Alstroemeria | Dewi Bunga Lily

Alstroemeria | Dewi Bunga Lily
Li Yin


Rupanya, Pangeran pertama dan roh pedang Sanos sudah membuat janji untuk bertemu secara tertutup di kawasan area kolam suci. Tempat Pangeran pertama bertemu pertama kali dengan Dewi Naga Hijau, istri Dewa Alam Langit karena menurutnya hanya tempat inilah yang sangat aman untuk membahas buku rahasia pemberian paman Ji Dan kepadaku "Apakah kau tahu cara membuka mantra buku ini? Aku sudah berhari-hari mencoba dan memikirkan caranya, tapi tetap tidak menemukan jawabannya sama sekali."


"Baiklah."


Roh pedang Sanos memberi perintah kepada Pangeran pertama untuk mengulurkan tangan kanannya dan melukai ujung jari tengah Pangeran sampai meneteskan darah tepat diatas permukaan buku ini "Apakah harus seperti ini?" tanya Pangeran pertama, tapi roh pedang Sanos tidak menanggapinya dan hanya menatap buku ini. Tak ku sangka, buku ini mulai mengeluarkan cahaya keemasan perlahan semakin cerah dan membuat silau kedua mataku. Tiba-tiba buku ini terbuka dengan sendirinya, kemudian terlihat pada halaman pertama buku tersebut. Terlihat foto Paman Ji Dan bersama seorang wanita berpakaian indah seperti seorang Dewi lalu ia memakai mahkota bunga Lily, aku hanya bisa menatap foto ini sambil mengingat wajah seluruh Dewi Alam Langit yang mirip dengan wanita ini.


Roh pedang Sanos berdecak sambil menunjuk wajah wanita ini "Dia, Li Yin. Mendiang Dewi Alam Bunga yang juga merupakan Ibu kandung Zhang Li."


"Ja-Jadi, ia sungguh Ibu Zhang Li? Kenapa nama Zhang Li mengikuti marga Zhang?" tanya Pangeran pertama yang membuat roh Pedang Sanos tertawa terbahak-bahak, sebab pangeran pertama menjadi sangat bodoh dihadapannya saat ini.


Apa yang diucapkan roh pedang Sanos masuk akal juga. Wajah wanita ini sungguh sangat mirip dengan Zhang Li, walaupun lebih cantik dan muda Zhang Li "Apakah kau masih belum menyadari? Betapa kejamnya Ibumu dimasa lalu? Ah mungkin sampai sekarang Hahaha. Sudahlah yang terpenting sekarang kau harus cepat membaca semua isi buku ini, karena waktumu sangat terbatas."


Apakah sungguh Ibuku sangat kejam dimasa lalu? Mengapa aku tidak sekejam Ibuku? Apakah sikapku ini lebih mirip dengan Ayahku? Ah sudahlah, lebih baik saat ini aku fokus kepada buku ini terlebih dahulu karena hal ini menyangkut alam semesta.


Aku menggunakan kekuatan spiritual ku, setiap membalik halaman buku ini satu persatu, cukup melelahkan. Tertulis dengan sangat jelas didalam buku ini, bahwa Paman Ji Dan dan mendiang Dewi Alam Bunga merupakan sahabat dari mereka sejak masih kecil karena aku membaca secarik surat yang tertempel dalam kertas buku ini.


'Hanya kau orang yang selalu menolong aku dengan hati yang sangat tulus Li Yin, tapi belum sempat aku membalas budi kepadamu selama ribuan tahun ini. Kau sudah pergi meninggalkan aku dan anakmu di alam semesta yang sangat kejam ini. Gadis kecil yang kau tunggu-tunggu sekarang sudah dewasa, ia sangat mirip denganmu Li Yin. Aku akan membantumu untuk menjaga anakmu hingga dewasa nanti, aku berjanji kepadamu Li Yin.'


Aku mulai membaca seluruh halaman buku ini, tapi ada satu halaman yang berisi tulisan tangan Paman yang membuat tulisannya ini sangat sulit dipercaya oleh siapapun, termasuk roh pedang Sanos sendiri.


