
Suara kayu dipukul cukup keras terdengar. Seorang siswa tengah berjalan sambil berbincang di telepon. Entah apa yang ia bicarakan tapi terdengar ada kata Jisung - Renjun yang adu mulut. Dia pasti salah satu siswa di sana yang mungkin menyaksikan aksi tersebut. Tak dapat dipungkiri kalau pertengkaran antara Jisung dan Renjun menjadi topik pembicaraan satu sekolah. Secara, mereka itu termasuk anak dari para konglomerat. Pastilah jadi pusat perhatian banyak orang. Apalagi mereka berteman cukup akrab.
"Ya begitulah tingkah orang kaya, selalu nyari perhatian" saut siswa tersebut yang nyatanya masih terdengar oleh orang yang mengikutinya dari belakang.
"Hahahaha" siswa itu kemudian tertawa mendengar guyonan teman diseberangkan. "Iya bener, para kurcaci itu harus diberi pelajaran. Sebarkan aja beritanya biar mereka tambah susah. Masa maunya enak terus"
Siswa tersebut asik berteleponan dengan temannya tanpa tau kalau orang dibelakangnya tengah mengeluarkan sebuah pisau dari saku bajunya. Dalam hitungan tiga detik saja pisau tersebut sudah berpindah tempat ke dada siswa tersebut.
"Akh!" teriak siswa tersebut kala sang penguntit mencabut pisau yang tengah tertancap itu secara paksa. Tubuhnya limbung seketika dan darah terus merembes menembus seragamnya. Siswa itu merintih sejadi-jadinya kala si penguntit kembali menggoreskan pisau untuk kedua kalinya tepat di lengan siswa itu.
"E-elo?" Sang siswa terkejut bukan main ketika melihat siapa yang barusan menyerangnya.
Penguntit itu lalu tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi takut dari lawan nya itu. "Yap! gue pelaku dari pembunuhan Chenle hehe... Lo pasti nggak nyangka kan kalo itu gue, padahal gue ada di sekitar kalian" Senyum si penguntit.
"Mau tau nggak kata-kata terakhir Chenle sebelum dia mati?" tawar si penguntit dengan tawa renyahnya. "Atau lo yang bakal ngucapin kata-kata terakhir sebelum nyusul sahabat gue tercinta Chenle?!"
Siswa itu menggelengkan kepalanya dengan cepat. Dia memohon agar dilepaskan.
"Gue janji gue bakal tutup mulut, gue nggak akan bilang ke siapapun kalo lo pelakunya. Plis lepasin gue!" pintanya.
"Menarik"jawab si penguntit itu. "Tapi gue mau lebih"
Siswa itu membulatkan matanya kala melihat si penguntit itu mengeluarkan pisau lagi dari saku baju lainnya. Dia juga memainkan pisau tersebut yang membuat siswa tersebut tambah ketakutan.
"J-jjangan! plis lepasin gue, gue janji nggak akan ngomong. Gue nggak bakalan nampakin diri dihadapan lo kalo lo merasa terganggu. Kalo perlu gue bakal pindah dari kota ini. Tapi gue mohon lepasin gue!" katanya terdengar sangat putus asa.
Siswa tersebut terus merengek meminta supaya di bebaskan sementara si penguntit itu diam sambil menimang-nimang pisau ditangan kanannya.
"Ok, dengan dua syarat!"
"Apa?" tanya siswa tersebut berantusias tinggi. Dia bahkan melupakan luka tusuk yang ia dapatkan tadi. Yang penting sekarang adalah nyawanya sendiri. Soal luka itu bisa diobati nanti.
"Sebarin video ini lewat akun lo!"
Si penguntit itu memberikan sebuah flashdisk berisi rekaman detik-detik sebelum Chenle gantung diri. Tanpa ba-bi-bu lagi, siswa tersebut langsung mengerjakannya dengan cepat. Ia kirimkan video tersebut ke grup kelasnya.
"Cerdas! Dan yang kedua..."
"Yang kedua?" siswa itu begitu bersemangat. Ia lupa bahwa di hadapannya kini adalah seorang pembunuh berantai. Yang bahkan tega membunuh para sahabat dekat nya sendiri.
