
...Happy Reading...
“Assalamu’alaikum tante Shila!” teriak seorang gadis kecil sambil berlari masuk ke dalam rumah.
“Sya! Kamu jangan pecicilan dong!” oceh anak laki-laki yang sepertinya kakak dari gadis kecil itu.
Sepasang suami istri pemilik rumah itu langsung keluar menghampiri keluarga yang baru saja datang.
“Eh ternyata Tasya udah datang, sana main sama anak tante, dia ada di kamar,” kata wanita itu sambil menunjukkan kamar anaknya.
“Tante punya anak? Kok nggak pernah diajak?” tanya gadis kecil itu yang dipanggil Tasya.
Anastasya dan kakaknya langsung disuruh masuk kedalam kamar anak tantenya itu, namun mereka tidak berani membuka pintu kamarnya.
“Udah cepetan kamu buka,” paksa kakaknya.
“Kak Dika aja yang buka, Tasya takut,” kata Tasya pelan.
“Nggak usah takut, ayo cepat buka pintunya,” paksa kak Dika.
“Ih kakak! Di dalam itu ada tante daster putih makanya aku takut,” kata Tasya dan Dika langsung memahami hal itu, dia memang sudah tahu kalau adiknya memang bisa melihat mereka yang tidak bisa di lihat oleh orang normal pada umumnya.
Dika langsung membuka pintunya dengan pelan, terlihat seorang gadis kecil yang murung seperti orang yang kesepian. Tasya dan kak Dika langsung menghampiri gadis kecil itu dengan langkah perlahan, gadis kecil itu menyadari keberadaan mereka dan dia langsung menoleh kearah mereka.
“Ha-hai! Nama aku Dika dan ini adikku namanya Anastasya. Nama kamu siapa?” tanya kak Dika namun anak yang diajaknya berkenalan itu sepertinya sangat pemalu.
“Arum,” jawabnya singkat sambil menutup sedikit wajahnya dengan bantal.
“Kak, nama tante itu ternyata Talia,” kata Anastasya sambil menunjuk kearah sudut tembok kamar milik Arum.
“Kamu jangan takut ya, Tasya hanya bercanda,” kata Dika meminta maaf kepada Arum, “kamu jangan bilang gitu, nanti Arum jadi takut,” bisik kak Dika kepada Anastasya dan Anastasya hanya mengangguk.
Dika terus berusaha mengajak Arum ngobrol, perlahan Arum menjadi terbuka kepada mereka berdua. Arum dan Anastasya sama-sama sudah kelas 5, Arum terlihat sangat bahagia sekali karena memiliki teman walaupun itu adalah sepupunya.
Semakin lama mereka semakin dekat, Anastasya dan kak Dika selalu mengunjungi rumah Arum dan mendengarkan curhatan Arum. Sesekali kak Dika merasa geram sekali saat mendengarkan keluhan Arum sebagai anak bullying, namun dia harus bisa menahan emosinya karena dia tidak ingin membuat Arum berada di posisi yang semakin berbahaya.
Arum bercerita betapa bahagianya dia saat dia masih kecil, dia selalu ceria dan memiliki banyak teman. Namun semua berubah saat dia naik ke kelas 4, teman-temannya mulai melakukan aksi bullying, mereka terus menghina fisik Arum hingga membuatnya menjadi pemurung dan dijauhi oleh teman-temannya.
Kebahagiaan Arum menjadi berubah sejak Anastasya pindah ke Bali karena papahnya Anastasya harus pindah tempat kerja saat Anastasya baru lulus SD, Arum merasa sedih karena dia harus kehilangan orang-orang yang sangat dia sayangi. Mereka selalu berkomunikasi melalu facebook ataupun saling mengirim pesan dan juga telponan, namun semua itu tetap saja membuat Arum menjadi tidak bisa leluasa untuk bercerita kepada siapapun.
