ANTARA BENCI,CINTA DAN DENDAM (COMPLETE)

ANTARA BENCI,CINTA DAN DENDAM (COMPLETE)
6.Pertemuan Dengan Fadhil


...Happy Reading...


Vira pulang ke Rumahnya dan langsung masuk ke kamarnya, dia membuka ponselnya yang sejak tadi di mode pesawatkan olehnya, terdapat pesan masuk dari seseorang yang nomornya tidak dia ketahui.


Dari : 0858 1424 xxxx


Hai Vir.


Vira tidak menjawab pesan itu, dia hanya berpikir bahwa itu hanya orang iseng saja, namun dia mengirim pesan lagi kepada Vira.


Dari : 0858 1424 xxxx


Bisa kita ketemu? Gua di depan Rumah lo.


Vira langsung pergi ke jendela kamarnya dan ternyata dia adalah Fadhil, Vira mengerutkan keningnya dan dia langsung membalas pesannya.


Dari : Vira


Tunggu 10 menit.


Vira langsung mengganti pakaiannya dan pergi menghampiri Fadhil. Saat dia membuka pintu, Fadhil masih menunggunya di luar pagar, Fadhil langsung menoleh setelah mendengar suara pintu rumah Vira,Fadhil tersenyum namun Vira tampak biasa saja.


"Ngapain kesini?" tanya Vira tanpa basa-basi.


"Bisa kita jalan?" tanya Fadhil mengajak Vira.


Vira hanya mengangguk dan Fadhil langsung memberikan helm kepada Vira. Mereka saling diam hingga mereka sampai di tukang kebab. Setelah membeli kebab, mereka pergi ke pom bensin, bukan untuk mengisi bensin tetapi mereka akan duduk di atap pom bensin, tempat itulah yang dulu biasa mereka datangi, mereka tidak seperti anak lainnya yang nongkrong di kafe, mereka justru nongkrong di atas atap pom bensin sambil menatap bintang yang menghiasi langit.


"Vir gim-"


"Baru ingat sama teman? Dulu kemana aja? Mana tuh cewek lo yang dulu ngomongin macam-macam tentang gue?" sindir Vira memotong ucapan Fadhil.


"Maafin gua Vir," kata Fadhil merasa bersalah.


"Maaf? Cewek lo udah buat gue malu di depan umum, harga diri gue di jatuhin sama cewek lo dan lo lebih milih cewek lo daripada gue sahabat lo sendiri, miris!" kata Vira dengan tajam.


"Please Vir maafin gue," kata Fadhil terus meminta maaf kepada Vira.


"Ada apa lo ngajakin gue jalan?" tanya Vira mengganti topik pembicaraan.


"Gimana kabar lo?" tanya Fadhil sambil menyantap kebab miliknya.


"Hah, padahal satu Sekolah sama gue tapi nggak tau kabar gue," jawab Vira dengan sinis.


"Gua turut berduka cita ya atas kematian Arum," kata Fadhli memberikan ucapan bela sungkawa.


"Makasih," jawab Vira dengan singkat namun terlihat matanya yang berkaca-kaca seperti memendam rasa kesedihan yang mendalam.


Fadhil langsung memeluk Vira, dia ingin merasakan kesedihan yang dirasakan Vira saat ini, Vira menangis sambil membalas pelukan Fadhil dengan erat, Vira memang saat ini membutuhkan support dari orang lain terutama dari Fadhil sebagai sahabat lamanya. Hingga saat ini, hati Vira masih sangat rapuh karena kepergian Arum.


"Gua tau lo pasti kuat Vir," kata Fadhil memberikan dukungan kepada Vira.


"Gua nggak bisa, gua udah hancur banget Dhil, Arum ninggalin gue, dia sahabat gue yang paling mengerti gue, dia orang yang paling baik, gue udah langgar janji gue sama dia Dhil," jawab Vira yang masih menangis.


"Vir, lo itu orang yang tangguh, gua yakin lo pasti kuat menghadapi cobaan seperti ini," jawab Fadhil seraya melepaskan pelukannya dan menghapus air mata Vira "Maafin gua ya, dari kemarin-kemarin gua nggak bisa memberikan support buat lo karena gua masih malu gara-gara kejadian yang lalu," sambungnya kembali.


"Iya nggak kenapa-kenapa Dhil," jawab Vira dengan senyum kecilnya.


