
Sebelum Winwin datang ke rumah Jaemin dan menyelamatkan Yuta...
"Jaemin....!" teriak Winwin memasuki rumah Jaemin yang sudah porak poranda.
Pemuda itu segera menerjang tubuh Jaemin yang tergeletak di lantai dengan darah yang terus merembes. Winwin menangis pilu memandang keadaan Jaemin yang terluka luar biasa parah. Mulutnya tak henti-hentinya mengeluarkan darah dengan sebilah pisau menembus tubuhnya.
"Jaemin bangun... gue mohon buka mata lo..!!" raungnya sambil mencoba mengembalikan kesadaran Jaemin.
Winwin menepuk pipi Jaemin lembut. Dia meraba nadi pemuda kelinci itu. Tak ada denyut nadinya. Sudah menghilang. Dan tubuh Jaemin sudah terasa dingin.
Menyadari nafas Jaemin yang tak lagi berhembus, Hyunjin segera mengeluarkan sebuah suntikan. Dia lalu menyuruh Winwin menyingkir agar dirinya bisa menyuntikkan cairan itu ke tubuh Jaemin.
"Baru setengah jam, gue harap ini bisa bekerja" ucapnya lirih.
Winwin yang masih setia berdiri disampingnya terus saja meneteskan air mata. Dia amat sedih menyadari kalau Jaemin sudah tiada.
"Jaemin bangun..." ucap Winwin parau.
Hyunjin melirik ke sekitarnya. Tak jauh dari tempatnya, dia melihat tubuh lain penuh darah yang bisa ia yakini sebagai Kun. Dia lalu menyuruh Winwin untuk mendekati tubuh tersebut.
"Winwin cepat pergi kesana dan berikan suntikan ini pada Kun!" suruh Hyunjin menyodorkan sebuah suntikan yang entah sejak kapan sudah pemuda itu siapkan.
"Tapi ini untuk apa?" tanya Winwin masih terdengar parau.
"Cepet suntikan saja!" tuntut Hyunjin terlihat sangat gelisah.
" Uhuk..uhuk...!" itu adalah suara Jaemin yang tiba-tiba bangun dan kembali bangun mengeluarkan darah. Dia mengerjab kan matanya.
Hyunjin menghela nafas lega. Dia kira upayanya untuk menyelamatkan Jaemin akan gagal, namun rupanya itu berhasil. Dia kemudian bangkit dan menghampiri Winwin yang masih menunggu reaksi Kun setelah disuntik.
"Masih belum bangun?" tanya Hyunjin. Winwin menggeleng lemah. "Seharusnya dia bangun dan muntah darah. Tapi jika dalam waktu setengah jam dia tetap diam saja, gue nggak bisa masti in kalo dia bakal selamat" lanjutnya tak mau membuat Winwin terlalu berharap.
Winwin menengadahkan kepalanya, menatap Hyunjin yang berdiri disampingnya. "Apa yang udah lo kasih ke mereka. Cairan apa itu?" tanya Winwin.
Dia jadi ingat kalau sebelumnya Kun pernah cerita padanya kalau dulu -waktu Kun dipenjara- Jeno dan Hyunjin pernah memberikannya sebuah obat yang membuat Kun batuk darah. Tapi tak hanya itu, detak jantung Kun juga ikut terhenti yang membuat para kepolisian menyatakan dirinya mati.
Tapi saat ia dibawa ke ruang mayat, tiba-tiba Hyunjin datang dan menyuntikkannya sebuah cairan yang Winwin yakini mirip dengan cairan yang menembus kulit Jaemin tadi. Dan yang terjadi selanjutnya adalah Kun muntah darah. Tapi tak lama dari itu, kondisi tubuhnya menjadi bugar kembali. Seakan dia tak pernah mati.
Kun sempat bahagia saat mengetahui dirinya telah mengalami mati suri. Tapi ada satu hal yang mengganggu pikiran seorang Kun. Dia sadar kalau semua yang menimpanya bukan sekadar mati suri belaka. Tapi ada sesuatu yang lain. Kun yakin jika ada sesuatu yang Hyunjin tutupi. Apalagi cairan itu. Tapi apa itu?
"Jadi cairan apa yang udah lo beri? Cairan apa yang membuat mereka mengalami mati suri?" tanya Winwin mengintimidasi.
Hyunjin memalingkan wajahnya sejenak. Pemuda itu tampak ragu untuk membeberkan rahasianya pada orang dihadapannya ini.
"Semuanya terlalu rumit, gue aja bingung apalagi jelasin ke lo!" jawaban Hyunjin jelas tak memuaskan. Winwin butuh lebih. Ia mau lebih detail lagi.
"Lo berutang penjelasan!" tuntas Winwin lalu berdiri. Pemuda itu kemudian menghambur ke tubuh Jaemin yang terlelap. "Gue bakal cari Yuta, Hyunjin harus bawa mereka ke rumah sakit!" putus Winwin.
"Elo mau cari kemana?"
Winwin berdiri, dia lalu menunjukkan sebuah hadiah yang Asahi beri.
"Satu tempat yang kemungkinan di datangi Taeyong... yaitu rumah Jaemin-Jeno"