ANTARA BENCI,CINTA DAN DENDAM (COMPLETE)

ANTARA BENCI,CINTA DAN DENDAM (COMPLETE)
17.Sebuah Kejanggalan


...Happy Reading...


Tasya…


Anastasya…


Anastasya langsung terbangun karena dia merasa seperti ada yang memanggilnya, dia tersetak karena saat ini dia berada di sekolah. Di depannya, Arum sudah berdiri dengan menggunakan seragam sekolahnya, wajahnya sangat pucat sekali. Arum mengangkat tangan sebelah kirinya dan menunjuk kearah ruang kelas XI IPA 2. Anastasya mulai penasaran, dia langsung pergi menuju kelas tersebut.


Betapa mengerikan pemandangan disana, Seseorang telah di gantung dengan kondisi mengerikan. Anastasya mulai gemetar karena dia tidak kuat melihat kondisi mayat terebut. Beberapa saat kemudian, pelaku tersebut mulai mendekatinya dan dia berkata “Kamu terlihat lucu kalau kamu seperti ini,” detak jantung Anastasya semakin tidak karuan, energinya semakin terkuras, dia memilih untuk pergi menjauh dari ruangan tersebut.


Anastasya berhenti di dekat ruang kelas X IPS 3, ruang kelas itu berada cukup jauh dari ruang kelas XI IPA 2. Dia mulai istirahat dan duduk bersandar di tembok sambil mengatur napasnya. Tak lama dia beritirahat, tiba-tiba saja dia memikirkan kejadian tadi, seperti ada sebuah keanehan.


Tak lama kemudian, dia mencium bau busuk dari dalam ruang kelas tersebut. Perlahan Anastasya mengintip lewat jendela, ternyata disana terdapat mayat pak satpam yang sudah digantung. Matanya membelalak sempurna, namun pelaku yang ada disana hanya tertawa lalu dia berkata “pak satpam ganggu sih! Udah tahu aku lagi asik main sama mereka eh.. malah diganggu! Kan jadinya pak satpam juga ikutan main. Huff… main sama pak satpam nggak seru! Lebih seru main sama mereka anak-anak bodoh dan guru yang tidak berguna!” ocehnya kepada mayat pak satpam. Kemudian sang pelaku melihat kearah Anastasya, lalu dia berkata kembali “Aku benar kan, Anastasya?”


Dia langsung terbangun dari tidurnya dengan napas tersenggal-senggal, mimpi yang dia alami benar-benar buruk, Anastasya langsung minum air putih yang ada di meja samping tempat tidurnya, lalu dia melanjutkan tidurnya kembali.


*****


Baru saja Anastasya sampai di sekolah suasana disana sudah mulai tegang, mereka semua panik karena pak satpam dan anak kelas X IPS 1 di temukan tewas gantung diri di tempat yang berbeda. Anastasya kaget karena mimpinya telah menjadi kenyataan.


Dalam kantong masing-masing korban terdapat sebuah kertas yang berisi tulisan :


Dendamku masih belum terbalaskan..


Anastasya mundur beberapa langkah kemudian dia berlari menuju ruang olahraga sambil menangis dan kebetulan sekali disana sangat sepi. Dia terus menangis dan menyalahkan dirinya sendiri, dia merasa menyesal karena tidak bisa menolong mereka berdua. Fadhil dan Arfan yang sejak tadi mencari Anastasya akhirnya menemukannya, Fadhil langsung berlari khawatir dengan Anastasya yang sedang menangis histeris.


“Ca.. kamu kenapa nangis?” tanya Fadhil lembut sambil memegang lembut pundak Anastasya.


“Aku ini bodoh Dhil, aku udah biarin mereka semua meninggal,” lirih Anastasya sambil menangis.


“Ca, lo itu nggak bodoh, jangan nangis Ca, gua nggak bisa lihat lo nangis kayak gini,” Anastasya langsung memeluk Fadhil dengan erat, Fadhil tahu betapa beratnya menjadi Anastasya.