Fadhil langsung mengganti topik pembicaraannya karena dia tidak ingin membuat Vira semakin sedih, Fadhil tau walaupun Vira orang yang sangat kuat tapi dia akan mudah rapuh jika dia merasa kehilangan orang yang dia sayangi.


Setelah beberapa lama mereka mengobrol, mereka memutuskan untuk pulang ke Rumah mereka, Fadhil mengantarkan Vira sampai di depan rumahnya, setelah mengantar Vira dia langsung pulang ke rumahnya. Vira masuk ke dalam rumah dan langsung masuk ke dalam kamar.


Perasaan Vira sudah lega karena Fadhil telah mengobati luka hatinya. Kehadiran Fadhil memanglah tepat, setidaknya ada orang lain yang benar-benar mengerti perasaan Vira. Ponselnya bordering, segera Vira melihat pemanggil tersebut.


Arfan calling...


Vira langsung mengangkat telponnya dan membiarkan Arfan berbicara lebih dulu.


"Hallo sayang," kata Arfan yang memulai pembicaraan lebih dulu.


"Ya? Ada apa, Fan?" tanya Vira.


"Ya ampun dikirain ada apaan, kenapa harus telpon kalau cuma mau bilang besok jemput aku?" kata Vira seraya mengangkat kedua sudut bibirnya.


"Ya kangen aja sih," kata Arfan santai.


"Ah bohong aja," goda Vira sambil tersenyum.


"Aku nggak pernah bohong dalam urusan cinta," gombal Arfan dengan nada yang lembut. Vira tersenyum tersipu malu dengan perkataan Arfan, mereka terus mengobrol tentang banyak hal hingga pukul 02:00.


*****


Arfan menunggu Vira di depan Rumahnya, Vira langsung menghampiri Arfan dan masuk ke dalam mobil. Sesampainya di Sekolah, suasana sangat ramai dan sepertinya sedang terjadi masalah, Arfan menghampiri keramaian yang berpusat di halaman belakang sekolah, dia terkejut sekali saat dia temukan ternyata Angga telah gantung diri, mereka yakin kalau Angga tidak bunuh diri, pasalnya mereka menemukan secarik kertas yang berisi sebuah pesan.


Dendamku masih belum terbalaskan..


Pesan itu sangat membuat heboh satu sekolah, mereka beranggapan bahwa Arum telah datang untuk menuntut balas atas kejadian yang menimpanya di semasa hidupnya, mereka semua merasa menyesal karena telah membully Arum dengan cara yang tidak wajar.


Arfan sedikit syok ketika dia melihat temannya tergantung di tempat Arum gantung diri, dia hampir terjatuh karena Angga merupakan sahabat terdekatnya, antara percaya dan tidak percaya karena mana mungkin Arum yang sudah meninggal kini datang hanya untuk menuntut balas dendamnya?.


Jasad Angga kini sudah di evakuasi, tempat kejadian telah di berikan garis polisi, seluruh siswa di bubarkan di karenakan polisi akan melakukan penyelidikan lebih lanjut, polisi juga telah mengamankan saksi yang telah menemukan Angga.


Menurut saksi, dia menemukan Angga pada saat dirinya hendak merokok diam-diam di belakang Sekolah, dia langsung kaget ketika menemukan Angga yang sudah sangat pucat, kulitnya hampir membiru, dan juga sangat dingin menggantung disana, kemudian dia langsung melaporkan kepada pihak Sekolah.


Arfan pergi ke rumah Angga untuk memberikan ucapan belasungkawa kepada keluarga Angga di temani oleh Vira. Mama Angga menangis histeris saat melihat jasad anaknya, anak satu-satunya kini telah meninggalkan keluarganya, mama Angga pingsan karena sudah terlalu larut dalam kesedihannya. Teman-teman Angga juga datang dan merasa prihatin kepada keluarga Angga. Kini Angga dimakamkan di pemakaman umum dekat rumahnya.


Angga memang dikenal sebagai anak pelaku bullying, dia selalu membully Arum di semasa hidupnya dengan sangat berlebihan, Angga juga pernah membuang seluruh sampah yang berada di tempat sampah ke Arum. Betapa kejinya perilaku mereka kepada Arum, namun sekejam-kejamnya Angga juga mereka tetap merasa kasihan kepadanya karena dia telah meninggal disebabkan oleh perilakunya sendiri.


