
...Happy Reading...
Akhir-akhir ini, Anastasya merasa tubuhnya sangat lelah sekali saat dia bangun dari tempat tidurnya. Tubuhnya seperti kurang semangat dan ingin sekali kembali ke tempat tidurnya. Tubuhnya seperti telah melakukan hal yang berat sehingga kekurangan energi.
Anastasya berangkat ke sekolah dalam keadaan lemas, tubuhnya terlihat pucat seperti orang yang sedang sakit. Anastasya terjatuh saat dia berjalan sendirian di lorong sekolah dan untung saja seseorang telah menyelamatkannya, orang itu ternyata adalah Arfan. Dia baru saja ingat jika Arfan adalah dalang dari semua bully yang terjadi dengan Arum, namun Anastasya bersikap biasa saja karena dia tidak ingin terlibat lagi kedalam permasalahan Arum. Anastasya langsung mengucapkan terima kasih kemudian dia pergi meninggalkan Arfan.
"Sya! Tunggu!" ujar Arfan menghentikan langkah Anastasya.
Anastasya langsung membalikkan tubuhnya kearah Arfan, dia berharap bahwa Arfan tidak membahas tentang masalah Arum.
"Gua minta bantuan lo, bantu gua supaya Arum nggak terus-terusan terror gua," permintaan Arfan sungguh membuat Anastasya merasa sedikit kesal, dia langsung pergi meninggalkan Arfan dan tidak menggubrisnya.
"Lo nggak bisa pergi begitu aja Sya, kalau lo seperti itu sama aja lo egois! Berarti lo tega lihat kematian yang akan terus terjadi di sekolah ini," kata Arfan membuat Anastasya menghentikan langkahnya kembali.
Anastasya memutarkan badannya lalu menghampiri Arfan dan Anastasya pun berkata "kamu yang memulai, maka kamu juga yang harus bertanggung jawab, kamu kan yang udah membuat satu sekolah terus menerus membully Arum? Lalu kenapa harus aku yang repot-repot untuk mencari solusi dari semua ini?" Anastasya membalikkan tubuhnya kembali dan berjalan menuju kelasnya.
Arfan semakin kesal karena Anastasya tidak mau membantunya, dia harus meminta pertolongan Fadhil lagi untuk membujuk Anastasya supaya Anastasya mau membantunya.
*****
Di dalam kelas, Anastasya terlihat sangat tidak fokus karena dia masih memikirkan mimpi saat dia berada di rumah sakit, mimpi itu seperti memberikan sebuah teka-teki yang akan menjadi kunci dari semua masalah ini. Mimpi itu juga membuatnya menjadi merasa seperti deja vu karena mimpi itu membahas tentang kematian sadis yang dialami oleh Daniel dan kematian itu langsung benar adanya.
Permasalahan ini sangat rumit dan sama sekali tidak memberikan titik terang, dia tidak mau lagi terlibat dalam permasalahan Arum karena dia trauma kena imbasnya kembali namun perkataan Arfan telah membuatnya sadar bahwa nyawa ratusan orang lebih penting daripada diri sendiri.
"Sebenarnya apa masud dari semua ini?" batin Anastasya yang masih saja melamun.
"Tasya? Kamu bisa mengikuti pelajaran saya dengan serius nggak? Kalau kamu ingin melamun silahkan keluar," tegur pak Hadi dengan tegas.
Anastasya langsung tersadar dari lamunannya dan kemudian dia meminta maaf kepada pak Hadi. Saat dia sedang memperhatikan materi yang diberikan oleh pak Hadi, tiba-tiba saja dia melihat Arum sedang berdiri di tempat pak Hadi. Arum hanya diam tersenyum menatap Anastasia, namun dia tidak merespon apapun dan justru dia lebih memilih menunduk dan berpura-pura tidak melihat Arum.
Beberapa saat kemudian, dia mendongakkan wajahnya dengan pelan untuk memastikan bahwa Arum sudah tidak ada disana, namun saat dia mendongakkan kepalanya ternyata Arum berada di hadapannya dengan jarak yang hanya 10 cm. Anastasya spontan langsung memundurkan kursinya dan membuat teman yang dibelakangnya menjadi kaget. Mata Anastasya sama sekali tidak berkedip, dia terus melihat ke arah satu titik, orang-orang langsung berusaha membuat Anastasya tetap sadar karena mereka takut Anastasya kesurupan. Anastasya langsung memalingkan wajahnya dengan napas yang tersenggal-senggal. Anastasya langsung pergi keluar kelas tanpa meminta izin kepada guru, dia pergi menuju taman sekolah.
Anastasya masih teringat jelas bagaimana tatapan Arum kepadanya, tatapannya sungguh mengerikan namun memberikan sebuah isyarat. Saat dia berusaha membaca mata Arum untuk mengetahui semuanya, disaat itu juga lah teman-temannya mengganggunya.
