
23 Agustus...
Kejadian di mana Taeyong mengalami hal paling menyedihkan dalam hidup nya.
Taeyong berjalan dengan gusar menuju rumah sakit. Pandangan pemuda itu terlihat sangat lemas. Tak ada tanda-tanda kehidupan didalamnya.
Tadi dia mendapatkan sebuah telepon dari kepolisian. Begitu mendengar kabar dari sana, pemuda itu segera berlari menuju rumah sakit.
Begitu tiba di sana, gerombolan polisi adalah yang pertama ia temui. Jangan kaget, masih ingat kan dengan keadaan ibunya yang ditahan karna tuduhan palsu. Sungguh hati Taeyong sakit setiap mengingat kejadian itu. Andai saja dia bisa memutar waktu.
Namun bagaimanapun keadaannya Taeyong harus tetap tegar. Ia ingat setidaknya masih ada ibunya. Setidaknya ada seseorang yang ia tunggu kedatangannya walau tahun-tahun akan berlalu dengan lama.
Mungkin 5, 10, 15, atau 20 tahun lagi ibunya bisa bebas. Mengingat hal itu selalu membuatnya tersenyum gembira.
Jika ibunya bebas nanti, Taeyong mau menyambutnya dengan meriah. Mungkin pesta kecil bakal cukup. Ditambah dengan kehadiran anaknya yang mungkin saja sudah lahir. Tak salahkan jika ia mengharapkan hal itu ?
Taeyong tau, mungkin semuanya terdengar sangat berlebihan. Ia hanya mau menyemangati diri sendiri. Apa salahnya? Biarlah orang mengutuk dan mencaci ibunya. Karna bagi Taeyong, dia tetap seorang wanita yang paling berjasa di hidupnya. Terlebih setelah ayahnya yang berselingkuh dan suka wanita muda. Ibu adalah orang satu-satunya bagi Taeyong.
"Nak ibumu ada di rumah sakit sekarang. Dia sedang sekarat dan memintamu untuk datang!"
Sakit, hatinya terasa begitu hancur. Taeyong kecil yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama harus menerima kenyataan pahit kalau ibunya sudah meninggal akibat bunuh diri.
Kata pak polisi, ibu Taeyong mengakhiri hidupnya sendiri dengan cara menenggelamkan kepalanya sendiri. Apakah segitu sulitnya hukuman itu hingga ibunya memilih untuk meninggalkannya sendiri?
Ibunya memilih untuk menyerah ? Dia tak menyangka pilihan itu yang dia ambil.
Ini tak adil. Semuanya yang menimpanya sangatlah tidak adil. Namun bagaimanapun juga Taeyong tak akan membenci ibunya. Tak akan bisa.
Setidaknya mengikhlaskan kepergiannya bisa membuat hati Taeyong sedikit lega. Ia sadar bahwa hidupnya masih panjang. Masih ada mimpi yang harus ia gapai. Ia sadar kalau ada masa depan yang harus ia raih.
Pagi itu, sebelum pemakaman ibunya berlangsung, Taeyong dikejutkan dengan kedatangan ayah Jisung. Ya, dia datang dengan wajah yang terbilang sedih. Entah benar atau tidak. Tapi bagi Taeyong itu cuma akal-akalannya saja. Bisa saja itu cuma pura-pura.
"Nak saya turut berdua akan kepergian ibumu, saya sangat terkejut mendengarnya. Begitu dapat kabar ini saya langsung datang kemari. Kau yang sabar ya!" kata pak Park.
Taeyong menganggukkan kepalanya dengan lemah. "Paman..."
Helaan nafas kemudian keluar dari mulut раk Park. "Maaf Taeyong karna tak memberitahu, tapi paman sudah menyuruh Jisung ke luar negeri"
"Kemana?"
"Aussie"
Tadinya Taeyong berharap kalau Jisung akan pergi ke negara yang sama dengannya. Tapi nyatanya tidak. "Kalau yang lain, mereka kemana paman? Kenapa nggak datang?"
"Oh itu" pak Park sempat melirik ke manajernya sebelum menjawab. " Mereka juga sama dikirim ke luar negeri. Sebagian dari mereka di pulangkan sementara ke negara mereka masing-masing"
"Taeyong, paman harus pergi sekarang juga karna banyak pekerjaan. Untuk masalah keberangkatanmu akan paman bicarakan lagi. Paman tinggal dulu, ya. Tetap semangat!" pungkasnya lalu pergi.
Setidaknya Taeyong bisa berharap kalau hidupnya akan perlahan membaik setelah ini.
Setelah kepergian pak Park, Taeyong hanya bisa pasrah karena member nya telah di kirim ke luar negri secara mendadak. Hal itu awal nya di maklumin oleh Taeyong karena mungkin itu hal yang wajar, namun hal itu tidak berlaku ketika ia bertemu dengan Haechan.
Yeahh...
Saudara satu ibu nya.
Haechan tampak sangat marah dan kecewa atas kepergian teman-teman nya itu. Ia baru saja kehilangan orang paling di cintai nya, namun orang yang pelaku sebenarnya dari kebakaran sekolah itu malah kabur. Haechan sungguh tidak Terima itu.
"Kita harus iklas Chan, Gue tau lo pasti sedih banget..." Taeyong memeluk tubuh Haechan erat. Menumpahkan segala emosi nya di pundak saudara nya itu. "Ibu kita harus pergi dengan tenang"
Detik itu juga Haechan mendorong keras tubuh Taeyong. "Brengs*k!!!" teriak Haechan marah. "Nggak ada yang tau kalo kita satu ibu Tae! Gue bahkan baru ngerasain kasih sayang ibu gue!!! Tapi karena rombongan sial*n itu, ibu kita jadi meninggal"
Taeyong memejamkan mata. Ia tau ini berat karena Haechan memang baru mengetahui fakta bahwa ibu kandung nya adalah ibu Taeyong. Itu pasti berat untuk nya.
"Gue bersumpah Tae... Gue bakal balas dendam atas kematian ibu kita. Gue nggak peduli itu teman atau lawan, kematian harus di balas dengan kematian"
Taeyong menatap mata merah Haechan. Seolah ada getaran batin dari keduanya. Taeyong tersentak, lalu merasa gantung nya panas, seperti di remas kuat.
Dan siapa yang menyangka bahwa itu adalah awal dari semua teror pembunuhan ini.