Alstroemeria | Dewi Bunga Lily

Alstroemeria | Dewi Bunga Lily
Roh Pedang Liar


Mengapa kami berdua menjadi mabuk hanya dengan sebotol arak bunga saja? Tidak biasanya kami seperti ini. Sungguh aneh sekali hari ini, Tian Yi mencoba untuk membuka matanya dengan sekuat tenaga yang ia miliki. Terlihat dihadapannya Dewa Pedang sedang tertidur lelap karena mabuk, mengapa senjata cermin alam semesta milik Dewa Pedang tidak berfungsi?


Tian Yi mencoba membangunkan Dewa Pedang dengan kekuatan spiritual miliknya, agar lebih cepat membuatnya tersadar dan tak lama kemudian Dewa Pedang terbangun, bahkan terkejut lalu ia menanyakan hal sama seperti yang aku pikirkan saat ini.


"Arak ini dari siapa?" Tanya Tian Yi yang mulai curiga dengan Arak ini.


"Aku mengambilnya dari gudang penyimpanan arak dialam langit, tapi aneh mengapa arak ini membuat kita mabuk? Padahal kita belum menghabiskan sebotol."


"Cepat gunakan cerminmu, kau harus menemukan kelompok Zhang Li! Cepat!" Sentak Tian Yi yang langsung panik, membuat Dewa Pedang terburu-buru.


Tian Yi juga melacak keadaan Zhang Li, tapi tidak menemukannya. Padahal alam senjata tak terbatas sangat mudah ditembus karena saat ini tidak dijaga khusus oleh seorang Dewa "Hanya ada Da Liu dan Pangeran kedua, tapi tiga orang lain kemana?" Tanya Dewa Pedang kepada Tian Yi.


Tian Yi tidak memperdulikannya dan langsung pergi ke alam senjata tak terbatas lalu disusul oleh Dewa Pedang sambil membawa senjata cermin alam semesta...


Aku hanya bisa menelan ludah karena hal ini sangat aneh "Song Lan apakah kau benar-benar tidak melihat lelaki itu?" Tanyaku sekali lagi untuk memastikan, tapi jawabannya tetap sama.


Hanya kabut hitam pekat. Pangeran ketiga sudah sadar, tapi ia masih lemas dan tidak dapat bergerak dengan bebas seperti biasanya "Apakah kau lapar Pangeran ketiga?" Tanya Song Lan.


"Aku butuh makanan karena tubuhku sangat lemah sekarang. Ragnarok itu sungguh menyebalkan, bisa-bisanya ia mengigit tubuhku dengan cairan hitam menjijikan itu."


"Apakah tidak sakit?" Tanya Song Lan sambil memberikan sepotong kue kering kepada kami, tapi aku tidak terlalu lapar. Jadi, aku membiarkan mereka saja yang makan agar tidak kelaparan.


"Tidak terlalu, tapi cukup membuat tubuhku lemas karena aku sudah lama tidak bergulat dengan wujud Dewaku."


Aku masih terus memperhatikan lelaki yang sedang duduk dibatu besar itu, tapi terdengar dari arah belakang aku ada suara aneh seperti langkah kaki binatang.


Benar saja saat aku menoleh terlihat badak bercula satu berlari kearah kami "Ah sialan ada roh iblis lagi! Aku akan mengurusnya, kalian pergi saja nanti aku menyusul. Oh ya, bawalah bunga Lily hitam abadi ini agar aku dapat dengan mudah menemukanmu."


Aku mengeluarkan cambuk Lily hitam untuk mencambuk tubuh badak ini agar ia mengejar aku dan tidak melukai Pangeran ketiga ataupun Song Lan "Hei badak jelek apakah kau ingin lebur menjadi abu?" Tanyaku sambil mencambuk kedua kakinya, hingga ia terjungkir dan meraung kesakitan.


Saat aku melihat kearah Song Lan dan Pangeran ketiga, terlihat segerumbulan kelelawar iblis menuju kearahnya "Ah sungguh melelahkan sekali berada di alam senjata tak terbatas ini, Sima tolong jaga mereka berdua."


Setelah itu pedang Sima terbang kearah mereka dan melindunginya dari serangan kelelawar.


Badak ini menyeruduk tubuh ku dengan tanduknya "Ah sialan, apakah kau tidak mengerti? Kondisi berbahaya? Bisakah kau berbicara? Aku bosan berbicara sendiri dan kau hanya bermain-main dengan aku."


Badak itu meraung seperti berbicara kepadaku, tapi aku tidak mengerti apa yang ia ucapkan kepadaku "Bisa tidak kau berbicara lebih jelas? Menggunakan bahasa yang dapat aku mengerti?" Tanyaku lagi.


Lagi-lagi badak itu meraung tidak jelas "Ah sudahlah aku tidak akan membunuhmu, tapi jangan menyakiti aku dan teman-temanku apakah kau mengerti?" tanyaku lagi dengan menatap kedua matanya. Badak ini seperti memberitahuku sesuatu, tapi aku tidak mengerti apa yang ia maksud. Ujian apa lagi ini? Ah menyebalkan sekali.


"Jika kau butuh sesuatu kau bisa menggigit bunga Lily hitam ini, tapi jika kau hanya bermain-main denganku jangan digigit."


