
Kabar kematian Chenle kembali menggemparkan semua orang. Kematian yang begitu tiba-tiba dan ganjil. Restoran tempat kejadian pun di penuhi oleh para polisi, wartawan dan warga sekitar. Tak ketinggalan pula teman-teman sekolah nya.
Jaemin, Renjun, Jisung dan Hyunseok lah orang pertama yang melihat jelas mayat Chenle. Tubuh itu tergantung di langit-langit restauran nya sendiri dengan tubuh kaku dan pucat.
Pemuda kelinci itu langsung terduduk di lantai. Jisung memeluk nya erat. Mata nya tertutup rapat, enggan melihat mayat Chenle yang tergantung. Dengan gemetar, Renjun langsung menelpon pihak berwajib.
Sementara itu, Hyunseok hanya membeku. Baru kali ini ia melihat dengan mata kepala nya sendiri mayat manusia. Jelas ini seperti kematian tinggal atau bunuh diri. Karena tidak ada bercak darah atau barang yang rusak jika ini pembunuh an.
Hyunseok merasa bersalah. Baru tadi siang ia menjelek-jelekan anggota Dream, sekarang satu orang mati lagi. Tepat di hadapannya. Hyunseok tak ingin percaya, tapi aghhhhh!
Flashback...
"Jisung nggak boleh dipenjara, dia phobia sama tempat sempit. Dia juga phobia sama cahaya kamera. Dia itu manusia paling banyak punya phobia"
Jaemin menganggukkan kepalanya pelan. Ditatapnya sang lawan bicara dengan serius.
"Dulu Haechan nggak punya phobia darah tapi semenjak ibunya kecelakaan dan meninggal dia jadi punya phobia itu. Renjun dia anggota Dream yang paling rapuh tapi sok-sok'an kuat. Walau pun begitu, Jisung yang paling kuat diantara kita. Dia maknae-nya tapi dia selalu yang nguatin kita"
"Cerita gue lucu nggak?" tanya Chenle terkekeh.
"Letak lucunya tuh dimana Le? Gue heran deh sama lo" omel Jaemin. "Lagian ya, lo itu hebat loh bisa inget semua kelakuan anggota Dream dan kelemahannya. Mereka pasti bangga punya lo"
"Hahaha... Elo juga anggota Dream kali Jaem!"
Jaemin tertawa menyadari bahwa ia lupa. Jaemin dan Jeno anak baru di Dream. Jauh setelah Dream terbentuk.
"Oh iya, Jaem! gue baru inget nih!" Ujar Chenle seraya memberikan sebuah flashdisk pada Jaemin.
"Apa ini?"
"Jeno minta rekaman cctv gue. Katanya dia tau dari lo kok lo ngomong ke dia sih kalo gue juga mulai diteror?" kesal Chenle diakhir kalimatnya.
"Lah? Jeno tau darimana? Gue nggak ngomong ke siapa-siapa!" tutur Jaemin sukses buat Chenle ikut kebingungan.
Walaupun sempat merasa aneh, pada akhirnya Jaemin mengambil flashdisk yang Chenle beri. Lumayanlah nanti bakal Jaemin kasih ke Jeno, tentunya setelah dia lihat isinya.
"Le, peneror itu apa sering dateng kesini?" tanya Jaemin.
Sama hal nya dengan Renjun, Restoran milik keluarga Chenle juga mendapat teror akhir-akhir ini. Walau tidak membahayakan, namun itu cukup mengganggu ketenangan.
Chenle sempat melipat bibirnya dengan pelan sebelum menjawab pertanyaan Jaemin hanya sebatas menggelengkan kepalanya. Melihat itu Jaemin bernapas dengan lega. Syukur deh kalo Chenle udah nggak diganggu.
Tiba-tiba ponsel Jaemin berdering. Itu panggilan dari Renjun yang mengatakan kalo Jisung tengah bertengkar dengan Hyunseok. Mendengar hal itu kompak membuat keduanya langsung khawatir.
"Ayo Jaem, cepetan pergi kesana, Jisung dalam bahaya!" seru Chenle terlihat begitu cemas.
