ANTARA BENCI,CINTA DAN DENDAM (COMPLETE)

ANTARA BENCI,CINTA DAN DENDAM (COMPLETE)
7.Surat Misterius


...Happy Reading...


Arfan masuk kedalam kamarnya lalu dia langsung mandi dan mengganti pakaiannya. Setelah mengganti pakaiannya,dia mengeluarkan laptop dari dalam tasnya. Saat dia membuka laptopnya terdapat sebuah kertas yang menempel di layar laptopnya. Arfan merasa sedikit bingung dan langsung mengambil surat itu.


Hai Arfan


Ingatlah dalam penggalan puisiku ‘Biarkan aku bahagia, maka aku tidak akan merusak kebahagiaan kalian’ namun kenapa kamu merusak kebahagiaanku?


Nyawa dibayar dengan nyawa, kamu akan membayar semua perilakumu terhadapku saat aku masih hidup.


Bersiaplah, karena maut akan menjeputmu.


Dari


Arum


Arfan hanya diam dan tidak percaya jika Arum datang kemari hanya untuk memberikan surat kepadanya, dia langsung membuang surat tersebut ke tempat sampah yang berada di kolong mejanya dan menutup layar laptopnya. Terlihat bayangan seorang perempuan yang berada di kaca jendela kamarnya sepertinya itu adalah Arum, Arfan langsung menoleh kearah belakang namun tak ada siapapun di belakangnya, dia menoleh kembali kearah jendela kamar dan bayangan Arum tidak terlihat lagi. Arfan hanya beranggapan bahwa dia sedang berhalusinasi dan dia langsung pergi ke tempat tidur untuk beristirahat.


*****


Fan..


Arfan terbangun ketika mendengar suara yang memanggil namanya namun dia mengabaikannya dan tidur kembali.


Fan..


Tolong aku Fan...


Arfan…


Bukan aku Fan..


Arfann langsung terbangun dan mencari sumber suara itu, dia merasa kesal karena tidurnya telah terganggu oleh suara-suara itu yang terus memanggil namanya. Arfan mencari sumber suara tersebut dan bersiap untuk menghajar orang yang telah mengganggunya.


Terlihat Arum sedang berdiri di sudut kamarnya, dia seperti orang yang sedang khawatir, wajahnya sangat pucat namun terdapat senyuman kecil di bibirnya. Arfan diam membeku saat melihat Arum yang berdiri disana. Arum terus berkata ‘tolong, bukan aku’ Arfan tidak mengerti maksud dari perkataan Arum dan dia langsung berkata di dalam batinnya “kenapa minta tolongnya sama gua? Memangnya di neraka nggak ada yang mau nolongin dia?” Arum menunduk, diam tak mengeluarkan kata-kata apapun, Arfan penasaran dan melangkahkan kakinya perlahan mendekati Arum. Arum mengangkat kepalanya dan yang mengangkat tangannya kedepan, dia melangkah cepat menuju Arfan dan mencekik leher Arfan.


Arfan langsung terduduk, napasnya tersenggal-senggal, degup jantung berdetak tidak beraturan, dan keringat dingin terus mengalir deras di tubuhnya. Dia langsung mengambil air minum yang berada di meja dekat tempat tidurnya. Saat ini pukul 02:00 dini hari, Arfan baru kali ini dia terbangun di jam segini. Dia mengatur napasnya dan kembali tidur, dia beranggapan bahwa dia saat ini hanya mengalami mimpi bertemu dengan Arum, dia yakin bahwa hari ini tubuhnya sangat lelah dan membuatnya bermimpi seperti itu.


*****


Matahari terbit memancarkan sinarnya hingga pancaran sinarnya menyelinap kedalam jendela kamar Arfan. Arfan langsung bersiap-siap dan merapihkan penampilannya, dia terkejut saat dia berkaca di cermin yang berada di kamarnya, dia melihat sebuah bekas telapak tangan yang berwarna merah namun tidak terang, dia seperti habis tercekik oleh seseorang, dia meraba warna merah di lehernya, dia langsung pergi mengambil tas namun ditemukan sepucuk surat kembali.


Bukan aku..


Itulah isi dari surat tersebut, dia merasa janggal dengan kejadian semalam, dia bermimpi namun kenapa terdapat luka tersebut di lehernya? Dan apa maksud dari surat ini?, dia merasa bahwa semua ini tidak masuk akal, tidak mungkin setan mencekik lehernya, dan juga tidak mungkin Arum menulis surat ini, dia kembali membuang surat tersebut dan mengabaikannya.


Arfan langsung pergi menjemput Vira dan dia tidak sarapan dulu. Walaupun dia terus berusaha untuk dia memikirkan hal itu, namun pikirannya selalu memaksanya untuk memikirkan hal itu, dia tidak fokus hingga sampai di Rumah Vira.