*****
Kali ini Anastasya pulang lebih cepat karena tidak ada urusan apapun yang harus dia selesaikan, namun saat dia sedang berjalan menuju parkiran tiba-tiba saja Arfan menarik tangannya dan membawa Anastasya masuk kedalam mobilnya. Saat Anastasya berada di dalam mobil, dia ingin sekali mencaci maki orang yang sudah menariknya secara paksa ke dalam mobil namun semua niatnya itu diurungkan setelah dia tahu bahwa ternyata Fadhil juga ikut bersamanya.
"Ada-ada aja lo! Ngapain sih tiba-tiba narik gua kayak gini," oceh Fadhil.
"Gua mau kalian ikut gua, ini penting banget," kata Arfan panik.
"Tapi motor gua gimana? Itu motor belum lunas loh," Arfan tak menggubris pertanyaan Fadhil, Arfan langsung mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh.
Anastasya dan Fadhil hanya bisa diam memikirkan motor mereka yang masih tertinggal disana. Setelah beberapa lama, mereka pun telah sampai di sebuah tempat makan yang terlihat sangat klasik. Arfan langsung menyuruh mereka untuk duduk disana dan dia langsung memesan beberapa makanan dan minuman untuk mereka semua.
"Ada apa?" tanya Anastasya tanpa basa-basi.
"Gua mohon Sya, bantu gua supaya Arum nggak terror gua lagi," kata Arfan memelas kepada Anastasya, namun Anastasya tidak menggubrisnya bahkan dia langsung pergi. Fadhil mengejar Anastasya yang saat ini sudah berada di pintu keluar, dia berusaha menahan Anastasya dan memohon kepadanya untuk bersedia membantu Arfan.
"Aku nggak mau kena imbasnya lagi Dhil! Aku nggak mau ikut campur lagi! Lagian juga kan itu semua salah dia, seharusnya dia aja yang bertanggung jawab kenapa harus aku?" kata Anastasya gemetar dan mata yang berkaca-kaca.
"Disini ada aku, aku nggak akan biarin siapapun buat nyakitin kamu," Kata Fadhil memegang kedua pundak Anastasya, entah kenapa rasa nyaman itu muncul secara tiba-tiba, dia baru kali ini mendengar suara Fadhil yang begitu lembut tak seperti biasanya.
"Kamu nggak tahu bagaimana rasanya jadi aku Dhil," kata Anastasya dengan nada tinggi dan air mata membasahi pipinya "maaf aku udah nggak mau ikut campur lagi," sambungnya kembali kemudian Anastasya menghapus air matanya dan pergi dari tempat itu.
Fadhil hanya diam menatap kepergian Anastasya, Anastasya pun terpaksa pulang menaiki ojek. Fadhil merasa bersalah karena terus melibatkan Anastasya dalam permasalahan ini, dia juga merasa bersalah karena sudah membuat Anastasya menangis. Fadhil langsung pergi menghampiri Arfan yang masih duduk disana menunggunya.
*****
Fadhil mengajak Anastasya pergi keluar namun Anastasya menolak, tetapi saat Fadhil terus-menerus memohon kepada Anastasya, Anastasya pun akhirnya luluh dan pergi bersama Fadhil. Saat mereka sudah sampai, ternyata Fadhil mengajaknya pergi naik ke atas atap sebuah gedung pabrik dan gedung itu pun sedikit jauh dari sekolah mereka namun tetap saja Anastasya bisa melihat jelas bagaimana kondisi sekolahnya saat ini.
"Kamu kenapa ngajak aku kesini sih!" kata Anastasya memarahi Fadhil.
"Ya memangnya kenapa sih?" tanya Fadhil.
"Apa kamu tahu? Penghuni disini tuh nggak suka lihat kita ada disini," jawab Anastasya kesal.
"Yaudah sih Ca cuekin aja lah," kata Fadhil dengan nada santainya.
Anastasya hanya diam dan langsung duduk di sebelah Fadhil walaupun matanya terus saja melihat kearah sekolahannya. Saat ini, Anastasya melihat semua mereka yang sudah tiada terus saja berjalan tanpa arah, Fadhil menyadari bahwa sejak tadi Anastasya melihat kearah sekolahnya, dia pun langsung membuka pembicaraannya.
"Gua minta maaf atas kejadian kemarin Ca," Anastasya hanya mengangguk dan tak berkata sedikit pun.