Hingga pada saat dia memasuki SMA, dia akhirnya mendapatkan teman yang bisa mendengarkan keluh kesahnya menjadi anak bullying, Arum masih tetap dibully karena dia satu sekolah dengan orang yang sudah membully-nya sejak SD, Anastasya selalu menyuruh Arum untuk cerita kepada orang tuanya dan bahkan dia sempat mengajukan diri untuk menceritakan hal tersebut kepada orang tua Arum, namun Arum selalu menolak dan melarang Anastasya untuk ikut campur dalam permasalahan dia.
Sudah bertahun-tahun Anastasya hidup di Bali, dia dan keluarganya kembali ke Jakarta, dia sudah memberitahu kepada Arum bahwa dia akan pindah ke sekolahnya Arum. Namun saat dia baru saja turun dari pesawat, dia mendapatkan berita duka bahwa Arum sudah meninggal dunia, Arum melakukan aksi bunuh diri di halaman belakang sekolahnya. Keluarga Anastasya langsung pergi ke rumah Arum untuk memberikan belasungkawa kepada keluarga Arum.
Setelah seminggu tinggal di Jakarta, akhirnya Anastasya mulai masuk sekolah. Dia sudah mendengar beberapa kejadian yang mengerikan dari sekolah yang akan dia tempati itu. Orang tua Anastasya ingin memindahkan Anastasya ke sekolah yang lebih layak, namun dia menolak karena dia merasa seperti ada yang janggal atas tragedi di sekolah Arum yang mengatas namakan arwah Arum yang ingin membalaskan dendamnya.
Anastasya tahu sekali bagaimana sifat Arum, dia itu bukan anak yang pedendam dan justru dia orang yang pemaaf. Anastasya tetap kekeh dengan keputusannya untuk sekolah di tempat itu dan kak Dika juga mendukungnya karena dia tahu bahwa Anastasya pasti memiliki niat yang baik.
*****
“Assalamu’alaikum, Nek.” Ujar Anastasya memberikan salam kepada neneknya yang sedang duduk di kamarnya.
“Wa’alaikum salam, eh kamu udah pulang? Baru aja mama papah kamu berangkat,” kata neneknya.
“Oh..” jawabnya singkat.
“Gimana? Udah ada perkembangan? Apa kamu butuh bantuan?” tanya neneknya dengan tenang.
“Aku tahu ini bukan ulah Arum, tapi aku nggak tahu siapa pelakunya karena wajahnya masih samar-samar di dalam mimpiku, nenek tahu kan siapa pelakunya?” kata Anastasya memberikan pertanyaan kepada neneknya.
“Nenek akan bantu kamu, tapi bukan berarti secara instant. Nenek mau kamu cari tahu sendiri siapa pelakunya. Kamu harus bisa buat kasus ini harus cepat selesai karena nggak akan lama lagi pasti jati diri kamu bakal terbongkar, jangan biarkan korban menjadi bertambah lebih banyak lagi, kasihan cucuku nggak bisa pergi dengan tenang,” ceramah neneknya memberikan arahan kepada Anastasya
“Aku nyerah nek, aku nggak bisa lanjutin kasus Arum,” kata Anastasya pasrah.
“Berarti kamu rela kalau orang itu terus membunuh semua orang dan mengatasnamakan Arum?” tanya neneknya membuat Anastasya semakin bingung “Jangan pernah ragu utuk mengambil keputusan,“ sambung neneknya kembali.
Anastasya langsung pamit pergi ke kamarnya dan membiarkan neneknya beristirahat walaupun dia sedikit kecewa karena dia tidak mendapatkan jawaban dari neneknya. Nenek Anastasya tinggal di rumah Anastasya setelah insiden yang menimpa cucunya, neneknya ingin menjaga Anastasya dari segala gangguan yang menimpanya. Nenek Anastasya juga memiliki kemampuan yang sama seperti Anastasya karena Anastasya memiliki kemampuan tersebut menurun dari neneknya.