“Gua merasa jadi seorang pembunuh Dhil, mereka semua meninggal dan gua hanya diam nggak nolongin mereka,” tangis Anastasya dengan pelukan yang semakin dia eratkan.


“Ca, lo harus tenang, kita berdua disini ada bersama lo, tolong jangan salahin diri lo sendiri Ca,” kata Arfan membantu Fadhil membuat Anastasya menjadi tenang.


“Gua mau jadi manusia normal seperti kalian, gua nggak mau jadi indigo lagi,” kata Anastasya yang sudah tidak kuat menjadi seorang anak indigo.


“Dengerin gua Ca, lo dikasih kelebihan kayak gini bukan untuk hal yang sia-sia, Allah juga memberikan segala sesuatu pasti bukan untuk memberikan beban kepada hambanya. Gua disini, gua janji kalau gua akan selalu melindungi lo,” kata Fadhil dengan lembut dan tangisan Anastasya mulai mereda.


Dari balik pintu ruang olahraga, tanpa mereka sadari ada seseorang yang sedang bersembunyi di balik pintu “Waw kamu ternyata udah tau? Ok, sekarang marilah kita bersenang-senang!” batinnya lalu pergi meninggalkan tempat itu.


*****


Fadhil mengajak Anastasya untuk mencari makan di luar, untung saja hari ini sekolah di liburkan lagi, jadi dia bisa mengajak Anastasya untuk makan di luar supaya dia bisa menjadi tenang lagi.


“Disini tuh enak loh! dulu-“


“Semalam Arum datang ngasih aku sebuah petunjuk,” kata Anastasya dengan cepat memotong perkataan Fadhil.


“Bisa kita ganti topik pembicaraan?” tanya Fadhil tenang.


“Dia ngasih tau aku dimana pak satpam dan anak kelas 10 itu di gantung! Tapi yang anehnya…”


Anastasya berhenti untuk melanjutkan perkataannya, dia merasa ragu untuk melanjutkannya lagi namun Fadhil semakin penasaran dengan apa yang dikatakan Anastasya.


“Anehnya kenapa?” tanya Fadhil serius.


“Anehnya itu.. kalau itu Arum yang menunjukkan arahnya.. lalu siapa pelaku yang di dalam sana? Aku lihat ada pelakunya tapi wajahnya gelap jadi aku nggak bisa lihat wajahnya,” Mereka langsung terdiam memikirkan petunjuk yang Arum berikan hingga makanan yang mereka pesan akhirnya datang juga.


“Dhil, aku mau bantu selesain kasus Arum lagi,” Fadhil menaruh sendok dan juga garpunya lalu dia memajukan kepalanya “kamu yakin?” tanya Fadhil serius namun Anastasya hanya mengangguk, Fadhil langsung memundurkan kepalanya dan kembali makan.


“Bagaimana kalau dia datang lagi dan buat kamu celaka lagi?” tanya Fadhil sambil melahap makanannya.


“Biarin aja,” jawab Anastasya sambil terseyum, “Hem.. kok belakangan ini tumben banget kamu ngomong ke aku pakai bahasa aku-kamu?” tanya Anastasya sambil mengangkat kedua alisnya.


“Ya- ya..emang ada masalah gitu?” tanya balik Fadhil gugup.


“Nggak ada sih.. tapi aku suka kok kan jadinya kamu jadi kelihatan lebih sopan dari pada yang lainya,” jawab Anastasya santai.


“Jangan baper,” kata Fadhil datar namun terlihat masih gugup.


“Aku nggak baper kok, kamu aja kali yang baper sampai gugup kayak gitu,” kata Anastasya sedikit tertawa.


Fadhil hanya tersenyum lalu mereka kembali menghabiskan makanan mereka sambil mendengarkan lagu yang ada di tempat makan itu, lagu yang sangat indah dan pas sekali dengan suasana mereka saat ini, lagu dari penyayi Theresia Arvelie yang berjudul ‘Bersamamu’.


