ANTARA BENCI,CINTA DAN DENDAM (COMPLETE)

ANTARA BENCI,CINTA DAN DENDAM (COMPLETE)
8.Korban Kedua


...Happy Reading...


Seluruh murid belajar di kelas masing-masing namun mendadak terdengar suara-suara yang sangat mengganggu dari luar kelas, salah seorang murid yang sedang melintas kelas Arfan langsung di panggil oleh Pak Azam yang sedang mengajar di kelas Arfan.


“Rif, sini,” panggil pak Azam dengan suara sedikit keras.


“Ada apa pak?” tanya Arif sambil mengatur napasnya.


“Ada keributan apa sih?” tanya pak Azam.


“Zio, Zio meninggal pak, dia gantung diri di aula, saya pergi dulu ya pak,” kata Arif langsung pergi dari kelas Arfan.


Tanpa menunggu lama Arfan langsung keluar dari kelasnya disusul oleh teman-temannya. Arfan tersentak saat melihat Zio yang kini telah tewas, jasad Zio telah dilepaskan dari tali yang telah menggantung di lehernya. Secarik surat di temukan kembali di dalam saku Zio.


Dendamku masih belum terbalaskan..


Mereka yakin bahwa itu adalah perbuatan Arum, Arum masih belum puas untuk membunuh teman-temannya yang telah menghinanya. Mayat Zio telah di evakuasi dan saksi utama telah di introgasi oleh pihak kepolisian. Menurut saksi mata, dia tidak sengaja melihat Zio yang telah menggantung di aula, pada saat itu saksi mata sedang berjalan melewati ruang aula, dia melihat dari kaca jendela seperti ada yang menggantung di dalam aula, karena dia penasaran dia pun membuka ruang aula tersebut dan disitulah dia terkejut karena telah menemukan Zio yang gantung diri.


Zio juga merupakan anak pelaku bullying, dia membully Arum dengan cara melemparkan sampah ke Arum, dia juga sering mentertawakan Arum. Arfan kehilangan sahabat terdekatnya lagi, teman yang dulunya satu anggota genk dengannya kini telah pergi meninggalkannya. Entah mengapa dia teringat dengan perkataan Arum semalam, dia mengatakan ‘bukan aku’ tapi Arfan masih belum bisa mengerti mengapa Arum mengatakan seperti itu.


“Arum sialan! Brengsek!” batin Arfan sambil mengepalkan tangannya dengan sepenuh tenaga.


Arfan pergi menuju halaman belakang sekolah dengan perasaan penuh kekesalan, dia mempercepat langkahnya dan wajahnya terlihat seperti orang yang amarahnya sudah menggebu-gebu.


“Woy Arum! Sini lo! Jangan bunuh teman-teman gua terus! Pengecut! Dasar sampah!” teriak Arfan.


Semua teman-temannya terkejut mendengar suara Arfan, mereka langsung menghampiri Arfan yang masih mengepalkan tangannya dengan sekuat tenaga. Vira juga datang menghampiri Arfan, dia berusaha membuat Arfan menjadi tenang namun Arfan malah semakin kesal dengan kehadiran Vira.


“Nggak usah lo sok peduli sama gua! Sahabat lo itu emang brengsek! Udah mati kok masih aja jadi pengecut! Bilangin sama sahabat lo, dia itu punya masalahnya sama gua bukannya sama teman-teman gua!” bentak Arfan kepada Vira.


Vira tersentak saat mendengar bentakan dari Arfan, hatinya terasa teriris karena telah Arfan membentaknya.


“Sampai kapan pun, dia itu tetap sampah! Gua benci sama dia!” bentaknya kembali.


“Lo bisa nggak sih jangan bentak gue? Terima kasih atas bentakan lo tadi Fan, gue nggak nyangka kalau orang yang gue sayang ternyata bisa nyakitin hati gue, terima kasih banyak,” kata Vira gemetar dengan mata yang berlinang air mata.


Vira langsung pergi dan meninggalkan Arfan yang berada di dalam kerumunan orang-orang. Fadhil yang juga melihat kejadian itu merasa kasihan dengan Vira, dia langsung pergi mengejar Vira.


Fadhil menemukan Vira di dalam kelasnya, dia seperti sedang menangis sambil meletakkan kepalanya di atas meja, Fadhil langsung menghampiri Vira dan duduk di sebelahnya.


“Vir..” ujar Fadhil dengan lembut.


