
Pada akhirnya Jaemin mau menurut. Dia dan Kun segera pergi. Beruntungnya mereka karna jarak rumah dari gubuk itu tak terlalu jauh tak memakan banyak waktu. Dalam waktu sepuluh menit berjalan kaki saja keduanya sudah sampai ke tempat tujuan.
Tempat pertama yang mereka tuju adalah kamar Jeno. Mereka harus segera mengambil semua bukti sebelum pelaku menyadarinya. Kalau bisa dilaporkan ke polisi sekalian.
Namun sial, tanpa sepengetahuan Jaemin maupun Kun, rupanya sang pelaku sudah ada didalam kamar Jeno sedari tadi. Dia ternyata sudah tau perihal bukti yang Jeno temukan. Dan dia berniat untuk menghancurkan semuanya. Termasuk orang-orang yang tau tentang bukti itu.
"Hai, mencari laptop ini!" sapa sang pelaku yang tak lain adalah Taeyong. Tak pelak, hal itu pasti membuat keduanya terkejut. Bagaimana bisa Taeyong masuk ke rumah ini?
"Taeyong elo..."
"Yap"Taeyong tersenyum manis pada keduanya. "Gue emang pelakunya. Seharusnya kalian nyadar udah dari lama!" aku Taeyong sambil mendekati Jaemin.
Taeyong lalu menyeringai gembira ke arah Jaemin. Dengan menenteng laptop Jeno ditangannya, dia merasa sudah menang. Taeyong yakin kalau aksinya bakal sulit untuk dihentikan.
"Karna bukti udah aman, sekarang waktunya buat nyingkirin sampah yang berserakan. Kalian pilih yang mana?"
"Cara cepat atau lama" desis Taeyong seraya mengeluarkan sebuah pisau dari sakunya.
"Sampah?" ejek Jaemin penuh tawa. "Elo kan sampah masyarakat yang dimaksud!" tantang Jaemin dengan keberanian penuh. Senyumnya terukir dengan jelas membuat Taeyong mengerutkan dahi saking kesalnya.
"Kenapa? Lo kira gue takut sama lo Lee Taeyong? Asal lo tau aja, gue pernah belajar bela diri dan dapat sabuk hitam. Kemampuan lo nggak akan setara sama gue, Lee Taeyong!" papar Jaemin tak terlihat raut kecemasan di sana. Entah darimana pemuda Lee itu mendapatkan semua keberanian itu.
"Gak penting, gue sering bunuh orang. Dan target gue selanjutnya adalah kalian"seringai Taeyong terdengar begitu kejam.
Semua orang yang mendengarnya pasti akan meneguk ludahnya sendiri. Termasuk Jaemin sekalipun saat ini walau tengah dirasuki arwah siluman macan sekalipun.
Sungguh Taeyong benar-benar diluar dugaan. Dia bahkan masih sempat-sempatnya mengasah pisau dengan tangannya sendiri hingga meninggalkan bekas sayatan di telapak tangannya.
Dia terlihat seperti iblis.
Tanpa aba-aba, Taeyong mengayunkan pisau yang telah ia asah ke arah kedua pemuda tersebut. Saking cepatnya serangan itu, lengan Jaemin harus tergores lumayan dalam.
"Akh!" ringis Jaemin.
"Ups, kurang dalam ternyata. Sini gue bakal buat lebih dalam lagi. Mau yang lebih estetik lagi?"
"Gila!" umpat Jaemin sejadinya.
Taeyong tersenyum senang. "Gue lebih suka menyebutnya jenius. Luka seperti itu sih kecil. Lo belum rasain apa-apa Lee Jaemin!"
Taeyong sekali lagi menyerang. Dia terlihat lebih ganas sekarang dengan mengayunkan beberapa kali serangan ke arah mereka. Tapi nasib bagus menyertai Jaemin serta Kun. Keduanya masih aman-aman saja walau setelah itu terjadi perkelahian dengan Taeyong.
Jika dilihat dari jumlahnya, bisa dikatakan pihak Jaemin yang bakal menang. Tapi tak semudah itu kawan-kawan. Kalian pasti tau kalau Taeyong memiliki tenaga yang cukup besar. Masih diperlukan banyak tenaga jika mau mengalahkan.
