
...Happy Reading...
Nama gue Feyra Andinita, Vira adalah nama panggilan gue sejak masih membentuk embrio hingga sampai saat ini. Gue merupakan anak dari keluarga mantan atlite karate dan juga silat. Mama selalu mengajarkan bahwa kita harus menjadi perempuan yang kuat dan jangan mau di anggap lemah.
Gue mulai mengikuti silat sejak gue masih berumur 7 tahun, gue udah terbiasa berteman dengan anak cowok dan juga ikut serta dalam perkelahian di sekolah. Saat masuk SMA ini, gue pertama kali bertemu Arum yaitu saat gue melihat dia di taman sendirian dan dia sedang menangis, awalnya gue nggak dekat dengan Arum, tapi gue merasa kasihan dan nggak tega lihat Arum selalu di tindas seperti ini, akhirnya gue berteman dengan Arum dan gua bertekad bahwa gue akan berusaha untuk melindungi Arum.
Hari ini, gue kaget lihat Arum yang menangis di pagi hari seperti ini. Gue yakin kalau ini pasti ulah Arfan, gue kesal dan geram karena Arfan terus-menerus menindas Arum. Gue heran sama Arum, kenapa sih dia terlalu sabar sama mereka? Gue mau banget menghajar Arum karena dia itu nggak sadar-sadar dan tidak pernah ada rasa dendam dengan anak-anak itu.
Kesabaran gue udah habis, gue nggak bisa lihat seperti ini terus. Gue langsung pergi dari kelas dan menghampiri Arfan yang sedang berkumpul dengan teman-temannya di lorong sekolah. Sebelum gue nyamperin dia, gue pergi ke kantin dulu dan beli air panas. Gue minta sama bu Sarah untuk memasak Air panasnya dengan benar-benar mendidih.
Gue buang air botol minum yang gue bawa dari rumah, dan gue isi dengan air panas. Gue samperin tuh dia dan gue langsung siram dia dengan air panas itu. Dia marah sama gue, namun gue hanya memberikan senyum licik ke dia. Dia berdiri dan ingin menampar gue, namun sebelum tangan dia nyentuh pipi gue, gue tendang aja ******** dia biar dia gak bisa buang air kecil lagi!.
Disitulah pertarungan sengit di mulai, gue terus adu fisik sama dia. Berengseknya, sama sekali tidak ada yang memisahkan gue dan Arfan, justru mereka memberikan semangat seakan-akan mereka sedang mengadu ayam. Sekilas gue lihat Arum yang berdiri khawatir, namun gue tetap cuek bebek dan terus melanjutkan pertarungannya dengan Arfan.
Kami terus berkelahi hingga pak Hasan menghampiri kerumunan anak-anak yang sedang menonton pertengkaran gue. Ah sial! Padahal gue lagi asik-asiknya ribut, eh si pak Hasan malah datang. Dan yang lebih bikin gua tambah kesal, pak Hasan langsung bawa gue dan Arfan ke ruang BK.
Terlihat wajah ketakutan Arfan saat berada di ruang BK, dia seperti orang yang takut di keluarkan dari Sekolah. Hah! dia itu memang pengecut, gayanya aja yang sok berani padahal nyalinya itu nyali tempe. Beda sama gue, gue cuek dan gak peduli sama sekali dengan hukuman yang diberikan oleh pak Hasan. Gue kan gak salah, jadi buat apa gue takut? Kalo kena skors sih anggap aja gue lagi liburan, lumayan lah daripada bosan di Sekolah terus, ketemunya sama pelajaran dan guru-guru yang membosankan.
Gue pulang ke Rumah sambil membawa surat SP dari Sekolah. Mama terus marah-marah sama gue, namun gue hanya diam mendengarkan ocehan dari mama.
“Vira! Mama itu capek harus balik terus ke Sekolah kamu terus, kamu kenapa sih selalu buat kasus seperti ini? Mama malu, Vira!” ujar Mama sambil marah-marah.
“Hm.” Jawab gue dengan cuek.
“Sekarang kamu masuk kamar! Pusing mama sama kamu! Bisanya cuma buat malu doang!” jawab mama sambil marah-marah dan berjalan menuju Kamarnya.
“Yaelah dasar emak-emak jaman now! Kayak gitu aja bawel banget.” gerutu gue dan kemudian gue masuk ke dalam kamar.
Gue masuk ke dalam Kamar dan langsung membanting tubuh gue di atas kasur, Kamar yang terlihat berantakan seperti kamar cowok. Gue langsung tidur tanpa mengganti pakaian dulu dan masih menggunakan sepatu Sekolah.
*****
Mumpung lagi kena skors gue memutuskan hari ini untuk bangun siang, tapi mama malah bangunin gue dan bilang kalau ada teman gue yang datang dan ingin bertemu gue. Awalnya gue nggak percaya, namun mama memaksa dan akhirnya gue turun ke lantai dasar dan ternyata benar bahwa ada teman gue yang datang kesini, dia adalah Arum. Gue bingung dan bergumam “kenapa dia nggak ke sekolah?”. Gue langsung menghampiri Arum dan tampaknya dia seperti sedang kesal.
“Rum? Lo kok nggak ke sekolah?” tanya gue sambil duduk di dekat Arum dengan basa-basi.
“Janji apa?” tanya gue sambil mengerutkan kening.
“Aku mau kamu janji jangan pernah ikut campur dalam masalah aku, apalagi masalah aku yang selalu menjadi anak bullying di sekolah.” jawab Arum dengan tatapan serius.
Gue bingung dengan perkataan Arum. Dia minta gue untuk berjanji tidak ikut campur dalam masalah dia yang menjadi korban anak bullying? Dia itu abis makan apa sih? Gue kesal banget sama dia, kalau dia udah bisa jaga diri sih ya gua bodo amat, tapi dia itu masih belum bisa untuk menjaga diri dia.
“Gua nggak mau.” tolak gue dengan singkat.
“Aku mohon, Vir. Aku gak mau lihat kamu terus-terusan di panggil guru BK hanya karena kamu bertengkar dan penyebab pertengkaran kamu itu adalah aku.” jawab Arum dengan memaksa.
“Gue gak mau, Rum!” kekeh Vira.
“Tapi kamu harus mau, Vir!” Arum terus saja memaksa dan baru kali ini dia menjadi orang yang keras kepala.
Gue kesal banget sama Arum, dia terus paksa gue buat janji sama dia. Gue itu paling benci kalau dipaksa-paksa seperti ini, gue gak jawab tapi dia terus maksa gue.
“Aku mohon banget sama kamu.” kata Arum semakin memaksa.
“Yaudah gue janji sama lo! Puas lo sekarang!” kata gue dan gue langsung pergi ke Kamar meninggalkan Arum yang masih duduk di ruang tamu.
Arum kemudian berpamitan dengan Mama gue dan dia pergi dari rumah gue. Gue kesal banget sama Arum karena dia malah menyuruh gue buat janji seperti itu. Gue gak tega sama dia, tapi dia sendiri malah tega membiarkan dirinya di perlakukan seperti itu.
..._________________________________________...
...PENASARAN SAMA PART SELANJUTNYA?...
...BACA TERUS " A B C D "...
...DAN JANGAN LUPA VOTE DAN JUGA SHARE YA.....
...OH YA KALAU ADA YANG PERLU DIKOMEN,KOMEN AJA KARENA ITU SANGAT BERGUNA UNTUK SAYA...