
"Dasar pecundang, disuruh diem aja kenapa nggak nurut!? Kamu nggak denger apa yang papah omong. Bisa nggak sih jangan buat keributan? Kami nggak malu apa udah nggak punya rasa malu? JAWAB KENAPA!!???" pekik pak Park dengan penekanan di setiap katanya.
Jisung terdiam bersedekap tangan. Pemuda itu hanya menundukkan kepalanya seraya mendengar ocehan yang berasal dari ayahnya. Ngomong-ngomong ini sudah berlangsung hampir dua jam, tapi sepertinya tak ada tanda-tanda bakal berhenti.
Meski tak berada di rumah dan hanya berbatas pintu mobil sebagai pembatasnya, Pa Park terus saja memarahi anaknya atas kejadian pertengkaran tadi di kelas. Ia tentu tak terima kalau Jisung terlibat dalam pertengkaran dalam bentuk apapun. Ia tak izinkan itu.
Sebagai putra dari pemilik sekolah ini, seharusnya Jisung harus bisa menjaga sikapnya. Ia tak boleh terlibat dalam pertengkaran apalagi perkelahian. Hal itu bisa mencoreng nama baik ayahnya selaku kepala sekolah di sana.
Bahkan Pak Park tak segan-segan untuk menampar putranya didepan sopir pribadinya. Ia juga menyuruh Jisung buat keluar dari mobil dan membuang tas putranya dengan kasar.
Jisung tersenyum miring melihatnya. Rasanya sudah muak sekali harus berpura-pura baik dan lugu didepan ayahnya. Ingin rasanya Jisung menghilang dari hadapannya.
"Kenapa juga senyum-senyum, nggak terima diusir? Dasar anak nggak tau terima kasih! Pergi kamu dari hadapan papa!" tandas Pak Park lalu menutup pintu mobil dengan kasar. Tak lama mobilnya segera melaju dan meninggalkan Jisung sendiri beserta tas yang isinya berserakan.
Jisung menghela nafas pendek. Ia kemudian mencoba mengambil semua barang-barangnya satu persatu.
"Dasar tua bangka, ninggalin anak sendiri di jalanan. Gue doain dapat karma loh. Nabrak pohon sekalian!" sumpah Jisung sambil terus mengambil barang-barangnya.
"Jangan gitu Jie dia juga ayahnya kandung lo" seru seseorang yang tiba-tiba datang dan membantu Jisung. "Tua-tua gitu dia loh yang udah besarin lo dari hasil jerih payahnya. Setidaknya hargai dia, meski iya sih nyebelin. Semua orang dewasa emang nyebelin"
Jisung mematung. Dia menatap orang tersebut dengan pandangan miring. Sedangkan orang itu terus saja mengambil barang Jisung yang masih tertinggal.
"Lo beruntung tau Jie, bokap lo masih bisa diajak pergi, tapi ayah gue-..." ucapannya terhenti kala menyadari Jisung yang tak lagi sibuk memunguti barang-barang miliknya melainkan terdiam sambil meliriknya tak suka.
"Yaelah! Dibantuin malah diem aja. Ayo buru, biar cepet kelar"
Jisung masih diam. Sedangkan temannya melanjutkan memunguti barang yang berserakan. Pemuda Park tersebut malah membuat orang-orang geleng-geleng kepala akan aksi yang ia lakukan. Bukannya ikut kembali memunguti barang, ia malah melempar barang-barang yang berhasil kawannya pungut.
Brak!
"Jie? "
Pemuda itu melangkah menjauh buat mengambil barang yang Jisung buang. Tapi lagi-lagi setelah barang itu didapat, Jisung kembali menampiknya. Plus menendang juga.
Winwin menghela napas. Semangatnya tak gentar. Ia langkahkan kakinya mendekat dan segera meraih barang tersebut. Ia masukkan ke tas Jisung sekalian.
"Jangan sok baik, Win. Orang kaya gue tuh udah kebal sama orang munafik kayak lo!" cibir Jisung.
Winwin terkekeh. "Iya deh Jie, gue munafik. Serah lo aja lah" tuntas Winwin tak mau memperumit keadaan. "Udah gih sono pergi, dah malem nanti kedinginan!"
"Napa sih lo sering banget buat gue jadi orang jahat. Udah! gak usah sok baik!" seru Jisung.
"Dih sapa juga yang sok baik, elonya aja yang ngerasa mungkin "
Jisung mengangkat kedua alisnya kesal. Kedua tangannya ia taruh di pinggang. Sambil menahan amarahnya, dia mencoba menyulut emosi dari seorang Winwin. Namun semua berakhir dengan sia-sia. Pemuda itu hanya terdiam mendengar unek-unek yang Jisung keluarkan.
Hingga pada akhirnya Jisung yang menyerah dan ngacir pergi dari sana. Winwin masih stand ditempat. Dia hanya memandang sekilas kemudian ikut pergi.
"JANGAN NGIKUTIN GUE! PERGI SONO" teriak Jisung menggelegar.
Mendengar teriakan barusan, pemuda itu hanya membalas dengan sebuah senyuman kecil tanpa ada keniatan buat membalas.
Jujur, setelah kematian Chenle, Jisung jadi sedikit tidak percaya dan mencurigai Winwin. Pasalnya, pemuda itu ada di tempat kejadian bahkan sebelum Ia, Jaemin, Renjun dan Hyunseok datang. Jisung tidak Terima kematian mendadak itu.
Dengan langkah sebal, Jisung menjauh dari Winwin yang hanya menatap nya dengan senyum kecil.
"Lo belom cukup dewasa Jie" tawa Winwin pelan. "Tapi gue harap lo nggak bakal pernah ngerasain susah kayak gue"