*****
Arfan tidak langsung pulang ke rumahnya tetapi dia pergi menuju rumah Fadhil, dia mengendarai motornya dengan kecepatan yang sangat tinggi. Sesampainya di rumah Fadhil, dia langsung memanggil-manggil Fadhil. Fadhil langsung membukakan pintu untuk Arfan dan mempersilahkan dirinya untuk masuk kedalam rumahnya.
“Ngapain sih lo kesini malam-malam?” tanya Fadhil sedikit kesal.
“Vira udah tahu kalau lo sama Anastasya sekarang lagi dekat, nggak tahu kenapa firasat gua mulai nggak enak,” jawab Arfan serius, “ dia mulai ngasih teka-teki ke gua, dia misterius banget,“ sambungnya.
Arfan terus menceritakan tentang kejadian yang baru saja dia alami saat pergi bersama Vira, Vira dan Anastasya sama-sama misterius dan itu membuat mereka berdua menjadi tambah bingung, di satu sisi mereka sangat penasaran dengan teka-teki Vira dan di sisi lain mereka juga penasaran dengan jati diri Anastasya.
“Mungkin nggak sih kalau pelakunya mereka berdua?” tanya Arfan ragu.
Drrt..drrt.. drrt..
Fadhil langsung mengambil ponselnya dan terdapat nama seseorang yang sedang menelpon yaitu Anastasya. Dia langsung mengangkat panggilannya dan menyalakan speaker supaya Arfan juga bisa mendengarkannya
“Hallo Ca? Ada apa?” tanya Fadhil.
“Besok kamu sama Arfan ke rumah aku, ada hal penting yang harus kita lakuin,” Fadhil diam penuh tanda tanya, dia sangat penasaran sekali dengan rencana Anastasya saat ini.
“Jam berapa?” tanya Fadhil sambil menatap Arfan.
“Jam 11 malam, ingat ya jangan terlambat,” kata Anastasya.
Anastasya langsung menutup telponnya, mereka berdua hanya bisa diam karena mereka sendiri pun tidak mengerti dengan apa yang terjadi saat ini, Arfan langsung pamit pulang karena ini sudah tengah malam dan dia mengendarai motornya dengan kecepatan normal.
*****
Malam ini, telah terjadi pembunuhan kembali, semakin lama sang pelaku merasa semakin puas karena dia akan memenangkan permainannya dan dia bisa merasa puas jika dia benar-benar menjadi pemenangnya.
Dia terus menyiksa korbannya, saat korbannya menjerit kesakitan justru dia tertawa puas dan semakin menyiksanya dengan keji. Pelaku tersebut tidak bisa dikatakan sebagai manusia karena dia sama sekali tidak memiliki rasa kasihan terhadap semua korban-korbannya.
“Rum.. tolong lepasin gua Rum..” tangisan dari korbannya sambil menjerit kesakitan.
“Aku udah mati! Kamu telat minta maafnya! Lagian juga.. kan belum lebaran, ngapain minta maaf duluan?” tanya sang pelaku kemudian memberikan senyuman yang mengerikan.
Arrgghh…
Sakiit…
Tolong aku..
Tolooong…
“Hahaha.. mana ada orang yang mau menolong kalian? Orang yang udah jahat banget sama aku!” kata sang pelaku sambil tertawa .
“Kamu yang jahat Rum! Kita semua hanya membully lo bukan membunuh lo! Tapi kenapa lo bunuh kita semua?” kata orang itu dengan nada tinggi.
“Kalian semua pembunuh! Kalian nggak hanya merusak fisik aku tapi kalian juga merusak mental aku! Gara-gara kalian juga aku jadi bunuh diri!” kata si pelaku dengan nada tinggi.
“Siapa suruh bunuh diri? Nggak ada yang nyuruh lo bunuh diri!” kata orang tersebut mulai muak.
“Banyak omong!” dia langsung menghajar mulut orang tersebut hingga berdarah, namun dia menghajarnya menggunakan sarung tangan kesehatan supaya sidik jarinya tidak terbaca.
