
"Akh....!!" Yuta mengerang kesakitan kala dia kembali mendapatkan pukulan dari Haechan. Darah langsung keluar dari sudut bibirnya.
"Segitu aja udah terluka, dasar lemah!" ejek Haechan. Dia berniat memukul pemuda Watanabe tepat di dagunya. Membuat sebuah luka besar yang nantinya akan merusak wajah Yuta.
Tapi semua itu gagal karna tiba-tiba sebuah timah panas bersarang ke pahanya. Hal inipun membuat tubuh Haechan ambruk seketika. Tangan Haechan terus saja memegang pahanya yang terus mengeluarkan cairan kental berwarna merah pekat.
" Akh....akh....sakit..!!" rintihnya menatap nanar luka tembak yang bersarang di tubuhnya.
Haechan kemudian mengalihkan ucap Jaehyun menatap Haechan penuh nafsu. Sedangkan objek yang dia tatap sedang berusaha melenyapkan segala kegugupan yang ia rasa.
"Maksud lo?" tanya Haechan sedikit ketakutan.
Jaehyun mendekat. Mencoba mengikis jarak antara dia dan Haechan. Aura kegembiraan terlihat dimatanya.
"Lee Haechan" Jaehyun mendekatkan wajahnya pada Haechan. "Benci, marah, ambisi, dan dendam. Kenapa gue baru menyadarinya "
Wait, tunggu sebentar !!
Haechan tak salah dengarkan tadi ???
Barusan Jaehyun berkata sesuatu padanya yang berhubungan dengan emosi. Haechan tau, dia sangat kenal cara membunuh Jaehyun itu bagaimana. Pemuda itu bahkan tak segan-segan untuk membunuh siapa saja yang sudah membuatnya senang.
Dan ucapan tadi. Itu seperti pertanda kalau Jaehyun sudah menemukan ******* pada korbannya. Apa yang dia mau sudah dia dapatkan. Lalu setelah ini Jaehyun pasti akan membunuh korbannya dengan cara apapun.
Biasanya Haechan ada di belakang Jaehyun dan merekam semua kejadiannya jika perlu. Ia akan melihat tahap demi tahap Jaehyun dan semua aksinya.
Dimulai dengan penyiksaan tanpa ampun. Korban lalu akan merintih kesakitan dan meminta untuk dibunuh secepat mungkin. Tapi tidak secepat itu bagi Jaehyun. Pemuda itu hanya akan membunuh korbannya jika sang korban sudah memberinya hal yang dia mau.
Selanjutnya adalah membunuh para korban. Dan satu lagi, kalimat khas Jaehyun dalam setiap aksinya,
"Satu nyawa, satu emosi. Haha... Menarik"
Entah mengapa ada sedikit rasa khawatir mengganggu pikiran seorang Lee Haechan. Dia seperti diserang rasa ketakutan akan keberlangsungan hidupnya. Dia takut jika hidupnya akan segera berakhir. Dia takut jika nyawanya akan segera lenyap.
Terlambat. Kata itulah yang selalu dia rutuki di kala tubuhnya diseret secara paksa oleh pemuda bermarga Jung. Jaehyun menyeret Haechan menuju pinggiran balkon rumah Jaemin dan menahan tubuh rentan itu dengan satu tangannya.
"Jaehyun, tolong dengerin gue dulu. lo jangan berprasangka seperti itu. Gue nggak mungkin punya emosi seperti itu. Hanya ada perasaan hampa saja. Jae, gue mohon...!" pinta Haechan.
Hanya wajah datar saja. Haechan tak mendapatkan balasan apapun dari Jaehyun. Entah dia lupa atau tak tau, manusia tak ber-emosi seperti Jaehyun pasti tak akan merasa iba. Bahkan jika Haechan merengek dan menangis darah sekalipun.
Jaehyun tetaplah Jaehyun. Pemuda itu terus saja menatap dengan pandangan datar.
"Gue kira rasa kepuasan yang bakal gue dapat dari lo. Tapi nyatanya enggak, Nggak masalah. Selagi gue dapat sesuatu dari lo, lo masih berguna Lee Haechan. Satu kata dari gue... Bye!" ucap Jaehyun lalu mendorong tubuh Haechan jatuh bebas dari balkon.
BUG!
Tak lama, suara keras bergema pertanda tubuh Haechan yang sudah mendarat dengan selamat. Atau lebih tepat nya kepalanya mendarat dah pecah.
Jaehyun tersenyum gembira dan senyuman itu sukses membuat Yuta mencelos ketakutan.
"Jadi, emosi apa yang lo punya Nakamoto Yuta?" tanyanya sambil menatap Yuta penuh harap.