Pertarungan sempat terjadi diantara ketiganya. Jaemin dan Kun berulang kali berhasil memukul Taeyong meski dengan tangan kosong. Tapi keduanya juga tak luput dari luka karena Taeyong bertarung dengan pisau.
"Jaemin sebaliknya lo pergi dari sini dan segera laporin ini ke polisi, biar Taeyong gue yang urus. Lebih cepat lebih baik. Sebelum dia kabur, cepet Jaemin!" bisik Kun di sela-sela pertarungan
"Tapi Kun..."
Kun menganggukkan yakin. "Nggak papa, gue bakal baik-baik aja. Cepat pergi!"
Membujuk Jaemin ternyata sama sulitnya dengan melawan Taeyong. Dibutuhkan banyak strategi untuk memicu Jaemin buat menuruti ucapannya.
"Cepet Jaemin sebelum terlambat!"
Namun setelah dibujuk beberapa kali, pada akhirnya pemuda kelinci itu mau menuruti ucapan Kun.
"Elo bakal baik-baik aja kan?" tanya Jaemin.
"Iya, jangan khawatir. Gue jauh lebih kuat dari perkiraan lo!" timpal Kun sambil menahan serangan Taeyong. Sementara Jaemin segera melenggang pergi dari kamar Jeno setelah mengambil laptop Jeno yang terjatuh ke lantai.
"WOY JAEMIN MAU KEMANA LO! BALIK NGGAK!?" teriak Taeyong berniat mengejar. Namun aksinya langsung dihadang Kun.
"Lawan lo, gue,"desis Kun mengeratkan pegangannya. Taeyong meringis. Dia menatap Kun penuh kebencian.
"Sialan!"
Sedangkan itu, Jaemin saat ini sudah sampai dilantai bawah. Ia berlari sekencang mungkin menuju pintu keluar. Ditangan kirinya ada laptop Jeno, sementara tangan kanannya sibuk berteleponan dengan Haruto.
Jaemin ingat sebelum datang kemari dia tadi sempat menghubungi Haruto dan menyuruhnya datang kemari. Dia harus menghubungi Haruto lagi dan menyuruhnya untuk segera menjauh. Dia takut Haruto beneran datang dan masalah besar malah terjadi.
DOR !!
Langkah Jaemin terhenti kala terdengar suara tembakan yang ia yakini asalnya dari kamar Jeno. Dia jadi khawatir dengan Kun. Apa dia bakal baik-baik saja?
Tak sampai disitu dirinya tambah dibuat tak berkutik disaat melihat tubuh Kun yang tiba-tiba jatuh dari lantai dua dengan keras.
Darah sampai muncrat ke wajahnya. Jaemin meringis dengan takut. Tubuhnya tiba-tiba membeku. Sekujur otot-ototnya mendadak hilang kendali. Dia sama sekali tak bisa menggerakkan semua tubuhnya.
Didepan sana, ada Taeyong yang tengah menyeringai senang ke arah Jaemin. Dia kemudian menodongkan pistol ke arah Jaemin. Tubuh pemuda Lee itu benar-benar mati dibuatnya. Saat ini Jaemin tak bisa bergerak sama sekali.
Tak lama kemudian, suara timah panas kembali bergaung. Sontak Jaemin meremat seragam miliknya dengan kuat. Tubuhnya mulai goyah. Darah segar mulai menetes dari balik seragam putihnya.
Jaemin jatuh sambil terbatuk dengan hebat. Pandangannya mulai buram. Perlahan sebuah siluet manusia mendekatinya. Dia menatap Jaemin dengan tatapan iba.
Bukan, itu jelas bukan Taeyong. Karna Jaemin tau dibutuhkan beberapa waktu sebelum pemuda Lee itu sampai ke tempatnya. Dia orang yang berbeda.
"Khawatir dan kaget, emosi yang belum pernah gue temui" ujar orang tersebut. "Bagus, gue suka. Bye Jaemin!" ucap Taeyong yang baru datang menghampiri dia dan orang asing itu lalu menghunuskan pisau ke dada Jaemin.