
...Happy Reading...
Namaku Arumi Cahya Nandita, nama panggilanku Arum. Aku bersekolah di Tri dharma senior high school. Aku murid kelas 11 IPA 1, tinggi badanku 154 dan berat badanku 65 kg. kulitku sebenarnya tidak hitam, namun kulitku berwarna Coklat kematangan. Aku merupakan murid yang minder dan tidak memiliki banyak teman. Temanku hanyalah Feira Andinita, dia temanku yang selalu memberikan aku dukungan untuk tetap semangat.
Hidupku memang sangat menyedihkan karena harus menjadi anak yang di bully satu sekolah. Terkadang, aku sampai mengumpat di kamar mandi jika lorong menuju kelasku telah terdapat anak-anak bullying tersebut. Aku merupakan murid yang cukup pandai karena aku selalu menjadi peringkat umum di Sekolah. Terkadang, mereka mendekatiku dan minta di kerjakan jika ada tugas dari Guru, jika aku menolak maka mereka akan menyiksaku dan mempermalukan aku di Sekolah. Entah sampai kapan aku akan terus menerus menjadi anak yang di bully, aku ingin sekali tidak di perlakukan seperti ini, aku ingin sekali bebas dari semua rasa sakit ini, namun semua hanyalah harapan dan belum tentu akan terwujud.
Aku berjalan menelusuri lorong sekolah, seluruh pasang mata telah memperhatikanku dengan tatapan yang sangat membuatku tidak nyaman, aku berjalan sambil menundukkan kepala dan berharap bahwa mereka untuk berhenti mengejekku. Namun harapanku tidak terkabulkan, mereka semua melontarkan kata-kata yang menyakiti hatiku.
“Woi gendut! Kapan lo kurus?” ujar salah satu anak sambil tertawa.
“Hahaha… Udah gendut, hitam lagi!” ujar anak lainnya yang ikut tertawa.
“Eh! Jangan dekat-dekat dia! Nanti ketularan buluk!” ujar salah satu murid perempuan sambil menarik temannya untuk menghindar dariku.
“Eh! Liat deh! Orang kayak gitu tuh ya gak pantas untuk hidup!” ujar salah satu teman perempuan tersebut dengan nadanya yang sinis.
Tiba-tiba tanganku di tarik oleh salah satu murid laki-laki dan aku di dekatkan dengan tempat sampah. Dia menarik tanganku dengan gayanya yang seakan-akan merasa jijik kepadaku.
“Lo sama tempat sampah aja masih bagusan tempat sampah! Lo itu lebih menjijikan dari sampah!” ujarnya dengan sinis dan kemudian dia tertawa.
Aku berjalan cepat dan menahan air mataku untuk tidak menetes di pipiku, mereka sangat menyakitiku, namun aku harus berusaha tetap tegar sampai kapanpun. Seperti tadi yang kalian lihat begitulah Hinaan mereka, aku memang telah dianggap seperti sampah oleh mereka, terkadang sangat terasa sakit ketika diperlakukan seperti itu.
“Rum? Lo kenapa nangis? Pasti karena mereka ya?” tanya Vira sambil melihat mataku yang telah berkaca-kaca.
“Nggak kok, aku nggak nangis.” jawabku dengan memaksa sudut bibirku sedikit terangkat walaupun sangat kaku.
“Mereka itu maunya apa sih? Kenapa mereka selalu bully lo?” tanya Vira dengan nada emosinya.
“Vir, udahlah biarin aja.” jawabku berusaha membuat Vira tenang.
“Lo itu pintar! Tapi kenapa lo mau aja dibodoh-bodohi sama mereka? Lo itu nggak pantas untuk di tindas, Rum! Sadar! Mereka terlalu menginjak-injak harga diri lo!” jawab Vira nada tinggi.
“yaudah biarin aja, aku gak marah kok walaupun selama ini aku di anggap seperti makhluk yang menjijikan, tapi aku nggak marah sama mereka.”
“jangan mau di rendahin oleh mereka yang berakal dangkal.”