Vira keluar dari rumahnya dan langsung menaiki motor Arfan, Arfan hanya diam tak mengatakan hal apapun kepada Vira. Vira merasa sedikit bingung dengan kebungkaman Arfan yang tidak biasanya. Hingga sampai di Sekolah, Arfan dia berkata apapun, tatapannya kosong seperti orang yang mengalami banyak masalah. Vira memakluminya karena dia tahu bahwa Arfan baru saja kehilangan temannya dan mungkin ini adalah penyebab dari kebungkamannya.


Hari ini mereka kembali lagi ke Sekolah, polisi telah melakukan penyelidikan dan hanya halaman belakang Sekolah yang diberikan garis polisi dan menjadi area stereal, Vira pergi lebih dulu meninggalkan Arfan, dia tidak ingin mengganggu Arfan. Dari kejauhan, terlihat Fadhil berdiri di depan pintu kelas Vira, Vira langsung menghampiri Fadhil.


“Ada apa Dhil?” tanya Vira kepada Fadhil.


Fadhil hanya tersenyum dan mengeluarkan sebuah coklat dari tangan kanannya yang sejak tadi dia sembunyikan di balik tubuhnya, Vira tersenyum senang saat Fadhil membawakan makanan kesukaannya, dia tidak menyangka bahwa Fadhil masih ingat dengan kesukaannya.


“Makasih Dhil,” kata Vira sambil tersenyum.


Berbeda dengan Arfan, saat ini dia bukannya ke kelas tetapi dia ke kantin. Di kantin dia tidak memesan apapun, dia hanya duduk terdiam dan menikirkan kejadian yang sama. Kejadian dimana dia tiba-tiba terbangun dari tempat tidur dan bertemu dengan Arum. Arum sepertinya ingin memberitahukan sesuatu namun Arfan tidak mengerti apapun.


Semua ini membuatnya menjadi pusing, segala usaha untuk melupakan hal itu namun tidak bisa lepas dari pikirannya. Dia membuka tas miliknya dan berniat mengambil ponselnya, sepucuk surat jatuh dari dalam tasnya, Arfan mengambil surat itu dan mulai membacanya.


Hai Arfan


Ingatlah dalam penggalan puisiku ‘Biarkan aku bahagia maka aku tidak akan merusak kebahagiaan kalian’ namun kenapa kamu merusak kebahagiaanku?


Nyawa dibayar dengan nyawa, kamu akan membayar semua perilakumu terhadapku saat aku masih hidup.


Bersiaplah, karena maut akan menjeputmu.


Dari


Arum


“Woy brengsek! Siapa yang ngerjain gua! Sini lo kampret!” teriak Arfan membuat mereka yang berada di kantin langsung menoleh ke arahnya.


Amarahnya kini tidak dapat dikendalikan lagi, dia sangat kesal karena orang yang mengerjainya ini sangat keterlaluan. Dia langsung memasukkan surat itu kedalam tasnya kembali dan langsung pergi ke kelas. Di dalam kelas, dia terus diam dan mencari tahu siapa yang telah mempermainkannya. Dia meraba kolong mejanya untuk mencari komik yang dia tinggalkan di kolong meja. Saat dia mengambil komiknya, sepucuk surat jatuh kembali dari mejanya, dengan isi yang sama membuat Arfan menjadi lebih geram.


Bruk…


“Sial! Siapa yang ngerjain gua!” teriak Arfan sambil menggebrak meja dan membuat teman-teman satu kelasnya tersentak kaget dengan suara Arfan.


“Fan! Lo bisa nggak sih nggak usah buat kita jadi kaget!” kata Andri dengan nada tinggi.


“Lo kan yang udah ngasih surat ini ke gua? Ngaku lo brengsek!” bentak Arfan kepada Andri sambil menarik kerah bajunya Andri.


“Maksud lo apa nuduh-nuduh gua! Gua aja nggak ngerti lo kenapa!” kata Andri membalas bentakkan Arfan.


Siska langsung merebut surat yang berada di tangan Arfan, dia langsung membacakanya dan merasa tercengang saat membaca surat itu.


Hai Arfan


Ingatlah dalam penggalan puisiku ‘Biarkan aku bahagia maka aku tidak akan merusak kebahagiaan kalian’ namun kenapa kamu merusak kebahagiaanku?


Nyawa dibayar dengan nyawa, kamu akan membayar semua perilakumu terhadapku saat aku masih hidup.


Bersiaplah, karena maut akan menjeputmu.


Dari


Arum


Satu Sekolah langsung gempar saat mengetahui bahwa Arfan telah mendapatkan surat misterius dari Arum. Mereka tidak menyangka bahwa Arum yang terlihat orang yang sabar justru akan membalaskan dendamnya kepada teman-temannya. Suasana semakin menegang, mereka berharap bahwa Arum tidak menghabisi nyawa mereka.


..._________________________________________...


...PENASARAN SAMA PART SELANJUTNYA?...


...BACA TERUS " A B C D " ...


...DAN JANGAN LUPA VOTE DAN JUGA SHARE YA.....


...OH YA KALAU ADA YANG PERLU DIKOMEN,KOMEN AJA KARENA ITU SANGAT BERGUNA UNTUK SAYA...