Awan gelap berubah menjadi cerah..


Gelap hati menjadi terang..


Semua itu berubah sejak aku bersamamu..


Tetaplah disampingku, temani diriku menikmati masa tua kita bersama..


Jangan pergi, tetaplah bersamaku..


Mari kita membuat pelangi kebahagiaan..


Bersamamu aku merasa bahagia..


*****


Mereka berhenti di sebuah Caffe yang cukup legant. Arfan tetap memilih diam karena dia merasa gugup, namun tidak dengan Vira karena dia terlihat tenang sekal\]i, hanya saja dia tidak ingin memulai pembicaraan jika Arfan tidak memulainya duluan.


“Udah lama ya kita.. nggak jalan kayak dulu lagi,” ujar Arfan memulai pembicaraan.


“Ya kamu sibuk terus, aku aja nggak tahu kamu sibuk ngapain,” kata Vira cuek.


“Aku minta maaf ya,” kata Arfan sambil menggenggam tangan Vira dan menampilkan senyumannya.


Vira langsung menghempas genggaman tangan Arfan “kalau memang kamu udah bosan sama aku, yaudah! Kita selesain aja semuanya!” kata Vira membuat Arfan kaget karena sejujurnya dia masih belum bisa untuk melepaskan Vira.


“Sayang, aku minta maaf, aku janji akan selalu ada waktu buat kamu,” kata Arfan meyakinkan Vira.


Vira hanya mengangguk, Arfan langsung memegang pipi Vira sambil tersenyum dan Vira membalas senyumannya.


“Sesuai rencana,” batin Vira yang masih menatap Arfan.


Tak lama kemudian pesanan mereka pun tiba, Arfan langsung menyantap minumannya dan juga makanannya.


“ngomong-ngomong.. si Anastasya dan Fadhil sekarang udah mulai dekat ya, duh aku berharap banget kalo mereka bisa berpacaran,” Arfan langsung tersedak namun Vira hanya memberikan respon dengan senyuman.


“Darimana dia tahu kalau Fadhil dan Anastasya sekarang lagi dekat?” batin Arfan.


“Makanya kalau makan hati-hati,” kata Vira, dia langsung memajukan kepalanya mendekati Arfan “kan kalau nggak hati-hati nanti malah jadi fatal,” sambungnya dan kemudian dia memundurkan kepalanya.


Arfan terdiam, Vira seperti memberikan sebuah teka-teki kepada Arfan. Arfan berusaha untuk bersikap tenang walaupun hatinya secara tiba-tiba merasa tidak tenang. Setelah beberapa lama mereka di caffe dan mereka jalan mengelilingi kota, Arfan langsung mengantar Vira pulang karena hari sudah mulai larut malam. Arfan langsung pamitan dan mengendarai motornya dengan kecepatan normal, Vira belum masih berdiri di depan pagar dan menatap kearah Arfan pergi.


“Kamu telat sayang, permainan sudah hampir selesai,” batin Vira dan dia langsung masuk kedalam rumahnya.


*****


Setelah mereka selesai makan, Fadhil dan Anastasya memutuskan untuk pulang karena sekarang sudah pukul 20:28. Mereka sama sekali tidak menyangka akan main hingga selama ini. Di perjalanan, mereka terus mengobrol dan juga tertawa namun semua terhenti ketika Anastasya memeluk Fadhil dari belakang dan disitulah Fadhil mulai gugup. Bibirnya terasa berat untuk mengatakan apapun dan jantungnya pun berdetak sangat cepat.


“Sialan, kenapa nih jantung detaknya cepat banget ya? Terus nih mulut kenapa susah buat ngomong? Apa… jangan-jangan gua sakit jantung? Atau sakit stroke?” batinnya yang mulai khawatir.