Suasana kembali hening, mata Anastasya kembali melihat kearah sekolahnya. Dia langsung mundur kebelakang karena para penghuni disana mulai melihat kearahnya dengan tatapan menyeramkan. Anastasya langsung mengajak Fadhil untuk pulang, Fadhil pun menurutinya karena Fadhil paham bahwa saat ini Anastasya sedang ketakutan, Fadhil memutuskan untuk mengajak Anastasya ke tempat yang menurutnya lebih aman. Fadhil mengajak Anastasya ke taman kota dan kebetulan sekali suasana taman saat ini sangat ramai. Mereka duduk di kursi dekat kolam ikan sambil memakan martabak yang baru saja mereka beli.
"Kamu tuh sebenarnya mau ngapain sih?" dengan nada tingginya dan raut wajah yang terlihat sangat kesal dari wajah Anastasya, namun Fadhil lebih memilih diam dan membiarkan Anastasya melampiaskan kekesalannya kepadanya.
"Jawab aku!" Fadhil menatap mata Anastasya dengan lekat, dimata Anastasya terdapat sebuah rasa ketakutan yang tidak bisa dia ungkapkan.
"Aku mau minta maaf Ca, aku udah buat kamu teralalu ikut campur dalam masalah di sekolah dan aku udah buat kamu dalam bahaya," jawab Fadhil lembut dan dia berhasil membuat air mata Anastasya membasahi pipinya.
"Kamu tuh nggak tau gimana rasaya jadi anak indigo, kamu pikir enak di gangguin sama mereka yang tak kasat mata? Nggak enak Dhil! Setiap waktu pasti mereka datang mengganggu ku dan setiap waktu juga aku merasa ketakutan," kata Anastasya sambil menangis.
Fadhil diam menunduk, Anastasya langsung mengambil napas dan kemudian dia berkata "aku bantu kalian bukan untuk mempamerkan kelebihanku dan juga bukan untuk di puji, aku bantu kalian karena memang ada hal penting yang harus aku lakukan," perkataan terakhir dari Anastasya membuat Fadhil menjadi penasaran, perkataan terakhir dari Anastasya seperti memberikan sebuah teka-teki tentang dirinya.
Namun dalam batinnya hanya ada satu pertanyaan, "siapa dia sebenarnya?" dia sudah cukup lama berkenalan dengan Anastasya tetapi dia lupa bahwa dia sama sekali tidak mengetahui tentang Anastasya yang sebenarnya, Anastasya sangat sulit untuk di tebak. Beberapa orang juga menilai bahwa Anastasya merupakan orang yang sangat misterius, dia juga orang yang sangat tertutup.
"Hal penting apa?" tanya Fadhil sambil mengerutkan keningnya.
Anastasya tidak menjawabnya, dia langsung pergi meninggalkan Fadhil. Fadhil langsung berjalan cepat mengejar Anastasya dan menarik tangan Anastasya sambil berkata "jawab aku Ca, kamu kenapa diam aja?" Anastasya langsung menghempaskan tangan Fadhil dan menghindar dari Fadhil.
"Percuma kamu menghindar Ca, pasti aku akan tahu apa yang kamu sembunyiin,aku bisa cari tahu semuanya sendiri," Anastsya menghentikan langkahnya "antar aku pulang," pinta Anastasya seperti memberikan sebuah perintah kepada Fadhil.
"Tapi Ca-"
"Kalo memang nggak mau antar aku pulang yaudah aku bisa pulang sendiri, masih ada banyak abang ojek online kok disekitar sini," kata Anastasya memotong perkataan Fadhil.
Dengan pasrah Fadhil menuruti Anastasya dan langsung mengantarkan Anastasya pulang. Anastasya merasa lega karena hampir saja jati dirinya terungkap, ini bukanlah saat yang tepat untuknya mengungkapkan jati dirinya.
Hening, tak ada yang bersuara sedikit pun dan hanya ada suara kendaraan yang ada di jalan. Fadhil hanya fokus menyetir dan masih memikirkan siapa Anastasya sebenarnya, dia merasa kesal karena bukannya jawaban yang dia dapatkan tapi malah teka-teki tentang Anastasya.
Sesampainya di rumah Anastasya, dia langsung berpamitan tanpa basa-basi. Anastasya terus menatap punggung Fadhil sambil mengangkat kedua alisnya dan kemudian dia bergumam "ternyata nggak hanya yang di dunia nyata yang tertarik sama dia, tapi yang alam gaib juga tertarik sama dia, contohnya aja si tante kunti yang ada di taman tadi. Dengan bahagianya dia duduk di belakang sambil memeluk Fadhil tapi sayangnya wajah si tante sangat menyeramkan," kemudian dia masuk kedalam rumahnya.
..._________________________________________...
...PENASARAN SAMA PART SELANJUTNYA?...
...BACA TERUS " A B C D " ...
...DAN JANGAN LUPA VOTE DAN JUGA SHARE YA.....
...OH YA KALAU ADA YANG PERLU DIKOMEN,KOMEN AJA KARENA ITU SANGAT BERGUNA UNTUK SAYA...