Penguntit itu tersenyum polos.
🌱🌱🌱
Seseorang dengan pakaian serba hitam tampak di kegelapan malam kota. Dia mengenakan topi serta masker hitam. Senyumannya terukir jelas di layar komputer nya kala melihat sebuah video yang menampilkan detik-detik Chenle mengakhiri diri.
Pria bermasker hitam itu melirik ke arah siswa yang kini dipenuhi dengan darah segar yang mengalir dari perut serta lengannya yang terkoyak. Kemudian ia melirik mainan di tangan kanannya. Ada sebuah pisau disana.
"Syarat kedua"
"Syarat kedua?" heran siswa itu sambil mengerutkan dahinya. Ia lupa bahwa pembunuh itu mengajukan dia syarat sebagai ganti nyawa nya. Siswa itu menunggu kalimat yang keluar dari si pembunuh dengan cemas.
"Gue mau lidah lo!"
Sontak siswa itu mendelik hebat kala mendengar ucapan pria bermasker itu. Sementara si pembuat syarat terdiam sambil tersenyum yang bisa dilihat meski bibirnya tertutup oleh masker.
"Psikopat!!!" pekik siswa itu ngeri. Ia langsung melarikan diri dengan napas memburu. Ini gila. Benar-benar gila.
Mengabaikan luka di perut dan lengan nya, siswa itu kemudian tersandung kaki nya sendiri. Ia takut bukan main. Nyawa nya sedang terancam sekarang. Sementara itu, pria bermasker tersebut berjalan santai sambil memainkan sebuah pisau di tangan nya.
Siswa SMA tersebut kemudian bangkit sambil memegangi perutnya yang terluka. Ia meringis kesakitan sesekali. Luka itu memang tak besar. Untung saja itu juga tak terlalu dalam. Tapi tetap saja, yang namanya luka pasti sakit meski itu sekecil bulir padi.
Siswa tersebut berusaha menahan semua rasa sakit tersebut untuk segera pergi dari tempat itu. Ia harus cepat-cepat kabur dari pria bermasker itu.
Namun tak lama kemudian sebuah pisau tiba-tiba melayang ke arah siswa tersebut dan jatuh tepat di punggungnya. Siswa tersebut langsung tumbang kembali ke tanah.
"Ups, sorry kelepasan!" ucap pria bermasker. "Hahahaha" Tawa nya menggelegar di tepi jalan.
"Siapa itu?" saut seseorang dari kejauhan disusul bunyi langkah kaki yang mendekat. Suara tawa yang di timbulkan si pria bermasker itu ternyata mampu menarik perhatian dari seseorang yang kini tengah datang kemari.
"Ada orang di sana?" tanya seseorang kembali menyahut. Mendengar ada orang di dekatnya membuat sang siswa mencoba kembali membuat suara yang mungkin bisa menarik perhatian seseorang ketempat ini.
"Di sini- aku!!!" ucapannya terputus kala mulutnya yang secara mengejutkan mengeluarkan busa putih. Siswa itu kewalahan menghadapi tubuhnya yang kini terasa amat menyakitkan. Seperti ada hewan yang tengah menggerogoti tubuhnya dari dalam. Sedangkan suara itu terus menyahut.
Pria bermasker hitam itu mendekat. Perlahan dia buka masker dan memperlihatkan wajah tampannya yang tampak semakin indah dengan sebuah senyuman.
"Satu tetes aja udah cukup. Tikus yang memberontak harus segera dibasmi biar nggak merugikan" tukas pria tersebut lalu menjatuhkan sebotol racun.
Mulut siswa itu terus saja mengeluarkan busa putih. Ia merintih kesakitan namun si pria bermasker tak menunjukkan rasa kasihan sedikitpun. Dia terus saja diam hingga siswa itu kehabisan nafas dan nyawanya.
BRUK!
"Jeno, itu kau? Jeno-ya?" ungkap seseorang. Pria bermasker itu sontak menengok. Di sana sudah ada seorang pemuda dengan Hoodie pink kesukaannya tengah berdiri sambil memandanginya tak percaya.
"Jeno?"
Kedua nya saling bertatapan.