
Setelah selesai menemui Kaisar dihalaman rumah lembah langit, aku tidak melanjutkan tidurku karena matahari sudah terbit dengan sangat terang. Jadi, aku langsung mandi saja untuk mempersiapkan diri ke sekolah. Semoga saja, menu makanan kantin seenak kemarin.
"Rajin sekali Zhang Li," Ucap Song Lan yang baru saja keluar dari kamarnya, aku hanya tersenyum untuk membalas perkataannya.
Song Lan merenggangkan tubuhnya perlahan sambil berjalan menuju kamar mandi dengan membawa handuk, aku menunggu mereka semua dihalaman rumah sambil mencari udara segar di pagi hari. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya mereka semua telah siap dan kami langsung berangkat ke kantin bersama. Pangeran pertama kemana? Apakah ia sangat sibuk sampai tidak bisa hadir ke sekolah lembah langit?
Hari ini masih tetap materi yang diajarkan Guru Lao Gao sebelumnya, yaitu ilmu pedang. Sekarang sedikit berbeda, walaupun masih materi yang sama karena kami memasuki kelas.
Padahal biasanya materi Guru Lao Gao selalu dilakukan ditengah lapangan lembah langit "Baiklah anak-anak, hari ini adalah hari terakhir kalian berlatih senjata dan menentukan pilihan senjata."
"Kami sudah siap Guru Lao Gao," Ucap semua murid pewaris secara serentak dan bersamaan.
"Oh ya, ada tiga hal yang harus Guru sampaikan kepada kalian. Sekaligus untuk bekal, besok saat berada di alam senjata tak terbatas selama 3 hari 2 malam. Perhatikan tulisan dipapan ini," Ucap Guru sambil menunjuk kearah papan.
Pertama kelompok.
Kalian harus membentuk kelompok berisi 5 orang. Salah satu dari kelima orang ini, harus ada yang menguasai ilmu medis.
Kedua bekal dan obat.
Kalian harus secara mandiri mempersiapkan bekal dan obat-obatan yang dibutuhkan untuk tim, obat wajib dibawa oleh murid yang menguasai ilmu medis. Kalau bekal, kalian dapat mengaturnya sendiri.
Ketiga kewajiban.
Point terakhir yang sangat penting, yaitu semua anggota kelompok wajib keluar dari alam senjata tak terbatas dengan lengkap. Seperti, saat kalian awal masuk kedalam dan kalian kali ini harus berangkat menggunakan giok awan.
"Guru, jika tidak lengkap bagaimana?" Tanya salah satu murid pewaris sambil mengangkat salah satu tangannya, sebagai isyarat untuk mengajukan pertanyaan kepada Guru.
Guru tersenyum kepada kami semua dan berjalan mengamati kami satu persatu "Jika tidak lengkap, poin dari kelompokmu akan berkurang. Satu kelompok memiliki poin sebanyak 100 saja. Apakah kau mengerti?"
"Mengerti Guru," Setelah murid pewaris itu selesai bertanya.
Da Liu langsung mengangkat tangannya untuk mengajukan pertanyaan "Guru, apakah kau tidak ingin memberitahu kami? Bagaimana cara menggunakan giok awan itu? Apakah hanya diberi satu saja? Jika tidak muat bagaimana?" Tanya Da Liu.
"Cukup mudah, tinggal kalian lemparkan saja dihadapan mu. Ia akan langsung berubah dengan sendirinya, setelah itu kau tinggal memberikan perintah saja untuk berjalan kearah yang mana."
Guru Lao Gao langsung melemparkan giok awan kehadapannya "Apakah kau yakin Da Liu? Sebesar ini tidak cukup untuk lima orang?" Tanya Guru sambil menertawai Da Liu yang tersenyum malu.
Satu kelompok hanya berisi lima murid pewaris, berarti setiap murid memiliki poin sebanyak 20.
"Bagaimana dengan peta dan lokasinya Guru? Apakah berubah?" Tanya Pangeran ketiga.
Guru Lao Gao langsung tersenyum pada Pangeran ketiga "Karena para Pangeran mengikuti ujian pada tahun ini maka lokasinya tentu saja akan berubah dan pastinya lebih susah."
Murid pewaris yang hadir saat ini menghembuskan napas panjang. Seingatku, saat berada di kantin aku mendengar percakapan beberapa murid pewaris. Katanya mereka telah banyak mempelajari lokasi yang diceritakan seniornya atau orangtuanya agar mereka lolos dengan mudah, tapi semua itu sia-sia sekarang "Bentuklah kelompok dalam sepuluh menit dari sekarang dan pastikan sesuai dengan ucapan Guru tadi."
