"DREAMS" Area

"DREAMS" Area
Dream 42


Jaemin membuka email nya yang ternyata penuh oleh pesan Renjun. Begitu mendapat pesan email dari Renjun yang Jaemin lakukan adalah pergi ke sekolah pagi-pagi sekali. Dia ingin pergi ke loker milik Renjun dan melihat apakah ada bukti yang Renjun tinggalkan disana.


"Duh Njun, seharusnya lo ngirim siapa pelaku sebenarnya bukannya teka-teki pengasah otak. Udah tau otak gue ini lemot masih aja disuruh buat mikir!" protes Jaemin sambil mengacak-acak loker Renjun.


Setelah hampir sepuluh menit lamanya membongkar isi loker Renjun tapi tak menemukan apa-apa, Jaemin memutuskan untuk berhenti sejenak.


"Lah kok cape ya? Padahal cuma ngobrak-abrik satu tempat. Coba kalau satu wilayah gue obrak-abrik bisa kena encok nih pinggang" sungut Jaemin.


Ting!


Ponsel Jaemin berbunyi lumayan keras membuat pemuda Lee itu harus rela untuk meninggalkan aktivitasnya dahulu dan mengecek benda pipih tersebut.


Sejak dari kemarin Jaemin tak memeriksa ponsel karna saking sibuknya. Apa kabar dengan ponselnya yang ia tinggalkan?


(17) panggilan Yuta tak terjawab...


Apa??? Yuta? Kok sebanyak itu?


Sejenak Jaemin terdiam memandangi deretan panggilan tak terjawab dari Yuta. Banyak juga ternyata. Kira-kira ada hal apa yang membuat pemuda Nakamoto itu meneleponnya sebanyak ini?


Mencoba mencari tahu semuanya, Jaemin kemudian memutuskan untuk menelepon Yuta namun tak diangkat. Lah kok, apa jangan-jangan Yuta belum bangun pagi ini?


"Etdah tuh anak, giliran lagi dibutuhkan malah ngilang kayak jin" celetuk Jaemin.


Tak sampai disitu, ternyata tadi malam selain menelepon Jaemin, Yuta juga mengirimkan beberapa pesan lewat akun sosmed yang tentunya belum Jaemin buka.


Berhubung karna sekarang waktu senggang untuk membukanya, Jaemin bakal baca semua pesan Yuta satu persatu tanpa terlewatkan.


Rata-rata isinya tentang Yuta yang menanyakan keberadaan Jaemin tadi malam atau obrolan ringan lainnya.


πŸ’Œ : "Jaem lo ada dirumah?"


πŸ’Œ : "Jaem, boleh nggak gue izin datang kesana?"


πŸ’Œ : "Jaem, ini beneran urgent. Sekarang juga, tolong dibaca'"


πŸ’Œ : "nggak jadi deh Jaem. Gue ada urusan penting"


πŸ’Œ : "Jaemin!"


πŸ’Œ : "malam ini gue merencanakan sesuatu yang penting!"


πŸ’Œ : "lo mau dateng nggak?"


πŸ’Œ : "gue bakal nyulik Haechan!"


Begitulah isi dari beberapa pesan yang berhasil Jaemin baca, sisanya berisi omongan gabut seorang Nakamoto Yuta.


"Yuta, lo sungguhan mau nyulik Haechan?" ungkap Jaemin bicara pada diri sendiri.


"Gue harus temuin dia sekarang juga!" putus Jaemin kemudian berlari menuju ruang NCT.


🌱🌱🌱


Haechan mendecak kesal ketika kegiatan paginya terganggu oleh seorang Yuta yang sibuk mondar-mandir dihadapannya. Penginnya sih fokus biar bisa menikmati sarapan pertama dalam masa penculikannya.


Ih, amit-amit sarapan pertama. Haechan maunya sih ini kali pertama dan terakhirnya ada dirinya ada dilingkungan kumuh seperti ini. Dia mau bebas sesegera mungkin.


"lo bisa diem nggak sih, risih gue lihatnya!" protes Haechan sebelum menyumpal mulutnya dengan roti bakar.


"Ngomong-ngomong, nggak ada makanan lain selain roti apa? Misal ayam panggang atau ramyeon kek!" usul Haechan.


Percuma saja, setelah protes tentang berbagai hal nyatanya semua tak Yuta hiraukan. Pemuda berambut panjang itu masih dengan kegiatannya, bolak-balik memasang kamera cctv diberbagai sudut.


"Kenapa harus repot-repot masang cctv karna nggak mungkin ada hal penting yang terekam" heran Haechan.


"lo kira gue sandera? Woy Yuta, lepasin gue nggak!!!???" bentak Haechan. Ia lalu berontak karena kehabisan kesabaran. Dia diam karena masih menghargai Yuta sebagai sahabatnya.


Yuta menurunkan pandangannya menatap setiap jengkal tubuh Haechan yang terikat tali kecuali pada tangannya. Kalo dilihat-lihat, sebenarnya Haechan bisa dengan mudah keluar dari sini. Toh tangannya tidak terikat. Mustahil dia bakal kesulitan melarikan diri.