“Dhil? Kamu kenapa Dhil? Kok dari tadi aku ajak ngomong malah diam aja?” tanya Anastasya sambil mengerutkan keningnya dan tangan yang masih memeluk Fadhil dengan lembut dan kepala yang diletakkan di bahu kanannya Fadhil.


“Gua jantungan Ca,” kata Fadhil dengan tatapan kosong.


“Ha? Masa sih Dhil?” tanya Anastasya sedikit panik.


“Gua stroke Ca” kata Fadhil yang perkataanya semakin aneh.


“Yang bener jantungan atau stroke nih?” tanya Anastasya mengangkat kedua alisnya dan melirik kearah Fadhil.


“Gua juga nggak tau Ca, tadi nih mulut susah buat ngomong, terus..” Fadhil langsung mengambil tangan Anastasya yang sedang berada di pelukanya sambil berkata “coba lo rasain deh, degup jantung gua tuh berdetaknya cepat banget Ca,” Anastasya hanya diam dan langsung melepaskan pelukannya, dia sadar kalau saat ini Fadhil sedang gugup.


20 menit kemudian, akhirnya mereka telah sampai di rumah Anastasya, Fadhil masih saja memikirkan apakah dia punya penyakit jantung atau punya penyakit stroke.


“Dhil, hati-hati dijalan ya, nggak usah dipikirin kamu punya penyakit apa karna jantung kamu sehat-sehat aja kok, detak jantung yang cepat itu wajar banget untuk anak seumuran kita,” kata Anastasya santai.


“Maksudnya?” tanya Fadhil.


“Mungkin.. kamu gugup, makanya jadi begitu,” kata Anastasya sambil mengangkat kedua alisnya.


Fadhil menahan senyum malunya karena telah menunjukkan tingkahnya yang seperti itu, dia berusaha berpikir positif kalau dia sama sekali tidak memiliki rasa suka kepada Anastasya. Dia berusaha menganggap bahwa Anastasya hanyalah teman terbaiknya, dan dia juga yakin bahwa Anastasya tidak mungkin memiliki perasaan suka terhadapnya.


“Aku nggak nyangka kalau kita main bisa selama ini sampai aku lupa buat sholat ashar dan maghrib,” kata Fadhil tertawa kaku.


“Yaudah kamu pulang sana, takutnya jalanan tambah sepi,” kata Anastasya tersenyum.


“Makasih ya buat waktunya, kalau ada apa-apa telpon aku,” kata Fadhil dan Anastasya hanya mengangguknya.


Fadhil langsung berpamitan dan pergi meninggalkan rumah Anastasya, sementara itu Anastasya langsung masuk kedalam rumahnya dan berjalan memasuki kamarnya. Terdapat sebuah bingkai foto yang di dalamnya terdapat foto tiga anak kecil, dia langsung mengambil foto itu dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


“Jadi pengen ke rumah tante Shila,” kata Anastasya mengusapkan foto tersebut.


Fadhil yang sedang berada di jalan langsung berhenti karena sejak tadi ponselnya terus saja berdering, saat dia lihat ternyata Arfan menelponnya.


“Ada apaan sih Fan?” tanya Fadhil jutek.


“Ada di rumah nggak? Gua mau ke rumah lo sekarang,” kata Arfan yang sepertinya sangat serius.


“Ngapain?” tanya Fadhil namun sayangnya panggilannya sudah dimatikan oleh Arfan.


Fadhil mengendarai motornya kembali dan langsung pulang ke rumahnya. Dia merasa tak habis pikir dengan Arfan karena dia selalu datang mendadak ke rumahnya, dia berpendapat bahwa Arfan di ganggu lagi oleh Arum.


..._________________________________________...


...PENASARAN SAMA PART SELANJUTNYA?...


...BACA TERUS " A B C D " ...


...DAN JANGAN LUPA VOTE DAN JUGA SHARE YA.....


...OH YA KALAU ADA YANG PERLU DIKOMEN,KOMEN AJA KARENA ITU SANGAT BERGUNA UNTUK SAYA...