
...Happy Reading...
Malam ini, Arfan mengajak Vira untuk makan malam di luar. Arfan menjemput Vira dengan mobilnya berwarna hitam. Pakaian Arfan sangat rapih, dia menggunakan celana jeans panjang dan kaos putih polos dilapisi dengan kemeja berwarna army. Vira keluar dari dalam rumahnya dengan pakaian yang sederhana, yaitu celana levis dan kaos pendek polos berwarna hitam.
Arfan langsung membuka kan pintu mobil untuk Vira, kemudian dia langsung pergi ketempatnya dan masuk kedalam mobil. Arfan menyalakan mobilnya dan mengendarai mobilnya dengan kecepatan normal. Sesekali Arfan melirik Vira, dia merasa kagum dengan pakaian Vira yang sesederhana ini masih bisa menjaga kecantikannya. Vira sadar bahwa sejak tadi Arfan melirik kearahnya, Vira tetap diam dan menyibukan diri dengan cara memainkan game diponselnya.
"Kamu ngapain lihatin aku sampai segitunya? Kamu nggak mau macam-macam kan sama aku?" kata Vira santai dengan mata yang masih fokus dengan gamenya.
"Hem.. aku kagum hanya sama kamu," kata Arfan kembali memfokuskan matanya ke depan.
"Kagum? Apa yang buat kamu kagum sama aku?" tanya Vira sambil mengangkat kedua alisnya.
"Ya.. penampilan kamu itu sangat sederhana, tapi kecantikan kamu menjadi pelengkap dari kesederhanaan diri kamu," gombal Arfan kemudian tersenyum manis.
"Gombalnya bisa banget deh," kata Vira seraya tertawa kecil.
Arfan kembali menatap Vira dan kemudian matanya fokus kedepan kembali. Arfan menghentikan mobilnya di sebuah kafe yang cukup besar namun terlihat kekinian. Mereka masuk kedalam kafe, mereka mengambil tempat duduk di nomor 4. Suasana kafe lumayan ramai sehingga mereka menjadi tidak canggung saat berbicara berdua.
"Gimana? Suka nggak sama tempatnya?" tanya Arfan santai sambil tersenyum kepada Vira.
"Suka, tempatnya menarik," jawab Vira membalas senyuman Arfan.
Arfan mulai memesan beberapa makanan dan juga minuman. Setelah memesan, mereka menunggu pesanan mereka yang sedang dibuat. Mereka mulai berbincang-bincang banyak hal.
Setelah selesai makan, Vira langsung mengajaknya pulang karena sudah larut malam. Dengan terpaksa, Arfan pun mengantarkan Vira pulang ke rumahnya. Setelah mengantar Vira pulang, Arfan langsung kembali ke rumahnya. Dia merasa sangat senang karena setidaknya dia bisa kencan kembali dengan Arum walaupun hanya sebentar.
*****
Tap tap tap...
Suara langkah kaki yang terdengar sangat jelas sedang melangkah menuju sebuah ruangan. Dia mulai membuka pintu dan terlihat seseorang berada di dalam sana, orang itu terlihat lemah tak berdaya, tangannya diikat kebelakang, kakinya terikat, dan tubuhnya juga terikat di bangku itu. Dia menatap orang yang berada di depan pintu, dia merasa putus asa dan merasa menyesalinya atas kesalahannya dulu.
"Rum... gua minta maaf Rum, gua mohon lepasin gua," kata orang tersebut dengan penuh harapan.
"Hey.. jangan begitu, aku ini ingin membantumu. Aku akan membantumu untuk berhenti berbuat dosa dengan cara membunuhmu," katanya kemudian tertawa licik.
Dia berusaha melepaskan ikatan itu, namun usahanya tidak membuahkan hasil. Perempuan yang disebut-sebut Arum itu mendekati orang yang terikat dibangku itu, orang itu menatap perempuan itu dengan tatapan putus asa.
"Kamu kenapa? Sakit? Dibagian mananya? Disini kah?" kata Arum itu sambil menancapkan besi yang sangat panas kedahi orang tersebut.
Arghh...
Sakit....
