
...Happy Reading...
Mereka semua sudah berkumpul di ruang tamu dalam keadaan gelap, disana mereka tidak hanya bertiga karena Anastasya telah meminta tolong kepada kakek Resno untuk membantu mereka menjalani ritual ini. Segala persiapan telah dilakukan oleh Anastasya namun Anastasya lupa memberitahukan kepada mereka tentang rencananya.
Mereka semua duduk melingkar mengelilingi lilin yang berada di tengah-tengah mereka, mereka semua saling berpegangan.
"Kita langsung mulai aja ya," kata kakek Resno dengan tenang,
"Kita mau ngapain?" tanya Fadhil dan disitulah Anastasya baru ingat kalau dia lupa memberitahu kepada Fadhil dan Arfan tentang rencananya.
"Kita mau ritual buat bertemu sama Arum dan aku emang udah minta Arum untuk datang, sekarang dia ada diantara kita dan tinggal menjalani ritual untuk-"
"Lo gila Sya! Jadi ini rencana lo! Gua nggak nyangka ternyata lo itu seorang pengkhianat! Lo jebak kita berdua supaya kita dibunuh sama Arum kan!" cerca Arfan dengan nada tinggi.
"Arum itu nggak jahat!" balas Anastasya dengan nada tinggi.
"Dia jahat! Dia udah bunuh anak-anak di sekolah! Bahkan satpam dan guru-guru pun juga dia bunuh!" bentak Arfan.
"Arum nggak jahat! Justru kamu yang jahat! Kamu udah renggut masa kecil Arum! Kamu udah buat mereka semua bully Arum! Kamu seorang pembunuh! Kamu adalah penyebab dia bunuh diri! Arum nggak jahat seperti kamu!" balas bentak Anastasya dengan nada semakin keras, air matanya mulai mengalir karena dia merasa sedih sepupunya harus dituduh seperti itu oleh orang lain.
"Udah cukup Ca, lo mengadakan ritual kayak gini sama aja lo mengajak gua untuk berbuat syirik, lebih baik gua pulang Ca," Fadhil menghela napas dan dia ber-istighfar di dalam hatinya, "Makasih Ca, lo udah buat gua kecewa," sambungnya dan kemudian dia beranjak dari tempat duduknya dan di ikuti oleh Arfan.
Anastasya kecewa karena mereka sama sekali tidak mengerti ritual seperti apa yang dimaksud oleh Anastasya, kakek Resno langsung berpamitan karena menurut beliau kondisi saat ini sangat tidak baik dan pada saat itu lah Arum pun menghilang.
"Aku menyerah," batinnya dengan lemas, dia langsung pergi ke kamarnya dan tidur.
*****
Tasya..
Tasya...
Anastasya langsung terbangun dan melihat bahwa Arum sedang duduk di tempat tidurnya, Anastasya langsung duduk mendekati Arum. Anastasya berusaha bersikap tenang walaupun sebenarnya dia merasa sangat takut.
"R-Rum.. aku nyerah, jangan temui aku lagi Rum," kata Anastasya pelan.
Arum langsung tertawa dan kemudian melihat kearah Anastasya, sontak Anastasya langsung bergeser menjauhi Arum. Arum langsung mendekati Anastasya dan mencekik lehernya lalu dia berkata "jangan pernah ikut campur! Mereka semua harus mati! Kalau kamu ikut campur, maka kamu juga akan mati!" Anastasya mulai sesak napas karena cekikan Arum begitu sangat kencang.
Anastasya mulai lemas, dia melihat kearah pintu dan dia tambah terkejut karena ternyata Arum sedang berdiri di belakang pintu, Arum terus menangis sambil mengatakan "Aku takut.. itu bukan salahku.. tolong aku..".
Anastasya langsung terbangun dengan napas yang tidak beraturan, Anastasya langsung pergi melihat ke cermin untuk memeriksa lehernya karena dia merasa lehernya sangat sakit, dan saat dia lihat ternyata terdapat memar ceplakan tangannya. Anastasya langsung pergi ke kamar neneknya dan memutuskan untuk tidur disana.
*****
Pagi ini, seorang selebgram di sekolahnya telah meninggal dunia. Orang yang sangat di idolakan karena sangat nge-hits dan juga wajahnya mirip seperti oppa-oppa korea telah pergi meninggalkan semua para penggemarnya yang ada di sekolah mau pun di dunia maya.
Tio Hendrana telah meninggal dunia, dia di temukan di kamar mandi. Saat ditemukan, terdapat beberapa luka memar lalu wajahnya di hias layaknya badut. Beberapa saksi di mintai keterangan atas insiden yang baru saja terjadi. Semuanya semakin lebih kacau, baru saja kemarin ada yang meninggal dan sekarang ada lagi.
"Kenapa sih dia jahat banget sama Arum? Gara-gara orang itu, semua orang menjadi takut banget sama Arum," batin Anastasya.
Anastasya ingin sekali menangis karena dia merasa tidak tega dengan Arum, tapi apalah daya Anastasya yang sekarang sudah menyerah untuk memecahkan kasus Arum. Dia percaya bahwa Arum bukanlah orang yang jahat, tetapi ada 1 hal yang menjadi tanda tanya untuknya.
"Yang mencekikku siapa?" batin Anastasya karena dia sangat yakin kalau itu bukan Arum.