Guru Lao Gao langsung kembali duduk untuk menunggu kami semua membentuk kelompok, ia menunggu sambil membaca buku. sedangkan semua murid pewaris sibuk membentuk kelompok yang terbaik "Apakah Pangeran pertama tidak ikut ujian kali ini?" Aku langsung saja bertanya kepada para Pangeran, tanpa basa-basi.
"Apakah kau merindukannya?" Tanya Pangeran ketiga sambil tersenyum lalu ditambahi dengan Pangeran kedua "Sepertinya, ada yang sedang dimabuk asmara. Ah aku sungguh iri dengan Kakak pertama karena Zhang Li telah memilihnya dari pada kami!"
Belum saja aku menjawab pertanyaan para Pangeran. Para murid pewaris terlihat aneh karena mereka menatap kearah pintu masuk kelas semua, terlihat dari kejauhan Pangeran pertama memasuki ruangan dan semua murid pewaris langsung terdiam memperhatikan setiap langkah Pangeran pertama "Zhang Li, apakah kau telah mendapatkan pengganti ku didalam ujian ini? Sepertinya, aku tidak bisa ikut karena ada urusan yang tidak dapat ditinggalkan."
"Song Lan, hatiku rasanya mau copot! Tolong aku Song Lan..." Pangeran kedua memegang dadanya dan berjalan perlahan kearah Song Lan, setelah itu, Song Lan langsung memeluknya sambil menepuk-nepuk punggungnya "Aku tahu semua yang kau rasakan karena aku juga sepertimu Pangeran kedua."
Pangeran kedua langsung menatap mata Song Lan dan tertawa melihat, betapa jujurnya ia kepada kami semua. Aku tidak bisa menahan tawa karena reaksi berlebihan Pangeran kedua dan Song Lan "Aku belum berpikir siapa Pangeran pertama."
Terdengar Da Liu ikut tertawa juga saat melihat Pangeran kedua dan Song Lan lalu ada seseorang yang langsung menyahuti ucapanku dari arah belakang dengan cepat "Aku siap menggantikannya Zhang Li," Ucap Da Liu dengan semangat.
Pangeran ketiga langsung melirik aku dan Pangeran pertama "Aku tidak ingin gadis berisik itu ada dikelompok ini Zhang Li."
"Kalau begitu aku saja yang menggantikan Pangeran pertama. Pasti kalian setuju," Seru Tian Yi dengan semangat kepada kami.
"Paman kau sudah tua. Seharusnya kau yang mengalah dengan gadis kecil sepertiku ini!" Ucap Da Liu sambil memasang wajah cemburut.
"Sejak kapan aku jadi Pamanmu? Aku saja tidak mengenal mu sama sekali!" Ucap Tian Yi dengan menatap sinis Da Liu.
Guru Lao Gao langsung muncul disebelah Tian Yi dan menepuk punggungnya "Lebih baik kau menemani aku disini Tian Yi sambil bersantai, makan, dan mengamati semua murid pewaris yang sedang menjalani ujian di alam tak terbatas."
"Baiklah, aku terima tawaranmu. Awas saja kau gadis kecil, jika terjadi apa-apa dengan Zhang Li akan aku buat perhitungan!"
"Paman cerewet," Ledek Da Liu sambil menjulurkan lidahnya.
Tian Yi langsung pergi bersama Guru Lao Gao dan Da Liu juga langsung mendekati aku seperti ingin berkata sesuatu "Zhang Li, aku sangat suka bisa berkelompok denganmu. Bahkan bisa mengenal kalian semua lebih dekat," Ucapnya sambil tersenyum dan merangkul pundak ku.
Da Liu menghampiri mereka lalu menarik napas panjang "Aku sekelompok dengan Zhang Li karena ia sangat hebat dapat mematahkan pedang Ibuku. Jadi, mulai dari situ aku sangat mengaguminya."
Kami semua saling menatap dan bingung dengan ucapan Da Liu.
Bahkan aku juga tidak mengerti apa yang ia maksud "Zhang Li, kau ingatkan? Saat kau mematahkan pedang Dewi Kejujuran? Kau sangat hebat," Ucapnya sambil bertepuk tangan dan tertawa.
Pangeran kedua dan Song Lan langsung melotot setelah mendengar ucapannya. Seharusnya, ia marah bukan? Kenapa malah menjadi kagum dengan Zhang Li? Apakah ada kesalahan dengan otaknya?
"Jadi kau anak Dewi Kejujuran?" Tanya Pangeran ketiga sambil berdecak heran menatapnya.
"Tentu saja!" Ucap Da Liu sambil membenarkan rambutnya yang tidak berantakan sama sekali.
"Bagaimana mungkin anak Dewa tanah dan Dewi Kejujuran sangat cerewet sepertimu!" Cetus Pangeran Kedua dengan nada meledek lalu disusul oleh tawa Song Lan dan Pangeran ketiga.