Teriak orang itu kesakitan, namun Arum hanya tertawa dan tidak memperdulikan jeritan orang tersebut.
Dia menangis sambil menahan rasa sakit didahinya yang telah terdapat luka tancap dari Arum. Darahnya terus mengalir bercampuran dengan air matanya membasahi wajahnya.
"Kenapa nangis? Duh jangan nangis dong, aku sedih banget kalau lihat orang yang nangis," kata Arum sambil mengelap air mata orang itu dengan besi yang lancip dan juga sangat panas.
Orang itu menjerit kesakitan kembali, Arum telah memberikan sebuah bekas luka yang sedikit melengkung di bawah kedua mata orang itu. Dia terus menangis, dia tidak dapat menahan rasa sakit akibat luka di wajahnya.
"Berisik!" bentak Arum dan membuat orang itu mengecilkan suara tangisannya.
Arum mulai mengontol dirinya, dia langsung berdiri dan membalik tubuhnya lalu berjalan membelakangi orang itu.
"Apakah kamu tahu? Aku udah bosan banget kalau membalas semua dendam ini hanya dengan menggantung tanpa penyiksaan, dan aku ini membuat invovasi lebih baru lagi," kata Arum membuat orang itu semakin takut dan gemetar.
Arum membalikkan tubuhnya kembali lalu berjalan menghampiri orang itu yang masih duduk disana. Dia mulai memberikan senyuman liciknya sambil menatap lawannya yang sudah lemah tak berdaya.
"Kamu tau nggak? Lihat kamu kayak gini tuh aku jadi ingat saat kalian bully aku pada saat pulang sekolah, kalian menghajarku hingga aku menjadi lemah seperti orang yang sudah tidak berdaya lagi, dan sekarang semua itu terjadi sama kamu. Hukum alam memang benar adanya," katanya dengan penuh bahagia.
"Rum... maafin gua Rum, gua mohon.." katanya lirih.
"Telat! Sekarang aku udah bunuh diri dan semua itu gara-gara kalian!" bentak Arum. "Aku udah mati, seharusnya kalian mnta maaf sebelum aku mati, aku tidak ingin balas dendam dengan kalian, tapi aku juga nggak mau membiarkan kalian bahagia karena kalian juga telah merusak kebahagiaanku," sambungnya dengan nada tinggi dan gemetar.
"Rum.. gua minta maaf sama lo, dan gua pengen banget lo tenang di alam sana.. lo harus bisa ikhlas Rum.." kata orang itu lirih.
"Gua nggak akan tenang kalau kalian semua belum mati!" bentaknya sambil memberikan luka di leher orang itu menggunakan besi panasnya.
Arum terus menyiksa orang itu dengan cara memberikan luka garis-garis dari besi panas itu. Orang itu terus menjerit kesakitan hingga membuat arum menjadi tidak tahan. Arum langsung menancapkan besi panas ke bagian jantung orang itu dan membuatnya menjadi meninggal dunia.
"Mata dibalas dengan mata, tangan dibalas dengan tangan, dan nyawa dib alas dengan nyawa." Kata si pelaku menampilkan senyum liciknya.
Arum langsung membawa mayat orang tersebut kesebuah ruangan yang menurutnya sangat pas. Dia sudah menemukan satu ruangan yang sangat pas, dia langsung menggantungkan korbannya sambil bernyanyi dengan sangat gembira. Dia langsung memasukkan surat tersebut di dalam saku baju korban dengan isi yang sama dan tulisannya pun juga sama. Setelah selesai, Arum pun pergi menghilang dari tempat itu dan dia menghilang tanpa meninggalkan jejak.
"Biarkan aku bahagia, maka aku tidak akan merusak kebahagiaan kalian"
-Arumi Cahya Nandita-
..._________________________________________...
...PENASARAN SAMA PART SELANJUTNYA?...
...BACA TERUS " A B C D " ...
...DAN JANGAN LUPA VOTE DAN JUGA SHARE YA.....
...OH YA KALAU ADA YANG PERLU DIKOMEN,KOMEN AJA KARENA ITU SANGAT BERGUNA UNTUK SAYA...