
Tak jauh berbeda dari Jaemin, Jisung juga tengah diliputi rasa bersalah. Tapi dia tak separah yang Jaemin alami. Dia tidak sampe mengurung diri di kamar. Pemuda Park itu cuma lebih pendiam aja. Dia juga mau ditemui teman sekelasnya.
Buktinya sekarang ada dua temannya yang tengah berkunjung ke rumah. Ada Renjun dan Haechan. Keduanya tengah asik menghibur Jisung yang pastinya masih sedih atas kepergian Chenle.
"Jangan terlalu sedih, Jie. Elo tau kan Chenle nggak suka kalo lo murung begini" ingat Haechan.
"Iya, Jie. Gue yakin kok pasti Chenle lakuin itu ada alasannya. Dia nggak mungkin ninggalin kita begitu aja. Elo harus tetep semangat ya!" timpal Renjun.
Jisung tersenyum senang kala Renjun menyambar tangannya dan mengelusnya. Dia merasa lebih tenang sekarang.
"Kenapa malam itu lo nggak nelpon gue aja Njun? Padahal gue lagi nggak sibuk!" ujar Haechan.
"Mau gimana lagi Chan, kemarin tuh gue khawatir banget nyampe nggak kepikiran kesitu. Gue kan nggak tau kalo lo ada di rumah. Yang gue pikirin tuh orang yang udah pasti ada kayak Jaemin " balas Renjun.
Renjun merasa bersalah. Ia bohong karena tidak mengatakan hal yang sejujurnya. Kebenaran bahwa ia dan Jaemin tengah merencanakan sesuatu. Renjun sungguh merasa bersalah.
"Kalo aja gue bisa mutar waktu. Gue bakal urungin niat buat pergi" sambar Jisung.
Mendengar perkataan Jisung, ketiga sahabat itu lalu terdiam lama. Suasana menjadi canggung dan aneh. Haechan melirik Renjun yang terdiam menunduk, lalu melirik Jisung yang melakukan hal yang sama.
"Emangnya lo pikir bakal segampang itu ngerubah takdir? Kita kesini tuh buat ngehibur Jisung. Udah deh jangan debat masalah itu. Dan buat lo Jie! jangan nyalahin diri sendiri. Ini udah jadi takdir Chenle. Gue harap lo bisa ikhlasin dia" protes Haechan merasa canggung.
Ya, takdir emang sekejam itu. Kita bahkan nggak tau kapan waktu kita habis. Apalagi waktu orang-orang yang kita sayangi. Andai saja kita tau, setidaknya kita bisa ngucapin selamat tinggal padanya. Atau menemaninya sampai detik terakhir. Itu adalah momen paling diinginkan Jisung.
"Kalo gue ada di posisi itu apa gue bakal sendirian juga. Gue takut banget kak!" keluh Jisung tampak sangat ketakutan. Dengan cepat Haechan dan Renjun langsung memeluk erat tubuhnya. Mencoba mengurangi beban berat dari pikiran pemuda itu. Bagaimanapun juga, Jisung lebih muda dari mereka. Tidak seharusnya dia mengalami ini semua. Haechan amat menyesal karna tak bisa menjaga teman-temannya. Dia tampak tak berguna.
"Lucas... gue minta maaf udah gagal jaga mereka. Gue gagal, maafin gue" gumam Haechan dalam hati. Ia mengeratkan pelukan nya pada kedua sahabatnya itu. Pelukan hangat yang bahkan mengalahkan hangatnya pelukan keluarga.
π±π±π±
"Pelakunya ada diantara kita, dia dekat dengan kita. Dia salah satu dari kita" kata Kun dengan pandangan mata tajam. Winwin menyimak dengan serius.
"Kalo gitu siapa? Kasih tau Winwin siapa orangnya biar kita bisa nyerahin dia ke polisi. Biar masalah ini cepet selesai, gue nggak mau ada korban lagi lebih dari ini! "
"Nggak bisa sekarang Win" Lirih Kun
"Ya terus kapan!?" seru Winwin. "Nunggu korban lagi? Sampe teman-teman kita mati satu persatu? Sampe kapan kita mau diem aja?"
Kun mencoba menenangkan Winwin yang udah kepalang pusing. "Nunggu waktu yang tepat. Kita tunggu nyampe dia dapatin buktinya. Kita bakal bergerak nanti Winwin mengusap wajahnya saking frustasinya. "Dia siapa? Orang yang ada di rooftop waktu itu? Orang asing kayak dia emang bisa dipercaya. Kun, lo bahkan nggak percaya sama teman sendiri tapi malah percaya sama orang asing itu. Dia itu orang asing Kun!!!" ingat Winwin.
"Hah- "
"Iya Win. Dimalam itu bukan cuma Mark aja yang mau dibunuh, gue juga jadi targetnya. Kalo bukan dia, pasti gue udah mati sekarang"
"Ya kalo gitu dia aja yang lapor ke polisi siapa pelakunya beres kan? Kenapa juga harus nunggu kalo kita punya saksi?" sela Winwin.
"Pokoknya nggak bisa! Dia nggak bisa ngelakuin itu!"
"Terus siapa??"
Winwin memalingkan wajahnya sebentar saking kesalnya. "Kenapa juga harus kita? Kenapa nggak dia aja? Bukannya dia yang tau segalanya? Kenapa repot-repot kita yang harus ngelaporin dia?"
"Lo nggak bakal ngerti Win, dia nggak bisa ngelakuin itu"
"Why?" Winwin mulai emosi. "KENAPA NGGAK BISA!?"
"KARNA DIA NGGAK BERASAL DARI SINI?"
What? Tunggu bentar. Maksudnya nggak berasal dari sini itu gimana? Nggak berasal dari kota ini? Atau nggak berasal dari negara ini?
Sumpah Winwin nggak paham maksudnya. "Maksud lo?"
Winwin dan Kun bertatap lama. Mencoba berbicara melalui tatapan. Namun maksud tatapan mereka berbeda. Winwin yang mencoba mencari suatu kebenaran yang tersirat di mata Kun. Sementara itu, Kun yang mencoba meminta Winwin bersabar melalui tatapannya.
π±π±π±
Jeno membuka pelan pintu kamar Jaemin dengan kunci cadangan. Jujur, pemuda dingin itu khawatir karena kembarannya yang masih belum makan itu. Jeno marah, kesal, sedih dan benci ketika Jaemin yang egois menyalahkan diri nya atas kematian Chenle.
"Nana?" Panggil Jeno pelan.
Tidak ada sahutan. Jaemin tengah menyelam di alam mimpi. Jeno mendekati kasur nya. Menghela napas panjang saat melihat wajah penuh air mata itu.
"Beg*!" umpat Jeno.
Tangan kekar nya mengelus rambut pemuda kelinci itu dengan sayang. "Maafin gue Jaem, gue nggak becus jagain lo. Seharus nya kita sebagai saudara kembar harus saling melindungi. Maafin gue ya, gua sayang lo Jaem".
Jeno menyempatkan diri mencium pucuk kepala Jaemin lalu segera keluar agar tindakan nya tak di ketahuan oleh Jaemin.