
...Happy Reading...
Fadhil pulang terlambat karena dia harus mengerjakan tugas yang beberapa hari lalu belum dia kerjakan. Sebenarnya dia bisa mengerjakan semua tugasnya di rumah,tetapi dia lebih memilih mengerjakannya di perpustakaan dibandingkan di rumahnya karena kalau di rumahnya pasti kedua orang tuanya belum pulang.
"Nak, apakah tugasmu sudah selesai? Ini sudah malam loh," kata penjaga perpustakaan yang masih menunggu Fadhil.
"Sebentar lagi Bu," jawab Fadhil yang masih mengerjakan tugasnya.
"Kamu nggak takut? Kan di sekolah ini angker banget," tanya penjaga perpustakaan.
"Saya nggak takut dengan kematian dan saya juga nggak takut dengan makhluk gaib," jawab Fadhil dengan tenang.
Penjaga perpustakaan hanya tersenyum senang mendengarkan jawaban Fadhil, pasalnya hanya Fadhil lah yang tidak ambil pusing tentang masalah di sekolah ini. Tak lama kemudian, Fadhil selesai mengerjakan tugasnya, dia langsung membereskan semua bukunya dan pergi dari perpustakaan bersama penjaga perpustakaan. Ibu penjaga perpustakaan sudah di jemput oleh suaminya, dan sekarang Fadhil berada di tempat parkir sendirian.
Baru saja dia memegang helm miliknya, dia mulai merasa mulas, dia pun langsung pergi ke kamar mandi untuk buang air besar. Dia terus berjalan cepat menuju kamar mandi sambil melihat kearah jam tangannya, Fadhil baru sadar kalau sekarang sudah pukul 21:09. Langkahnya terhenti di sebuah lorong yang jalannya langsung menuju gudang yang sama sekali tidak terpakai bahkan dimasuki oleh siapapun.
Ada berita yang beredar bahwa 5 tahun yang lalu seorang siswi meninggal dunia dengan cara bunuh diri yaitu dengan memotong urat nadinya, alasan dia bunuh diri yaitu karena dia hamil di luar nikah. Batin Fadhil terus berkata untuk pergi kesana, dan Fadhil pun pergi kesana sambil menahan rasa kebeletnya. Dia berjalan dengan tenang karena dia yakin pasti tidak terjadi apa-apa. Sesampainya disana, ternyata pintunya sudah terbuka namun hanya sedikit dan dia mengintip dari celah-celah pintu.
Pemandangan yang sangat mengerikan terjadi di depan matanya, yang dia perkirakan ternyata tidak sesuai dengan kenyataannya. Dia melihat seorang siswa sedang di aniaya, dia merasa seperti sedang menonton deep web secara langsung. Dia terus menghabisi siswa tersebut yang terus saja menangis dan dia pun hanya tertawa puas. Fadhil kenal dengan korban itu, itu adalah Rizal teman sekelasnya.
Fadhil mulai mengambil ponselnya dan merekam dan mengambil gambar semua kejadian itu dan baru saja dia selesai mengambil foto dan sedang merekam kejadian itu, baru saja berjalan 1 menit ponselnya sudah lowbat. Dia lupa mematikan nada deringnya dan ponselnya mati sambil mengeluarkan suara.
"Matilah gua," batin Fadhil semakin panik.
Suara ponselnya menjadi perhatian yang ada di dalam gudang itu. Dia mulai panik karena dia takut ketahuan dengan si pelaku. Baru saja dia membalikkan badannya, temannya langsung memanggilnya dan meminta bantuan kepadanya namun Fadhil memilih pergi dari pada harus menolong temannya. Dia sadar bahwa dia bukanlah seorang pahlawan super dan dia tidak ingin menjadi seorang pahlawan kemalaman. Dia langsung berlari meninggalkan tempat itu karena dia sudah merasa bahwa dirinya sudah tidak aman lagi.
Fadhil langsung mengambil motornya dan bergegas meninggalkan tempat itu, namun saat dia sudah hampir berada di dekat pagar, pelaku tersebut sudah berada di belakang pagar. Badannya gendut, kulitnya hitam, dan persis sekali seperti Arum. Dia memegang sebuah gergaji mesin yang sudah di nyalakan. Pelaku itu mulai menyerangnya, dia mengarahkan gergaji mesinnya ke setiap arah hingga berhasil membuat Fadhil terjatuh dan memberikan luka dalam di bagian kaki Fadhil. Dia mencoba menangkap Fadhil namun usahanya gagal karena Fadhil langsung menendang perutnya hingga terpental, Fadhil langsung membuka pagar dan menaiki motornya dengan tergesa-gesa dan mengendarainya dengan kecepatan penuh.