Aku hanya diam dan tak ingin melanjutkan perdebatan ini lagi. Vira memanglah orang yang sedikit kasar, pemarah, dan juga tomboy. Memiliki tubuh yang ideal, tinggi badan 164 cm, berat badan 50 kg, berkulit putih, hidung mancung, mata yang indah, bibir tipisnya berwarna pink, pipinya yang tirus, dan rambut ikal berwarna hitam yang di ikat seperti kuncir kuda ini telah menjadi anak yang sukai oleh para siswa. Dia tak terbiasa hidup layaknya seperti cewek-cewek feminim pada umumnya, dia hanya hidup apa adanya tanpa memakai make up apapun. Dia anak yang berani, tangguh, dan selalu memiliki tujuan. Lengan yang di gulung hingga 2 lipatan sedang, dan termasuk orang yang dingin.
Berbeda denganku, aku hanyalah siswi yang gendut, hitam, dan juga pendek. Tiada hari sekolah yang terhenti untuk mengejekku. Seburuk itukah diriku hingga harus di hina dan di anggap menjijikan? Aku ingin seperti mereka, bercanda dan tertawa bersama tanpa harus saling membenci. Rasa takut ini terus menggangguku tanpa henti, air mata yang terus mengalir deras seperti air terjun juga terus mengalir, sampai kapankah aku harus di perlakukan seperti ini? Seandainya Aku bisa memiliki rasa dendam kepada mereka, pasti Aku akan membalasnya, namun dendam tak pernah ada dalam diriku, Ibu selalu mengajarkan bahwa kita tidak boleh memiliki rasa dendam terhadap siapapun, walaupun mereka telah menyakiti kita namun kita tidak boleh membalasnya.
Ku ambil buku Biologi dan mulai membacanya, aku mulai membaca materi untuk hari ini, sesekali ku lirik Vira yang saat ini wajahnya seperti sedang marah, namun aku sama sekali tidak meresponnya karena aku takut menjadi pelampiasan dari amarahnya Vira. Walaupun dia cantik, tapi dia juga sangat ganas, dia akan menghajar siapapun yang telah mencari gara-gara kepadanya. Sekarang aku mengerti bahwa Vira saat ini masih marah dengan Arfan.
Arfan merupakan ketua dari kumpulan anak-anak bullying. Dia adalah penyebab dari semua tindakan-tindakan bully kepada mereka terutama kepadaku. Dapat diakui bahwa Arfan Adi Wijaya, atau dengan panggilan akrabnya adalah Arfan, anak yang memiliki wajah yang tampan, tinggi 175 cm, berat badan 60 kg, kulit yang putih, matanya yang menggoda, bibir yang tipis, wajah yang tegas, hidung yang mancung, tubuh yang berisi namun ideal.
Dia merupakan anak orang kaya, seluruh keinginannya akan terpenuhi dengan sekejap, sifatnya yang arogan, keras kepala, dan juga dingin. Arfan merupakan ketua dari tim basket, dia juga anak yang paling famous dan menjadi idola semua siswi di Sekolah. Semua orang mudah terpengaruhi olehnya dan mereka ikut membully anak-anak yang menurutnya buruk fisik dan juga bodoh.
Vira berjalan menuju keluar Kelas dengan tergesah-gesah, aku hanya diam dan mengabaikan Vira. Beberapa lama kemudian, suara orang-orang mulai berisik, namun aku hanya mengabaikan dan fokus membaca. Namun semua itu telah mengganggunya karena suara semakin keras, suara rusuh semakin terdengar kencang. Karena aku penasaran, aku akhirnya pergi keluar dan mencari tempat yang sedang rusuh. Aku terkejut karena melihat Vira terlibat perkelahian kembali, kali ini lawannya adalah Arfan, semua orang asyik menonton perkelahian mereka dan justru mereka memberikan dukungan yang berbeda. Sebagian mendukung Arfan dan sebagiannya lagi mendukung Vira.
“Maksud lo apa selalu menginjak harga diri Arum hah!” bentak Vira kepada Arfan.
“Teman lo itu buruk rupa! Makanya dia itu pantas untuk di hina!” kata Arfan membalas bentakan Vira.
Pertarungan menjadi sangat sengit, Vira menarik kerah baju Arfan dan mulai meluncurkan tonjokannya ke mata Arfan. Arfan membalasnya dengan menampar Vira namun dapat di tanggis oleh Vira dan justru jari telunjuk Arfan di patahkan oleh Vira. Arfan meringis kesakitan dan membuatnya menjadi marah.