Memang semua itu hanya mimpi, tetapi cekikan itu sangat nyata. Anastasya merasa yakin kalau sang pelaku sudah tahu kalau Anastasya ingin menggagalkan rencananya. Dia ingin sekali menceritakan hal ini kepada Fadhil karena hanya dialah yang dapat mengerti Anastasya.
Fadhil terus menjaga Anastasya dan menggenggam tangannya, tangan Anastasya sangat dingin dan Fadhil semakin takut dengan kondisi Anastasya saat ini. Setelah beberapa lama, suhu tubuh Anastasya menjadi sedikit lebih normal, Anastasya pun mulai tersadar. Mereka saling diam karena mereka mulai merasa canggung.
"Dhil, aku minta maaf karena kejadian semalam," kata Anastasya lirih.
"Udah sembuh kan? Yaudah gua balik ke kelas," kata Fadhil mengalihkan pembicaraan dan langsung pergi meninggalkan Anastasya.
Anastasya hanya bisa diam dan pasrah dengan semua yang dia alami, dia juga sama sekali tidak menghentikan Fadhil saat dia hendak pergi meninggalkannya karena dia tahu kalau semua itu hanya akan menjadi suasana lebih rumit.
Kondisi sekolah mereka semakin lama semakin sepi dan bahkan mereka mendapatkan ancaman bahwa sekolah itu akan bangkrut. Tragedi di sekolah mereka yang terus terjadi membuat beberapa diantara mereka merasa tertekan karena mereka takut dengan kematian. Segala cara mereka lakukan, namun tetap saja tidak memberikan efek apapun, kematian yang terjadi di sekolah terus saja bertambah meningkat.
"Gua capek sekolah disini! Banyak banget yang meninggal! Ini sekolah atau tempat tampungan pencabut nyawa sih?" gerutu penjaga UKS kepada temannya.
"Yaudah sih semua manusia pasti akan meninggal, masalah kayak gini tuh jangan diambil pusing," jawab temannya cuek.
Anastasya langsung bangun dan pergi ke kelasnya karena dia merasa tidak enak jika harus berlama-lama disana. Dia mempercepat langkahnya walaupun dia merasa kepalanya sangat sakit.
Di jam istirahat, dia memutuskan untuk tidak pergi ke kantin, dia takut akan bertemu Fadhil sedangkan Fadhil masih marah dengannya. 10 menit telah berlalu setelah bel istirahat, seseorang langsung meletakkan nasi dengan lauk ayam goreng dan minumnya yaitu teh hangat di meja Anastasya. Anastasya yang sedang tidur di dalam kelasnya langsung bangun dan dia kaget karena orang di hadapannya saat ini adalah Fadhil.
"Makan, biar nggak sakit," kata Fadhil dengan nada dingin.
"Kamu sejak kapan disini?" tanya Anastasya merasa senang.
"Udah cepat makan, piringnya mau gua balikin lagi ke kantin." Kata Fadhil tidak menjawab pertanyaan Anastasya.
Anastasya langsung menurutinya, dia langsung makan dengan lahap walaupun tidak habis. Fadhil terus memperhatikannya dan membuat Anastasya semakin gugup. Sudah 15 menit Fadhil menunggunya makan, akhirnya Anastasya selesai makan walaupun masih meninggalkan sisa. Tanpa berpamitan, Fadhil langsung pergi mengantarkan piring dan juga gelas ke kantin.
Anastasya merasa sangat senang karena Fadhil masih peduli dengan dirinya. Dia sangat kagum dengan Fadhil karena rasa kepeduliannya terhadap orang lain walaupun dia sedang marah dengan orang tersebut. Sementara itu, Fadhil terus berjalan sambil tersenyum sendiri karena dia senang sekali bisa berada di dekat Anastasya lagi walaupun mereka berdua saling canggung.
"Terima kasih ya Allah, engkau masih memberikanku kesempatan untuk bisa menjaganya," batinnya sambil tersenyum.
*****
Saat ini hubungan Arfan dan Vira menjadi lebih baik, Arfan terus berusaha untuk mempertahankan hubungannya dengan cara membuat Vira tambah nyaman. Mereka mulai membuat jadwal untuk menghabiskan waktu bersama ke tempat-tempat yang lebih menyenangkan. Arfan merasa senang karena dia bisa membuat Vira bahagia, dia tidak pernah berhenti bersyukur karena telah memiliki Vira.
"Ternyata benar ya, dari benci itu bisa menumbuhkan rasa cinta, benci dan cinta itu beda tipis," batin Arfan sambil tersenyum memandang Vira di kaca spion motornya.
"Ngapain lihatin aku terus?" tanya Vira sedikit menampilkan senyumannya.
"Aku heran aja, dulu aku benci banget sama kamu eh malah jadi cinta sama kamu," kata Arfan tersenyum.
Vira hanya diam tersenyum malu lalu dia memeluk Arfan dengan erat dari belakang dan pelukannya itu membuat Arfan menjadi lebih nyaman.
"Hati-hati! Cinta dapat membunuhmu!"
..._________________________________________...
...PENASARAN SAMA PART SELANJUTNYA?...
...BACA TERUS " A B C D " ...
...DAN JANGAN LUPA VOTE DAN JUGA SHARE YA.....
...OH YA KALAU ADA YANG PERLU DIKOMEN,KOMEN AJA KARENA ITU SANGAT BERGUNA UNTUK SAYA...