Merasa sudah sangat jauh dari sekolah, dia langsung beristighfar dan merasa bersyukur diberikan kesempatan hidup. Kini rasa kebelet buang air besarnya sudah menghilang sejak saat dia ketahuan mengintip kejadian tersebut dan berganti dengan menahan rasa sakit dari luka di bagian kakinya akibat terkena gergaji mesin.
Darah terus bercucuran menghiasi jalanan yang dilalui Fadhil, dia langsung berhenti di sebuah toko yang sudah tutup. Fadhil mengambil baju olah raganya dan mengikat kakinya yang terluka supaya darahnya tidak terus mengalir. Fadhil memutuskan untuk segera ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan lebih serius.
*****
Fadhil masuk sekolah kembali walaupun kakinya masih belum sembuh. Sesampainya di sekolah, sudah ada polisi disana dan ternyata mereka telah menunggu kedatangan Fadhil. Fadhil dilaporkan sebagai saksi mata yang telah melihat kejadian mengerikan yang dialami oleh Rizal. Mereka membawa Fadhil untuk dimintai keterangan, polisi mengatakan bahwa saat ini Rizal berada di rumah sakit dan diberikan perawatan khusus karena luka yang di alaminya sangat serius.
Fadhil memberikan beberapa foto dan video saat kejadian yang dialami oleh Rizal, Fadhil merasa beruntung karena video yang kemarin dia rekam ternyata tidak terhapus. Semua bukti dan juga keterangan telah di terima oleh pihak polisi, dia bisa keluar dari kantor polisi dan polisi mengantarkannya kembali ke sekolah.
"Terima kasih nak Fadhil telah memberikan beberapa bukti kepada kami karena itu sangat membantu kami dalam menjalani pengungkapan kasus ini, teima kasih atas kerja samanya," kata salah satu anggota kepolisian kepada Fadhil.
"Sama-sama pak, saya mohon tolong secepatnya pelaku di temukan supaya mereka semua bisa tenang di alam sana," kata Fadhil penuh harapan.
"Kami pasti akan segera menangkap pelakunya," kata pak polisi.
Gudang sekolah diberikan garis polisi, seluruh alat-alat praktek pembunuhan itu ternyata berada di ruangan itu walaupun semua itu sudah bersih tidak ada noda darah, sepertinya pelaku tersebut mencucinya terlebih dahulu sebelum dia pergi dari sana dan membereskan juga tempat tersebut. Letak Senjata-senjatanya pun disembunyikan di loteng, hanya ada bukti senjata namun tidak ada bukti jejak kaki ataupun sidik jari pelaku.
Fadhil langsung pergi ke parkiran untuk mengambil motornya sambil berjalan dengan pincang. Saat dia ingin memakai helmnya, dia melihat sebuah kertas yang sudah menempel di kaca spionnya bertuliskan :
Kamu harus menggantikan Rizal! Kamu harus mati!
Fadhil langsung mengambilnya dan kemudian mempotretnya, dia menyimpan kertas itu baik-baik sebagai bukti jika memang dia harus dimintai keterangan kembali oleh pihak kepolisian.
"Dhil," Fadhil langsung menoleh ke belakang dan ternyata Anastasya telah berdiri di belakangnya.
"Apa?" tanya Fadhil singkat dan juga datar.
"Mau jenguk Rizal kan? Aku ikut ya," pinta Anastasya sambil tersenyum kecil.
Fadhil hanya mengangguk dan langsung memberikan helm cadangannya kepada Anastasya, Anastasya mulai memegang Fadhil dengan erat dan Fadhil mengendarai motornya dengan kecepatan normal. Sesampainya di rumah sakit, Fadhil langsung bertanya kepada resepsionis tentang keberadaan kamar Rizal. Rizal berada di kamar 407 di lantai 3, mereka telah sampai sana tepat waktu karena Rizal sudah di tangani oleh dokter dan dia pun sudah siuman.
"Assalamu'alaikum Zal," Fadhil langsung masuk kedalam ruang inap Rizal tanpa permisi ataupun mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Sialan lo, gua minta tolong eh malah kabur! Hampir aja gua mati!" kata Rizal jengkel.
"Lo kira gua ini pahlawan kemalaman," kata Fadhil santai "Gimana keadaan lo sekarang?" tanya Fadhil sambil duduk di bangku tamu.
"Hampir kehabisan darah gara-gara dia nusuk gua dengan pisau sebanyak 5 kali dibagian pundak, perut sebanyak 2 kali, bagian kaki, dan jantung," jawab Rizal menjelaskan beberapa luka yang telah dia dapatkan dari si pelaku.