Dia menonjok hidung Vira dan menyebabkan hidungnya berdarah, namun Vira sama sekali tidak merasa kesakitan dan dia menjonjok perut Arfan dengan pukulan yang bertumbukkan. Vira menendang kepala Arfan dengan menggunakan kaki kanannya namun berhasil di tangkis oleh Arfan. Arfan menahan kaki Vira dan hampir membanting Vira, namun Vira melayangkan tubuhnya dengan mengangkat kaki kirinya dan menendang ******** Arfan dan membuatnya semakin meringis kesakitan. Aku terdiam melihat kejadian itu karena tiba-tiba saja aku semakin takut dengan Arfan.
“Bagaimana setelah kejadian ini justru membuat Arfan menjadi lebih senang mengejekku?” batinku yang merasa ketakutan.
Aku semakin bingung harus melakukan apa, perasaan tercampur aduk dan mengganggu pikirannya. Tiba-tiba saja pak Hasan menghampiri tempat keributan itu, pak Hasan membawa Vira dan Arfan yang telah babak belur. Seluruh penoton merasa kecewa karena kehadiran pak Hasan yang membuat pertarungan sengit ini berakhir.
Aku merasa senang karena pak Hasan datang dan membuat mereka berhenti bertengkar, namun aku merasa kasihan kepada Vira karena dia harus masuk keruang BK akibat berkelahi dengan Arfan mengenai aku. Vira memang sudah sering memasuki ruang BK dengan kasus perkelahian dengan cowok. Guru BK saja sampai merasa bosan menghadapi kasus-kasus Vira.
“Vira.. Vira, kamu itu cewek tapi kenapa buat kasus terus sih? Kamu itu buat bapak pusing saja.” ujar pak Hasan sambil memegang keningnya.
“Itulah tugasnya guru BK,” jawab Vira dengan santai.
“Maksud kamu apa?” tanya pak Hasan sambil mengkerutkan keningnya.
“Bapak itu guru BK, dan harus menangani kasus-kasus yang berada pada murid-murid Bapak, kalo gak ada yang buat kasus lagi sama aja bapak itu makan gaji buta.” jawab Vira dengan tenang.
Brukkk…
Pak Hasan menggebrak meja dan membuat Arfan dan juga Vira menjadi tersentak, namun tetap saja Vira memberikan sikap seperti tidak peduli dengan kemarahan pak Hasan.
“Maksud kamu apa ngomong kayak begitu?” jawab pak Hasan dengan nada tingginya.
“Perlu di jelasin?” tanya Vira acuh tak acuh.
Pak Hasan diam sejenak dan berusaha untuk mengontrol emosinya dan berkata “Kamu dan Arfan saya hukum membersihkan lapangan, dan kalian juga saya kasih skors 1 minggu, nanti saya akan memberikan surat panggilan orang tua untuk memanggil orang tua kalian, besok orang tua kalian wajib datang ke sekolah.” jawab pak Hasan dan kemudian pergi keluar ruangan.
Arfan tersentak karena baru kali ini dia mendapatkan kasus perkelahian dan harus di skors 1 Minggu. Berbeda dengan Vira, dia hanya cuek bebek dan tak ada rasa takut dengan hukuman tersebut karena baginya hukuman tersebut adalah hal yang biasa.
“Gara-gara lo! Baru kali ini Gue berurusan dengan cewek gila kayak lo!” ujar Arfan dengan nada tingginya.
“Lebay lo! 1 minggu doang, anggap aja lagi liburan.” jawab Vira dengan cuek.
“Emang gila ya lo.” jawab Arfan semakin kesal dan dia pergi meninggalkan Vira.
Mereka pergi menuju Taman Sekolah dan mulai membersihkan taman Sekolah. Arfan menyapu taman sementara Vira hanya duduk di bangku taman sambil mendengarkan musik. Arfan sangat dongkol dengan Vira, dia ingin sekali menghajar Vira, namun niatnya di urungkan karena dia tidak ingin membuat hukumannya menjadi bertambah. Dia terus menyapu dan membiarkan Vira duduk santai di sana.
..._________________________________________...
...PENASARAN SAMA PART SELANJUTNYA?...
... ...
...BACA TERUS " A B C D " ...
...DAN JANGAN LUPA VOTE DAN JUGA SHARE YA.....
...OH YA KALAU ADA YANG PERLU DIKOMEN,KOMEN AJA KARENA ITU SANGAT BERGUNA UNTUK SAYA...