Sebenarnya, Raja Iblis tidak pernah mati dan lenyap dari alam semesta karena ia hanya disegel oleh Dewa Alam Langit yaitu Pu Chai. Sebab hanya dia yang mampu dan bisa menekan kekuatan spiritual Raja Iblis sampai kembali menjadi roh, tapi tidak ada yang tahu hal apa yang sebenarnya terjadi pada waktu itu. Aku hanya mendengarkan ucapan ini, sebelum Dewa Alam Langit menghilang. Hanya itu perkataan Dewa Alam Langit kepadaku untuk terakhir kalinya. Dewa Alam Langit juga memberikan aku sebuah peta untuk menuju hutan Meraire dan secarik kertas untuk roh pedang Sanos karena ia tahu pasti kau akan bersamanya saat membuka buku ini, Zhu Yi.


Pangeran pertama langsung mencari keberadaan peta itu dan menemukannya dihalaman terakhir buku ini, bersamaan dengan secarik surat untuk Roh Pedang Sanos. Baru saja aku mau menyentuh surat, tiba-tiba ia langsung mengambilnya dan menghilang dari ruangan ini ntah kemana. Pergi begitu saja!


Zhang Li terbangun dari tidurnya karena tadi siang sangat mengantuk. Jadi, beristirahat sejenak adalah hal terbaik agar aku bisa berlatih dengan fokus pada malam hari karena sebentar lagi ujian pembukaan wujud Dewa dan juga hari pelantikan sebagai seorang Dewa-Dewi. Aku tidak boleh membuat malu wanita suci dalam alam bunga ataupun Ibuku.


Saat keluar menuju halaman rumah, aku melihat para Pangeran sudah berlatih bersama Roh Pedang Sanos. Terlihat Pangeran kedua bersama Da Liu berlatih, seperti ajaran Guru tadi pagi.


Syukurlah, Da Liu sudah sembuh dan beraktifitas kembali. Lebih baik aku berlatih diatas atap saja agar tidak ada yang mengganggu ku saat latihan, aku langsung terbang menuju atap untuk memfokuskan kekuatan spiritual milikku pada kedua mata Dewa yang berada didalam tubuhku.


Kau pasti bisa Zhang Li! Ayolah!


Saat aku menyalurkan kekuatan spiritual kedalam mata Dewa milikku masih terasa biasa saja, tapi sungguh terasa aneh saat aku mulai menyalurkan kekuatan spiritual milikku kedalam mata Dewa pemberian mendiang Ibuku.


Aku merasa seluruh kekuatan spiritual ku tertarik dengan paksa sampai tubuhku secara tiba-tiba memuntahkan darah yang cukup banyak, untung saja ada seseorang yang menolongku "Terimakasih." Ternyata Pangeran pertama yang sedang menyalurkan kekuatan spiritualnya untuk membantuku.


Latihan para Pangeran bersama roh pedang Sanos telah selesai. Ia memberitahukan bahwa siapa yang akan terpilih diantara mereka bertiga untuk menjadi muridnya, tapi ia terdiam cukup lama sampai membuat kami semua bingung dengan apa yang roh pedang Sanos pikirkan.


"Baiklah aku menerima kalian semua, tapi aku melatih kalian hanya selama 7 hari saja. Dimulai setelah kalian menjadi Dewa dan Dewi. Oh ya, setelah 7 hari aku tidak akan menjadi Gurumu lagi. Sudahlah aku akhiri kelas hari ini karena aku ingin istirahat."


Saat roh pedang Sanos pergi, Song Lan sungguh gembira karena dapat menjadi murid roh pedang Sanos dan para Pangeran juga demikian. Mereka terus melanjutkan latihan bersama-sama hingga terlihat sangat kompak dalam melakukan gerakannya, jurus pedang mereka bertiga terlihat semakin hebat. Sedangkan, Pangeran kedua sangat sibuk membantu Da Liu yang masih belajar secara bertahap untuk membuka wujud Dewa yang ia miliki sampai berhasil keluar, sesuai dengan keinginannya sendiri.