Arfa langsung mengantarkan Vira ke Rumahnya, moodnya sangat hancur, kesedihan masih membendung di hatinya, Vira tersenyum dan memberikan semangat kepada Arfan, kemudian Arfan langsung pamit dengan Vira menyalakan mobilnya dan pergi dengan kecepatan normal.


Arfan terus melamun karena memikirkan kematian yang Angga alami secara tiba-tiba, dia tahu bagaimana Angga karena dia selalu menceritakan semua masalahnya kepada Arfan. Terakhir kali Angga bercerita yaitu dia menceritakan masalahnya dengan kedua orang tuanya, dia mengatakan bahwa dia sangat di tuntut oleh orang tuanya untuk lolos SNMPTN di UI fakultas kedokteran, dia merasa depresi karena tuntutan dari kedua orang tuanya tersebut.


"Gua nggak nyangka lo pergi secepat ini," batin Arfan merasa kecewa.


Dia merasa bahwa semua ini seperti sebuah hukuman untuknya atas segala perbuatannya, namun dia merasa sangat kecewa karna semua ini harus dialami oleh teman dekatnya. Pesan singkat yang diberikan oleh Arum sangat mengerikan, dia sangat yakin kalau akan ada korban selanjutnya. Arfan sangat berharap bahwa tidak ada temannya lagi yang menjadi korban.


Saat dia melamun, tiba-tiba saja di depannya terdapat sebuah bus besar, dia langsung membelokkan mobilnya kekanan dan menabrak sebuah pohon besar. Arfn langsung membuka matanya dan dia langsung terkejut karena tidak ada apapun di depannya termasuk bus besar tersebut. Dia langsung keluar dari mobil dan melihat sekelilingnya dia semakin terkejut karena suasana disana sangat sepi dan juga gelap. Dia langsung masuk kedalam mobilnya dan mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh.


"Sialan, busnya kok nggak ada?" batin Arfan deg-degan dan tangan yang gemetar.


Bagian depan mobilnya mengalami rusak parah dan dikepalanya pun mengalami pendarahan. Dia langsung membawa dirinya ke klinik untuk mengobati luka di kepalanya kemudian dia membawa mobilnya ke bengkel terdekat yang masih buka.


"Mas? Kok mobilnya bisa kayak gitu?" tanya pegawai di bengkel.


"Nggak sengaja nabrak pohon om," jawab Arfan santai.


"Kok bisa gitu?" tanya pegawai bengkel dan membuat Arfan merasa sedikit jengkel karena terus ditanya seperti wartawan.


"Panjang ceritanya, udah deh itu mobil cepetan di benerinnya om," jawab Arfan dengan sabarnya.


"Kalau kayak gini sih lama selesainya, bengkel udah mau tutup mungkin besok ataupun lusa baru mobilnya bisa di ambil," kata pegawai bengkel dan Arfan hanya bisa pasrah.


"Terus saya pulang naik apa?" tanya Arfan mulai kesal.


"Saya ada motor, mas bisa pakai motor saya tuh," kata pegawai bengkel menunjuk motornya yang berada di dalam bengkel, dia langsung mengeluarkan motornya dan memberikannya kepada Arfan.


"Pakai aja dulu nanti kalau mau ambil mobilnya balikin lagi," pegawai bengkel langsung memberikan kunci motornya dan Arfan memberikan kunci mobilnya dan membawa tas miliknya.


Arfan langsung membawa motornya dengan kecepatan normal, darak dari bengkel ke rumahnya cukup jauh hingga membutuhkan waktu 20 menit untuk sampai di rumahnya. Kejadian ini sungguh diluar logikanya, dia masih memikirkan kemana hilangnya bus yang tadi dia temui.


Arfan telah sampai di rumahnya, dia langsung membuka ponselnya dan menelpon Vira. Vira sama sekali tidak mengangkat telponnya, dia terus berusaha menelponnya berulang kali namun hasilnya tetap sama. Dia langsung pasrah dan masuk ke dalam rumahnya.


..._________________________________________...


...PENASARAN SAMA PART SELANJUTNYA?...


...BACA TERUS " A B C D " ...


...DAN JANGAN LUPA VOTE DAN JUGA SHARE YA.....


...OH YA KALAU ADA YANG PERLU DIKOMEN,KOMEN AJA KARENA ITU SANGAT BERGUNA UNTUK SAYA...