Yuta mendekat. Mulai mengikis jarak diantara keduanya. "Gue nggak ngikat tangan lo sekenceng itu, jadi kabur aja dari sini!"


"Lah tujuan lo masang cctv tuh buat apa?" keluh pemuda Lee itu.


"Gue cuma mau rekaman lo ngaku atau nggak, kalo lo kabur pun nggak nutup kemungkinan lo bakal ketangkep lagi"


Haechan tersenyum sinis. "Jadi lo mau laporin gue ke polisi? Percuma. Malahan nanti lo yang bakal dipenjara karna udah nyekap gue disini. Jadi cepet lepasin gue!" papar Haechan.


"Siapa bilang ke polisi!" sambar Yuta cepat. Tubuhnya kemudian bergerak pelan ke arah pintu. "Bodyguard" ucap Yuta santai. "Gue bakal laporin lo ke bodyguard bokap gue"


"Maksudnya? Bodyguard?"


Sebelum menjawab pertanyaan dari Haechan, tangan Yuta sudah lebih dulu menyentuh knop pintu. Pemuda itu kemudian membawa tubuhnya pergi dari sana meninggalkan Haechan sendiri.


"Dasar bocah berandal!" maki Haechan pelan.


🌱🌱🌱


Hari masih pagi, tapi bagi seorang Taeyong waktu seakan-akan bergerak menuju pukul dua belas. Suasana disekitarnya sungguh panas. Atmosfer disini berbicara seakan-akan ini sudah siang padahal baru jam tujuh pagi.


Terhitung sudah hampir satu jam Taeyong terdiam bak patung mendengar semua amarah sang ayah. Pemuda itu tidak bisa keluar rumah lantaran tuan Lee yang menghadangnya pergi.


Sepengetahuan Taeyong hari ini bertepatan dengan polisi yang menyerahkan semua bukti atas kasus kematian Jisung pada jaksa. Ya, kasus Jisung memang di tangani oleh Jaksa pribadi keluarga nya. Tak seserius kasus teman Taeyong yang lain.


Teman? Lalu, apa hubungan itu semua dengan Taeyong?


Jelas ada lah. Mobil Tuan Lee yang hilang ditemukan didekat rumah Winwin. Hal inipun mengakibatkan para polisi sempat mencurigai keluarga Lee terlibat dalam kasus ini. Apalagi ada sidik jari Jisung yang ditemukan disalah satu bangku mobil tersebut membuat pak Park, ayah Jisung sempat menuduh Tuan Lee pelakunya.


Untung saja setelah beberapa diskusi pendek antara kedua belah pihak, pak Park pada akhirnya setuju untuk tak mengikutsertakan keluarga Lee dalam masalah ini. Tentunya dengan sedikit uang sebagai pemanisnya.


"Hari ini kami libur aja nggak usah kemana-mana" suruh Tuan Lee sepertinya berniat menghentikan sesi marah-marahnya.


Tuan Lee lalu memijit kening nya sambil memanggil bawahannya. "PAK KIM" panggilannya menggelegar ke seluruh penjuru rumah. Tak lama kemudian beberapa orang dengan seragam jas hitam khas para bodyguard datang.


"Jaga Taeyong baik-baik, kalian nggak usah ikut saya ke kantor. Biar anggota di sana saja" titah Tuan Lee lalu beranjak pergi.


"Baik pak!" patuh pak Kim yang tadi dia panggil.


Tapi sebelum benar-benar pergi, dia kembali mendekati putra satu-satunya tersebut lalu menyentuh pundak Taeyong pelan.


"Jangan pergi kemana-mana tanpa pengawasan dari pak Kim. Kalau ada urusan penting bilang ke pak Kim dulu, ingat itu!" titah Tuan Lee.


"Hm"jawab Taeyong singkat lalu tersenyum.


Sepeninggalan Tuan Lee, senyum dibibir Taeyong pun ikut menghilang. Pemuda berkulit putih itu menunjukkan beberapa perubahan. Wajahnya yang tadi tampak ketakutan sekarang berubah jadi dingin tanpa ekspresi apapun. Tubuhnya yang tadi terlihat bergetar saat di nasihati sang ayah mendadak berubah jadi tegap.


"Pak Kim mana kunci mobilnya!" seru Taeyong cepat begitu mendengar suara mobil sang ayah yang mulai menjauh. Pundaknya sekarang sudah digantungi tas biru jeans bertuliskan 'empty'


"Tuan mau kemana?"


"Ke tempat biasa gue nongkrong" jawabnya singkat.


"Tapi tuan besar melarang. Lebih baik tuan dirumah saja!" tolak pak Kim lembut.


"Oh"balas Taeyong singkat sambil menganggukkan kepalanya pelan. " Tapi gue maunya berangkat" lanjutnya. kemudian dengan ekspresi dingin.


Taeyong tersenyum dengan ekspresi menakutkan. Di mana bibir nya tersenyum namun mata nya melotot. Siapa yang tidak takut melihat nya?