"DREAMS" Area

"DREAMS" Area
Dream 23


Lima belas menit sudah berlalu, namun Jaemin belum menampakkan batang hidungnya. Renjun jadi semakin risau. Pertarungan antara Jisung dan Hyunseok belum juga usai. Kalo gini terus sih bisa-bisa nggak ada yang selamat.


Renjun harus bertindak. Menunggu Jaemin sama aja dengan nunggu jatuhnya salah satu korban. Dia harus segera melerai pertarungan itu sebelum Jisung serta Hyunseok bertindak diluar nalar.


Setelah mengumpulkan tekad, akhirnya Renjun nekat melerai pertarungan itu sendirian. Ingat ya, hanya bermodalkan nekat plus keberuntungan saja.


"BERHENTI!" teriak Renjun keluar dari semak-semak. Langkahnya segera mendekat dengan cepat mencoba tiba sekilat mungkin. Renjun memposisikan tubuhnya diantara keduanya berusaha melerai sebisa mungkin.


Meski sempat terlempar kesana-kemari karna saking semangatnya kedua orang itu, tapi itu tak buat langkahnya gentar. Renjun tetap berusaha. Ia terus saja menghentikan pertarungan itu.


"Woy gue kok malah didorong? Gue mau lerai kalian nih, jangan dorong-dorong!" protes Renjun namun tak digubris.


Setelah sempat terdorong beberapa kali, akhirnya Renjun berhasil berada ditengah-tengah kedua orang tersebut. "Berhenti, jangan berantem! Kalian nggak cape apa!?" tanya Renjun setelah berhasil melerai keduanya.


"Kalo gue sih cape! Beg* kalo lo berdua saling bunuh gini! udah, stop! " sambung Renjun lirih.


Keduanya memang terdiam, tapi dari sorot matanya Renjun yakin amarah dari kedua kubu belum reda. Ia bisa lihat baik Jisung maupun Hyunseok sama-sama mengepalkan kedua telapak tangannya. Ia mesti waspada.


"Bisa dibicarain baik-baik kan? Gak usah pake otot ! Jauh-jauhan kalian, jangan deket-deket!" perintah Renjun kemudian. Keduanya menurut untuk saling menjauh.


Namun tiba-tiba Hyunseok maju ke arah Jisung. Untung saja Renjun berhasil mencegah hal itu.


"STOP! Tenang Hyunseok, jangan kebawa emosi! Mundur lo!" perintah Renjun. Kali ini Hyunseok diam. Dia segera mundur kebelakang beberapa langkah.


Suasana udah mulai tenang, udah mulai kondusif nih. Eh tiba-tiba Jisung tersenyum smirk ke arah Hyunseok. Otomatis Hyunseok yang masih kebawa emosi langsung maju dan ngedorong Jisung tapi malah Renjun yang jatuh.


"Yakh PARK Jisung!" teriak Renjun. Keduanya langsung terdiam sambil memandang Renjun yang kesal. Sementara Renjun sendiri tengah membersihkan pakaiannya yang sempat kotor.


Ting!


Itu sebuah notifikasi dari akun Dream yang mengatakan kalau Chenle.....


"Yeorobun!" sapa Jaemin lemas. Akhirnya orang yang Renjun tunggu datang juga."Kalian udah lihat artikelnya kan? Chenle..."


"Chenle bunuh diri? Seriusan?" ucap Renjun.


"Chenle? Kayaknya nggak mungkin, masa iya sih?" sambung Hyunseok ikutan kaget. Sementara Jisung hanya terdiam. Pemuda itu memandangi ponsel nya lama.


Berita tentang Chenle cepat sekali menyebar ke seluruh siswa. Tak terkecuali Winwin. Pemuda itu sudah membaca artikel tersebut. Saat ini ia tengah sibuk mencari Hoodie kesukaannya. Winwin harus segera tiba di rumah Chenle.


Setelah berhasil mendapatkan Hoodie yang ia maksud, Winwin segera menyambar sebuah kunci di atas galon air. Pemuda itu lalu pergi dan tak lupa mengunci rumahnya. Dia tau betul kalau ayahnya pasti tak pulang malam ini.


Begitu sudah ada diluar, secara tiba-tiba ada seseorang datang dengan raut muka amat cemas. Winwin kaget bukan main. Jantung nya seakan copot dari tempatnya. Lihat siapa yang datang ke rumah nya ini.


"Winwin plis izinin gue masuk ke dalam, gue butuh bantuan lo!" ungkapnya sambil menyentuh kedua pundak Winwin. Dapat dilihat kalau orang itu begitu ketakutan.


"L-lo!? kenapa ada disini!? " tanya Winwin gemetar. Wajahnya tak kalah cemas.


"Plis Win izinin gue masuk, gue cuma percaya sama lo"


Winwin mengerutkan dahinya sejenak. "Kun!?" panggil Winwin masih tak percaya bahwa di hadapan nya kini adalah Kun, salah satu temannya yang sedang berada di penjara.


"Lo kabur dari rumah sakit!!??? kenapa lo di sini?"


Kun memandang sekitar. Ia tampak tak peduli dengan pertanyaan beruntun dari Winwin.