ANTARA BENCI,CINTA DAN DENDAM (COMPLETE)

ANTARA BENCI,CINTA DAN DENDAM (COMPLETE)
15.Teka-Teki Arum


...happy Reading...


Anastasya tebangun dari tidurnya karena mendengar suara ketukan pintu ruangannya begitu keras sekali. Saat dia melihat kearah pintu, ternyata dia melihat Arum sudah berada di depan pintu kamarnya dan pintu kamarnya pun sudah dalam posisi terbuka. Arum berjalan meninggalkan ruangan Anastasya, Anastasya mulai merasa heran dan tanpa berpikir panjang dia langsung mengikutinya.


Saat dia keluar dari pintu ruangannya, dia terkejut karena yang dia lihat saat ini adalah mayat-mayat semua korban yang sudah meninggal di sekolah oleh ulah Arum. Beberapa diantara mereka yang masih hidup juga terus menjerit meminta tolong kepada Anastasya. Anastasya panik, gemetar, ketakutan ketika melihat semua penyiksaan itu terjadi.


Matanya langsung melihat kearah orang yang sedang Arum siksa yaitu Daniel. Arum melepaskan semua kulit dari seluruh tubuh Daniel mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki dan lebih parahnya lagi Daniel masih dalam keadaan hidup. Daniel terus berteriak kesakitan namun Arum tertawa dengan puas. Perlahan Daniel pun meninggal dengan tubuh tanpa kain sehelai pun dan kulit yang sudah lepas dari tubuhnya. Daging merah penuh dengan darah, Arum langsung menyeretnya dan membawanya kesebuah ruangan lalu Arum mulai menggantungnya dan meletakkan sebuah surat di atas meja dekat dengan keberadaan Daniel di gantung.


Kemudian matanya langsung melihat kearah Arfan, Arfan terlihat sedang berjalan tak berdaya, di wajah Arfan terlihat air mata yang terus membasahi pipinya namun dia melihat kearah Anastasya sambil tersenyum kemudian dia berkata “terima kasih Nas, gua memang pantas mendapatkan hukuman,” perkataan Arfan membuat Anastasya menjadi tidak tega dengannya.


Dor dor dor dor..


Sebuah pistol melontarkan pelurunya kearah jantung dan juga kepala Arfan, dia langsung tergeletak dilantai bersimbah darah. Setelah melihat Arfan, matanya kini melihat kearah Vira, kini dia membunuh dirinya sendiri dengan sebuah pisau, dia terus menusukkannya berkali-kali kemudian Vira mati tergeletak disana. Anastasya semakin tidak mengerti karena dalam satu waktu dia telah melihat semua kejadian itu namun hanya Fadhil yang sama sekali belum dia temui.


Anastasya hanya diam membeku melihat semua kejadian mengerikan itu, bibirnya tak mampu mengeluarkan kata-kata dan kakinya pun sulit digerakan karena dia terus merasa ketakutan. Kepalannya semakin pusing, napasnya semakin sesak karena Arum mulai berjalan mendekatinya. Jaraknya dengan Arum kini begitu dekat, kemudian Arum berkata “Jangan ikut campur, aku tidak ingin kamu celaka,” Rasa takutnya kini berubah menjadi penasaran, Arum langsung pergi meninggalkan Anastasya sendirian.


“Arum!” Anastasya teriak sambil membuka matanya, ternyata semua itu hanyalah mimpi yang terlihat seperti kenyataan.


“Ca? Lo baik-baik aja kan? Ada apa dengan Arum?” tanya Fadhil cemas.


“Ng-nggak kenapa-kenapa, sejak kapan kamu disini? Kamu nggak pulang? Ini udah larut malam loh, aku kira.. kamu sudah pulang,” tanya Anastasya.


“Gua nggak tega tinggalin lo sendirian disini, orang tua lo nggak bisa jaga lo di rumah sakit untuk saat ini, daripada lo kenapa-kenapa ya lebih baik gua yang disini,” jawab Fadhil.


Anastasya hanya diam, Fadhil langsung memberikan air minum untuk Anastasya dan kemudian menyuruh Anastasya tidur kembali. Setelah Anastasya tidur, Fadhil berjalan menuju sofa dan kemudian dia tidur kembali.


