
Renjun berjalan dengan lemas menuju kelasnya. Lima menit lagi bel pasti berbunyi. Ia tak akan peduli dengan hal itu. Rasa semangatnya hilang begitu saja.
Bisa Renjun tebak kelasnya pasti sedang sepi karna berita kemarin. Kepergian Chenle begitu berdampak pada kelasnya. Apalagi dia adalah ketua kelas. Semua murid kelas pasti merasa kehilangan.
Sebelum masuk ke kelas, Renjun melihat Jaemin tengah terdiam di ambang pintu. Pemuda Lee itu diam saja tanpa berniat buat masuk ke kelas.
"Minggir gue mau masuk!" desis Renjun. Namun tak digubris. Dia lalu berusaha menyingkirkan tubuh pemuda Lee itu dengan kedua tangannya. Dia dorong tubuh Jaemin buat menjauh dari pintu, tapi ternyata hasilnya gagal.
"Woy, gue mau masuk ke dalam. Jangan halangin pintu!" ucapnya disertai bentakan. Namun lagi-lagi itu berujung gagal.
Pemuda kelinci itu terus saja menempel di pintu. Renjun sampe geram melihatnya.
"Njun... yang Jisung omongin itu bener?" suara Jaemin bergetar.
Sontak Renjun meliriknya. Rupanya dari tadi Jaemin tengah asik melihat perdebatan di dalam kelas. Pantes nggak mau menyingkir. Renjun yang menyadari kalau ada keributan segera mencabut earphone yang sedari tadi menyumpal telinganya.
"ITU JUGA KARNA LO!!! Kak Mark sama Chenle mati. ITU PASTI LO, KAN?" teriak Jisung terdengar jelas di telinga Renjun.
"Kalo aja lo nggak bangun waktu itu, ini semua nggak bakal terjadi!!! lo kan? hm? lo kan pembunuhnya!?" Ucap Jisung datar sambil terus memojokkan Winwin dan mendorong bahu pemuda itu.
"LO KAN PEMBUNUHNYA WINWIN!!!!" Teriak Jisung menggeleng.
Meski semua murid berusaha keras buat menghentikan pertengkaran itu, tetap saja yang namanya Park Jisung kalo udah marah pasti nggak bisa ditahan.
Bahkan sampe Haechan turun tangan sendiri, amarah Jisung nggak bisa ditahan. Dia terus saja memberontak hendak mendekati Winwin. Sementara sang lawan hanya terdiam memandangi.
"Chenle pasti tiap hari merasa bersalah atas kepergian Taeyong, dia pasti selalu nyalahin dirinya sendiri. Tapi lo ? lo malah hidup dengan tenang seakan nggak terjadi apa-apa. Apa itu yang disebut teman?" oceh Jisung.
"Gue rasanya enek lihat muka lo!" urat leher Jisung keluar seiring keras nya suara bentakan nya.
"Jie, berhenti nggak. Semua ini bukan salah Winwin. Kepergian Chenle bukan karna Winwin pasti ada alasannya" lerai Haechan. "Lo jangan salahin dia terus"
Jisung mendecih. Tatapannya berubah kayak orang yang kesetanan. Perlahan tangannya terangkat. Ia kemudian mengelus rambutnya sendiri secara pelan.
"Nyalahin dia? Kalo gue ngomongin fakta, gimana?" tanyanya menatap Haechan tajam. "Gue lihat dia ada di sana bahkan sebelum gue. Dia udah di sana, tepat di mana Chenle mati. Menurut lo dia mau apa?"
Suasana kelas berubah jadi gaduh sesaat setelah Jisung bicara. Banyak siswa yang mulai berbisik-bisik membicarakan kebenaran itu. Mereka mempertanyakan apakah yang Jisung katakan tadi itu benar.
"Ya, bisa aja dia gak sengaja lewat disekitar sana. Pelakunya kan ngirim kita pesan" Hyunseok ikut bicara.
"Buat apa Winwin ada disana? Iseng jalan-jalan? Ngaco loh! Dia pasti mau ngintai Chenle!"
"Oy Park Jisung! Berhenti!" Tukas Renjun dari tempatnya. Ia lalu merangsak masuk melewati Jaemin dengan paksa. Meski sempat dapat makian dari pemuda Lee tersebut, pemuda Huang itu nyatanya tak menggubris sama sekali. Ia terus saja masuk dan mendekati Jisung.
Begitu sampai Renjun langsung menatap Jisung dengan tajam. "Lo kira cuma Winwin doang yang salah, lo salah besar. Bagi gue lo yang paling bersalah!"
"Jangan lupa ya yang nyebab-in NCT pecah itu lo bangs*t! Yang nyulut api dan alasan Taeyong pergi itu elo, Park Jisung!!!" ungkap Renjun.