Vira langsung menoleh ke sebelah kirinya dan dia senang karena disebelahnya itu adalah Fadhil, dia langsung memeluk Fadhil dan meluapkan semua rasa sakitnya yang dia pendam, dia menangis sambil memeluk Fadhil dengan erat dan Fadhil membalas pelukannya.


“Vir, Arfan lagi kesal jadi jangan lo masukin ke dalam hati ya perkataannya dia tadi,” kata Fadhil dengan lembut.


“Gimana sih perasaan lo kalau lo disakitin sama orang yang lo sayang?” tanya Vira kesal.


“Ya gua tau Vir, tapi seharusnya lo bisa ngertiin kondisi dia saat ini, dia-”


“Udah deh kalau lo tetap aja nyalah-nyalahin gue, lebih baik lo pergi dari sini,” kata Vira memotong perkataan Fadhil.


Fadhil menatap Vira sejenak dan kemudian dia pergi meninggalkan Vira yang sendirian didalam kelasnya. Fadhil hanya ingin memberikan Vira waktu untuk menyendiri dan berpikir dengan tenang.


*****


Seluruh murid di pulangkan ke rumahnya karena Polisi ingin melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk kasus Zio dan juga Angga yang masih belum terselesaikan. Vira pulang diantarkan oleh Fadhil, sebenarnya Vira masih merasa kesal dengan Fadhil, namun karena dia memaksanya terus terpaksa dia pulang diantar oleh Fadhil.


Jasad Zio sudah di otopsi, menurut pemeriksaan Dokter, bahwa Zio murni bunuh diri dan bukan di bunuh, Jasad Zio kini berada di rumah duka dan akan diantarkan ke Rumahnya. Sunggu malangnya Zio harus pergi dalam waktu yang secepat ini, Polisi juga masih mencari keberadaan pemilik pesan ini.


Seluruh tetangga, kerabat, dan juga saudaranya datang memberikan ucapan bela sungkawa kepada keluarga Zio. Menurut keterangan mamanya, Zio tadi pagi bersikap seperti biasa, tidak ada hal yang mencurigakan yang di perlihatkan oleh orang tuanya, mereka terkejut saat mendengar pernyataan dari Sekolahnya Zio bahwa Zio telah meninggal dengan cara bunuh diri.


Zio di kenal sebagai anak yang baik dan dia selalu menceritakan apapun masalah yang dia hadapi, dia tidak menyembunyikan masalah apapun kepada mamanya, kepergian Zio membuat mamanya tidak yakin jika dia meninggal dengan cara bunuh diri. Mama Zio sangat yakin bahwa ada orang lain yang telah membunuh putranya, mama Zio meminta pihak kepolisian untuk lebih professional dalam menangani kasus yang sedang terjadi di sekolah tersebut.


Arfan menangis saat berada di makam Zio, dia tidak yakin jika sahabatnya akan bunuh diri, dia tahu bahwa sahabatnya ini tidak akan melakukan hal nekat seperti itu, dia juga sangat membenci Arum bahwa dia telah membuat sahabatnya menjadi meninggal.


“Maksud lo?” tanya Arfan sambil mengkerutkan keningnya.


“Entah kenapa gua curiga kalau semua ini perbuatan Vira.” kata Aurel yakin.


“Jangan gila lo, dia pacar gua mana mungkin dia kayak gitu, jangan karena dia dulu sahabatnya Arum lo malah menghakimi si Vira,” bantah Arfan membela Vira.


Aurel hanya diam dan tidak menjawab Arfan, Arfan mencerna kembali perkataan Aurel dan sepertinya memang ada benarnya, kemungkinan juga Vira yang telah membunuh Angga dan juga Zio, namun Arfan tidak ingin berpikiran yang negatif tentang Vira, dia yakin bahwa Vira tidak mungkin membunuh temannya. Mereka juga tidak memiliki bukti yang membuktikan bahwa semua ini perbuatan Vira.


Vira yang dulu bukanlah yang sekarang, Vira yang saat ini telah menjadi miliknya yaitu Vira yang tangguh namun lembut, dia baik dan juga selalu tersenyum, dia mencintai Arfan dengan apa adanya. Masa lalu biarlah berlalu, Arfan menganggap bahwa kejadian saat dulu dia bertengkar dengan Vira adalah awal dari perasaannya mulai tumbuh terhadap Vira.


Arfan merasa bersalah karena saat di Sekolah dia telah memarahi Vira, dia berniat sepulang dari tempat Zio, dia akan pergi ke tempat Vira untuk meminta maaf kepadanya. Dalam bayangan Arfan, dia yakin bahwa Vira pasti menangis setelah di bentak olehnya, dia menyesal karena tidak dapat mengontrol emosinya, dan dia telah terlalu terbawa oleh suasana.


