"DREAMS" Area

"DREAMS" Area
Dream 62


"Ah....." Hyunjin terbangun dengan peluh yang hampir membanjirnya.


"Gue...gue ada dimana?" tanya pemuda itu saat sebuah pernyataan terlintas dalam benaknya.


Terakhir dia ingat kalau dirinya sedang ada di depan rumah Jaemin untuk menyelamatkan Winwin serta Yuta. Tapi sekarang, kenapa dirinya ada disebuah ruangan bernuansa putih?


Semuanya bercat putih. Peralatannya juga hampir putih. Mulai dari kasur, meja, kursi, hingga gorden disampingnya. Kecuali sprei yang dominan warna abu-abu muda.


Tunggu, setelah memilih sekitar. Kenapa Hyunjin merasa dirinya ada di rumah sakit. Jangan bilang ia benar.


"Oh tidak.." kata Hyunjin lirih. Pemuda itu segera bangkit dari tidurnya. Ditatapnya sekeliling.


"Hyunjin udah sadar?" seru seseorang memasuki kamar Hyunjin. Wajah orang tersebut sangat senang sekali melihat Hyunjin yang akhirnya siuman. Wajah pemuda Hwang itupun tak kalah bahagianya.


"lo baik-baik aja,kan? Syukurlah kalo lo selamat. Gue senang banget lihat lo!" ungkap Hyunjin terlampau senang.


Orang dihadapannya menyunggingkan senyum cerahnya. "Gue juga senang lihat lo akhirnya siuman. Selama seminggu ini gue tuh khawatir sama lo. Tapi intinya gue seneng lihat lo udah sadar"


"Yang lain kemana? Kok lo sendirian aja?"


Wajah orang itu berubah masam setelah Hyunjin melontarkan kalimat itu. Ia nampak sedih.


"lo nggak papa, kan? Kok sedih sih? Yang lain kemana? Mereka udah baikan kan? Udah siuman, kan? Jangan bilang kalau mereka masih koma. Kalo gitu antar gue kesana. Gue mau lihat mereka!"


Hyunjin kemudian memaksa orang dihadapannya untuk dipertemukan dengan yang lain. Namun, bukannya diantar kesana. Hyunjin justru mendapati kalau orang dihadapannya ini malah meneteskan air matanya.


"Kenapa lo malah nangis? Cepet anterin gue kesana!" tuntut Hyunjin.


"Hyun, please jangan buat gue sedih lagi!" rengek orang itu. "Tadinya gue udah lupa hal mengerikan itu. Tapi kenapa lo ingetin gue lagi. Please Hyun, jangan pernah sebutin mereka lagi. Gue cuma mau hidup dengan tenang!"


Kenapa juga dia mau lupain teman-temannya? Kenapa dia nyuruh Hyunjin lupain mereka semua?


"Kenapa? Kenapa lo nangis? Bukannya mereka selamat? Gue lihat sendiri ada yang masih hidup. Mereka berdua pasti masih hidup,kan?"


Orang itu menggeleng membuat Hyunjin geram. "Jangan sembarangan! Mereka dimana? Gue mau ketemu. Cepet tunjukkin ke gue kamar mereka, cepetan!!!"


"Nggak ada. Semuanya....nggak ada yang selamat dari insiden itu asal lo tau Hyun!" ucap orang itu dengan lesu.


Hyunjin mencelos. Ucapan barusan bagai bom baginya. "lo pasti bohong. Bilanh dimana mereka! Bilang sama gue!!!"


"Mereka semua mati" jawab orang itu singkat.


"Lee Jaemin!"


"MEREKA SEMUA MATI, MEREKA SEMUA NINGGALIN GUE SENDIRI. MEREKA SEMUA....." ucapan Jaemin seketika tercekat. Tubuhnya lemas tiba-tiba.


"Semuanya... hiks... nggak ada yang tersisa... hiks. Bahkan bibi sekalipun hiks... mereka pergi..." rintih Jaemin memegangi kedua lututnya.


"Lee Jaemin"


"Cuma lo hiks... cuma lo yang gue punya Hyun. Hanya lo seorang... hiks..." isak Jaemin.


Hyunjin tertunduk. Dia kemudian merengkuh pemuda dihadapannya. Kalau gini jadinya, dia jadi nggak tega buat pamitan ke Jaemin. Tugasnya disini sudah selesai. Meski tujuan awalnya untuk menyelamatkan nyawa semua orang, tapi jika hasilnya sama saja. Apa boleh buat. Hyunjin sudah berusaha sebisa mungkin.


"Sial" umpat Hyunjin.