Seketika Da Liu langsung melotot dan mengepalkan kedua tangannya "APA KAU BILANG? APA KAU MENGHINA AKU SEKARANG?" Teriak Da Liu.
*Baam...
Namun pukulan Da Liu menjadi rasa sakit "Aaaa sakit, lepaskan tanganku sekarang Pangeran kedua!" Jerit Da Liu sambil menangis kesakitan.
"Ucapkan dahulu permintaan maaf yang sangat tulus untukku dan harus di ucapkan dengan sepenuh hati mu."
Pangeran pertama langsung berbisik kepada aku agar keluar bersamanya sebentar "Zhang Li, hati-hati besok saat dialam senjata tak terbatas dan tetaplah hidup karena aku akan selalu merindukan dirimu. Aku akan menunggumu kembali, ingat itu!" Ucapan Pangeran pertama sungguh membuat dadaku terasa sangat nyeri lagi, seperti tertusuk-tusuk oleh pedang tajam.
Pangeran pertama mengelus rambutku dengan lembut beberapa kali, setelah itu ia langsung memeluk aku. Bahkan yang paling mengejutkan ia mencium keningku "Aku pergi dahulu Zhang Li."
"TUNGGU!" Teriakku secara reflek karena aku baru ingat untuk meminta ia bertanggung jawab dengan ciuman sepihak ini.
"Kau harus bertanggung jawab!" Ucapku dengan kesal.
"Apa maksudmu?" Tanya Pangeran pertama dengan wajah bingung.
"Kau mencium aku secara sepihak. Jadi, kau harus bertanggung jawab atas perbuatan mu Pangeran."
"Apakah kau ingin aku cium lagi? Sebagai bentuk pertanggung jawabanku kepadamu?" Tanyanya sambil tersenyum menatapku.
Pangeran pertama terlihat berjalan menghampiri aku dan dengan reflek aku langsung menutupi mulutku, agar tidak bisa dicium secara sepihak lagi "Sepertinya, kau tidak ingin. Sudahlah aku pergi dahulu."
Pangeran pertama langsung berjalan meninggalkan aku sendirian, tapi tiba-tiba ia menghentikan langkahnya lalu menatap ke arahku lagi "Aku akan memberikan banyak emas, setelah kau pulang dengan selamat."
Hatiku semakin sakit, tapi kenapa aku juga merasa malu dan senang?
Bahkan, saat ini badanku terasa sangat panas seperti terbakar.
Aku kembali ke dalam untuk melanjutkan diskusi, setelah mendapatkan peta dan giok awan.
"Xai, tetap awasi Zhang Li dan setiap pergerakan aneh atau ada yang mencurigakan langsung lapor saja padaku. Tidak usah pedulikan acara keluarga yang tidak berguna ini, apakah kau mengerti?" Tanya Pangeran pertama sambil berjalan keluar dari lingkungan sekolah.
Xai mengangguk "Mengerti Pangeran, sesuai perintah."
Xai mengawasi Zhang Li terus menerus, bahkan saat Zhang Li berlatih pedang bersama para Pangeran juga tetap diawasi oleh Xai dari kejauhan "Bertugas itu memang berat, tapi apakah kau akan melupakan waktu makan mu?" Ucap Tian Yi yang ternyata dari tadi mengawasi Xai.
"Tidak, terima kasih."
"Aku juga menjaga Nona Zhang Li. Jadi, tenanglah tujuan kita sama."
Pengawal pribadi Pangeran pertama langsung memakan makanan yang diberikan Tian Yi. Setelah memperkenalkan diri satu sama lain, mereka mengobrol sambil tetap mengawasinya.
Mereka mendengar ada keributan dan langsung melihat Zhang Li sudah tergeletak diatas tanah.
"Terlalu panas, aku tidak bisa menggendongnya!" Ucap Pangeran kedua dan Tian Yi dengan panik.
"Dimana Pangeran ketiga? Ia pasti bisa menggendongnya."
Kebetulan saat Tian Yi bertanya tentang Pangeran ketiga, ia langsung muncul bersama Song Lan. Setelah itu mereka membawanya ke rumah lembah langit dan memanggil Dewi segala tabib untuk membantu kami, memeriksanya karena Song Lan tidak bisa menyentuh tubuhnya.
"Ini sangat aneh, suhu badannya sangat panas seperti terbakar. Aku tidak pernah menangani penyakit seperti ini, aku harus lapor dahulu kepada Kaisar agar membantuku."
Dewi segala tabib langsung menghilang dari hadapan kami. Tian Yi mencoba membuat es lalu di tempelkan ke bagian tubuh Zhang Li, tapi es itu malah mencair dan membasahi tempat tidur milik Zhang Li. Bagaimana ini? Apa yang harus kami lakukan?