Arfan pergi menuju Rumah Vira setelah dia berpamitan dengan keluarga Zio. Sesampainya di Rumah Vira, Arfan langsung menelpon Vira dan memberitahukannya bahwa saat ini dia berada di depan rumah Vira namun Vira sama sekali tidak mengangkat telpon darinya, akhirnya Arfan pun memutuskan untuk memberikan pesan kepada Vira.


Dari : Arfan


Bisa keluar sebentar nggak? Aku udah nunggu di depan rumah kamu nih.


Vira diam sejenak lalu melihat kearah jendela, benar saja bahwa Arfan sedang menunggunya di luar pagar rumahnya. Vira langsung membalas pesan dari Arfan.


Dari : Vira


Ok, tunggu 5 menit.


Vira keluar dari kamarnya dan pergi menuju pintu pagar, Vira langsung menghampirinya dengan raut wajah yang datar.


“Ada apa?” tanya Vira dengan nada dinginnya.


“Aku minta maaf,” kata Arfan lembut.


“Setelah lo maki-maki gue di depan umum dan sekarang lo hanya minta maaf? Maaf, harga diri gue lebih tinggi daripada kata-kata maaf,” kata Vira tajam.


“Gua khilaf Vir, gua muak! Karena semua kematian ini dialami oleh sahabat-sahabat gua sendiri, mereka semua pergi dari hidup gua,” kata Arfan yang melepaskan semua beban di hatinya.


“Bagaimana dengan Arum? Dia yang selalu lo bully disemasa hidupnya? Apa lo nggak pernah pikirin itu? Lo kalah dengan Arum, dia itu lebih kuat daripada lo. Bukannya gue membela dia, tapi itulah kenyataannya,” kata Vira.


“Jangan pernah bahas dia lagi! Gua benci sama dia!” kata Arfan yang raut wajahnya langsung berubah menjadi marah ketika dia mendengar nama Arum.


“Arum kayak gitu juga gara-gara lo! Coba deh lo sadar, dia yang selalu lo bully hingga dia dipermalukan oleh satu sekolah, apa dia benci sama lo? Tentu tidak, dan sekarang gue heran sama Arum, kenapa dia mau membalas semuanya saat dia udah meninggal? Jujur aja, gue nggak nyangka kalau Arum bakal membalas semuanya, gue kira dia nggak kayak gitu,” kata Vira santai.


“Gua pamit pulang ya, karena takut kemalaman,” kata Arfan langsung mengakhiri topik pembicaraan.


“Yaudah hati-hati ya,” kata Vira sambil tesenyum.


Arfan hanya membalas senyumannya dan kemudian dia mengendarai motornya dengan kecepatan normal. Vira langsung kembali masuk kedalam kamarnya, hari ini adalah hari yang melelahkan untuknya dan tidur adalah jalan yang terbaik untuknya. Namun saat dia masuk kedalam kamarnya, terdapat sebuah tulisan di cermin dan tulisan tersebut adalah..


Bukan aku…


Vira membaca tulisan tersebut dengan datar dan kemudian dia langsung menghapus tulisan tersebut dengan tissue. Saat dia menghapus coretan di cerminnya, tiba-tiba saja wajah Arum langsung terlihat di cermin namun dia sama sekali tidak kaget karena rasa kantuknya yang begitu berat, lalu dia membuangnya ke tempat sampah dan langsung pergi ke tempat tidurnya.


Sementara itu, Arfan yang masih berada di jalan dengan perasaan yang sangat kesal, dia sangat kesal karena Vira terus saja membela Arum. Padahal, Arum adalah penyebab dari semua kasus bunuh diri yang ada di sekolah. Arfan sangat yakin bahwa Arum merasuki tubuh-tubuh sahabatnya lalu dia menggantungkan sahabatnya seakan-akan dia gantung diri seperti yang ada di film Ouija.


“Sialan lo Rum, udah mati aja masih nyusahin banyak orang,” batin Arfan dan kemudian dia langsung menancap gasnya dengan kecepatan tinggi.


..._________________________________________...


...PENASARAN SAMA PART SELANJUTNYA?...


...BACA TERUS " A B C D " ...


...DAN JANGAN LUPA VOTE DAN JUGA SHARE YA.....


...OH YA KALAU ADA YANG PERLU DIKOMEN,KOMEN AJA KARENA ITU SANGAT BERGUNA UNTUK SAYA...