"Terus kok lo bisa selamat?" Rizal pun menjawab "ceritanya panjang, intinya pas lo lagi keluar pagar abis ribut sama dia, gua tunggu dia masuk ke dalam gedung lagi dan gua langsung keluar gerbang, kebetulan gua itu lagi sembunyi di dalam pos satpam," kemudian Rizal berbicara kembali "untung ada bapak-bapak yang lagi ronda walaupun jaraknya cukup jauh dari sekolah, gua langsung minta tolong deh," Anastasya mengalihkan pandangannya dan Rizal terus saja memandangnya.
"Lo tau siapa pelakunya?" tanya Fadhil berusaha meyakinkan diri bahwa yang dia lihat semalam itu memang Arum.
Rizal hanya diam tersenyum menatap Fadhil dan juga Anastasya, Fadhil diam dan melihat kearah Anastasya, namun Anastasya memberikan sebuah arti lain seperti ada sesuatu yang aneh. Anastasya terus saja memegang tangan Fadhil semakin erat seperti orang yang ketakutan.
"Zal, jaga kesehatan lo ya, kita pamit dulu," pamit Fadhil dan Anastasya langsung menarik tangan Fadhil, Rizal hanya memberikan sebuah senyuman saat Anastasya dan Fadhil sudah mereka sudah membalikkan tubuhnya.
"Ada apa Ca?" tanya Fadhil bingung.
"Jawab aku Ca, jangan diam aja," kata Fadhil semakin kesal.
Anastasya hanya diam dan diamnya Anastasya membuat Fadhil semakin merasa semakin penasaran, tiba-tiba seorang perawat menghampiri mereka dan mereka bertanya "maaf dek, ada apa ya? Ada yang bisa saya bantu?" kemudian Fadhil menjawab "Nggak ada apa-apa kok mas, kita abis jenguk teman kami di dalam," sang perawat langsung mengintip kearah jendela kecil di pintu kamar tersebut dan kemudian menatap kearah mereka sambil tersenyum dan berkata "kalian ini ada-ada aja ya, di dalam tuh nggak ada orang dan yang menginap di dalam sini pun sejak satu jam yang lalu pindah ruangan ke ruang operasi untuk menjalani operasi yang kedua kali," perkataan perawat itu membuat Fadhil tersentak hebat, dia langsung panik karena bingung siapa yang dia ajak bicara saat di dalam ruang kamar inap itu.
Sang perawat pergi meninggalkan mereka dan Fadhil masih berdiri mematung masih tidak percaya dengan perkataan perawat tersebut. Fadhil mengecek kembali kamar yang baru saja dia masuki, dan benar bahwa di dalam tidak ada siapa pun. Dia langsung melihat Anastasya yang masih diam saja kemudian dia bertanya "Yang di dalam tadi siapa Ca? Itu Rizal kan?" Anastasya tetap memilih diam dan membuat Fadhil semakin penasaran.
"Ca, lo bisu? Kenapa lo diam aja? Kenapa nggak ngasih tau gua dari awal?" kata Fadhil yang masih tidak menyangka kalau semua ini seperti tidak masuk akal.
"Kalau aku ngasih tau, belum tentu juga kamu mau percaya kan?" kata Anastasya membuat Fadhil langsung terdiam.
Anastasya langsung mengajak Fadhil untuk turun ke lobby, dan sesampainya di lobby diamnya Anastasya pun sudah terjawab, ternyata Rizal telah meninggal dunia dan jasadnya sedang diantarkan ke mobil jenazah. Jasad Rizal melewati Anastasya dan juga Fadhil yang baru saja keluar dari lift, ibu Rizal terus menangis histeris sambil memeluk kakak perempuannya Rizal yaitu kak Yurika.
Fadhil dan Anastasya langsung pergi menghampiri keluarga Rizal dan memberikan ucapan turut berduka cita, mereka bertanya kepada kakak pertama Rizal yang laki-laki tentang waktu Rizal meninggal dan kakaknya Rizal yaitu Afiq mengatakan bahwa Rizal telah meninggal dunia setelah satu jam menjalani operasi dan itu bertepatan saat mereka telah sampai di depan pintu kamar inap Almarhum Rizal.
"Saya minta maaf ya atas segala kesalahan Rizal baik di sengaja maupun tidak di sengaja," kata kak Afiq dengan nada suara yang gemetar.
"Iya kak, kami pamit dulu ya," mereka langsung berpamitan dan keluar dari rumah sakit.
Saat di depan pintu rumah sakit, dia melihat Rizal berdiri di depan pintu dengan wajah yang pucat dan tubuh banyak luka, dia memberikan senyum kepada Anastasya namun dia mengalihkan pandangannya karena dia tidak mau kalau sampai Rizal tahu kalau dia bisa melihatnya sementara Fadhil sudah tidak melihat dia lagi.
