenyum dan Fadhil mengendarai motornya dengan kecepatan normal.
Anastasya masuk kedalam rumahnya dan langsung pergi masuk ke dalam kamarnya. Anastasya duduk di atas kasurnya dan dia mulai melamun, dia terus saja teringat dengan kejadian di halaman belakang sekolah, kejadian yang sangat memilulan membuatnya akan selalu merasa iba dengan Arum.
Anastasya mulai mengambil handuknya dan masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang mulai terasa lengket. Saat dia membersihkan wajahnya di cermin, dia tersentak hebat karena dia melihat Arum sedang berdiri di belakangannya. Arum terlihat sangat marah, Anastasya langsung memejamkan matanya sambil ketakutan. Setelah beberapa lama, dia langsung membuka matanya dan dia tersentak hebat. Anastasya langsung berlari menghindari Arum, dia langsung berlari keluar menuju ruang tamu. Dia sangat merasa terganggu dengan kehadiran Arum.
"Untung saja aku belum lepas baju, kalau udah pasti ribet lagi deh," batinnya merasa bersyukur.
Sebuah tangan menyentuh pundaknya, dengan cepat dia langsung melihat ke belakang dan ternyata itu adalah bi Astri. Dia merasa sangat lega karena ternyata itu bukanlah Arum, dia berusaha mengatur napasnya dan berusaha untuk tetap terlihat tenang dihadapan bi Astri.
"Ada apa neng?" tanya bi Astri dengan lembut.
Anastasya menjawabnya hanya dengan gelengan kepala, bi Astri merasa sedikit ragu namun Anastasya berusaha meyakinkan bi Astri bahwa keadaannya saat ini sedang baik-baik aja. bi Asti langsung pergi menuju dapur dan membuat Anastasya semakin lega. Anastasya langsung pergi ke toilet di dekat dapur, dia memutuskan mandi disana karena menurutnya tempat disana sangat aman dan dia juga masih trauma untuk masuk ke dalam toilet yang ada di dalam kamarnya.
*****
Vira menangis sambil memeluk sebuah bingkai foto yang berisi fotonya dengan Arum, dia masih merasa bersalah karena dulu dia pernah menampar Arum. Saat dia sedang menangis, terdapat panggilan masuk dari ponselnya lantas dia langsung mengambil ponselnya. Vira tersentak saat mengetahui nama orang yang menelponnya, pasalnya nama yang tertera disana yaitu Arum. Vira langsung mengangkatnya dengan gemetar.
Vira, bukan aku..
Vira semakin gemetar saat mendengar suara Arum yang diiringi dengan tangisan, perasaan merinding mulai menyelimutinya namun Vira berusaha untuk tetap tenang juga kuat.
"Ha-hallo Rum?" kata Vira gemetar.
Aku takut Vir!
Teriakan Arum spontan membuat Vira tanpa sengaja melempar ponselnya kearah tembok, Vira langsung menutup wajahnya dengan bantal, dia terus menangis hingga tanpa sadar bahwa sejak tadi dia belum tidur.
*****
Saat ini Arfan sedang menonton film horror di laptopnya, saat dia sedang menonton filmnya tiba-tiba saja layar laptopnya gelap dan kemudian berganti dengan gedung belakang sekolah. Arfan berusaha mematikan laptopnya, namun laptopnya tetap saja menyala. Disana terdapat Arum yang posisinya sama seperti saat dulu dia gantung diri namun dengn jarak cukup jauh.
Arfan memajukan sedikit kepalanya dan gambar Arum semakin lama semakin jelas. Semakin lama gambarnya semakin dekat, Arum langsung memutarkan kepalanya kearah Arfan dengan wajah yang sangat pucat, tidak ada kelopak mata, dan tali yang masih mengikat di lehernya.
Bukan aku!
Arfan spontan melempar laptopnya ke tembok hingga rusak, Arfan langsung pergi ke tempat tidurnya dan duduk terdiam disana. Dia merasa sangat ketakutan namun dia juga merasa sangat muak karena Arum masih saja terus mengusiknya.
"Mau lo apa sih Rum! Lo itu udah mati! Jangan buat semua orang menjadi susah!" teriak Arfan kepada Arum namun Arum sama sekali tidak ada disana.
Arfan merasa sangat ketakutan, dia ingin menghubungi seseorang tetapi dia bingung siapa orang yang harus dia hubungi. Dia merasa sangat depresi karena terror Arum yang masih berkepanjangan, dia mulai pasrah jika suatu saat nanti Arum membalaskan dendamnya kepada Arfan.
Fadhil! Orang yang saat ini bisa dia hubungi hanyalah Fadhil, orang yang mungkin bisa membuat dirinya menjadi tenang. Dia mengambil kunci motornya dan memutuskan untuk pergi ke rumah Fadhil.
Sesampainya disana, dia melihat rumah Fadhil sepertinya tidak ada orang, namun terdengar dari dalam rumah Fadhil bahwa ada suara orang yang sedang mengaji.
"Assalamu'alaikum, Fadhil ini gua Arfan," panggil Arfan dari depan gerbang sambil melihat kearah kanan dan kirinya.
Suara pintu yang sedang dibuka terdengar oleh Arfan dan membuatnya semakin senang, dan sangat pas sekali ternyata yang keluar adalah Fadhil. Fadhil langsung membukakan pintu pagarnya dan mempersilahkan Arfan masuk kedalam rumahnya. Fadhil menyuguhkan teh hangat dan juga beberapa kue kering, bisa ditebak oleh Fadhil bahwa saat ini Arfan sedang merasa ketakutan sekaligus depresi.
"Lo kenapa Fan?" tanya Fadhil bersikap tenang.
"Gua udah capek sama terror Arum, Arum masih terus menterror gua Dhil," kata Arfan gemetar.
"Maksudnya?" tanya Fadhil sambil mengkerutkan keningnya.
..._________________________________________...
...PENASARAN SAMA PART SELANJUTNYA?...
...BACA TERUS " A B C D " ...
...DAN JANGAN LUPA VOTE DAN JUGA SHARE YA.....
...OH YA KALAU ADA YANG PERLU DIKOMEN,KOMEN AJA KARENA ITU SANGAT BERGUNA UNTUK SAYA...