
"T-tuan, anda mau kemana?" tanya pak Kim walau ia takut.
"Perlu banget lo tau? nongkrong lah kemana lagi !" jawabnya ketus sambil menatap tajam lawan bicara nya.
"Tapi tuan besar melarang. Lebih baik tuan dirumah saja!" tolak pak Kim lembut.
"Oh"balas Taeyong singkat sambil menganggukkan kepalanya pelan. "Tapi gue maunya berangkat" lanjutnya. kemudian dengan ekspresi dingin.
Pak Kim sempat tersenyum kaku sebelum kembali melanjutkan aksi pelarangannya. Dia juga membeberkan fakta jika kabar mengenai Taeyong yang nekat membantah perintah sampai ke telinga ayahnya bisa gawat nanti.
"Jadi tuan lebih baik di rumah saja, kami bakal menjaga tuan muda dengan hati-hati. Lagi pula anda bisa dapat masalah jika nantinya" ungkapnya.
Kali ini giliran Taeyong yang mengulurkan senyumnya cukup lebar dihadapan para bodyguard kepercayaan sang ayah. Pemuda berkulit seputih susu itu lalu mendekati salah satu bodyguard dengan wajah datarnya.
Mau lihat sebuah pertujukan nggak?" tawar Taeyong random. Kepalanya sedikit dimiringkan ke kiri yang sukses membuat para bodyguard di sana kebingungan.
"Pertunjukan?"
Belum sempat pikiran mereka mencerna maksud dari ucapannya pemuda dihadapannya itu, Taeyong malah melancarkan beberapa aksi gila yang kembali membuat mereka kebingungan. Dengan tangan mungilnya, Pemuda berkulit putih itu mengambil salah satu pistol bodyguard dan menodongkannya kearah pak Kim.
"Kasih atau gue buat keributan!" ancam Taeyong yang entah dapat keberanian darimana berani-beraninya menodongkan sebuah pistol berisi pada orang-orang berotot dihadapannya itu.
Pak Kim refleks mengangkat kedua tangannya. Wajahnya tampak jauh lebih gelisah daripada tadi.
"Tenang tuan! Jangan lakuin hal yang bakal tuan sesali nanti. Sekarang taruh pistol itu dan serahin ke saya! Tuan muda kembalikan pistol itu!"
Melihat para bodyguard-nya ketakutan nyatanya tak membuat nyali seorang Taeyong menciut. Dia justru lebih mengencangkan pegangannya.
"Kunci!"
DOR!
Sebuah timah panas tiba-tiba melesat. Bukan ke arah pak Kim berdiri melainkan pada sebuah guci besar didekat sana. Itu semua ulah Taeyong yang merasa di remehkan.
"Gue bilang sekali lagi! kasih kunci itu ke gue atau-"
Belum sempat Taeyong mengakhiri kalimatnya, pak Kim secara mengejutkan memberikan kunci pada Taeyong yang membuat pemuda itu tersenyum senang.
DOR!
Kembali, suara timah terdengar dan dilanjutkan dengan suara pecahan kaca. Kali ini masih ulah Taeyong. Pemuda berkulit putih itu nyatanya belum puas bermain dengan alat berpelatuk tersebut.
DOR!
Taeyong kembali melesatkan timah panas hingga menyebabkan beberapa benda berbahan keramik didekatnya pecah. Bahkan pecahannya sempat mengenai tangannya sendiri. Tapi tanggapan yang dia keluarkan hanya ringisan kecil.
Pak Kim sempat tertegun setelah menyadari sebuah luka telah terbentuk di lengan pemuda yang seharusnya ia jaga dengan baik.
Luka yang sudah ada sejak lama. Pak Kim merasa bersalah karena telah membuat anak majikan nya itu marah hingga membuat luka pada lengan nya terbuka.
"Tuan muda lukamu"
Taeyong mengangkat tangannya cepat. "Gak usah sok perhatian, ini nggak sakit sama sekali!" ucap Taeyong kemudian menghilang dari tempat itu meninggalkan para bodyguard yang membeku kaku ditempatnya.
Sebelum pergi dari sana Taeyong sempat mengancam bakal menembak dirinya sendiri jika mereka nekad mencegahnya buat pergi. Alhasil, tak ada pilihan lain selain menurutinya. Mereka pun hanya bisa menghela nafas pasrah.