Fadhil mengendarai motornya sambil memikirkan kejadian yang baru saja dia alami, semua itu membuatnya merasa tak masuk akal. Anastasya memakluminya karena ini adalah pengalaman pertama Fadhil mengalami hal seperti itu, dia tetap memilih diam sampai tempat tujuan mereka sampai.
Mereka pergi ke rumah almarhum Rizal untuk ikut pengajian dan menunggu jenazah Rizal sampai di rumah. Banyak yang datang ke rumah Rizal untuk memberikan ucapan belasungkawa serta ikut dalam pengajian. Fadhil mulai teringat dengan surat yang dikirimkan oleh orang yang tidak dikenal yang telah meletakkannya di kaca sepionnya tadi siang, dia harus ke kantor polisi untuk memberikan surat tersebut sebagai bukti untuk mempermudah pencarian polisi.
Rizal dimakamkan di pemakaman dekat rumahnya, Fadhil terus menatap makam Rizal dan tidak menyangka bahwa semua itu terjadi diluar akal sehatnya. Rizal tidak bisa diselamatkan lantaran darah yang dia keluarkan cukup banyak dan peluru yang mengenai jantungnya benar-benar tepat sasaran hingga membuat Rizal hanya bisa bertahan hidup hingga tadi saat siang hari.
Rizal diselamatkan oleh sekumpulan warga yang sedang meronda dan jaraknya cukup jauh dari sekolah. Warga menemukannya sudah bersimbah darah dan tubuhnya semakin lemas. Warga mengantarkannya saat larut malam dan dioperasi saat dia baru sampai rumah sakit, polisi memintai keterangan kepadanya saat pukul 04:00 dini hari. Fadhil merasa beruntung telah berhasil menangkap gambar dan video yang direkamnya pun tersimpan karena itu dapat mempermudah mengakhiri kejadian pembunuhan di sekolahnya walaupun dia tahu kalau saat ini nyawanya sedang dalam bahaya.
"Gua merasa bersalah Ca," kata Fadhil meneteskan air mata.
"Yang sabar Dhil, jangan kayak gitu," kata Anastasya berusaha untuk kuat.
"Seharusnya gua selamatin dia, gua malah cumin video dan fotoin dia, gua jadi merasa kayak ngikutin budaya Indonesia," kata Fadhil merasa bersalah.
"Maksudnya?" tanya Anastasya bingung.
"Udah ayo kita pulang," ajak Fadhil sambil sambil menggandeng tangan Anastasya dan Anastasya langsung mengikutinya.
Mereka langsung menaiki motor dan pergi dari pemakaman Rizal. Di sepanjang jalan, Anastasya terus diam seperti orang yang sedang khawatir. Dari kaca spion, Fadhil terus memperhatikan gerak-gerik Anastasya.
"Kenapa Sya?" tanya Fadhil tenang sambil fokus menyetir.
"Aku takut Dhil," kata Anastasya gemetar menahan tangisannya.
"Takut kenapa?" tanya Fadhil mengerutkan alisnya.
"Aku takut nyawa kamu jadi terancam, aku takut dia bunuh kamu," kata Anastasya dan langsung menangis.
Fadhil diam sejenak "Kamu jangan takut ya, sekarang kita pulang ke rumah kamu dan tolong jangan nangis lagi karna aku nggak mau ngeliat kamu nangis hanya gara-gara khawatir sama aku," kata Fadhil dan Anastasya menurutinya.
..._________________________________________...
...PENASARAN SAMA PART SELANJUTNYA?...
...BACA TERUS " A B C D "...
...DAN JANGAN LUPA VOTE DAN JUGA SHARE YA.....
...OH YA KALAU ADA YANG PERLU DIKOMEN,KOMEN AJA KARENA ITU SANGAT BERGUNA UNTUK SAYA. ...
HAI SEMUANYAAA...
Apa kabar semuanya?? Author harap kalian semua baik-baik saja dan sehat selalu ya..
Disini author ingin memberitahukan bahwa novel "ABCD" sedang dalam PROSES PENERBITAN di penerbit Guepedia.
Allhamdulillah author sangat merasa bersyukur karena akhirnya author bisa menyelesaikan naskah tersebut dan menjadikannya sebagai novel ke-2 yang telah author terbitkan. Oleh karena itu author menghapus isi dari beberapa part demi kepentingan penerbitan novel ini.
Author memohon maaf atas ketidaknyamanannya semua pembaca ABCD dan author mohon do'anya untuk kelancaran proses penerbitan novel ini hingga selesai di terbitkan.
Terus stay di akun author dan juga cerita ABCD supaya tidak ketinggalan info selanjutnya mengenai ABCD ya..
Terima kasih dan selamat membaca...
Salam