Jisung mendecih sekali lagi. "Taeyong? Lo masih inget dia rupanya. Gue kira lo udah lupa sama pembohong itu"
"Pembohong ya?" saut Jaehyun. Serempak semua mata langsung tertuju kepadanya. Mereka semua tentu tak menyangka kalau pemuda pendiam yang biasanya tutup mulut itu tiba-tiba menyahut.
Tak bisa dipungkiri lagi kalau kehadiran Jaehyun selama ini tak dianggap oleh siswa-siswa di sana. Bahkan ada yang lupa kalau di kelas ini ada yang namanya Jaehyun. Bagaimana tidak, orang dia jarang ngomong. Dan mungkin kalian juga nggak menganggapnya penting di cerita ini. Tapi jangan salahkan Jaehyun kalau tiba-tiba dia bertindak dan membuat semua orang diam tak berkutik lagi.
Setelah NCT bubar dan muncul anggota Dream, Jaehyun berubah menjadi pendiam. Ia terlihat masa bodoh dengan keadaan sekitar. Ia juga tidak pernah lagi berkomunikasi dengan anggota lama nya. Walau jauh di lubuk hati Jaehyun, ia masih sangat menyayangi semua member NCT. Juga Taeyong sang Leader yang bahkan hanya dirinya lah yang tau kabar nya.
Pemuda berkulit putih itu lebih sering mengagetkan orang-orang dengan tingkahnya yang konyol. Hampir semua yang ia lakukan tak pernah terpikirkan.
"Kalian nggak bosen apa? Bertengkar mulu, pusing gue dengernya" protesnya. Posisinya kemudian berubah mendekat ke arah Jisung.
"Jie, udahlah, ikhlasin aja. Jangan keras kepala begini. Chenle nggak bakal suka" sekarang pandangannya berganti ke Renjun dengan tubuh yang tak bergerak seincipun. " Dan lo Njun, plis jangan ungkit-ungkit masa lalu. Masalah Taeyong itu udah berlalu dan dia mungkin udah bahagia di suatu tempat. Jangan nuduh Jisung terus. Elo mau persahabatan kita tambah rusak lagi?"
Renjun mengalihkan pandangannya. Ia malas jika harus bertatap mata dengan Jaehyun. Dan sepertinya ia juga malas hadir di kelas ini. Pemuda bertubuh kecil itu akhirnya memilih untuk pergi. Masa bodoh dengan pelajaran, moodnya aja hancur. Masa mau tambah berantakan.
Persetan dengan Jisung!!!
Nyatanya setelah kepergian Renjun yang tak disertai drama, sukses membuat seisi kelas terdiam membatu. Memang sudah jadi hukum alam. Dimana terjadi pertengkaran harus ada yang mengalah. Jika bukan karna persahabatan mana mungkin Renjun bakal ngalah buat pergi. Ia adalah jenis orang yang menjunjung tinggi harga diri.
Dan Jisung dia itu orangnya keras kepala. Mana mau dia mengalah. Ia tak akan diam begitu saja. Harus lawannya yang mengalah.
Sebelumnya, jika terjadi pertengkaran antara member Dream maka Chenle lah yang bakal melerainya. Dia itu pakarnya anak-anak Dream, apalagi Jisung. Udah tunduk aja di hadapan Chenle. Selalu nuruti omongan yang Chenle ucapkan. Pokoknya top lah Chenle.
Tapi sayang, seperti yang kita tau Chenle udah mati bunuh diri. Entah ada masalah apa, tak ada yang tau.
Jaemin yang hanya diam dari tadi tidak tau harus apa. Ia orang baru di sini, tidak paham apa yang mereka bicarakan. Andai Chenle ada, pasti pemuda glowing itu lah yang akan bersemangat bercerita tentang NCT atau pun Dream pada Jaemin.
Namun itu hanya tinggal kenangan semata. Jaemin rasanya ingin menangis lagi, tapi ia enggan karena banyak nya orang.
Tiba-tiba kepalanya di sentil pelan.
"Cengeng!"
Jaemin menaikan pandangan nya. "Jeno!" Serunya lirih.
"Lo tu tol*l apa dong* apa beg* sih hm? mewek mulu kek bocah"
Jaemin merengut kesal. Hal yang Jeno lakukan selanjutnya adalah berdiri di depan kembarannya itu, menutupi tubuh kecil pemuda kelinci itu dengan tubuh babon nya. Jaemin tersenyum tipis. Di balik sosok Jeno yang menyebalkan, dingin dan pemarah. Ada sosok paling baik yang siap menjadi garda terdepan untuk seorang Lee Jaemin.