"Iya gue mau kesana, tapi lo gimana? Masa gue tinggal sih. Gue telpon Haechan aja ya buat nemenin lo malam ini? " usul Jaemin.
Kalo Chenle jujur pada Jaemin pasti dia nggak mau pergi. Jadi Chenle harus relain Jaemin pergi meski sebenarnya ia sangat butuh kehadiran pemuda koala itu disini.
"Jaem!" panggil Chenle tepat sebelum Jaemin pergi. Tapi dia tak melanjutkan kalimatnya. Jaemin terdiam menatap Chenle dalam-dalam. Entah mengapa ia merasa ada yang aneh. Seperti ada yang dia sembunyikan dari Jaemin.
Sekilas Jaemin melihat kedua tangan Chenle yang bergetar. Pandangannya tampak bergetar seperti mengisyaratkan sebuah kalimat. Itu seperti meminta Jaemin buat stay dengannya. Namun sayangnya pemuda Lee itu membuang jauh-jauh dugaannya itu dan lebih memilih buat pergi.
"Telpon gue kalo ada hal aneh" Perintah Jaemin sebelum benar-benar menghilang dari pandangan Chenle.
Flashback off...
Kalo saja malam itu Jaemin tetap stay bersama Chenle dan mengirim orang lain ke tempat Jisung apakah takdir bakal berubah? Apakah Chenle bakal selamat sampai sekarang?
"Itu kali pertamanya gue merasa menyesal banget. Kalo aja gue stay disana pasti takdir bakal berubah. Chenle maaf gue nggak jagain lo dengan baik!" sesal Jaemin.
🌱🌱🌱
Dan disinilah Jaemin sekarang. Mengurung diri dikamar. Sudah seminggu sejak kematian Chenle yang di tetapkan sebagai bunuh diri, pemuda itu tak keluar kamarnya. Bahkan untuk makan saja tak ia lakukan.
Jeno dan Jaemin memang pisah rumah dengan orang tua nya karena pekerjaan Ayah mereka yang harus berpindah-pindah. Awalnya, orang tua mereka akan membawa Jeno dan Jaemin ke mana pun mereka pergi. Namun setelah si kembar itu nyaman dengan lingkungan dan sekolahnya, Jeno dan Jaemin memutuskan untuk tinggal sendiri bersama pengasuh mereka tentunya.
Bibi sudah berkali-kali memanggil Jaemin untuk makan. Bahkan Jeno yang biasanya cuek harus turun tangan. Tapi sayang semua nggak berhasil. Jaemin tetep ngotot mengurung dirinya di kamar.
"Jaemin buat nggak pintunya, nih makan dulu. Jangan nyusahin bibi dong! Oh... apa jangan-jangan lo mau nyusul Chenle ya. Lo mau bundir juga kan?" celetuk Jeno yang langsung dapat pukulan dari bibi.
"Nono kalo ngomong jangan gitu!" omel bibi. "Jangan dengerin Nono, Na" ujar bibi. "Den keluar ya, bibi udah buatin makanan kesukaan den Nana nih. Keluar dong" bujuk bibi sambil membawa nampan berisi makanan.
"Woy Jaemin lo jangan nyusahin bibi dong, keluar nggak!" bentak Jeno.
"Den Nana!"
"Pergi! Gue nggak mau makan !" saut Jaemin dari dalam.
"Kayak anak kecil pake acara ngambek. Eh, lo udah gede njir. Jangan nyusahin orang! Keluar nggak!"
"Gue nggak nyuruh lo kesini. Lo aja yang pergi!" balas Jaemin.
Mendengar itu Jeno lantas mengangkat kedua tangannya berencana untuk menggedor pintu kamar Jaemin. Namun niatnya ia urungkan sebab tak mau membuat bibi terganggu.
"Auah gue pergi, bikin emosi aja!"
"Ya udah pergi aja sana!"
Dengan cepat Jeno langsung ngacir dari tempat itu. Berlama-lama di sana membuat tekanan darahnya meningkat.
Di tinggal sendirian, bibi akhirnya menaruh semua makannya ke meja samping kamar Jaemin."Nana, bibi taruh makanannya di meja ya. Di ambil ya kalo Nana laper. Bibi pamit dulu!" ucap bibi lalu pergi.