*****


Sudah beberapa minggu ini Anastasya dirawat di rumah sakit dan hari ini adalah hari terakhirnya di rumah sakit. Fadhil menjemput Anastasya dengan mobilnya padahal hari ini adalah hari sekolah tetapi dia memilih bolos sekolah hanya untuk menjemputnya. Sempat terpikir dalam pikiran Anastasya kalau Fadhil tertarik dengannya namun dia selalu berusaha menolak pemikiran seperti itu dan beranggapan bahwa ini semua hanyalah sebuah rasa kepedulian Fadhil sebagai sahabatnya


Mereka hanya diam dan keheningan terus terjadi disepanjang jalan. Saat Fadhil sedang fokus menyetir, tiba-tiba saja dia membanting stir mobilnya ke kiri dan dan langsung mengambil rem secara mendadak. Hampir saja mereka menabrak pembatas jalan, Fadhil mematung masih syok karena nyawanya dan juga nyawa Anastasya hampir terancam.


“Kamu bisa nggak sih bawa mobil? Hampir aja kita-“


“Arum, tadi Arum berdiri di depan mobil Ca,” kata Fadhil memotong perkataan Anastasya.


Anastasya diam tidak menanggapi Fadhil, pasalnya dia sama sekali tidak melihat siapapun terutama Arum berdiri di depan sebelum kejadian ini. Anastasya semakin tidak nyaman namun dia yakin bahwa Arum pasti ingin Anastasya menyelesaikan masalah Arum. Fadhil kembali menyetir mobilnya walaupun dia masih gemetar dan jantungnya masih berdetak lumayan cepat walaupun sudah tidak secepat tadi.


Mereka telah sampai di rumah Anastasya, Fadhil langsung membantu Anastasya masuk kedalam rumahnya. Anastasya terus memperhatikan jendela kamarnya yang sudah diganti dengan yang baru. Dia masih ingat sekali detik-detik dia jatuh dari sana, dia masih ingat saat Arum telah mencelakakan dirinya.


Saat sudah sampai di ruang tamu, Fadhil mendapatkan telpon dari teman kelasnya yaitu Tiara.


“Hallo, ada apa Ra?” kata Fadhil yang saat ini sedang telponan dengan Tiara.


Suara telpon Fadhil sangat keras sekali jadi Anastasya yang saat ini sedang duduk di sebelahnya bisa mendengar percakapanya dengan Tiara. Fadhil melihat Anastasya yang sejak tadi memperhatikannya, dia langsung mengaktifkan suara speaker dan membiarkan Anastsya mendengarkannya.


“Dhil, Daniel meninggal! Dia dibunuh sama Arum!” kata Tiara sambil menangis histeris.


Fadhil membelalakkan matanya, mematung, dan tidak percaya jika sahabatnya yang selama ini selalu bersikap baik dengan semua orang pun juga dibunuh. Daniel merupakan ketua kelas di kelasnya, Daniel orang yang aktif dan juga pendiam, dia juga sama sekali tidak pernah ikut-ikutan membully Arum.


“Kenapa bisa meninggal hah! Gua nggak terima kalau Daniel dibunuh!” bentak Fadhil yang sudah tidak bisa menahan emosinya dan kemudian dia menangis.


“Kondisi dia gimana?” tanya Fadhil gemetar.


“Kulitnya lepas dari tubuhnya, hanya daging dan darah kering. Kulitnya lepas semua dari ujung kepala hingga ujung kaki, keadaannya benar-benar mengenaskan,” penjelasan Tiara sungguh membuat Fadhil semakin menangis namun tidak dengan Anastasya.


Anastasya mematung karena dia teringat dengan mimpinya, yang terjadi dengan Daniel sama persis dengan yang ada di mimpinya. Dia masih sedikit tidak percaya jika semua itu menjadi kenyataan.


Fadhil pamit kepada Anastasya bahwa dia harus pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan Daniel saat ini. Fadhil mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh dan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.


Anastasya masih terdiam dan kemudian dia mengingat kembali mimpinya yang beberapa hari lalu, dia teringat pesan dari Arum bahwa dirinya harus berhenti untuk mengetahui tentang Arum. Anastasya mulai memantapkan hatinya bahwa dia tidak akan membantu siapa pun yang berhubungan dengan Arum lagi.


*****


Sesampainya Fadhil di rumah sakit, Fadhil langsung mencari ruang autopsi Daniel. Setelah menemukan ruangannya, disana terdapat beberapa temannya dan juga orang tua dari Daniel, beberapa temannya memberikan support kepada Fadhil supaya dirinya tetap tegar. Setelah beberpa lama jasad Daniel di autopsi, sama sekali tidak ditemukannya jejak sang pelaku.


Jasad Daniel akan dipindahkan ke ruang mayat, namun saat jasadnya baru dikeluarkan dari ruangan, Fadhil meminta izin kepada orang tua Daniel untuk membuka selimut yang telah menutup wajah Daniel, dia ingin melihat Daniel untuk yang terakhir kalinya dan keluarganya pun setuju.


