ANTARA BENCI,CINTA DAN DENDAM (COMPLETE)

ANTARA BENCI,CINTA DAN DENDAM (COMPLETE)
12.Anatasyah


...Happy Reading...


Kematian kembali terjadi, kematian kali ini membuat satu sekolah menjadi sangat ketakutan. Pasalnya, mayat Farel telah di temukan di balik pintu kelasnya. Dia menggantung dengan wajah yang penuh darah, terdapat luka-luka seperti luka bakar di wajahnya.


Dendamku masih belum terbalaskan..


Surat itu kembali yang berada di setiap kematian anak-anak di sekolah ini. Mereka tidak menyangka bahwa Arum telah membunuh Farel dengan cara yang kejam.


“Gua muak! Sampai kapan semua ini hah!” kata Wahyu dengan amarah yang sudah menggebu-gebu.


“Lo bisa jaga sikap nggak sih! Nggak usah marah-marah nggak jelas kayak gitu!” bentak Arfan.


“Gua udah capek sama kasus balas dendamnya si Arum, Fan!” kata Wahyu membalas bentakan Arfan.


“Kita semua juga capek! Tapi mau gimana lagi hah!” kata Arfan yang masih membentak Wahyu.


“Ini semua salah lo! Seandainya lo nggak buat anak-anak di sekolah untuk membully Arum, semuanya nggak akan menjadi seperti ini!” kata Bayu dengan tatapan sinisnya.


“Maksud lo apa!” kata Arfan yang merasa tidak senang sambil mendorong pundak Bayu.


“Udah stop!” kata Vira menghentikan perdebatan mereka.


Perdebatan mulai berhenti, suasana menjadi hening walaupun terdengar beberapa orang sedang berbisik-bisik membicarakan masalah ini. Tidak lama kemudian, Arfan pergi meninggalkan mereka semua. Mereka saling menatap tanpa berkata, namun raut wajah mereka telah memberikan sebuah arti bahwa mereka mulai pasrah dengan kematian yang terus terjadi karena Arum.


“Semua ini terjadi bukan karena Arum,” kata Anastasya dengan tatapan misterius.


“Maksud lo apa?” tanya Vira jutek.


Anastasya tidak menjawab Vira, namun dia terus menatap mata Vira dengan tajam. Vira langsung pergi dan disusul oleh Fadhil.


“Vir!” panggil Fadhil dengan suara yang kencang sambil berlari mengejar Vira.


Vira berhenti dan menoleh kebelakang. Dia melihat Fadhil sedang berlari mendekati dirinya.


“Ke Perpustaan yuk,” ajak Fadhil kemudian dia mengatur napasnya.


“Hm…Ok,” kata Vira sambil mengangkat kedua alisnya.


Mereka berjalan menuju perpustakaan bersama-sama. Sesampainya di Perpustakaan, mereka langsung mencari buku kesukaan mereka. Vira mendapati buku novel berjudul ‘Reina & Rasya’.


Fadhil terus menatap Vira yang sedang membaca bukunya. Fadhil merasa senang karena dia bisa memperbaiki hubungan persahabatannya yang dulu sempat hancur karena dia.


“Vir,” kata Fadhil dengan nada pelan.


“Hm,” jawab Vira dengan mata yang masih fokus dengan novelnya.


“Gua boleh nanya nggak?” kata Fadhil sedikit mwngangkat kedua alisnya.


“Iya,” jawab Vira singkat.


“Arum itu… orangnya gimana sih?” tanya Fadhil sedikit ragu.


Vira terdiam dan kemudian dia menutup buku novel yang dibacanya, dia langsung menatap Fadhil dengan tajam.


“Jadi ini tujuan lo ngajakin gua kesini?” kata Vira tajam.


“Bukannya gitu Vir, gua hanya mau tau aja tentang si Arum,” penjelasan Fadhil dengan harapan bahwa Vira tidak salah paham dengannya.


“Udah deh, gua mau pergi,” kata Vira jutek.


Vira langsung pergi dari perpustakaan dan meninggalkan Fadhil. Fadhil merasa tidak enak dengan Vira lantaran dia telah memberikan pertanyaan mengenai Arum. Dalam situasi seperti ini, seharusnya pertanyaan seperti itu jangan diberikan karena itu hanya akan membuat suasana semakin kacau.


*****


Saat ini Arfan berada di toilet, dia terus saja diam dan merenungi perbuatannya dimasa lalu. Dia merasa bahwa Arum memang menginginkan nyawanya, dia ingin Arfan bertanggung jawab atas perbuatannya.


“Lo memang payah Fan, lo itu bodoh,” kata Arfan menghina dirinya sendiri.


Arfan merasa sangat bersalah karena dia telah membuat teman-temannya kehilangan nyawanya. Dia terus saja menunduk dan kemudian dia menyalakan kran di wastafle dan membasuh wajahnya. Saat dia melihat kearah cermin, dia melihat bahwa Arum sedang berdiri disudut toilet.


Bukan aku Fan…


Arfan langsung mundur kebelakang dan menabrakkan tubuhnya di tembok. Napasnya mulai sesak, degup jantungnya berdetak sangat cepat. Dia langsung berlari keluar dari kamar mandi dengan kaki yang gemetar. Arfan terus berlari hingga tanpa dia sadari bahwa dia telah menabrak Anastasya. Arfan masih gemetar, namun Anastasya hanya diam sambil menatap wajah Arfan.


“Ng-ngapain lo liatin gua kayak gitu?” tanya Arfan masih gemetar.


