
Waktu seperti berjalan dengan begitu cepatnya. Kini sudah satu bulan lamanya Jaemin tinggal di Jeju.
Pemuda itu tampak jauh lebih bahagia dari sebelumnya. Sekarang dia bisa tertawa dengan lepas. Sepertinya beban dalam dirinya menghilang secara perlahan.
Jaemin yang sekarang sudah sembuh. Jaemin yang sekarang sudah mengikhlaskan semua kepergian teman-temannya dan melanjutkan kehidupannya sendiri.
"Nana, makannya dimakan dong! Jangan fokus ke situ terus!" panggil neneknya dari arah dapur.
Jaemin menoleh, "iya nek" jawabnya singkat sambil menyambar makanan didepannya. Saat ini, pemuda itu sibuk membaca surat dari Hyunjin. Emang terdengar aneh. Kenapa juga Hyunjin mengirimi Jaemin surat, sementara jaringan ponsel sudah menembus sampai Jeju?
"Dia sangat lucu. Andai saja kita bisa ketemu" gumam Jaemin setelah selesai membaca surat dari sahabat barunya.
Setelah kejadian itu, hanya Hyunjin yang Jaemin miliki. Selama itu pula dia selalu di jaga oleh Hyunjin. Pemuda Hwang itu selalu mengikuti kemanapun Jaemin pergi. Dan dia pula yang sering mengusir kedatangan orang tua teman-temannya jika berkunjung.
Sangat disayangkan jika keduanya harus berpisah. Jaemin sebenarnya sudah mengajak Hyunjin untuk pergi, tapi pemuda itu menolak tawarannya. Katanya ada seseorang yang harus dia jaga di tempat lain yang Jaemin sendiri tak tau siapa itu.
Hyunjin tak pernah menceritakan asal usul serta keluarganya. Dia selalu menolak untuk menceritakan hal itu.
Namun, se-misterius apapun Hyunjin itu, dia tetaplah sahabat Jaemin. Jaemin akan menghargai semua keputusan sahabatnya itu. "Nek, dia siapa? Kok Nana nggak ingat ya?" tanya Jaemin yang kini fokus pada sebuah album foto milik neneknya.
Sang nenek datang dari arah dapur. Ia segera melirik foto yang Jaemin maksud. "Oh, itukan teman kalian waktu kalian kesini. Masa Nana nggak ingat sih?"
Jaemin memiringkan kepalanya bingung.
"Dia bahkan pernah kesini dua kali nemuin nenek. Itu sekitar satu atau dua bulan yang lalu" beritahu sang nenek.
"Nenek yakin itu teman kami? Bukan Jeno saja, kan?"
Nenek Jaemin mengangguk yakin. "Nenek yakin. Dia bahkan datang kesini dan beritahu nenek kalau dia sekarang satu kelas sama kalian berdua"
Aneh, kok Jaemin nggak ingat orang itu? Dia tak ingat siapapun. Emang ada ya orang yang dulu ia kenal dan sekarang satu kelas dengannya di Seoul ?
"Siapa namanya nek? Kok Nana nggak kenal ya?!" tanya Jaemin sekali lagi.
"Mungkin karna sudah lama. Nenek juga awalnya nggak ngenali dia. Wajahnya beda banget waktu tinggal disini. Tapi setelah dia nyebutin namanya, nenek langsung tau kalau itu teman kamu sama Jeno!" ujar nenek.
"Kalau gitu siapa namanya?" tanya Jaemin lagi dan lagi.
Itu artinya memang benar bahwa Taeyong yang di lihat Jaemin sewaktu di rumah sakit bersama Jeno. Dia yang datang kemari dan nemui neneknya. Tapi buat apa ? Untuk apa Taeyong datang?
"Dia juga titipin ini buat Nana. Katanya ini kenang-kenangan buat Nana. Nah...!" serah sang nenek.
Jaemin segera mengambil sebuah gantungan kunci bergambar emoticon tersenyum. Sempat terdiam untuk beberapa saat, akhirnya Jaemin ingat. Dia tau kalau dirinya pernah memberikan gantungan ini pada seseorang.
Dan sekarang ingatan itu kembali berputar dalam pikirannya.
Flashback...
Dulu saat Jaemin baru sampai di Jeju, tanpa sengaja dia berpapasan dengan seorang anak laki-laki seumuran dengannya tengah berdiri di sebuah jembatan. Tepat di bawah jembatan itu bukan lagi sungai deras melainkan laut yang terhubung langsung ke samudra.
Melihat anak itu berdiri sendirian di tengah jembatan, membuat jiwa peduli Jaemin terpanggil. Lelaki itu kemudian mendekat dan menarik anak laki-laki itu.
"Apa ini cara yang tepat untuk bersyukur?" celoteh Jaemin yang saat itu masih duduk di bangku SMP. "Apa cuma kematian cara termudah untuk lari? Tak bisakah kau ingat kalau ada keluarga yang menunggu kedatanganmu saat ini?!"
"Peduli apa kau?? Aku bahkan tak punya seseorang yang kau sebut sebagai keluarga. Hidupku sudah berakhir. Jadi jangan ngalahin aku untuk mati!"
Jaemin menarik tangan anak itu saat dia kembali berontak. "Enggak, bukan kematian. Itu bukan pilihan yang tepat!"
"LALU APA??!" bentak anak itu. "Emang ada pilihan terbaik lain? Memang ada cara lain untuk menghilang dari dunia selain mati??? Nggak ada!"
Anak laki-laki kembali menaikkan badannya ke atas jembatan membiarkan Jaemin dalam lamunannya. Dia bersiap untuk segera terjun dan melupakan pertemuannya dengan Jaemin.
"Ada"intrupsi Jaemin yang otomatis mendapatkan perhatian dari anak itu. " Cara lain hilang dari dunia ini selain mati, kau harus menghilang dan merubah penampilan. Itu keren bukan?"
Flashback end...
Jaemin ingat sekarang. Rupanya itu. Ya Taeyong adalah orang yang sama saat ia temui di masa kecil dan masa sekarang.
Apa itu artinya, dirinya juga ikut ambil dalam kejadian itu? Apa itu berarti Jaemin lah yang membuat Taeyong akhirnya balas dendam? Apa Jaemin penyebab semua masalah ini?
Dia sekarang tau dosa besar apa yang sudah ia lakukan hingga dihukum seberat ini. Dia paham sekarang. Kesalahannya tenyata besar juga.
Jaemin kecil tidak tau bahwa ucapan nya waktu itu membuat iblis dalam diri Taeyong bangkit. Hanya dengan kalimat yang bahkan Jaemin sendiri pun tidak paham maksudnya.