"DREAMS" Area

"DREAMS" Area
Dream 38


Flashback...


"Haechan! lo harus berhenti sekarang juga sebelum semua tambah parah!" perintah Jeno. "Gue tau lo sadar kan kalo semua ini salah, semua yang lo lakukan itu salah. Jika mau balas dendam bukan begini caranya!"


Jeno menatap Haechan penuh harap. Keduanya kini tengah berdiri di rooftop dengan posisi Haechan dekat dengan pembatas. Sementara Jeno berdiri tak jauh.


"Gue tau lo pasti sakit hati, apalagi mereka sudah lakuin ketidakadilan sama ibu lo. Dia pasti sedih di sana lihat lo yang berbuat salah. Gue mohon Chan, berhenti sekarang dan ngaku ke polisi"


Haechan terkekeh sambil melihat Jeno. "Tau apa lo tentang gue. Kenal aja baru beberapa bulan. Jangan sok akrab deh"


"Gue kenal lo jauh sebelumnya. Kita udah berteman lama. Gue tau semua nya Chan. Nggak! atau gue harus bilang bahwa lo saudara satu ibu nya Taeyong baru lo mau percaya sama gue hm?" ucap Jeno dan langsung dapat tatapan mengejutkan dari Haechan.


Flashback off...


🌱🌱🌱


Sudah hampir satu bulan lamanya Jeno pergi meninggalkan Jaemin sendiri. Dan sudah dua minggu juga hidup seorang Lee Jaemin murung. Hidupnya berubah setelah ditinggalkan sang saudara kembar.


Jaemin yang dulunya dikenal sebagai siswa ceria dan aktif kini berubah menjadi siswa yang pendiam dan murung. Wajahnya selalu menampakkan kesedihan. Senyumnya selalu menghilang dan tatapannya yang kosong.


Jaemin si siswa pindahan yang lucu dan periang. Sebutan itu perlahan mulai sirna. Dia juga dikenal sebagai siswa yang ramah dan sering bergurau dengan siapapun. Tidak mengenal apakah itu siswa satu sekelas atau dari kelas lain. Bahkan ia juga berteman dengan siswa dari beda angkatan.


Sifatnya yang ramah membuat banyak siswa termasuk guru disini menyukainya. Jaemin bahkan tak segan untuk bercanda beberapa murid yang ia temui disekolah. Dia juga dikenal sebagai masternya aegyo.


Tapi sekarang Jaemin yang mereka kenal sudah berubah menjadi seseorang yang asing. Jaemin yang sekarang lebih senang menghabiskan waktunya didalam kelas dengan melamun.


Waktu-waktu yang biasanya ia gunakan untuk bercanda bersama teman-temannya kini ia habiskan dengan melamun dan tidur. Ya begitulah kegiatan Jaemin yang berubah.


"Jaem, temenin gue ke kantin yuk!" ajak Jaehyun dari tempat duduknya. Pemuda berkulit putih itu datang ke bangku yang letaknya didepan tempat Jaemin. Ia meletakkan kedua tangannya di atas meja Jaemin sementara badannya meliuk ke belakang.


"Males"


Bukan Jaemin yang membalas tapi teman sebangkunya. "Dia udah jadi bagian dari hewan melata jadi susah buat diajak kompromi" sambil melihat Jaemin dengan pandangan mengejek.


"Ayo Jaem!" ajak Jaehyun kedua kalinya. Namun masih dicueki.


"Jaemin-"


"Udah sama gue aja Jae, jangan ajak kelinci pemalas kayak dia" ungkap Yuta menawarkan diri. Dia sudah berdiri di tempat duduknya menunggu Jaehyun.


Yuta mulai jengah. Pemuda jangkung itu kemudian berjalan ke arah pintu meninggalkan Jaehyun yang masih mencoba membujuk Jaemin buat ikut.


"Jae cepet, keburu masuk nih!" ajak Yuta tak sabar.


"Mau nitip sesuatu nggak Jaem?"


Jaemin akhirnya mengangkat kepalanya menatap pemuda Jung tersebut. Mata Jaehyun berbinar. Ia mengira Jaemin bakal ikut dengannya dan mencoba melupakan semua kejadian.


"Jaehyun, pernah nggak sih lo ngerasain sebuah perasaan, bukan sedih bukan juga marah. Itu lebih ke arah perasaan kecewa. Bahkan perasaan itu lebih sakit ketimbang saat lo sedih menangisi seseorang. Apa lo pernah merasa kecewa pada seseorang?" tanya Jaemin tiba-tiba.


Mendapat pertanyaan tak terduga, tubuh Jaehyun bergeming. Dia sempat membuka mulutnya mencoba untuk menjawab sebisa mungkin. Namun didahului oleh Jaemin.


"Gue rasa enggak deh" putus Jaemin cepat. "Elo pasti tumbuh dengan bahagia. Dan nggak mungkin ada hal seperti itu di kehidupan lo yang sempurna. Gue benar kan?"


"Maybe" jawabnya ragu. "Tapi Jaem-"


"JAEHYUN CEPET, JADI KE KANTIN APA ENGGAK!?" teriak Yuta merasa frustasi.


Jaemin tersenyum. Dia kemudian menyuruh Jaehyun buat pergi sebelum Yuta tambah marah lagi.


Sebenarnya Jaehyun ragu buat jadi pergi atau enggak. Ada sesuatu yang harus ia katakan pada pemuda dihadapannya ini. Tapi Jaemin sudah keburu menyumbat kedua telinganya dengan earphone.


"Tapi Jaem, gue nggak tau apa itu kecewa. Emosi semacam apa itu?" ungkap Jaehyun lirih. Dia melirik Jaemin yang sudah kembali pada posisi tidurnya. Jaehyun hanya bisa menghela nafas gusar.


Pada akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke kantin bareng Yuta. Pemuda jangkung itu terus berteriak minta ke kantin. Bisa panjang urusannya kalo nggak segera dituruti.


"Sekarang tinggal gue..." Gumam Jaemin sendiri. Ia merasa buruk. Semua teman nya meninggal dan yang tersisa hanya diri nya sendiri. Haechan di tangkap polisi karena kasus pembunuh an Jeno. Ia di jatuhi hukuman 10 tahun penjara.


Namun hal itu tidak membuat Jaemin lega. Pihak kepolisian menutup kasus kematian semua teman mereka tanpa alasan yang jelas.


"Lo nggak mungkin berkorban kan Jen? Hm? lo nggak mungkin ngorbanin nyawa lo buat ngungkapin kasus Haechan kan?" Butir air mata mengalir tanpa sadar. Seharusnya ia bisa memecahkan kasus ini sebelum banyak nyawa yang melayang. Seharusnya Jaemin lebih berhati-hati dalam bertindak. Seharusnya...


"Aghhhhh si*l!!!" umpat Jaemin keras.


Lalu pemuda kelinci itu sadar bahwa diri nya memang telah kehilangan sosok pelindung nya.