Badak ini menggigit bunga Lily hitam yang aku letakkan ke tanah dan memakannya "Apakah kau kelaparan? Atau ada saudaramu yang sakit?" Tanyaku.


Ia meraung lalu tubuhnya tertidur ditanah dan ia menjulurkan lidahnya "Oh saudaramu sakit? Jika sakit gigitlah bunga Lily hitam ini, aku akan membantumu bersama temanku."


Badak ini menggigitnya dan tiba-tiba di sampingku ada lelaki yang tadi sedang duduk bersantai diatas batu besar "Me-mengapa kau kemari? Mengapa tatapanmu sangat datar?" Tanyaku sedikit mundur beberapa langkah menjauh dari lelaki ini.


"Kalau begitu kau yang akan menggantikan badak ini Nona aneh," Ucap lelaki ini sambil tersenyum masam.


Ia melesat cepat mendekat kearahku dan mencekik leherku sampai kakiku tidak menapak ke tanah lagi. Aku seketika teringat Pangeran pertama, tapi rasa sakit ini sungguh membuat aku tersadar dari lamunan ku "He-i, kaaau roh pe-dang gil-aa!" Ucapku sambil berteriak sebisaku.


"Berani sekali kau berkata seperti itu!" Jawab lelaki ini dan ia mencekik leherku semakin kencang lalu aku menendang perutnya agar dapat terlepas dari cekikannya saat ini.


Memang langsung terlepas, tapi mengapa ia harus melemparkan tubuhku sampai menatap sebuah batu yang cukup besar?


Ah sungguh menyakitkan!


Darah mulai mengalir sedikit demi sedikit dari lenganku ditambah lagi cekikan lelaki ini sangat menyakitkan "Lengkap sudah penderitaan ku ini, ah Guru mengapa kau tidak menolong aku? Tian Yi dimana engkau?" Gumamku sambil mencoba bangkit. Aku mulai melilitkan sebuah kain baju yang aku robek sedikit dari pakaianku untuk menahan darah agar tidak keluar terus menerus dari lenganku.


Badak ini mendekat dan menjilati tetesan darah yang menetes di tanah saat ini"Apakah kau gila?" Tanyaku sambil memperhatikan badak ini menjilati tetesan darah yang berada di tanah itu.


Lelaki aneh itu kemana?


Mengapa tiba-tiba menghilang?


Ah sudahlah aku mencari Song Lan dan Pangeran ketiga saja.


Aku mulai mengeluarkan bunga Lily hitam abadi dan melacak keberadaan mereka berdua yang berlari kearah dalam sebuah goa yang berada diujung "Nona..." Teriak seorang wanita dari arah belakang dan saat aku menoleh terlihat seorang gadis kecil menggunakan pakaian sedikit tak layak karena terdapat banyak robekan pada bajunya lalu ia berjalan dengan pincang tanpa alas kaki kearah aku. Apakah ia badak yang tadi? Ah bagaimana mungkin, badak itu memiliki kekuatan spiritual yang dapat merubah dirinya sampai punya tubuh selayak Dewa begini?


"Terima kasih Nona karena darah milikmu, aku dapat kembali memiliki wujud manusia sempurna dan Nona bisakah kau membantu aku mengembalikan semua wujud manusia keluargaku dengan darahmu?" Tanyanya.


Aku melotot membayangkan betapa banyaknya darah yang dibutuhkan untuk membuat seluruh keluarganya memiliki wujud manusia sepertinya. Aku langsung bergidik ngeri "Kau gila?" Tanyaku dengan nada cukup kasar kepadanya. Aku langsung mengurungnya dengan perisai es lalu aku melanjutkan perjalanan mencari Song Lan dan Pangeran ketiga menyusuri goa ini.


Sejujurnya, aku sangat lapar dan aku harus bertahan hidup dalam rasa kelaparan ini karena Song Lan membawa makanan hanya sedikit. Jadi, aku harus mengalah dari Pangeran ketiga.


Mereka dimana? Apakah Goa ini sangat luas? Aku harus menemukan mereka. Aku berjalan sambil berusaha telepati dengan mereka agar berhenti dan aku dapat menyusulnya, tapi ntahlah akan tersampaikan atau tidak.


Karena sejujurnya aku juga tidak bisa mendengarkan telepati dari mereka, sedikitpun aku tidak bisa mendengarkannya. Lelaki tadi yang mencekik aku berdiri dengan santai menyender pada bebatuan sambil menatap aku "Ah mengapa dia lagi?" Gumamku.


Aku mencoba untuk memutar arah jalanku agar tidak bertemu dengannya lagi "Apakah kau yakin tidak ingin bertemu dengan temanmu?" Tanyanya.


Aku langsung berhenti melangkah dan menatap lelaki ini dengan serius "Bilang saja kau mau darahku seperti gadis badak bercula satu dan akhirnya kau menipu aku untuk kedua kalinya."


"Apakah kau murid pewaris gila?" Tanyanya dengan kesal.


Mengapa kata-katanya seperti meniruku tadi berbicara?


"Apa? Kau mengatai aku gila? Ah benar-benar menyebalkan!" Aku langsung berjalan melewatinya kearah lurus, tapi ia menahan tanganku dan memaksa mukaku untuk menoleh kearah lubang goa yang berada tepat disebelahnya.


A-Apa?! Pangeran ketiga?