Fadhil syok saat melihat wajah Daniel, pasalnya Daniel terlihat lebih menyeramkan karena yang terlihat saat ini adalah dagingnya saja dan sama sekali tidak ada kulit yang membaluti tubuhnya. Orang tua Daniel kembali menangis dan dokter pun langsung memerintahkan kepada para perawat untuk membawa jasad Daniel ke ruang mayat.


Fadhil sudah mulai putus asa, dia pasrah jika memang dirinya akan ikut dibunuh oleh Arum walaupun dia sendiri tidak pernah mengejek Arum. Arum sudah membunuh banyak orang dan karena dia juga beberapa anak telah menjadi gila karena ketakutan dan juga ada yang memilih mengakhiri nyawanya dengan cara bunuh diri karena mereka tidak ingin dibunuh secara tragis oleh Arum.


Seseorang menyentuh pundaknya, Fadhil langsung melihat kebelakang dan ternyata itu adalah Tiara. Fadhil langsung memeluk Tiara dengan Erat sambil menangis, Tiara paham sekali bagaimana kesedihan Fadhil karena telah kehilangan sahabatnya.


“Arum bilang kalau dia tidak akan berhenti sampai dendam dia semuanya terbalaskan,” kata Tiara sambil menangis.


Fadhil melepaskan pelukannya dan dia berkata “kalau memang kita harus meninggal karena Arum, yaudah kita pasrahin aja semuanya sama Allah,” jawab Fadhil sambil memberikan senyuman.


Tiara tahu bahwa sebenarnya saat ini Fadhil benar-benar hancur namun dia masih berusaha untuk tetap tegar. Dia merasa sangat kagum dengan sikap Fadhil yang terus berusaha untuk tetap kuat dan juga tegar. Dia merasa beruntung karena Allah telah menjadikan Fadhil sebagai sahabatnya.


Sebenarnya, mereka bertiga adalah sahabat akrab. Mereka sama sekali tidak menyimpan kebencian dan juga dendam kepada siapapun termasuk kepada Arum. Awalnya mereka berpikir bahwa mereka akan tetap aman karena mereka tidak pernah menyakiti Arum, namun ternyata pemikiran mereka salah, mereka tetap saja tidak aman walaupun mereka tidak bersalah.


“Gua janji, gua nggak akan membiarkan Arum menyakiti lo, kita berdua nggak boleh ada yang meninggal termasuk lo. Kalau memang nanti gua nyusul Daniel, gua titip salam buat orang tua gua dan gua minta maaf karena gua selalu buat kecewa orang tua gua,” kata Fadhil dengan suara gemetar.


“Please jangan bilang begitu Dhil, ” kata Tiara sambil menangis dan Fadhil memeluk Tiara kembali berusaha membuat dia menjadi tetap tenang.


Fadhil, Tiara, dan Daniel, mereka merupakan tiga serangkai yang sangat netral, mereka sama sekali tidak pernah tertarik untuk ikut membully Arum. jangankan membully Arum, mereka saja mengenal Arum hanya sebatas namanya saja. Mereka sempat berpikir kalau mereka tidak akan dibunuh oleh Arum karena mereka sama sekali tidak membuat kesalahan kepada Arum. Namun takdir berkata lain, Daniel telah dibunuh dengan cara yang sangat mengenaskan, orang yang sangat ramah kepada siapapun dan selalu taat dengan agamanya pun ikut dibunuh oleh Arum.


Fadhil benar-benar merasa terpukul karena orang yang selama ini memberikan motivasi untuknya malah pergi meninggalkannya. Kini mereka hanya tinggal berdua, mereka telah kehilangan sahabat mereka namun Daniel tidak akan pernah hilang dari hati mereka berdua.


Fadhil sempat berpikir “bagaimana jika setelah Daniel, gua yang pergi?” namun dia langsung beristighfar dan berdo’a semoga dia diberikan umur yang panjang oleh Allah. Kepergian Daniel bukanlah akhir dari segalanya, mereka yakin pasti akan terus terjadi pembunuhan hingga mereka semua meninggal dunia. Fadhil dan Tiara hanya bisa pasrah jika memang mereka akan mengalami nasib yang sama seperti Daniel dan yang lainnya.


..._________________________________________...


...PENASARAN SAMA PART SELANJUTNYA?...


...BACA TERUS " A B C D " ...


...DAN JANGAN LUPA VOTE DAN JUGA SHARE YA.....


...OH YA KALAU ADA YANG PERLU DIKOMEN,KOMEN AJA KARENA ITU SANGAT BERGUNA UNTUK SAYA...