Orang itu mulai terkapar tak berdaya, dia terus menendang orang tersebut seperti sedang bermain sepak bola. Darah berceceran dimana-mana, bau amis selalu menjadi pengharum di dalam ruangan tersebut.
Dia langsung mendekati si korban yang sudah tidak berdaya dan membuka penutup kepalanya, disitulah si korban merasa terkejut karena dia telah mengetahui siapa pelaku tersebut “tatap wajah aku, ingatlah aku baik-baik dan bilang ke teman-teman kamu yang sekarang sedang berada di neraka bahwa aku adalah pelakunya,” kata si pelaku dengan perkataan yang sangat mengerikan.
Si pelaku tidak memberikan kesempatan untuk korbannya berbicara, dia langsung mencekik korbannya dengan seutas tali tambang dan di tarik sangat keras, tak lama kemudian si korban pun meninggal dunia “Selamat bertemu dengan maut,” kata si pelaku tersenyum puas, dia merasa bahagia karena semuanya sudah berjalan sesuai dengan rencananya.
Dia menyeret korbannya menuju ruang guru dan menggantungnya, kemudian dia memasukkan surat di dalam saku korbannya yang sudah meninggal, dia langsung pergi menghilang begitu saja dan tempat yang menjadi ruang pembunuhan pun bersih tanpa meninggalkan bekas sedikit pun bahkan tidak ada bau amis di ruangan tersebut.
*****
Olivia Reneta, telah ditemukan meninggal dunia dengan cara gantung diri di ruang guru dengan tubuh yang dipenuhi dengan darah dan kulitnya seperti melepuh di seluruh tubuhnya. Olivia merupakan teman sekelas Arum dan dia juga merupakan mantan pacarnya Fadhil, dia juga anggota genk Arfan yang ikut dalam aksi bully Arum. Sebenarnya dia tidak memiliki masalah dengan Arum namun dia memiliki masalahnya dengan Vira karena kejadian di masa lalu, namun karena Arum adalah sahabatnya Vira jadi dia melampiaskan balas dendamnya kepada Arum dengan cara membullynya.
Terdapat sepucuk surat dengan isi yang seperti biasa, hingga semua orang pun sudah hafal walaupun baru melihatnya sekejap. Semua kejadian yang telah mereka lalui benar-benar membuat mereka depresi, mereka ingin sekali membakar pelaku tersebut jika sudah di temukan.
Jasad Olivia telah diantarkan ke rumah sakit dengan mobil ambulance. Dengan izin orang tuanya, pihak medis bisa langsung autopsi jasad Olivia, namun hasil autopsi membuktikan bahwa tidak ada tanda-tanda pembunuhan dan sidik jari pelaku pun sama sekali tidak ada.
Sementara itu, saat di sekolah Arfan langsung menghampiri Fadhil yang sedang santai berada di dalam kelasnya dan kebetulan hari ini kelasnya sedang jam kosong. Dia datang dengan wajah yang bersedih namun Fadhil menanggapinya dengan biasa saja.
“Dhil, mantan lo masa meninggal Dhil,” kata Arfan memberikan berita dan Fadhil sudah mengetahuinya lebih dulu.
“Ya terus?” tanya Fadhil cuek.
“Lo nggak mau nyusul gitu? Lebih baik lo nyusul dia Dhil seenggaknya lo jadi nggak nyusahin orang tua lo, lagi juga lo hidup nggak ada faedahnya,” kata Arfan asal ceplos.
“Bodo amat, mending gua samperin Ica dari pada ngomong sama penakut kayak lo,” Fadhil langsung pergi menuju kelas Anastasya dan meninggalkan Arfan sendirian di dalam kelasnya.
..._________________________________________...
...PENASARAN SAMA PART SELANJUTNYA?...
...BACA TERUS " A B C D " ...
...DAN JANGAN LUPA VOTE DAN JUGA SHARE YA.....
...OH YA KALAU ADA YANG PERLU DIKOMEN,KOMEN AJA KARENA ITU SANGAT BERGUNA UNTUK SAYA...