Anastasya hanya diam dan kemudian dia mengalihkan pandangannya. Arfan langsung lewat samping Anastasya, namun Anastasya langsung memegang lengan Arfan dengan erat. Arfan langsung berhenti menatap lengannya dan kemudian dia menatap Anastasya.


“Dia datang memberikan sebuah pesan, dia datang bukan untuk hal yang tidak penting,” kata Anastasya dengan tatapan tajam.


“Maksudnya?” tanya Arfan namun Anastasya hanya diam kemudian dia melepas tangannya dan pergi menunduk meninggalkan Arfan.


Arfan masih saja diam di tempatnya, dia masih memikirkan perkataan Anastasya yang sepertinya dia telah menyembunyikan sesuatu.


“Kayaknya anak baru itu tau sesuatu deh,” batinnya sambil mengerutkan keningnya.


Arfan langsung berjalan menuju kelasnya, sedangkan Anastasya yang sejak tadi bersembunyi dibalik belokkan lorong, dia langsung menunjukkan dirinya dan menatap kepergian Arfan lalu dia melanjutkan perjalanannya kembali menuju perpustakaan.


*****


Anastasya mengambil beberapa buku, dia langsung mengambil tempat dan membaca bukunya. Dia melihat Fadhil sedang membaca bukunya. Anastasya langsung mendekati Fadhil dan duduk di depan Fadhil.


“Hai, kamu Fadhil ya?” tanya Anastasya ramah.


“Hai juga, iya saya Fadhil ada apa ya?” jawabnya yang juga ramah.


“Perkenalkan, namaku Anastasya Febiana, aku murid baru disini, aku pindahan dari Bali,” kata Anastasya memperkenalkan dirinya sambil memberikan tangannya untuk berjabat tangan dengan Fadhil.


“Oh.. lo murid baru, pantesan gua nggak pernah lihat lo disini, gua harus manggil lo apa nih?” kata Fadhil yang juga berjabat tangan dengan Anastasya dan kemudian mereka melepas tangan mereka.


“Tasya,” kata Anastasya sambil menunjukkan senyum manisnya.


“Kalau gua manggil lo Ica boleh kan?” tanya Fadhil.


Anastasya hanya mengangguk, Fadhil kembali membaca bukunya. Anastasya diam menatap Fadhil, banyak sekali pertanyaan yang ingin dia ajukan kepada Fadhil, namun dia tetap bungkam dan terlihat sedikit gelisah.



Fadhil melirik kearah Anastasya, dia sadar bahwa sejak tadi Anastasya memperhatikannya namun seperti ada sesuatu yang ingin dia sampaikan “Ada apa? Sejak tadi lo diam sambil lihatin gua, apa.. ada yang salah sama gua?” tanya Fadhil sambil menutup bukunya namun tatapannya mengarah kepada Anastasya.


“Arum… sudah berapa lama menjadi anak bullying?” tanya Anastasya.


Fadhil mengangkat kedua alisnya “Oh.. kata orang-orang sih sejak dia masih SD,” pernyataan Fadhil membuat Anastasya sedikit iba dengan Arum.


“Terus.. kenapa dia bisa bunuh diri? Dimana dia bunuh diri?” tanya Anastasya semakin penasaran dengan Arum.


“Lo mau tau emang gunanya buat apa? Maaf, gua harus pergi ke kelas,” pamit Fadhil yang terlihat sekali bahwa dia merasa tidak nyaman di introgasi oleh Anastasya.


Anastasya merasa sedikit kesal dengan dirinya karena terlalu gegabah dalam bertanya, dia langsung pergi meninggalkan perpustakaan. Dia berjalan melewati lorong sekolah, dia merasakan bahwa hawa disana sangat tidak enak. Dia duduk di atas lantai keramik, dia mulai memejamkan mata dan merasakan hawa disana.


Dia mulai mengkerutkan keningnya ketika melihat kejadian yang sedang dia lihat di dalam penerawangannya, dia melihat seorang anak yang sedang di bully dengan cara yang tidak wajar, napasnya mulai sesak dan dia langsung membuka kedua matanya. Dia tersentak hebat saat melihat kedua kaki yang melayang di depannya, dia menutup wajahnya dengan ketakutan. Selang beberapa lama, dia membuka wajahnya dan melihat bahwa di hadapannya tidak ada apa-apa.


Anastasya langsung berdiri dan berjalan menuju kelasnya, dia jalan terburu-buru karena dia masih syok dengan kejadian tadi. Saat di dalam kelas, dia tidak fokus belajar karena dia masih memikirkan tentang Arum, dia ingin mencari tahu kebenaran tentang Arum hingga dia merasa puas. Anastasya telah bertekad bahwa dia tidak akan bertanya atau memberitahu kepada siapapun supaya posisinya tetap aman.


“Pokoknya aku harus tau kebenaran dari penyebab kejadian-kejadian yang dialami oleh sekolah ini,” batin Anastasya dengan tekad yang membulat “Walaupun aku sudah tau beberapa tentang Arum, tapi tetap saja aku harus memastikan kebenarannya lebih dulu,” sambungnya kembali.


..._________________________________________...


...PENASARAN SAMA PART SELANJUTNYA?...


...BACA TERUS " A B C D " ...


...DAN JANGAN LUPA VOTE DAN JUGA SHARE YA.....


...OH YA KALAU ADA YANG PERLU DIKOMEN,KOMEN AJA KARENA ITU SANGAT BERGUNA UNTUK SAYA...